Dia Milikku ( Berbagi Cinta )

Dia Milikku ( Berbagi Cinta )
Hadiah Untuk Anak-anak


__ADS_3

Seminggu kemudian, Abimanyu baru diperbolehkan pulang oleh dokter. Dia dan Anjani, diberikan nasehat dan saran yang cukup dari dokter, demi kebaikan untuk Abimanyu sendiri, selama dalam perawatan di rumah, pasca operasi.


Ini untuk antisipasi, supaya tidak terjadi sesuatu pada lukanya, suatu hari nanti.


Anjani sangat senang, karena bisa mendapatkan beberapa keterampilan yang dibutuhkan untuk merawat suaminya itu, dari para suster, yang dengan senang hati memberinya kesempatan untuk belajar.


Dia dengan senang mempelajari dan memahami apa yang seharusnya dilakukan dan tidak boleh dilakukan, untuk pasien seperti Abimanyu.


"Terima kasih banyak Sus," kata Anjani, pada suster yang memberi pelatihan singkat.


"Sama-sama. Yang sabar ya Bu, dan harus hati-hati," jawab suster tadi.


Anjani mengangguk mengiyakan perkataan dari suster. Dia pasti akan berusaha untuk berhati-hati dalam merawat luka operasi suaminya sendiri. Sama seperti biasanya, saat dia merawatnya selama ini.


"Sudah siap?" tanya ayah Edi, yang datang bersama dengan istrinya, ibu Sofie.


"Iya Yah," jawab Anjani, yang sudah membereskan semua barang-barangnya, selama ada di rumah sakit ini.


Jangan lupa untuk kontrol dan cek ke rumah sakit ya, untuk mengetahui perkembangannya," kata suster memberikan pesan dan memperingatkan, agar Anjani tidak lupa dengan jadwalnya Abimanyu ke rumah sakit.


"Iya Sus," sahut Anjani dengan tersenyum.


Dan begitulah akhirnya, semua berjalan sebagaimana mestinya dan Abimanyu sudah bisa diperbolehkan untuk pulang ke rumah, dengan perawatan yang khusus dari Anjani.


Di rumah, Ara dan Nanda sudah menunggu kedatangan ayah dan bunda mereka. Dari kejauhan, mobil yang batu tampak sudah membuat mereka berjingkrak-jingkrak senang.


"Itu ayah datang, bunda datang!"


"Iya. Itu mobil eyang kakung!"


Keduanya sama-sama tertawa senang, karena melihat mobil kakek mereka, yang tadi pergi pamit untuk menjemput ayah dan bunda mereka ke rumah sakit.


Tentu saja, mereka berdua sangat senang, karena sudah seminggu ini tidak bersama dengan mereka berdua. Mereka hanya berkomunikasi lewat video call saja. Sama seperti yang dilakukan saat berkomunikasi dengan mama Nanda, saat berada di luar negeri selama ini.


"Nanti, Ara dan Anda tidak boleh nakal ya. Ayah Abi, baru pulang dari rumah sakit. Perlu istirahat yang cukup dan juga tidak boleh ada berbisik-bisik. Nanti, ayah Abi bisa terganggu istirahatnya. Kalian bisa ikut merawat ayah Abi kan? seperti biasanya?"

__ADS_1


Sekar yang ikut bersama dengan mereka, Ara dan Nanda, memberi nasehat pada kedua keponakannya itu. Dia yang selama mengandung, tidak bisa banyak membantu kakaknya, hanya bisa berdoa, berharap agar semua baik-baik saja dan tidak ada kekurangan suatu apapun yang terjadi.


Tak lama, mobil ayah Edi, memasuki halaman rumah dan berhenti tepat di depan pintu.


Pertama kali yang keluar adalah ayah Edi, di susul istrinya, ibu Sofie. Kemudian mereka berdua membantu Anjani, untuk membantu mengeluarkan Abimanyu.


Setelah Abimanyu sudah berada di kursi roda, ayah Edi dan ibu Sofie mengeluarkan semua barang-barang yang ada di bagasi mobil. Sekar dan anak-anak, membantu membawa barang-barang tersebut, dengan barang yang ringan-ringan saja.


"Terima kasih cucu-cucunya Eyang. Kalian semua anak-anak yang baik."


Ayah Edi, memberikan pujian pada Ara dan Nanda, yang tersenyum senang, mendengar pujian dari eyang kakung mereka.


"Eyang. Ara tidak rewel kan ya selama ayah dan bunda tidak di rumah?" tanya Ara, yang ingin mendapatkan pujian lagi, karena tidak pernah rewel selama ini.


"Hahaha... iya. Ara anak yang cantik. Tidak rewel kok," kata ayah Edi, dengan mencubit pipi cucu perempuannya itu.


Nanda hanya tersenyum, mendengar eyang kakungnya memuji adik sepupunya yang memang cantik.


*****


Beberapa kali melakukan cek kesehatan ke rumah sakit, Abimanyu disarankan untuk menunggu hingga waktunya melepas pen yang dipasang pada bagian tulang belakangnya. Dia diperbolehkan untuk melakukan apa saja asal tidak berlebihan, supaya kekuatan tulang belakangnya tidak kaget, karena sudah lama tidak beraktivitas seperti layaknya orang normal.


Abimanyu dan Anjani, sangat senang karena mendapat nasehat dan saran dari dokter yang merawatnya selama ini. Dia pasti akan dengan senang, melakukan semua itu, karena dia ingin segera sembuh dan tidak lagi memakai kursi roda seperti sekarang ini.


"Jani. Mas bisa sembuh Sayang. Terima kasih ya. Semua ini juga berkat dirimu, yang sudah begitu telaten dan pantang menyerah saat merawat Mas. Juga doa-doa yang selalu kamu panjatkan sepanjang waktu. Mas sangat bersyukur dan berterima kasih, atas semua yang sudah kita jalani ini."


Anjani tidak menyahut perkataan suaminya. Dia langsung memeluk Abimanyu, tanpa bisa berkata apa-apa lagi. Semua sudah dikatakan oleh suaminya itu.


Mereka berdua, sama-sama menangis haru, di depan dokter yang ikut tersenyum, melihat dia pasang suami istri, yang dengan tegar menghadapi berbagai macam masalah.


Dokter itu tentu saja sangat paham, karena dialah yang sedari awal merawat Abimanyu, saat dirinya mengalami kecelakaan dulu.


"Selamat Pak, Bu. Saya salut dengan Kalian berdua. Semoga, semua akan baik-baik saja, sesuai dengan apa yang kita inginkan selama ini."


"Iya Dok. Terima kasih," kata Anjani dan Abimanyu bersamaan.

__ADS_1


Kini mereka pulang ke rumah, dengan menggunakan taksi, karena ayah Edi, ada pekerjaan yang harus dia lakukan, dan tidak bisa di tinggalkan.


Saat berada di jalan, Abimanyu meminta Anjani untuk mampir ke toko baju. Dia ingin membeli baju untuk anak dan keponakannya, Abimanyu.


Taksi di minta untuk menunggu sebentar, dan taksi dengan senang hati mengiyakan permintaan penumpangnya.


Dengan antusias, Abimanyu mengajak Anjani berputar-putar di area baju anak-anak. Anjani juga dengan senang hati mendorong kursi roda Abimanyu, untuk mencari baju yang dia suka untuk diberikan kepada anaknya.


"Ini bagus Sayang. Ara pasti suka," kata Abimanyu, dengan menunjuk ke arah baju anak yang ada di tergantung tak jauh dari tempatnya berada.


Anjani akhirnya meminta pada pelayan toko, untuk menurunkan baju tersebut.


"Iya Mas. Ini pas untuk Ara."


Anjani juga suka dengan modelnya, yang cocok yang dikenakan Ara saat pergi ke sekolah, jika sedang memakai pakaian bebas.


Sekarang, mereka berdua ganti mencari baju untuk Nanda.


Tapi karena model untuk anak laki-laki kebanyakan sama saja, dan tidak ada yang bervariasi seperti model baju anak cewek, akhirnya mereka memilih kemeja pendek dengan celana di bawah lutut.


"Ini pas untuk Nanda. Tidak kebesaran dan tidak kekecilan juga," kata Anjani, setelah melihat lebih dekat lagi.


"Itu ada baju cantik untuk anak kita yang kedua, hehehe..."


Anjani, melotot kaget, mendengar perkataan suaminya tentang anak kedua.


"Mas. Sembuh dulu," kata Anjani mengingatkan suaminya.


"Hahaha... kan ada rencana Sayang. Tidak apa-apa kan?"


Anjani mengeleng beberapa kali, mendengar pernyataan dari suaminya yang sedang bersenang hati.


Kini, mereka berdua sudah mendapat beberapa potong baju untuk kedua anak mereka.


Setelah itu, mereka kembali ke rumah dengan taksi yang tadi menunggu mereka saat berbelanja.

__ADS_1


Begitu tiba di rumah, Anjani dan Abimanyu menyembunyikan hadiah-hadiah tersebut, untuk bisa diberikan pada anak-anak mereka, setelah mereka berdua pulang dari sekolah. Ini karena mereka merasa bersalah, karena tidak pernah bisa mengantar dan menemani keduanya saat berangkat dan pulang sekolah. Tidak sama seperti anak-anak yang lain, yang kadang kala diantar oleh papa atau mama mereka.


Meskipun Ara dan Nanda tidak pernah mengeluhkan tentang semua hal itu, tapi Anjani dan Abimanyu sudah sadar dengan sendirinya, jika anak-anak mereka itu, tentunya juga memiliki keinginan tersebut. Tapi karena mereka mengerti bagaimana keadaan kedua orang tuannya, mereka tidak pernah mengatakannya secara langsung.


__ADS_2