Dia Milikku ( Berbagi Cinta )

Dia Milikku ( Berbagi Cinta )
Kegiatan Yang Sebenarnya


__ADS_3

Satu jam kemudian, saat dirasa semua orang sudah datang ke kamar yang dijadikan untuk target operasi, pihak kepolisian bersama-sama melakukan aksinya, sesuai dengan rencana dan instruksi yang diberikan oleh pimpinan mereka, yaitu melakukan pengerebekan secara mendadak.


Apalagi tadi mereka yang berada di balkon kamar, yang berdampingan dengan kamar target, mendengar beberapa percakapan dari orang-orang yang ada di kamar tersebut. Itu karena kamar itu, sudah dipasang dengan penyadap suara, sehingga mereka bisa mendengar suara-suara, yang berasal dari kamar itu.


"Sudah datang kan barangnya?"


"Alat-alatnya sudah komplit kan?"


"Halo, maaf Aku baru datang."


"Tinggal menunggu kedatangan si Mawar."


"Ada barang baru. Ini jenisnya berbeda dan efeknya juga berbeda. Lebih nyos. Lihat saja kalau kalian sudah merasakan. Pasti nanti akan cari lagi."


"Sudah yuk kita mulai. Nanti, kita akan kembali tiga jam kemudian. Awas ya, jangan sampai ada barang dan alat-alat yang tertinggal seperti kemarin. Untung saja, petugas kebersihan tidak melaporkan pada pihak keamanan hotel. Kalau sampai mereka buka mulut, bisa-bisa, kegiatan kita ini akan diendus pihak yang berwajib. Aku tidak mau tertangkap, sama seperti teman-temanku yang lain."


"Sudah ayok. Aku juga tidak mau pulang malam-malam. Suamiku sudah mulai curiga dengan kegiatanku di luar rumah."


Dari percakapan dan perbincangan yang mereka lakukan, diperkirakan ada lebih dari tiga orang yang sedang berada di dalam kamar tersebut. Mungkin sekitar empat atau lima orang, termasuk Adhisti Andriyani. Istrinya Elang Samudra.


Semua anggota kepolisian, sudah berkumpul di depan pintu. Kunci kamar, duplikat, sudah ada pada mereka.


Clik!


Pintu terbuka dari gesekan kunci pintu kamar hotel, yang sama seperti kartu ATM.


"Jangan ada yang bergerak!"


Perintah anggota kepolisian, yang masuk pertama kali, dengan menodongkan senjata api.


Anggota polisi yang lain ikut masuk. Tapi ternyata, di dalam kamar, target sudah selesai melakukan kegiatan mereka. Yang tampak sekarang ini adalah, mereka pada tergeletak dengan posisi yang tidak beraturan. Ada yang berbaring di sofa, ada yang tergeletak di ranjang begitu saja. Dan ada juga yang duduk berdua, dengan saling bersandar punggung dengan punggung.


Entah apa yang mereka rasakan saat ini. Karena ternyata, kegiatan Adhisti dan rekan-rekannya itu adalah nge-fly alias memakai obat-obatan terlarang. Bekas alat-alat yang mereka gunakan disingkirkan dan diamankan oleh petugas kepolisian, untuk dijadikan barang bukti.


"Bangun, bangun!"


Teriak beberapa anggota polisi. Tapi karena mereka baru saja memakai obat-obatan tersebut, mereka semua tidak ada yang mendengar perintah tersebut dengan baik.

__ADS_1


Adhisti, tertawa terbahak-bahak sendiri dengan tidak jelas. Dan satu temannya yang lain, mengoceh tidak karuan.


Hanya satu orang yang masih bisa bertahan dan tampak sadar bahwa mereka saat ini sedang dalam keadaan tidak aman. Dia berusaha untuk berdiri dan berjalan menuju ke arah pintu kamar. Dia bermaksud untuk kabur.


Sayangnya, ada petugas yang tetap berjaga-jaga di luar kamar, sehingga orang itu bisa di tangkap juga. Sepertinya, dia adalah pengedar dan menyedia barang-barang yang mereka gunakan tadi.


Mereka semua, ada lima orang termasuk dengan Adhisti, digiring dalam keadaan masih nge-fly, untuk keluar dari kamar dan dibawa ke kantor polisi.


Identitas dan handphone mereka semua, sudah dikumpulkan bersama dengan barang bukti yang ditemukan di kamar hotel tersebut.


Beberapa saat kemudian, setelah sampai di kantor polisi, orang-orang yang tertangkap dibagi menjadi dua, untuk di bawa ke dalam tahanan yang terpisah antara laki-laki dan perempuan.


Dari handphone milik masing-masing tersangka, polisi bisa menghubungi pihak keluarga dan orang-orang terdekat mereka.


Dan untuk Adhisti, pihak kepolisian menghubungi Elang Samudra, sebagai suaminya.


*****


Di rumahnya, Elang sedang mengajari anaknya, Awan, tentang banyak jenis buah dan tumbuh-tumbuhan.


"Ini namanya pohon mangga. Yang ini rambutan."


Drettt drettt drettt!


Drettt drettt drettt!


Elang, mengambil handphonenya yang berdering sedari tadi. Awalnya, Elang menyangka jika itu dari rekan bisnis atau temannya Dia tidak tahu, jika panggilan telpon tersebut dari kantor polisi.


..."Halo, ini siapa?" ...


..."Halo selamat malam. Apa ini dengan Bapak Elang Samudra?" ...


Elang tertegun mendengar pertanyaan dari pihak penelpon. Dia belum tahu, jika yang sedang menelponnya kali ini adalah anggota kepolisian yang akan memberikan informasi tentang istrinya, Adhisti.


..."Iya ini Saya sendiri."...


..."Begini Pak Elang. Kami meminta pada Bapak Elang, untuk segera datang ke kantor polisi."...

__ADS_1


..."Kantor polis? ada apa?"...


..."Sebaiknya bapak segera datang saja ke kantor. Kami akan menjelaskan pada bapak nanti."...


Karena merasa jika ada sesuatu yang terjadi dan sangat penting, akhirnya Elang mengiyakan permintaan dari pihak penelpon.


Elang meminta pada bibi pembantu rumah, untuk menjaga Awan, karena dia akan pergi ke luar sebentar.


"Bi. Tolong jagain Awan ya. Aku mau pergi keluar sebentar. Paling tidak lama kok," kata Elang memberitahu pada bibi pembantu rumah. Dia juga berpesan agar tidak pergi kemana-mana.


"Jaga Awan ya Bi," kata Elang, kemudian segera mengambil kunci mobil yang ada meja kecil di pojok ruangan tersebut.


Bibi pembantu rumah, hanya mengangguk mengiyakan perkataan Elang. Dia sudah terbiasa menjaga Awan, karena saring di tinggal pergi Adhisti, saat Elang pergi ke kantor.


*****


Beberapa saat kemudian, Elang sudah sampai di kantor polisi. Dia segera masuk dan mencari keberadaan petugas jaga.


"Selamat malam Pak," Elang, mengucapkan salam pada petugas jaga, yang sedang bertugas.


"Iya, selamat malam. Apa ada yang bisa saya bantu!" ucap petugas jaga.


Elang pun menjawab pertanyaan dari petugas dan menceritakan tentang telpon yang dia terima tadi.


"Oh. Itu ada di ruangan sebelah sana. Bapak bisa lurus, ikuti saja jalannya. Sampai mentok, di pojok ruangan, bapak bisa bertanya-tanya pada petugas yang ada di sana. Pasti akan ada penjelasan dari petugas yang berjaga di sana juga."


Elang mengangguk mengiyakan perkataan dari petugas yang dia temui dan berjaga di luar.


Sekarang, Elang kembali berjalan menuju ke arah yang tadi diintruksikan oleh petugas.


Tak lama kemudian, disaat Elang sedang berjalan, dia mengenali tas milik istrinya, yang saat ini ada atas meja, di depan salah petugas yang sedang duduk tidak jauh dari tempatnya berdiri saat ini.


"Itu bukannya tas Adhisti, kenapa ada di sini?" gumam Elang tidak jelas.


Setelah bertanya-tanya pada petugas, Elang akhirnya tahu, apa yang sebenarnya terjadi dan kenapa sampai dia ikut dipanggil ke kantor polisi juga.


"Apa status istri Saya hanya sebagai saksi saja, atau akan menjadi tersangka? Jika bisa, Saya ingin mengajaknya untuk menjalani rehabilitasi secara intensif. Karena penjara, tidak akan berpengaruh untuk seorang pecandu. Mereka harus mendapatkan perawatan dan penanganan yang tepat agar bisa lepas dari ketergantungan terhadap obat-obatan tersebut. Maaf, Saya tidak pernah tahu, jika istri Saya itu menjadi ketergantungan terhadap obat-obatan terlarang. Karena selama ini, dia tidak menunjukkan tanda-tanda sebagai seorang pecandu."

__ADS_1


Elang, meminta keringanan untuk istrinya. Dia tidak ingin melihat istrinya itu berada di dalam tahanan. Dia ingin membawa Adhisti ke tempat rehabilitasi, agar bisa mendapatkan perhatian dan pengobatan juga secara baik dan benar.


__ADS_2