Dia Milikku ( Berbagi Cinta )

Dia Milikku ( Berbagi Cinta )
Kejadian Tidak Terduga


__ADS_3

"Sial!"


Dika masih saja mengumpat sambil memegangi kepalanya, yang terasa berdenyut.


"Napa Dik?"


"Kepalanya ada batunya ya?"


"Abis kejedot ya Dik?"


Beberapa orang yang mengenal Dika, menyapanya, dengan beberapa pertanyaan, karena melihat kedatangannya yang sambil memegangi kepalanya sendiri.


"Berisik Loe semua."


Dika menjawab sapaan tersebut, dengan perasaan yang bertambah kesal.


"Aciehhh... bang Dika, jan ngambek ah! entar tambah ganteng lho!"


Yang lainnya, ikut menimpali, dengan ucapan menggoda.


"Bodo!"


Tapi sepertinya, Dika masih sedang dalam keadaan tidak mood untuk bercanda atau usil. Dia justru sedikit sensi.


"Gara-gara si Diyah ini semua!" gumam Dika, yang masih belum terima, dengan keadaan apesnya tadi.


Itulah sebabnya, Dika masih saja mengumpat, baik saat menjawab candaan teman-temannya, dan juga gumamannya sendiri.


Setelah beberapa saat kemudian, Dika selesai memesan makanan dan juga minuman, untuk dirinya sendiri. Karena dia memang datang sendiri ke kantin sekolah tadi.


Sayangnya, ke-sialan yang Dika alami tadi, belum cukup.


Pada saat dia berjalan ke meja kantin, setelah selesai memesan makanan, dia tersandung dengan kakinya sendiri, alias kesrimpet.


Brug!


Prang!


Dika terjatuh, sehingga menimpa makanan dan minuman yang berada di nampan kecil, yang tadi sedang dia pegang.


Benar-benar hari sial, yang sangat memalukan juga, di sepanjang sejarah bagi Dika, di sekolah ini.


"Ya ampun!"


"Hahaha..."


"Wkwkwk..."


"Eh!"


"Aduh!"


"Yahhh... tumpah."


"Lah, gimana tadi?"


Berbagai macam ucapan yang terdengar sangat menyebalkan di telinga Dika. Apalagi saat ini, dia masih dalam keadaan telungkup, dan tidak ada yang berusaha untuk menolongnya.


"Mas Dika tidak apa-apa?" tanya pelayan kantin, yang buru-buru berlari ke tempat Dika terjatuh.


"Emhhh..."


"Kak Dika! Itu beneran Kak Dika kan?"


Dika tidak melanjutkan kalimatnya, karena mendengar suara Ara, yang kaget dan segera berlari mendekat ke tempatnya juga.


"Iya Neng, ini Mas Dika."


Pelayan kantin tersebut, menjawab pertanyaan dan rasa penasaran yang ada pada Ara, saat melihat seseorang yang mirip dengan Dika.


"Kakak tidak apa-apa?" tanya Ara, begitu dia sampai di dekatnya Dika.

__ADS_1


Dengan berjongkok, Ara mengulurkan tangannya, agar Dika berdiri.


Temannya Ara, dan juga ketua OSIS tingkat SMP, ada di belakangnya Ara, dengan tatapan matanya yang terlihat prihatin.


Mereka berdua, temannya Ara dan ketua OSIS tersebut, merasa ikut prihatin dengan kondisi Dika yang sudah tidak jelas.


"Tidak apa-apa. Terima kasih."


Dika berusaha untuk berdiri sendiri, dan tidak menyambut uluran tangan Ara, yang masih berusaha untuk menolongnya.


Tapi karena merasa kesal dan juga malu, Dika langsung pergi dan tidak mengatakan apa-apa lagi.


Ara jadi meringis sendiri, karena merasa kasihan kepada Dika, yang pastinya sangat malu, atas semua yang sudah terjadi tadi.


"Hihihi... cobalah tadi Gue siap untuk merekam. Pasti bagus and viral tuh!"


"Gak bisa dibayangkan, bagaimana rasanya mandi dan maskeran dengan mie goreng dan Boba yang sedap. Hahaha..."


Ara tersenyum masam, mendengar perkataan dari pengunjung kantin.


"Kalian semua aneh ya? tertawa-tawa senang, saat orang lain kesusahan. Apa ini yang diajarkan oleh guru-guru kalian semua di sekolah ini?"


Dengan berani, Ara berkata demikian kepada semua orang yang tertawa-tawa, atas kejadian yang dialami oleh Dika.


Dengan mengelengkan kepalanya beberapa kali, Ara berjalan dengan cepat, keluar dari kantin sekolah.


Ara sudah tidak ada mood untuk makan.


Begitu juga temannya tadi, bersama dengan ketua OSIS yang datang bersama dengannya.


"Kok anak-anak malah kayak gitu ya?"


"Kadang, nilai di kelas saat pelajaran, tidak ditemukan di dunia nyata. Itulah sebabnya, pemahaman tentang moral lebih penting daripada hanya sekedar nilai yang memuaskan saat tes penilaian."


Ketua OSIS dan temannya Ara, jadi membahas tentang keadaan kantin tadi.


"Ini bisa kita jadikan bahan pembicaraan di diskusi bulanan besok, saat ada pertemuan organisasi sekolah."


Ketua OSIS memberikan usulan, pada temannya Ara, yang memang sudah ikut dalam organisasi sekolah tersebut.


Nilai di sekolah bisa sempurna, tapi kenyataannya, saat ada kejadian seperti tadi, semua nilai-nilai pelajaran yang mereka dapatkan tidak terpakai.


Dan mereka, kadang hanya berpikir tentang kesenangan dan kepuasan, yang sering diabadikan dalam sebuah konten.


Kesenangan dan kepuasan tersebut akan semakin besar, saat apa yang mereka lakukan tadi menjadi viral, dan banyak yang memberikan tanggapan-tanggapan.


Sebuah fenomena yang tidak pernah disadari oleh kebanyakan orang pada saat ini.


*****


"Hah!"


Dika membuang nafas kasar, di dalam kamar kecil.


"Jadi kotor semua kan ini. Belum lagi, tatapan mata semua orang tadi. Erghhh...!"


Kemarahan dan kekesalan yang dirasakan oleh Dika, benar-benar membuatnya frustasi.


Apalagi seragam sekolahnya juga kotor dan juga basah semua.


"Bagaimana ini? Masa iya Aku harus pakai kaos olahraga sih di kelas?"


Dika bertanya-tanya sendiri, dan belum juga bisa menemukan jawabannya, dengan apa yang akan dia lakukan setelah ini.


"Oh iya, telpon Awan."


Akhirnya Dika menemukan sebuah ide, dan segera menghubungi Awan. Dia berharap agar temannya itu, Awan, bisa membantunya, untuk membeli satu set seragam sekolah di koperasi, yang tentunya menyediakan semua keperluan siswa siswi, termasuk urusan seragam.


Tut tut tut!


Tut tut tut!

__ADS_1


..."Halo."...


..."Halo Wan. Ah, bisa minta tolong gak?"...


..."Apa?"...


..."Beliin Gue seragam sekolah dong. Satu set ya!" ...


..."Buat apa?"...


..."Buruan ah, gak usah banyak tanya. Entar aja tanyanya!" ...


..."Malas ah." ...


..."Gue sedang basah ini di kamar mandi! Buru dong Wan!" ...


..."Apa? Lho mandi basah?" ...


..."Ihsss... Bukan. Ada kejadian yang membuat seragam sekolah Gue basah dan juga kotor! Ayok dong Bro, bantu Gue."...


..."Hemmm..."...


..."Makasih Bro. Muachhh!"...


..."Ihhh, jijik!" ...


Klik!


"Hahaha..."


Dika tertawa senang, karena telpon ditutup tanpa permisi.


Tapi yang lebih menyenangkan adalah, dia bisa keluar dari dalam kamar kecil ini, dan bisa ikut pelajaran lagi, karena tidak lama lagi, Awan akan segera datang, dengan membawakan seragam sekolah untuknya.


*****


Di depan etalase kaca kantin sekolah, Awan bingung dengan ukuran bajunya Dika.


"Mas, cari apa?" tanya petugas koperasi.


"Baju seragam Mbak."


"Ukurannya apa?"


Awan terdiam, karena belum menemukan jawabannya.


"Seragamnya untuk siapa Mas? Bukan untuk Mas sendiri ya?"


Petugas koperasi kembali bertanya, karena melihat Awan yang diam dan ragu untuk menjawabnya.


"Emhhh..."


"Oh, untuk pacarnya ya Mas? Ceweknya besar apa kecil?"


Tentu saja, Awan kaget dan mengerutkan keningnya, mendengar pertanyaan yang diajukan oleh petugas koperasi tersebut.


Jadi, petugas koperasi itu berpikir bahwa, Awan ingin membeli seragam sekolah, untuk pacarnya yang sedang datang bulan.


Karena kadang kala, ada beberapa siswa yang datang untuk membeli seragam sekolah, untuk ceweknya.


"Bukan-bukan Mbak. In... ini, untuk teman Saya. Cowok kok. Dia sedang ada di dalam kamar mandi, dan terguyur air hingga basah semua."


"Oh... maaf Mas. Saya pikir tadi buat ceweknya. Hehehe..."


"Terus, ukurannya berapa Mas?"


Petugas koperasi tersebut, kembali bertanya pada Awan, tentang ukuran baju seragam sekolah yang ingin dia beli.


"Kira-kira seukuran dengan Saya Mbak. Atau lebih besar sedikit juga gak apa-apa, jika yang seukuran Saya gak ada."


Akhirnya, Awan memutuskan untuk membeli baju ukuran untuknya sendiri, karena badannya tidak jauh berbeda dengan ukuran tubuhnya Dika.

__ADS_1


"Semoga aja gak kebesaran."


Tapi karena ukuran baju yang sama seperti ukuran tubuhnya tidak ada, akhirnya Awan meminta yang lebih besar sedikit, agar tidak terlalu kebesaran juga, di badannya Dika.


__ADS_2