Dia Milikku ( Berbagi Cinta )

Dia Milikku ( Berbagi Cinta )
Sebuah Harapan


__ADS_3

Nanda berpikir untuk menitipkan adiknya Miko, pada tetangga sebelah rumah eyangnya. Tapi, dia juga merasa khawatir, jika akan mendapatkan amarah dari semua orang.


"Gimana ya?" gumam Nanda, bertanya pada dirinya sendiri. Dengan apa yang akan dia lakukan, supaya bisa pergi ke rumah sakit. Dan adiknya Miko, juga ada yang jagain.


"Telpon tante Sekar sajalah."


Akhirnya, Nanda memutuskan untuk menghubungi mamanya Miko saja.


Tut tut tut!


Tut tut tut!


Tapi sepertinya Sekar tidak bisa dihubungi oleh Nanda. Panggilan telpon yang dia lakukan, tidak dijawab oleh tantenya itu.


Nanda pun mencobanya sekali lagi. Dia pikir, mungkin sinyal operator seluler, sedang tidak stabil saja. Karena kondisi cuaca yang memang sedang mendung sejak tadi.


Tut tut tut!


Tapi, panggilannya tersebut justru ditolak oleh tantenya, Sekar. "Eh, kenapa ini?" tanya Nanda bingung.


Namun tak lama kemudian, handphone miliknya justru berbunyi. Ada panggilan masuk untuknya, dari tantenya. Mamanya mm Miko.


..."Halo Tante!"...


..."Ya Nda. Ada apa? Apa adek rewel?"...


..."Gak kok. Cuma mau tanya sih."...


..."Ada apa?"...


..."Tante ada di mana, apa sudah mau pulang?"...


..."Bentar Nda. Ini baru selesai. Apa Kamu mau pergi?"...


..."Emhhh... Ya sudah gak apa-apa Tante. Nunggu Tante pulang saja."...


..."Oh ya sudah. Tunggu sebentar ya! Paling lima belas menit lagi Tante pulang kok. Gak apa-apa kan?"...


..."Iya Tante."...


Klik!


Hubungan telpon terputus. Nanda membuang nafas panjang. Dia harus sabar untuk lima belas menit lagi.


"Semoga saja, kemo terapi Mita berhasil."


Nanda mengucapkan doa dan harapan, untuk kesehatan dan keselamatan Mita. Teman adiknya, Ara.


Nanda tidak tahu, bagaimana perasaannya sendiri terhadap Mita. Tapi untuk memberikan semangat kepada Mita, agar tidak terpuruk dalam kesedihan, Nanda mau melakukan apa saja demi Mita.


Sekarang, dia melirik ke arah adik sepupunya, yang masih asyik bermain sendiri dengan beberapa bonekanya.


Untungnya, adiknya Miko itu, tidak seaktif kakaknya. Adiknya itu, lebih anteng jika ada mainan atau makanan di dekatnya. Dia justru merasa terganggu, jika ada orang yang ikut bermain atau mengusiknya.

__ADS_1


Berbeda dengan Miko, kakaknya. Karena si Miko akan tetap saja bergerak ke sana kemari, meskipun ada mainan ataupun makanan yang sudah disediakan di dekatnya.


Bahkan, si Miko juga lebih sering mencari masalah, dengan semua tingkah lakunya itu.


"Akak, akak!"


Nanda kembali menoleh ke arah adiknya Miko, saat mendengar suara yang memanggilnya.


"Tu! atuh Akak!" ucap adiknya Miko, sambil menunjuk pada mainan yang tadi ada di atas meja.


Ternyata menggelinding menjauh dari tempatnya duduk.


Nanda tersenyum mendengar suara adiknya Miko, yang belum jelas untuk mengatakan sesuatu.


"Ya Kakak ambilkan. Diam-diam saja ya di sana!"


*****


Di Atlanta, Amerika.


Ara sudah merasa tidak nyaman, sejak pagi tadi. Dia merasa deg-degan sendiri, untuk rencananya bersama dengan Awan nanti sore.


Dan sekarang, hari baru saja siang. Jadi, masih ada banyak waktu untuk dia menenangkan hati dan pikirannya sendiri.


'Tenang Ra. Kamu bukannya mau menikah. Ini hanya menonton opera aja.'


Begitulah kata hatinya Ara, yang berusaha untuk menenangkan diri.


"Hai Ra!"


Ternyata, ada Clarissa yang sedang tersenyum dan berjalan mendekat ke tempatnya duduk.


'Ada apa Clarissa di kampus?' tanya Ara dalam.


Setelah Clarissa berdiri di depannya, Ara bertanya juga, "Kamu ada acara di sini?"


"Gak. Tadi hanya ketemu dengan teman-teman yang lain aja. Kan Aku gak lama juga di Amerika. Dua hari lagi, Aku akan kembali ke Eropa."


Clarissa menjawab pertanyaan dari Ara, dengan menjelaskan juga jika dia akan segera kembali ke Eropa lagi.


"Oh. Kok cepat?" tanya Ara, karena kemarin itu, Clarissa mengatakan jika dia sedang liburan untuk dua minggu ke depan.


"Emhhh... itu, ada perlu penting di sana."


Ara mengangguk saja, mendengar jawaban yang diberikan oleh Clarissa.


Dan akhirnya mereka berdua berbincang-bincang sebentar, dengan membicarakan hal-hal yang biasa saja.


Drettt drettt drettt!


Ponsel Ara bergetar di dalam tas. Ara segera mengambil handphone miliknya, dan melihat siapa yang menghubungi dirinya kali ini.


"Kak Awan," gumam Ara, saat melihat nama Awan yang ada pada layar handphonenya.

__ADS_1


"Maaf ya Clarissa. Aku terima telpon dulu." Ara pamit pada Clarissa, untuk menerima panggilan telpon yang masuk.


Clarissa hanya mengangguk saja, tanpa berkata apa-apa.


Ara menyingkir tak jauh dari tempatnya duduk tadi, bersama dengan Clarissa. Dia tidak enak hati, karena akan berbicara dengan Awan, jika ada di dekat temannya itu.


..."Ya Kak."...


..."Tunggu di kampus saja ya?" ...


..."Oh, baiklah kalau begitu Kak." ...


..."Kakak akan segera berangkat. Kamu udah gak ada jam kuliah kan?" ...


..."Iya. Ara tunggu di depan nanti."...


..."Gak usah Ra. Tunggu aja di dalam area kampus. Kakak akan kabari, sama seperti biasanya. Baru Kamu keluar." ...


..."Ok deh."...


Klik!


Awan memang tidak pernah mengijinkan Ara untuk menunggunya di luar area kampus.


Sepertinya, Awan merasa khawatir jika, Ara akan di ganggu orang-orang yang lewat. Dan Awan merasa jika, Ara akan lebih aman berada di dalam dari pada berada di luar area kampusnya itu.


"Sorry ya Clarissa. Aku tinggal tadi," ucap Ara, meminta maaf pada Clarissa, yang masih duduk di tempatnya yang tadi.


"Its ok Ra. No problem," sahut Clarisa dengan wajahnya yang terlihat senang.


Mereka berdua pun akhirnya kembali berbincang-bincang. Karena Ara juga sedang menunggu kedatangan Awan. Dan kebetulan, ada Clarissa yang menemani dirinya, sehingga tidak merasa jenuh.


Setelah hampir tiga puluh menit kemudian, ada telpon masuk ke ponselnya Ara lagi. Bisa dipastikan jika, itu adalah Awan yang memberikan kabar jika, dia sudah berada di depan kampus.


Ternyata benar. Dan Ara pun kembali menerima panggilan tersebut.


Tak lama kemudian, Ara pamit pada Clarissa. Karena dia sudah harus pergi terlebih dahulu.


"Clarissa. Sorry ya. Aku harus pergi duluan. Gak apa-apa kan Aku tinggal?" pamit Ara, yang sebenarnya merasa bersalah dan juga tidak enak hati.


"No problem Ra. Silahkan pergi duluan. Aku masih menunggu teman kok," sahut Clarissa, yang tidak merasa keberatan, saat Ara pamit pergi.


Akhirnya, kedua berpisah.


Ara berjalan menuju ke arah depan kampus. Sedangkan Clarisa, masih duduk berdiam diri di tempatnya.


Tapi dari sudut bibirnya Clarisa, terlihat samar sebuah senyuman yang misterius.


Entah apa yang sedang dia pikirkan, saat melihat kepergian Ara yang semakin menjauh. Dan akhirnya tidak lagi terlihat olehnya.


"Kamu akan membayar mahal Ra. Atas apa yang sudah terjadi padaku selama ini." Clarissa bergumam seorang diri, dengan senyumannya yang masih menghiasi bibirnya.


Di depan kampus, tampak Ara yang berjalan dengan tersenyum bahagia, saat melihat keberadaan Awan yang berdiri di seberang jalan.

__ADS_1


Di seberang jalan, Awan berdiri di samping sebuah mobil.


Jadi, hari ini dia menjemput tunangannya itu dengan mobil. Bukan dengan sepeda motor, sama seperti biasanya.


__ADS_2