Dia Milikku ( Berbagi Cinta )

Dia Milikku ( Berbagi Cinta )
Para Pengacau


__ADS_3

Nanda berusaha untuk menelpon seseorang, tapi handphone miliknya, langsung dirampas oleh para pengacau.


Begitu juga dengan Anggi. handphone miliknya, juga ikut di ambil oleh orang-orang tersebut.


Ara dan Nanda tetap berusaha untuk bisa setenang mungkin, agar kedua adiknya tidak menangis.


Tapi sekarang, mereka berdua sedang diikat kedua tangannya dan juga mulutnya diplester. Anggi dan Miko tentu saja melawan mereka.


"Ughhh... ughhh..."


Anggi mengeleng beberapa kali, mencoba untuk melepaskan diri.


Begitu juga dengan Miko. Tapi tetap saja kekuatan mereka berdua tidak sebanding dengan kekuatan orang-orang dewasa tersebut.


Bugh!


Nanda memukul pundak salah satu dari mereka, yang sedang mengikat tangan Miko. Karena posisi letaknya ada di dekat Miko.


"Aduh... Eh, sialan!"


Plak!


Bugh!


Bugh!


Nanda mendapatkan sebuah tamparan dan juga dua pukulan di bagian perutnya. Dari salah satu teman pengacau yang terdekat dengannya. Sehingga dia tersungkur ke lantai.


"Kak!"


Ara berteriak, karena melihat Nanda yang tersungkur dengan kesakitan di bagian perutnya. Dia ingin membantu kakaknya itu, tapi tangannya segera di tepis oleh pengacau tadi.


"Diam di tempatmu!" bentaknya pada Ara, dengan senjata api yang diarahkan ke pelipisnya.


Anggi dan Miko sudah tidak bisa melakukan apa-apa. Karena tangan mereka berdua sudah dalam keadaan terikat. Mulut mereka juga sudah diplester. Jadi mereka berdua tidak bisa berteriak juga.


Dari dalam kamar, keluar Anjani dan Abimanyu, yang terbangun karena mendengar suara ribut-ribut ruang tamu.


"Ada... ada apa ini?"


"Kak..."


"Diam di tempat, dan angkat kedua tangan Kalian berdua!"


Abimanyu dan Anjani, belum sempat menyadari keadaan yang sebenarnya terjadi pada anak-anak mereka. Tapi keduanya sudah ditodong senjata api juga.


Mau tidak mau, mereka berdua mengikuti instruksi yang diberikan oleh para pengacau itu.


"Bun, siapa mereka Bun?" tanya Abimanyu, dalam keadaan bingung.


"Bunda juga gak tahu Yah," sahut Anjani, yang sama bingungnya.


Dua orang pengacau yang sudah selesai mengamankan Anggi dan Miko, berjalan mendekat ke tempat berdirinya Anjani dan Abimanyu.


"Berbalik!"


Salah satu dari mereka memberikan instruksi. Tapi dengan cepat, Anjani bergerak tanpa mereka sadari.

__ADS_1


Kaki kanan Anjani, menendang tepat ke arah alat vital salah satu dari mereka.


Bugh!


"Arghhhh..."


Laki-laki tersebut berteriak dengan memegangi bagian kesayangannya. Wajahnya memerah marah, tapi juga kesakitan.


Ini membuat semuanya terkejut, apalagi, Anjani juga sudah mengambil alih senjata laki-laki yang dia tendang. Kemudian memiting kepalanya dengan todongan senjata api tepat di pelipisnya.


"Letakkan senjata kalian semua!"


Anjani ganti yang memberikan instruksi kepada para pengacau. Sayangnya dia lupa, jika masih ada empat orang lainnya yang juga memegang senjata api.


"Loe yang letakkan senjata api. Berbalik dan angkat tangan, jika masih sayang dengan nyawa anak-anak Loe!"


Satu dari mereka, meletakkan senjata api tepat di tenggorokan Anggi.


"Emhhh... emhhh..."


Anggi berusaha untuk menghindar. Dia sangat ketakutan, dengan adanya senjata api yang siap untuk ditarik pelatuknya.


"Bun," panggil Abimanyu, yang berusaha untuk mengingatkan pada istrinya. Supaya tidak gegabah dan mengorbankan anaknya sendiri.


Melihat situasi yang tidak bisa diajak kompromi, Anjani terpaksa membuang senjata api tersebut. Kemudian dia mengangkat kedua tangannya untuk menyerah.


"Hahaha..."


"Cepat ikat mereka semua!"


Mereka semua tertawa-tawa senang, karena bisa menguasai keadaan lagi. Dan salah satu dari mereka, mungkin pemimpin dari para pengacau, memerintahkan temannya yang lain untuk mengikat semua orang yang sudah tidak punya waktu dan keberanian untuk melawan lagi.


Jadi sedari tadi, mereka berdua terus menangis tapi tidak bisa mengeluarkan suara. Karena mulut mereka berdua dalam keadaan diplester.


Ara mencoba untuk menandai mereka. Mengincar salah satu dari mereka yang menjadi pemimpin. Tapi dia juga tidak bisa gegabah.


Mengingat jika, bukan hanya dirinya saja yang sedang dalam keadaan bahaya seperti sekarang ini.


Dia juga harus memikirkan keselamatan orang-orang terdekatnya. Jadi, Ara hanya bisa menahan diri agar tidak berbuat apa-apa. Demi melindungi yang lain.


Karena pada saat ini, keempat pengacau mengeledah tempat-tempat, di mana letak barang-barang berharga.


Dan salah satu dari mereka, menyandera Anjani untuk menunjukkan tempat-tempat tersebut.


Anjani tidak ada pilihan lain, selain mengikuti apa yang mereka inginkan.


Tapi karena dia juga memiliki banyak perhiasan, tentu saja para pengacau itu merasa kecewa.


"Habis ada pesta. Pasti ada sesuatu yang berharga. Tunjukkan di mana! Atau Loe sudah tidak sayang dengan suami Loe yang ada di luar sana?"


Pengacau yang mengiring Anjani, menghardiknya. Dia juga mengancam Anjani untuk melukai Abimanyu.


"Aku tidak punya banyak perhiasan. Hanya ada itu saja."


Anjani menunjuk kotak perhiasan yang tadi sudah dia berikan. Dia tidak mungkin memberitahukan kepada pengacau tersebut, dengan perhiasan yang baru saja diberikan oleh keluarga Awan, sebagai seserahan tadi.


"****!"

__ADS_1


Pengacau itu mengumpat kesal.


"Sepertinya, Loe tidak berguna!" Umpat pengacau itu lagi, dengan mendorong Anjani ke luar dari kamarnya.


"Sepertinya, anaknya itu yang cewek lebih berguna untuk kita. Giring saja mereka berdua!"


Setelah beberapa saat kemudian, semua orang sudah diikat dan mulutnya diplester. Termasuk Anjani dan juga Abimanyu.


Para pengacau itu juga sudah pergi semua. Tapi mereka membawa Ara dan Anggi juga.


Di dalam hati, Anjani dan Abimanyu berdoa. Semoga anak-anaknya itu bisa selamat dan tidak terjadi sesuatu pada mereka berdua.


Keadaan menjadi sunyi. Karena ternyata, Miko dalam keadaan pingsan, sangking panik dan takutnya.


Sedangkan Nanda, bergerak sedikit demi sedikit. Berusaha untuk bisa melepaskan ikatan tali yang mengikat kedua tangannya.


"Emhhh... emhhh..."


Nanda berusaha untuk berkomunikasi dengan bundanya.


Anjani melihat keadaan Nanda. Dia dan Abimanyu, berusaha membantunya sebisa mungkin, untuk bisa melepaskan tali tersebut. Dengan keadaan kedua tangan mereka yang juga terikat.


Setelah berusaha keras, akhirnya tali di tangan Nanda bisa terlepas.


Dengan cepat, Nanda melepaskan plester yang menutupi mulutnya.


"Emhhh..."


Rasa sakit akibat plester tersebut, membuat Nanda meringis. Setelahnya, dia membuka tali pengikat yang ada di tangan Anjani dan juga Abimanyu.


Baru setelah itu, dia membuka plester dan tali yang ada di tangan Miko.


"Siapa mereka semua?"


"Yah. Ara dan Anggi Yah!"


"Telpon. Mana handphone? mana handphone?"


Anjani dan Abimanyu tetap merasa panik. Meskipun mereka berdua sudah bebas.


Mereka berdua merasa sangat khawatir, dengan keadaan kedua anak mereka. Ara dan Anggi.


"Handphone Nanda diambil Yah. Punya Anggi juga tadi," jawab Nanda, yang masih berusaha untuk menyadarkan Miko.


"Punya Ayah dan bunda juga di ambil tadi di kamar," sahut Anjani, yang mengetahui apa saja yang tadi di bawa oleh pengacau-pengacau itu.


Selain kotak perhiasan miliknya, mereka semua juga sudah mengambil handphone-handphone yang mereka temukan.


Begitu juga dengan cincin dan gelang Ara yang tadi dikenakan.


Tapi yang lebih mengkhawatirkan adalah, mereka juga membawa kedua anaknya. Dan salah satu dari mereka mengancam akan menjual anak-anaknya itu ke luar negeri atau ke rumah-rumah bordir.


"Nanda, cepat pergi ke rumah eyang! Cari bantuan. Ayah akan cari security kompleks. Bunda, jaga Miko!"


"Nanti Ayah juga akan ke rumah Sekar," kata Abimanyu, yang memberikan penjelasan dan tugas pada Anjani dan juga Nanda.


"Ya Yah," sahut Nanda.

__ADS_1


"Hati-hati Yah!" Anjani memberikan pesan pada suaminya itu.


Tapi baru saja Abimanyu dan Nanda ke luar dari rumah, mereka berdua melihat security kompleks. Yang terbaring dalam keadaan terluka parah di teras depan.


__ADS_2