Dia Milikku ( Berbagi Cinta )

Dia Milikku ( Berbagi Cinta )
Keberuntungan Yang Beruntun


__ADS_3

Rumah Abimanyu yang sudah ditawarkan, sudah ada beberapa orang yang ingin melihat dan menawar harga. Ada juga yang langsung datang ke rumah tersebut, untuk bisa melihatnya secara langsung.


Tapi Anjani belum bisa memutuskan dengan cepat, karena ingin mendapat harga terbaik. Dia berharap harga yang didapat nanti, bisa menutup biaya operasi yang akan dilakukan oleh Abimanyu.


Pihak pemasaran sudah memasang harga terbaik untuk rumah itu. Tapi sepertinya belum ada yang berani menawar sesuai dengan permintaan.


"Susah juga ya Mas, menjual rumah," kata Anjani, mengeluhkan tentang harga rumahnya yang belum juga sesuai dengan permintaan.


"Iya begitulah. Tidak semudah menjual makanan tentunya, hehehe..."


Abimanyu justru menjawab dengan bercanda, dengan mengolok-olok usaha Anjani di Bogor. Meskipun saat ini, kafe-kafe cabang terpaksa harus di tutup, karena biayanya cukup besar dan tidak ada pemasukan yang berarti jika harus dipotong untuk biaya kontrak tempat usaha.


Yang masih dipertahankan hanya kafe rumah yang ada di halaman rumahnya. Ini karena kafe tersebut, selain yang utama, juga tidak perlu membayar kontrak tempat juga, sehingga biaya produksi tidak terlalu mengkhawatirkan.


Dari pendapatan kafe ini juga, Anjani masih bisa bertahan meski sedikit, karena tentunya memang sangat berbeda situasi, disaat suaminya sehat dan bisa bekerja dengan situasi saat ini, dimana suaminya sedang sakit dan tidak lagi bisa melakukan aktivitas apa-apa. Apalagi bekerja di perusahaan yang bisa mengaji dirinya.


Tapi Anjani tetap merasa bersyukur dan tidak putus asa. Dia tetap berusaha untuk bisa merawat suaminya itu, disela-sela kesibukan mengurus anak-anak.


Meskipun ada baby sitter yang menjaga mereka, tapi Anjani tetap ikut memantau perkembangan anak-anaknya juga.


Dari berbagai penawar rumah, akhirnya ada juga yang memberikan harga terbaik. Mereka berani memberikan harga tinggi, karena mereka menyukai bentuk rumah dan taman kecil yang selama ini dirawat Anjani dengan baik.


Meskipun untuk setahun ini terbengkalai, jika dirawat lagi, pasti akan terlihat bagus lagi.


Di situ, ada aneka macam jenis mawar, dan juga bunga-bunga yang lainnya juga.


Anjani dan Abimanyu bersyukur, karena pada akhirnya, biaya untuk operasi bisa didapatkan.


"Terima kasih Sayang. Semua ini berkat kesabaran dan juga doa-doa yang Kamu lakukan," kata Abimanyu pada Anjani, disaat mereka menerima bukti transfer uang pembayaran.


Anjani memeluk Abimanyu, dengan wajah berbinar-binar senang. Dia berharap, suaminya akan bisa kembali pulih seperti sedia kala, setelah menjalani operasi tersebut.


Meskipun Anjani juga sadar, jika pasca operasi nanti, Abimanyu akan mengalami hal yang sangat sulit untuk hari-harinya. Tapi dia berharap agar operasi itu bisa berhasil dan tidak mengalami kendala dan kegagalan.


Harapan untuk semua orang yang mengenal mereka, terutama keluarga mereka sendiri.


Disaat mereka berdua sampai di rumah, ternyata ada tamu yang menunggu mereka. Tamu tersebut di temani oleh ayah Edi dan juga ibu Sofie.

__ADS_1


Karena Anjani dan Abimanyu pergi ke kantor pemasaran perumahan dengan ditemani Juna, mengunakan mobil ayah Edi.


Dan tamu yang tidak pernah terpikirkan oleh mereka berdua selama ini, karena tamu tersebut adalah Elang.


Elang datang bersama dengan mamanya, sesuai dengan permintaan Elang beberapa hari kemarin, saat mendengar kondisi Abimanyu.


"Maaf Abimanyu, Anjani. Tante datang ke rumah tidak memberikan kabar terlebih dahulu pada kalian," kata mama Amel, di saat Anjani dan Abimanyu masuk ke dalam rumah dan kaget melihat keberadaan mereka di ruang tamu.


Abimanyu yang berada di kursi roda dan didorong oleh Anjani, hanya bisa mengangguk dan tersenyum mendengar perkataan dari mama Amel.


Anjani, menyalami mantan mertuanya itu, dan juga mantan suaminya juga.


"Apa kabar Ma, Mas?" tanya Anjani yang sekarang ikut duduk di ruang tamu, didekat kursi roda Abimanyu.


Mama Amel menyalami Abimanyu. Begitu juga Elang. Mereka semua bersikap seperti biasanya, dan secara dewasa. Ini murni menjenguk rekan yang sakit tanpa ada sesuatu yang tersembunyi di belakang niat mereka.


"Baik Jani. Kami harap Kalian juga sama ya," jawab mama Amel, dengan tersenyum.


"Ya Ma, kami baik. Dan perkembangan mas Abi juga sangat bagus beberapa hari terakhir ini."


"Maaf mas Elang. Kami tidak bisa ikut datang saat pemakaman Mbak Adhisti," kata Abimanyu, pada Elang yang sedari tadi hanya diam dan mendengarkan mereka berbicara.


"Iya, tidak apa-apa Abimanyu. Aku memaklumi kondisi Kalian. Doakan saja, semoga dia tenang di alam sana," jawab Elang dengan mata berkaca-kaca. Dia jadi teringat lagi dengan mendiang istrinya itu.


"Maaf Mas. Kata-kata Aku jadi mengingatkan mas Elang pada almarhumah," kata Abimanyu lagi, yang merasa tidak enak hati karena sudah membuat Elang kembali bersedih hati.


Akhirnya, mereka semua membicarakan tentang hal yang biasa dan juga beberapa pekerjaan yang ada di kantor mama Amel.


"Maaf Tante. Abimanyu lebih baik di coret saja dari daftar karyawan Tante. Kan Abimanyu absen lebih dari satu tahun Tante. Dan setelah operasi ini, belum tentu juga Abimanyu bisa langsung kerja seperti biasanya."


Abimanyu merasa tidak enak hati, karena selama ini, masih mendapat bantuan gaji dari pihak perusahaan mama Amel. Padahal dia sudah tidak bekerja setelah kecelakaan yang dia alami waktu itu.


"Tidak apa-apa Abi. Kami masih berharap, supaya Kamu cepat sembuh dan sehat, sehingga bisa kembali bekerja bersama kami lagi," jawab mama Amel, yang memang sudah menganggap Abimanyu lebih dari sekedar karyawan biasa.


Apalagi sejak Abimanyu menikah dengan Anjani. Mama Amel merasa bahwa Abimanyu sama dengan menantunya sendiri, karena dia sudah menganggap Anjani sebagai anaknya sendiri juga.


Tak lama, mama Amel dan Elang berpamitan untuk pulang.

__ADS_1


*****


Di kamar, Anjani yang tadi tidak tahu jika mama Amel menyelipkan sebuah amplop ke dalam tasnya, merasa sangat kaget, karena isinya sangat banyak, menurut dirinya.


"Mas. Ini apa? Apa mama Amel yang nyelipin tadi?" tanya Anjani bingung.


Abimanyu yang juga tidak tahu, juga ikut merasakan keharuan dengan kebaikan mama Amel.


"Tante Amel itu sangat baik. Aku yang bukan siapa-siapa saja, sudah dia perlakukan dengan cara yang sama seperti anaknya sendiri. Aku harap, dia akan berumur panjang dan selalu dalam keadaan sehat."


Abimanyu hanya bisa berdoa untuk semua kebaikan yang dilakukan oleh mama Amel untuk mereka.


Dia berharap, dirinya bisa segera sembuh dan kembali bekerja seperti dulu lagi, di perusahaan mama Amel.


Apalagi saat ini papa Ryan sedang bertugas ke Amerika. Dan dia ada di sana dalam jangka waktu yang lama.


Anjani juga melakukan hal yang sama seperti yang dilakukan oleh suaminya itu. Dia merasa sangat beruntung karena mendapatkan orang-orang yang baik, yang ada di sekitarnya.


"Mas. Ini bisa kita gunakan untuk keperluan mas Abi nanti, setelah operasi. Mungkin mas Abi butuh obat-obat luar yang bisa mempercepat proses penyembuhan dan pemulihan luka pasca operasi."


Abimanyu mengangguk mengiyakan perkataan istrinya.


"Sini Sayang," panggil Abimanyu, pada Anjani.


Anjani mendekat, dimana Abimanyu saat ini berada di sisi ranjang yang lain.


Cup!


Cup!


"Terima kasih ya. Sudah sangat sabar dalam merawat Mas selama ini," kata Abimanyu, setelah mencium kedua pipi istrinya, Anjani.


Anjani jadi tersipu malu, dan wajahnya memerah juga. Hal yang membuat Abimanyu menjadi gemas sendiri. Sayangnya, kondisi tubuhnya saat ini tidak memungkinkan untuk berbuat lebih pada istrinya itu.


Dia berjanji, akan melakukan semuanya nanti, setelah dirinya sehat dan bisa melakukan aktivitas seperti biasa, sama seperti yang dilakukan waktu dulu.


Akhirnya, mereka bersiap untuk tidur, dan beristirahat. Karena hari ini sudah membuat mereka berdua sangat lelah dengan semua kegiatan di luar rumah tadi, saat berada di kantor pemasaran perumahan yang menangani penjualan rumah mereka.

__ADS_1


__ADS_2