
Malam datang, mengantikan pagi hari. Waktu di mana biasa digunakan untuk beristirahat, dari segala macam aktivitas pada pagi harinya. Sama seperti yang biasa dilakukan oleh orang-orang pada umumnya.
Begitu juga dengan keluarga Anjani dan Abimanyu. Mereka juga mengunakan malam hari, untuk beristirahat dari kesibukan yang ada pada setiap orang.
Abimanyu beristirahat dari pekerjaan kantor. Ara juga beristirahat dari kegiatan sekolah. Begitu juga dengan Anggi, yang sekarang sudah mulai pintar berhitung dan membaca.
Hanya Anjani, yang mungkin juga sama seperti para ibu-ibu yang lain, di setiap keluarga biasa, karena tidak punya pembantu dan asisten rumah tangga, baru bisa beristirahat dengan tenang pada malam hari, jika semua anggota keluarganya sudah beristirahat dan semua pekerjanya di rumah juga sudah selesai.
Jika pekerjaan rumah belum ada yang selesai, dan rumah tidka rapi, Ibu-ibu seperti Anjani, tidak akan bisa tidur dengan nyaman, karena masih memikirkan pekerjaan yang belum selesai tersebut.
Sama seperti malam ini. Anjani masih melanjutkan pekerjaannya yang tertunda tadi siang, menyetrika baju.
Padahal anak-anaknya, Ara dan Anggi, sudah tidur sejak selesai makan malam.
Ara mengatakan bahwa, dia tidak ada PR, sehingga bisa tidur lebih awal. Sedang Anggi, ingin ikut tidur lebih awal juga, karena tidak ada temannya bermain, jika tidak ikut tidur.
"Sayang. Lanjut besok saja kerjaannya. Ini udah malam. Ayok kita tidur," ajak Abimanyu, saat melihat Anjani mau melanjutkan pekerjaannya itu.
"Bentar Mas. Nanggung banget ini."
Anjani tidak mau mendengar perkataan suaminya itu. Dia malah terus melanjutkan acara menyetrika baju-baju, yang baru saja kering tadi sore.
"Sini Aku bantu," kata Abimanyu, kemudian ikut membolak-balik baju, agar istrinya lebih cepat selesai.
"Mas tidur saja dulu."
"Tidak. Kamu belum mau diajak untuk tidur. Apa enaknya tidur sendirian?"
Anjani tertawa kecil, mendengar jawaban dari suaminya itu.
"Hihihi... Mas bisa saja. Udah sana, Mas Abi pasti capek, kok malah ikutan ngerjain ini," ujar Anjani, yang tetap meminta pada suaminya itu, untuk pergi tidur terlebih dahulu.
"Sayang. Besok-besok Aku ambil pembantu ya. Aku gak mau Kamu capek-capek sendiri kayak gini." Abimanyu mengusulkan supaya diperbolehkan menggunakan jasa bibi pembantu rumah tangga, untuk membantu Anjani, istrinya itu.
"Gak usah Mas. Kalau ada pembantu rumah tangga, Aku ngapain di rumah?" Anjani menolak usulan dari suaminya itu, dengan alasan yang sama seperti waktu dulu.
__ADS_1
"Biasanya, Aku dibantu oleh Ara kok. Cuma, malam ini kayaknya dia kecapekan. Mungkin di sekolah banyak tugas." Anjani memberikan alasan lagi.
"Atau sewa tenaga pembantu pada siang hari saja? Jadi, pembantu itu akan datang pada pagi hari, dan pulang sore hari. Bagaimana? akan banyak juga yang menggunakan jasa pembantu seperti itu?"
Sekarang, Abimanyu mengusulkan supaya mempekerjakan tenaga pembantu, yang hanya bisa datang pada pagi hari, sehingga pada malam harinya, pembantu tersebut pulang ke rumahnya sendiri.
Tidak jauh dari perumahan mereka, ada perkampungan padat penduduk, yang banyak orang melakukan pekerjaan seperti yang dikatakan oleh Abimanyu. Bahkan, ada beberapa tetangganya yang mengunakan jasa pembantu seperti yang dimaksud oleh Abimanyu tadi.
Sekarang, Anjani berpikir sejenak. Dia yang terbiasa melakukan apa-apa sendiri, jadi kurang sreg, karena belum terbiasa dengan pekerjaan orang lain.
Tapi karena dia juga mulai kewalahan sendiri, pada saat sekarang, akhirnya dia menyetujui usulan dari suaminya itu.
"Besok Jani coba tanya ke Jeng Nita ya Mas. Dia biasanya banyak kenalan di kampung-kampung sebelah. Itu yang tetangga baru juga kemarin pembantunya, dia yang nyariin kok."
Abimanyu mengangguk mengiyakan permintaan dari istrinya itu. Dia merasa lebih lega, karena pada akhirnya istrinya itu mau menerima usulannya.
"Oh ya Sayang. Itu wajah Kamu, tidak di periksa-periksa lagi? Kan udah lama banget itu? takutnya ada apa-apa, kan itu banyak sekali yang di ganti kata Kamu."
Tiba-tiba, Abimanyu mengingat Anjani, dengan wajahnya, yang sebenarnya bukan kulit asli. Dia takut, karena sudah lama sekali, tidak diperiksa oleh dokter ahli.
Wajah Anjani adalah hasil dari operasi plastik, dengan Implan padat, bahan yang awalnya digunakan untuk rekonstruksi dan dikembangkan menjadi bahan untuk operasi plastik estetika. Jadi, bukan murni sejenis plastik, sama seperti yang dibayangkan oleh banyak orang.
"Kamu jangan diem aja ya, kalau ada keluhan. Jangan sampai kejadian, yang membuat semua jadi terlambat dan semakin parah."
Anjani mengangguk mengiyakan perkataan dari suaminya itu. Dia merasa sangat senang, karena suaminya itu tetap perhatian padanya, sampai sekarang.
"Ayok, Udahan nyetrika_nya. Kapan kita buat adek untuk Anggi, kalau Kamu gak ikut tidur-tidur?" Abimanyu mengajak Anjani, dengan caranya sendiri, yang mengingatkan pada istrinya itu, bahwa masih ada pekerjaan yang lainnya, yang membutuhkan perhatian khusus dari Anjani.
"Ihsss, Mas bisa saja," sahut Anjani, sambil melepaskan stopkontak setrika, dari arus listrik.
Abimanyu tersenyum senang, karena perkataannya didengarkan oleh Anjani. Dia juga tidak mau jika, Anjani tidur lebih malam, karena seharian tadi, sudah menemani adiknya, Yasmin, yang sedang mengalami kontraksi pada kehamilannya.
Tadi, pada saat mereka selesai makan malam, Anjani bercerita tentang kesakitan Yasmin, yang sedang hamil tua. Itu sebabnya, Anggi juga ikut pulang ke rumah Sekar dengan Miko, dan tidak langsung pulang ke rumahnya sendiri. Karena Anjani, berada di rumah ayah Edi, menemani Yasmin.
*****
__ADS_1
Di rumah mama Amel.
Elang, batu saja selesai makan malam bersama dengan keluarganya. Ada papa Ryan dan mama Amel, serta anaknya, Awan.
Hal yang jarang terjadi, karena papanya, papa Ryan, jarang sekali berada di rumah. Begitu juga dengan mama Amel, yang sering ikut dengan suaminya itu, dengan beberapa perjalanan bisnis mereka.
"Wan. Bagaimana sekolahnya?" tanya Elang pada anaknya, Awan.
"Biasa saja Yah," jawab Awan datar.
"Oh iya, si Ara, anaknya Anjani, sekolah di sana juga kan? eyangnya, ibu Sofie, cerita kemarin itu, waktu kita ada di rumahnya."
Mama Amel, omanya Awan, ikut bertanya pada Awan, tentang Ara, anaknya Anjani.
"Iya Oma. Tapi dia masih ada di tingkat SMP."
"Oh... gimana dia, cantik kan?" Mama Amel, kembali bertanya pada Awan, dengan maksud menggoda cucunya itu.
Elang mengerutkan keningnya, mendengar pertanyaan dari mamanya.
"Ara kan cewek Oma. Masak iya tampan?" sahut Awan, menjawab pertanyaan dari mama Amel, dengan maksud bercanda.
Sebenarnya, dia tidak mau mengakui didepan semua orang, jika harus menjawab dengan mengatakan bahwa, Ara memang cantik.
"Hihhh, bukan itu maksud Oma Sayang," sahut mama Amel, dengan gemasnya.
Papa Ryan, hanya menggelengkan kepalanya, mendengar jawaban yang diberikan oleh cucunya itu, atas pertanyaan yang diajukan oleh istrinya, omanya Awan.
"Terus apa?" tanya Awan, yang pura-pura tidak tahu, apa maksud dari pertanyaan yang diajukan oleh omanya tadi.
"Ma, mereka masih kecil. Biar belajar dulu."
Elang memotong perdebatan kedua orang, yang sangat dekat dengannya, mama Amel dan anaknya sendiri, yaitu Awan.
"Kenapa? Dulu, Kamu juga masih sekolah, saat pacaran dengan Adhisti. Mama juga sudah melarang Kamu, apa Kamu mendengar nasehat dari Mama waktu itu?"
__ADS_1
Mama Amel, justru mengingatkan kembali masa lalu Elang, dengan Adhisti. Istri dari Elang, yang sekarang ini sudah tiada.
"Ma. Dia sudah pergi. Tidak usah di ungkit lagi," kata Elang, meminta pada mamanya, agar tidak melanjutkan pembicaraan mereka, yang membahas tentang pacaran pada masa sekolah.