
Ara masih asyik dengan bacaannya. Dia tidak memperhatikan kondisi sekeliling. Dan pada saat Dika menegurnya, barulah dia mendongak menatap ke arah Dika.
"Eh, Kakak. Ada di dalam sana juga?" tanya Ara, karena melihat keberadaan Dika, yang saat ini sudah ada di depannya. Dia juga menatap ke arah Awan, meskipun hanya sebentar saja.
"Iya. Kamu nunggu kakak sepupu Kamu itu ya?"
Ara mengangguk, mengiyakan pertanyaan dari Dika, soal kakak sepupunya, Nanda, yang juga ada di dalam ruangan OSIS.
Awan, yang ada di samping Dika, hanya mengangguk dan tersenyum dengan samar, saat Ara melihat ke arah dirinya tadi.
Begitu juga dengan Ara. Dia pun ikut mengangguk dan tersenyum tipis, saat Awan tidak mengatakan apa-apa padanya.
Tidak lama kemudian, Nanda tampak keluar dari dalam ruangan OSIS, dengan beberapa cewek yang ikut bersama dengannya.
Suara cewek-cewek tersebut, terdengar hingga ke tempat Ara. Dan ini membuat Ara heran, karena kepopuleran kakak sepupunya itu, cepat sekali membuat para cewek terpesona.
"Kak. Memangnya kalau tidak mencalonkan diri sendiri, bisa di calonkan orang lain? Dan itu tanpa persetujuan dari kita juga?" Ara mencoba untuk mencari tahu, tentang pencalonan kakak sepupunya itu.
Karena yang Ara tahu, kakaknya, si Nanda, tidak pernah ikut kegiatan-kegiatan di dalam organisasi sekolah tersebut.
Apalagi, Nanda juga merupakan siswa baru yang belum lama bersekolah di yayasan ini.
"Ehmmm... jika yang mencalonkan dirinya itu ada 30% dari anggota OSIS, yang aktif ya, bisa saja. Tapi jika tidak, ya tidak bisa juga."
Dika, menjawab dengan menjelaskan kepada Ara, dengan apa yang menjadi pertanyaan Awan juga.
Awan lupa, dengan aturan yang ada, karena sebenarnya, dia masuk ke dalam organisasi sekolah tersebut juga atas ajakan dari si Dika. Bukan atas kemauannya sendiri.
Ara mengangguk-angguk kepalanya. Dia sedikit lebih paham, dengan apa yang terjadi pada kakak sepupunya itu.
"Aku duluan ya," kata Awan, berpamitan.
Dia tidak menunggu Dika, yang sepertinya tidak mau melepaskan kesempatan, untuk bisa berbicara dengan Ara. Meskipun ada Nanda di. belakang, yang sebentar lagi juga akan sampai dan mengajak Ara untuk segera pulang.
Apalagi, hari sudah semakin gelap.
Dika akhirnya ikut juga pamit, kemudian berjalan dengan cepat menyusul Awan.
Sedangkan dari arah belakang, Nanda berjalan dengan tenang, menuju ke arah tempat duduknya Ara.
Cewek-cewek yang tadi ikut berjalan dengan Nanda, sudah ada yang berlari lebih dulu, dengan saling berkejaran dengan teman ceweknya yang lain.
Ada juga yang masih ada di belakangnya Nanda.
"Maaf ya, lama. Yuk!"
Ara mengangguk dan bangkit dari tempat duduknya, kemudian melangkah bersama dengan kakak sepupunya itu.
Mereka berdua, berjalan menuju ke tempat parkir motor warung Pak Lek, di mana Awan dan Dika, juga berjalan menuju ke tempat yang sama.
__ADS_1
Awan dan Dika, tentu saja lebih dahulu sampai di tempat parkir motor tersebut. Mereka berdua, juga sudah bersiap untuk pulang, dengan posisi di atas motor mereka masing-masing, pada saat Ara dan Nanda sampai.
"Aku duluan ya!" kata Awan berpamitan, pada Dika, dan mungkin juga ditujukan untuk Ara serta Nanda.
Tentu saja wajahnya Awan tidak terlihat. Jadi, entah dengan tersenyum atau tidak, Ara tidak bisa melihatnya.
Dika juga langsung melenggang pergi, meninggalkan tempat parkir motor tersebut, dengan hanya menganggukkan kepalanya, saat melewati Ara dan Nanda.
"Ayok Ra!"
Ara segera naik ke atas boncengan motor Nanda, begitu selesai mengunakan helmnya.
"Mampir ke tempat papa Wawan dulu ya," kata Nanda, sebelum motornya melaju.
"Mau ngapain?" tanya Ara cepat.
"Ada deh!"
Ara tidak lagi bertanya, karena setelah berkata demikian, Nanda sudah menutup kaca helm dan melajukan motornya, keluar dari dalam area parkir motor warung Pak Lek.
Setelah menempuh perjalanan hampir setengah jam lamanya, Nanda mengehentikan motornya, tak jauh dari pangkalan barang-barang bekas, yang di olah Wawan sebagai tempat usahanya.
Nanda tidak langsung masuk ke dalam pangkalan tersebut. Apalagi, tempat itu juga masih tampak ramai, dengan adanya beberapa orang yang sedang berbincang-bincang.
Nanda mengeluarkan handphone miliknya, untuk menghubungi papanya, Wawan, terlebih dahulu.
Tut tut tut!
Tut tut tut!
..."Nanda ada di dekat pangkalan."...
..."Di sebelah mana?" ...
..."Kiri."...
..."Ya sudah, di situ aja. Papa akan ke sana. Tunggu sebentar ya!" ...
Klik!
Sambungan telpon tertutup.
Tak lama kemudian, tampak seorang laki-laki seumuran dengan papanya Aksan, mungkin lebih muda lagi, berjalan dari arah pangkalan barang-barang bekas, yang terbilang lebih besar, dibandingkan dengan beberapa pangkalan yang ada di daerah tersebut.
Di kawasan ini, memang menjadi pusat barang-barang bekas, termasuk untuk jual beli juga.
Jadi, para pemilik usaha ini, tidak hanya mengumpulkan barang-barang bekas tersebut, untuk disetorkan pada pabrik, tapi juga menjual barang-barang bekas atau second, yang masih layak pakai.
Dan tentunya juga sudah diperbaiki, sehingga bisa berfungsi dengan baik.
__ADS_1
Ara memperhatikan papa kandung dari kakak sepupunya itu. Dia memang tidak begitu paham, dengan orang yang bernama Wawan ini.
Selain di kenal sebagai papanya Nanda, Wawan juga mantan suaminya Yasmin. Tantenya Ara sendiri.
Apalagi, menurut cerita dari bundanya, Wawan itu punya kelakuan yang tidak baik. Dan bundanya, Anjani, meminta pada Ara, supaya berhati-hati dengan keberadaan Wawan.
Ara juga di minta oleh bundanya, supaya mengawasi Wawan, saat bertemu dengan anaknya, Nanda.
Mungkin, Anjani merasa sedikit ada rasa takut, seandainya Nanda terpengaruh oleh papanya itu, kemudian ikut bersamanya, dan tidak lagi tinggal bersama dengan eyang Kakung dan Eyang putrinya. Ayah Edi dan juga ibu Sofie.
"Apa kabar kalian berdua?" sapa papanya Nanda, Wawan, pada Ara dan Nanda.
"Baik Om," jawab Ara, sambil mengangguk-angguk kepalanya sopan.
Ara juga menyalami tangan Wawan, karena bagaimanapun juga, dia adalah papanya Nanda, yang pernah menjadi Om_nya juga.
Meskipun sebenarnya Ara juga tidak menyukai kelakuan dari Wawan, tapi dua juga tidak mungkin, menunjukkan secara langsung, atas sikap tidak sukanya itu.
Nanda juga melakukan hal yang sama, meskipun dia diam dan tidak menyapa papanya itu.
Ternyata, Wawan memberikan sejumlah uang pada Nanda. "Ini uang yang Papa janjikan. Beli apa saja yang Kamu inginkan. Maaf, Papa tidak bisa menemani dirimu," kata Wawan, dengan menyodorkan sejumlah uang, dalam jumlah yang cukup banyak pada anaknya, Nanda.
Sebenarnya, Nanda ragu untuk menerima uang pemberian papanya itu. Tapi pada akhirnya, Nanda menerimanya juga, dengan mengucapkan terima kasih.
"Terima kasih," ucap Nanda pendek, tanpa menyebut nama atau panggilan untuk papanya.
Setelah dirasa cukup, Nanda pamit untuk pulang. Karena hari sudah berganti dengan malam.
Hari memang sudah benar-benar malam, karena waktu magrib sudah datang, dengan adanya suara adzan dari surau, tak jauh dari pangkalan barang-barang bekas tersebut.
"Kami balik dulu ya Om," kata Ara, pamit pada Wawan.
"Iya-iya. Hati-hati ya di jalan!"
Tak lama kemudian, motor sport Nanda melaju kembali di jalanan Jakarta, yang semakin ramai pada saat malam baru saja datang.
Keramaian jalan, dikarenakan para penduduk kota, yang baru saja pulang dari kantor atau kegiatan mereka seharian.
Dan tentunya, semua orang juga ingin bisa cepat sampai di rumah. Sama seperti yang dilakukan oleh Nanda saat ini.
Ara tidak berani bertanya pada Nanda, untuk apa dia meminta uang pada papanya, Wawan.
Apalagi, selama ini, Nanda juga tidak pernah membicarakan tentang papanya itu, pada orang lain. Hanya pada eyangnya, ayah Edi, Nanda bercerita.
Sedangkan Ara, tidak perlu repot-repot diberitahu tentang papanya itu, karena Ara akan sering bertemu dengan Wawan, jika Nanda ada keperluan dan bertemu dengan papanya itu.
Meskipun tidak terlalu sering juga, pertemuan itu dilakukan oleh Nanda. Karena sesungguhnya, Nanda sering menolak tawaran dari papanya, untuk bisa sering-sering berkunjung dan bertemu dengan dirinya.
Bertemu dengan papanya, Wawan.
__ADS_1