Dia Milikku ( Berbagi Cinta )

Dia Milikku ( Berbagi Cinta )
Terpeleset


__ADS_3

"Aduh, ini kenapa semut banyak sekali!"


Tiba-tiba ibu Sofie, yang baru saja datang dari kantor, berteriak kencang. Dia kebetulan ada urusan keluar kantor, kemudian mampir ke rumah sebentar, untuk mengambil sesuatu yang tertinggal di rumah.


"Ada apa Nyah?" Bibi datang ke ruang tengah dengan tergopoh-gopoh, saat mendengar teriakannya ibu Sofie. Padahal biasanya, jam segini ibu Sofie tidak ada di rumah.


"Bibi belum nyapu jam segini? seperti ini kerjaannya bibi?" tanya ibu Sofie dengan nada marah.


"Emhhh itu Nyah, tadi... tadi sudah di sapu Non Jani," jawab bibi pembantu, dengan terbata-bata. Dia pikir, tadi sudah di sapu Anjani, sehingga dia tidak lagi menyapu lantai.


"Apa, di sapu Anjani? kok masih kotor begini? Bibi, coba lihat! apa seperti ini sudah di sapu? Gak bisa diandalkan!"


Ibu Sofie mengomel karena lantai penuh dengan remahan camilan-camilan, sehingga semut-semut kecil, banyak yang datang berkerumun. Ada juga beberapa bungkus makanan ringan yang jatuh di dekat sofa.


"Ini juga, ada sampah. Kalau sudah di sapu, tidak mungkin ini ada di sini juga kan Bi?" Ibu Sofie, menunjuk sampah yang dia lihat tadi, supaya bibi pembantu bisa melihatnya juga.


"Eh, itu kan camilan-camilan yang tadi di makan non Yasmin. Berarti dia yang bikin ulah. Tapi, jika Aku bilang pada nyonya, dia makin marah tidak ya?" bibi pembantu, memikirkan hal ini di dalam hati. Dia takut salah bicara, karena tahu jika majikannya ini tidak menyukai menantu perempuannya.


"Sapu lagi Bi, malah bengong! huh, hari ini kenapa ada saja yang bikin Aku jengkel!"


"Iy_iya, iya Nyah."


Bibi pembantu, segera pergi ke belakang untuk mengambil sapu. Dia mulai menyapu lantai yang ada banyak semut, dan remahan camilan-camilan juga. Sedangkan ibu Sofie, pergi ke dalam kamar, untuk mencari sesuatu yang tertinggal tadi.


Tak lama, ibu Sofie keluar dari kamar dan pamit untuk pergi lagi. Tapi sebelum pergi, ibu Sofie memberikan pesan kepada bibi pembantu. "Bi, jika Anjani mengerjakan sesuatu, cek lagi, apakah kerjaannya benar atau tidak. Jika tidak, kasih tahu dia dan ajari juga bagaimana cara mengerjakan pekerjaan rumah."


"Iya Nyah, iya. Nanti Bibi akan ajari non Jani," jawab bibi pembantu patuh. Dia juga mengangguk sambil sedikitnya membungkuk.


Setelah selesai memberikan pesannya, ibu Sofie kembali pergi, untuk bertugas sebagai seorang pegawai yang baik.


"Aduh, kenapa Aku tidak cek tadi ya? Aku pikir tadi memang sudah di sapu kok, apa ini remahan ada saat non Jani selesai nyapu ya?"


Sambil menyapu, bibi pembantu terus memikirkan apa yang terjadi saat ini. Tadi, dia tidak melihat jika masih ada Yasmin di ruang tengah, saat Anjani selesai menyapu. Kalau dia tahu, sudah pasti dia akan menyapu lagi lantai yang kotor.


Dari arah tangga, Anjani turun dan melihat bibi pembantu yang sedang menyapu. Dia heran dengan bibi yang menyapu ulang lantai ruang tengah.


"Lho Bik, tadi kan sudah Jani sapu, apa kurang bersih ya?" tanya Anjani memastikan jika pekerjaan yang tadi dia kerjakan benar.


"Tidak tahu Non. Tadi Nyonya datang dan lantainya kotor. Banyak semut-semut juga. Remahan camilan-camilan juga banyak," jawab bibi pembantu, masih dengan tetap melanjutkan pekerjaannya.

__ADS_1


"Semut, remahan camilan? Tadi tidak ada Bi. Cuma Yasmin tadi memang sedang ngemil di sini. Apa dia yang membuat lantai kotor lagi ya?"


"Iya mungkin Non. Tapi Non Jani tidak usah heran. Non Yasmin memang begitu. Dia itu kesayangan nyonya, jadi ya begitulah. Bibi sih tidak kaget, tapi Non harus hati-hati. Apalagi sekarang sedang hamil juga, jangan sampai nanti terjadi sesuatu pada Non Jani."


Bibi pembantu, justru memberikan peringatan kepada Anjani, soal Yasmin yang berkelakuan kurang baik. Mungkin karena dia dimanjakan oleh ibu Sofie, jadi dia berbuat seenaknya saja, apalagi jika berada di rumah.


"Oh, iya mungkin juga karena itu Bi." Anjani jadi lebih paham, kenapa adik iparnya itu, bisa sampai seperti kejadian seperti saat ini. Tapi, dia berpikir, jika bibi pembantu belum tahu permasalahan yang terjadi pada Yasmin saat ini. Dia juga tidak mau, mengatakan apa-apa tentang keadaan Yasmin yang sudah berbadan dua.


"Hai-hai! kerja apa ngerumpi itu?" Yasmin datang menegur Anjani dan bibi pembantu.


"Bini ini, bukannya kerja malah ikut-ikutan ngerumpi. Kayak udah beres saja kerjaannya!" Yasmin, kembali mengomeli bibi pembantu. Yasmin memang tidak menyebutkan nama kakak iparnya, Anjani, tapi secara tidak langsung, dia sudah menuduh Anjani juga, jika sedang ngerumpi bersama dengan bibi pembantu.


"Kalau mau ngomongin orang, didepannya saja, tidak usah dibelakang. Kelihatannya alim, ternyata sama saja biang gosip!"


Yasmin kembali menyindir Anjani. Dia berpikir jika Anjani sedang membicarakan tentang kehamilannya pada bibi pembantu. Dia jadi semakin tidak menyukai kakak iparnya itu. Dengan kesal, dia berjalan ke arah dapur untuk mengambil air minum.


Beberapa menit kemudian.


"Aduhhh!'" Yasmin berteriak keras. Dia meringis kesakitan.


"Yasmin, hati-hati!" teriak Anjani, saat Yasmin terpeleset di samping meja makan.


Tapi sepertinya itu malah membuatnya jatuh terpeleset sendiri. Dia berjalan tanpa melihat ke bawah, sehingga terpeleset akibat air yang tumpahkan tadi.


Anjani dan bibi pembantu, segera berlari menuju ke tempat Yasmin jatuh. Anjani melihat ada darah yang mengalir di kakinya Yasmin.


"Bibi, bibi. Ini... ini Yasmin sedang hamil Bi. Cepat cari bantuan untuk membawa Yasmin ke rumah sakit atau klinik terdekat!"


Bibi pembantu kaget saat mendengar perkataan Anjani. Dia pikir Anjani salah bicara.


"Non Yasmin hamil, mana mungkin Non?"


"Sudah Bi, tidak usah dipikirkan. Cepat cari taksi atau apapun itu yang bisa membawa Yasmin sekarang!"


Bibi pembantu berlari keluar rumah. Dia mencoba mencari bantuan yang bisa membawa Yasmin pergi ke rumah sakit untuk mendapatkan pertolongan.


*****


..."Mas, Jani ada di rumah sakit bersama dengan Yasmin. Mas ada di mana?" ...

__ADS_1


Abimanyu mendapatkan kabar, jika Anjani sedang berada di rumah sakit, bersama dengan Yasmin. Dia jadi berpikir yang tidak-tidak.


..."Kamu ada di rumah sakit? kenapa?" ...


Abimanyu justru kaget dan menyangka jika telah terjadi sesuatu pada istrinya itu.


..."Itu Mas, Yasmin. Yasmin jatuh dan pendarahan. Aku membawanya ke rumah sakit yang ada di dekat pertigaan sebelah kanan perumahan."...


..."Kok bisa jatuh sih dia?"...


..."Emhhh, Jani kurang tahu Mas. Sekarang dia sedang ditangani oleh dokter. Semoga tidak terjadi sesuatu pada dia dan juga kandungannya."...


... "Baiklah, Aku akan segera datang bersama dengan ayah." ...


Abimanyu, yang saat ini sedang bersama ayahnya, segera memutar haluan mobil untuk melanjutkan perjalanan ke rumah sakit, yang disebutkan Anjani tadi.


"Yasmin kenapa Abi?" tanya ayah Edi, yang belum di beri kabar Abimanyu, soal Yasmin.


"Yasmin jatuh terpeleset. Dia mengalami perdarahan dan sekarang ada di rumah sakit. Tadi Jani dan bibi pembantu yang membawanya," jawab Abimanyu, dengan wajah yang terlihat khawatir.


Dia memang merasa khawatir dengan keadaan adiknya, Yasmin. Apalagi sekarang, Yasmin sedang hamil dan itu rawan dengan keguguran. Meskipun anak yang dikandung Yasmin tidak diharapkan oleh keluarganya, tentu akan lebih buruk lagi jika keguguran dan akan menjadi trauma atau membuat adiknya kenapa-kenapa di kemudian hari.


"Semoga tidak terjadi sesuatu yang tidak diinginkan," doa ayah Edi penuh harap.


Dia juga berpikir hal yang sama seperti yang sedang dipikirkan oleh anaknya, Abimanyu.


Ayah Edi, segera memberikan kabar ini pada istrinya, ibu Sofie. Dia merasa jika istrinya juga harus tahu keadaan Yasmin saat ini.


..."Bu. Yasmin ada di rumah sakit. Dia jatuh terpeleset tadi."...


..."Lho kok bisa Yah? tadi Ibu mampir ke rumah tidak ada apa-apa."...


Ibu Sofie, tidak percaya dengan kabar yang diberikan oleh suaminya. Dia pikir, ini hanya untuk membuat dirinya kembali pulang ke rumah.


..."Jani dan bibi yang membawa Yasmin ke rumah sakit. Sekarang Ayah dan Abimanyu sedang dalam perjalanan ke arah rumah sakit."...


..."Ibu, Ibu akan segera datang ke sana juga."...


Ayah Edi menutup sambungan telpon. Dia menghela nafas panjang, kemudian membuangnya perlahan-lahan. Dia banyak berpikir jika telah terjadi banyak masalah dalam keluarganya saat ini. Dia pusing karena harus banyak berpikir, untuk semua masalah yang terjadi tapi juga harus tetap dia hadapi.

__ADS_1


__ADS_2