
Mobil Juna, tiba di rumah sekitar pukul setengah sembilan malam. Dia tidak mengantarkan kakak iparnya ke rumah mereka terlebih dahulu karena, anak-anak mereka, Ara dan Anggi, ada di rumahnya juga.
Saat mobil berhenti di depan rumah, Miko dan Anggi keluar bersama dengan cepat.
"Papa, Mama!" Teriak Miko, memanggil papa dan mamanya, yang sedang membuka pintu mobil.
"Bunda. Ayah!" Anggi juga tidak mau kalah. Dia melakukan hal yang sama, seperti yang dilakukan oleh sepupunya itu, Miko. Yaitu berteriak memanggil ayah dan bundanya juga.
Ara, yang sedang membaca buku di ruang tamu, ikut berdiri dan berjalan menuju ke luar rumah.
"Ayok, bersiap-siap untuk pulang," kata Anjani, mengingatkan kedua anaknya, Ara dan Anggi.
"Hak istirahat sebentar Mbak Jani?"
Sekar menawari Anjani, supaya beristirahat sebentar, di rumahnya, sebelum mereka semua pulang ke rumahnya sendiri.
"Langsung pulang saja ya Sekar. Kamu juga butuh istirahat. Anak-anak juga pasti sudah capek seharian bersama-sama terus. Hehehe... terima kasih ya Bi. Sudah menjaga anak-anak."
Anjani mengucapkan terima kasih, kepada bibi pembantu rumah Sekar, yang saat ini baru saja keluar. Dia sedang merapikan baju-baju cucian yang sudah kering, sementara Ara menjaga kedua adiknya itu, sambil belajar.
"Sama-sama Bu. Neng Ara juga kok, yang jaga mereka tadi," sahut bibi pembantu rumah.
"Juna antar Mas," kata Juna, menawari keluarga kakak iparnya itu, untuk dia antar pulang ke rumah.
"Gak usah Juna. Deket ini kok," sahut Abimanyu, yang tidak mau merepotkan adik iparnya, yang pastinya juga sedang capek.
"Gak apa-apa Mas. Mumpung belum masuk ke dalam rumah ini, sekalian saja."
Akhirnya, Abimanyau tidak enak untuk menolak tawaran tersebut. Dia dan anak-anaknya, di minta untuk segera masuk ke dalam mobil, setelah berpamitan dengan Sekar dan juga bibi pembantu rumah.
Tapi pada saat berpamitan dengan Miko, inseden terjadi. Miko merengek-rengek pada papanya, supaya diijinkan untuk ikut mengantar Anggi pulang ke rumah.
"Miko ikut. Miko ikut antar Anggi pulang!"
Sekar hanya menggeleng, melihat tingkah anaknya itu.
Sedangkan Anjani dan Abimanyau, terkekeh geli karena itu hanya alasan Miko, supaya bisa ikut naik mobil, sama seperti yang lainnya juga.
"Miko! Kan cuma deket. Besok juga bareng lagi berangkat sekolah." Anggi berteriak mengingatkan sepupunya itu.
Tapi Miko sudah masuk ke dalam mobil terlebih dahulu, sebelum Anggi dan yang lainnya masuk.
"Sudah-sudah Anggi. Ayok masuk Dek!"
__ADS_1
Abimanyu mengingatkan pada anaknya itu, supaya tidak lagi meributkan keinginan Miko, untuk ikut mengantar mereka pulang ke rumah.
Miko menjulurkan lidahnya pada Anggi. Dia merasa mendapat pembelaan dari pamannya, ayahnya Anggi, yaitu Abimanyu.
"Kalian ini gak bosen ya berantem sedari tadi?" tanya Ara, dengan mengingatkan mereka berdua, Anggi dan Miko, dengan pertikaian yang mereka ciptakan, meskipun untuk hal-hal yang kecil.
"Sudah Kak. Mereka berdua, jika tidak seperti itu, tidak rame juga kan?" Anjani, mengeleng dengan mengingatkan Ara, supaya tidak meladeni pertikaian kedua adiknya itu.
"Eh, Bunda-Bunda. Tadi Kak Ara di antar pacar barunya dong!"
Anjani mengerutkan keningnya, mendengar perkataan dari Miko. Dia tidak ingat, siapa yang mengantarkan Ara pulang tadi.
Tapi tak lama kemudian, dia tersenyum sendiri saat ingat jika Awan yang tadi dihubungi oleh suaminya, untuk minta tolong pada Awan, supaya mengantar Ara pulang ke rumah.
Apalagi, Ara juga mengelak dari tuduhan yang diberikan oleh Miko padanya.
"Dih, Miko! apaan sih! bukan pacar kak Ara itu. Dia kan kak Awan. Yang menemukan Kamu kemarin, waktu selamatan ulang tahun Kakak. Ingat tidak, Kamu tidur sama Anggi di belakang sofa waktu itu?" Ara mengelak dari tuduhan Miko. Dia juga menjelaskan pada Miko, siapa yang tadi mengantarkan dirinya pulang dari sekolah.
Miko, yang bermaksud untuk mengadu kepada bunda Anjani atau pamannya, Abimanyu, jadi meringis sendiri, saat ingat dengan kejadian waktu itu.
"Itu Ayah kok yang minta pada Kak Awan, supaya mengantarkan kak Ara pulang. Jadi, Ayah udah tahu," sahut Abimanyu, menanggapi perkataan Miko.
"Hihihi..."
"Napa weee?"
Miko, yang merasa malu, pura-pura tidak paham, dengan ledekan dari Anggi, yang ditujukan untuknya.
"Eh, udah-udah. Ayok turun semua. Kita sudah sampai di rumah."
Anjani, menengahi perdebatan kedua bocah, Anggi dan Miko. Apalagi saat ini, mobil Juna memang sudah berhenti di depan rumah mereka.
"Yeee! Akhirnya sampai juga di rumah."
Anggi berseru dengan senang, karena akhirnya pulang ke rumah sendiri.
Ara hanya menggeleng, melihat tingkah adiknya itu.
Sedangkan Miko, hampir saja ikut turun dari mobil. Dia masih ingin bermain dengan Anggi.
"Ehhh, Miko. Gak usah ikut turun. Kita langsung pulang saja." Juna memperingatkan anaknya, Miko.
"Pah. Miko di rumah Anggi sebentar ya!"
__ADS_1
Miko merengek pada papanya, supaya diijinkan untuk tetap tinggal di rumah Anggi.
"Tidak-tidak. Besok saja Sayang. Sekarang, udah malam, waktunya untuk tidur. Anggi, kak Ara, bunda Jani dan juga ayah Abi, udah pada ngantuk. Jadi mereka semua, kau tidur. Besok saja ya, main lagi?"
Juna, papanya Miko, berusaha untuk memberikan pengertian kepada anaknya. Apalagi, dia juga tahu, bagaimana keadaan kedua kakak iparnya itu, yang seharian ini ada di rumah sakit.
Anjani dan Abimanyu, pasti merasa sangat capek dan ingin segera beristirahat.
"Miko anak pintar. Sekarang pulang ya sama papa Juna. Besok, pulang sekolah main lagi sama Anggi. Besok-besok, kalau adiknya Miko lahir, kita ganti main-main ke rumahnya Miko."
Anjani, merayu keponakannya itu, supaya ikut pulang bersama papanya. Hari sudah malam. Dan jika dituruti, itu akan menjadi kebiasaan, dan bisa-bisa, Miko akan terus menerus merengek minta main ke rumahnya, meskipun hari sudah malam.
Tentu saja, Anjani merasa senang dengan Miko. Tapi, bermain juga ada batasan waktu, meskipun tidak ada yang melarang.
Harus ada kontrol dan pengawasan dari orang tua, agar mereka Anggi dan Miko, juga tahu waktu dan tidak hanya semuanya, jika ingin bermain-main.
Akhirnya, Miko tidak lagi merengek. Dengan wajah ditekuk, dia kembali masuk ke dalam mobil, kemudian papanya, Juna, menjalankan mobilnya, untuk pulang ke rumahnya sendiri.
"Bunda. Anggi ngantuk Bun."
Anggi, yang sedari tadi hanya diam saja dan tidak mengatakan apa-apa, ternyata sudah sangat mengantuk. Dia sudah tidak tahan lagi, sehingga matanya tertutup dengan sendirinya, dan tubuhnya hampir saja terjatuh, karena dia sudah dalam keadaan tertidur.
"Nah kan, udah tidur aja dia!"
Abimanyu, menggeleng sambil tersenyum, melihat anaknya yang tidak kuat lagi menahan rasa kantuknya, dan akhirnya tertidur, sebelum sampai di dalam kamar.
*****
Tok tok tok!
"Awan, Awan! Ayok keluar Sayang. Makan malam sudah siap!"
Pintu kamar Awan diketuk-ketuk oleh mama Amel. Tapi Awan tidak membukanya juga.
Bahkan, panggilan omanya itu, tidak digubris. Awan tetap tidak menjawab panggilan dari omanya, yang masih berdiri di depan pintu kamarnya.
Tok tok tok!
"Wan. Kamu belum tidur kan?"
Terdengar suara omanya lagi. Tapi Awan, tetao saja diam dan tidak menyahut panggilan tersebut.
Sebenarnya, Awan memang belum tidur. Tapi dia merasa malas untuk keluar dari dalam kamarnya. Dia juga tidak merasa lapar malam ini.
__ADS_1
Jadi, Awan hanya tidur-tiduran saja, tanpa melakukan apa-apa.