
Elang kembali mengingat hal yang tidak ingin dia ingat lagi. Dan dari pengalamannya ini, tidak mungkin orang jauh-jauh, atau luar perusahaan, yang akan melakukan hal ini.
Sama seperti yang dialami oleh Elang, saat perusahaan garmen miliknya diambang kebangkrutan.
Ternyata, yang menjadi penyebabnya adalah istrinya sendiri.
Bahkan, itu sudah terjadi sejak lama, jauh sebelum Adhisti resmi menjadi istrinya sendiri.
"Tapi, kira-kira siapa yang saat ini menjadi pelakunya?" Elang kembali bergumam, bertanya kepada dirinya sendiri.
Tok tok tok!
"Masuk!"
Elang menyuruh seseorang, yang datang dan mengetuk pintu ruang kerjanya.
Tak lama kemudian, dua orang masuk dengan wajah yang tampak sedang cemas. Mereka berdua, sepertinya sudah bisa menebak, apa yang sedang terjadi dan dipikirkan oleh Bos Besarnya itu.
"Apa ini?" tanya Elang pada kedua pegawainya itu.
Elang menaruh berkas-berkas yang ada di tangannya, ke atas meja dengan jengkel.
Breg!
Kedua orang tersebut, tersentak kaget, karena belum pernah melihat Elang dalam keadaan marah seperti itu.
Selama ini, Elang memang bersikap kalem, dan tidak pernah membentak siapapun. Sama seperti saat mamanya, mama Amel, yang dulunya memimpin perusahaan ini.
Tapi kali ini Elang tidak lagi bisa diam. Dia harus bertindak tegas, jika tidak mau perusahaannya ini bangkrut dalam sekejap kemudian.
"Pak. Ini laporan apa?" tanya Elang, pada kedua orang, yang saat sini ada di depannya, dalam keadaan menunduk.
"Apa ini sudah Kalian periksa? tidak ada kesalahan?" tanya Elang lagi, dengan menunjuk berkas-berkas, yang tadi dia campakkan dengan kasar di atas meja kerjanya.
"Ma_maaf Pak Elang. Justru kami... kami ngin bertanya pada Bapak kemarin itu. Karena pengeluaran ini adalah atas perintah Bapak sendiri pada waktu itu. Itulah sebabnya, Kami membuat laporan ini juga."
Manager perusahaan, menjawab pertanyaan dari Elang, karena dua memang hanya menjalankan tugasnya.
Apalagi, dia juga mendapatkan laporan itu, dari pihak keuangan perusahaan.
Sekarang, Elang ganti melihat pegawai yang satunya lagi. Dia memperhatikan bagaimana wajahnya yang pucat, karena ketakutannya itu.
"Apa Anda bisa menjawabnya Pak?" tanya Elang, meminta penjelasan tentang kebocoran keuangan tersebut.
"Sa_saya. Saya... maaf Pak Elang. Maaf!"
Pegawai ini, adalah orang yang paling lama bekerja di PT SAMUDERA GROUP ini. Dia juga, orang yang sudah menjadi kepercayaan mama Amel, sedari dulu, karena loyalitas kerjanya.
Elang, akhirnya sadar, jika ada yang tidak beres dari pegawai yang berumur tidak jauh beda dengan papanya, Papa Ryan.
Akhirnya, Elang meminta manager untuk keluar dari ruangannya, karena dia ingin mendengar alasan dan penjelasan dari orang tua itu.
Dengan perasaan yang tidak menentu, orang tua itu menjelaskan pada Elang, bagaimana keadaan keuangan kas perusahaan, hingga bisa kebobolan.
"Tapi, Saya tidak bisa memastikan Pak Elang. Ini hanya perkiraan dan pengamatan dari apa yang Saya tahu. Sebaiknya, Pak Elang menyelidikinya terlebih dahulu."
__ADS_1
Elang menganggukkan kepalanya, paham dengan apa yang baru saja dikatakan oleh orang tersebut.
Sekarang, Elang punya tugas yang sangat besar, yaitu mengusahakan agar uang perusahaan busa kembali lagi, karena tidak sesuai dengannya seharusnya.
*****
Di rumah mama Amel.
Papa Ryan, baru saja menerima panggilan telpon dari Awan.
Cucunya itu, memberitahukan kepadanya tentang rencananya bersama dengan Ara.
..."Bagus dong, jika Ara setuju Wan." ...
..."Lalu, ayah dan opa sama oma, bisa datang ke Amerika kapan?" ...
..."Ya... minggu ini kan acara yang Kamu rencanakan?" ...
..."Ya opa. Maksudnya... ini kita bicarakan dulu dengan om Abi." ...
..."Kamu sudah telpon ayahmu?" ...
..."Justru itu Opa. Ayah tidak bisa dihubungi. Apa ayah sedang banyak kerjaan di kantor? Takutnya, rencana mendadak ini menganggu aktivitas ayah."...
..."Hahaha... Ayahmu itu, mau ada kesibukan atau tidak di kantor, ya tetap saja sibuk terus Wan."...
Mama Amel, yang baru saja datang dan mendengar suara suaminya sedang berbincang-bincang melalui telpon, langsung ikut bergabung.
Apalagi, tadi di juga mendengar suara suaminya itu, menyebutkan nama cucunya, Awan.
Dia ingin ikut berbincang-bincang dengan Awan, karena ingin mendengarkan jika, apa yang menjadi rencana mereka itu akan segera terlaksana.
Akhirnya, papa Ryan menambah volume suara speaker handphone miliknya, agar istrinya itu juga bisa ikut berbincang-bincang dengan cucunya.
..."Wan, ini Oma. bagaimana Wan? Ara setuju kan?" ...
..."Iya Oma, Ara setuju. Tapi, dua minggu lagi, dia ada acara pertandingan bela diri. Sebaiknya bagaimana Oma?" ...
Mama Amel akhirnya menasehati Awan, agar bisa tenang, dan membicarakan tentang hal ini pada ayahnya Ara.
Mereka semua, mama Amel dan papa Ryan, serta Elang, ayahnya Awan sendiri, akan segera datang ke Amerika, untuk membicarakan soal ini dengan pihak keluarga Ara.
..."Apa sebaiknya kita buat acara di Indonesia saja Oma?" ...
..."Ide yang bagus itu Wan. Tapi, bagaimana dengan kuliah Kamu dan juga kuliahnya Ara?" ...
..."Sudah-sudah. Tidak usah banyak berencana dan berpikir. Jika tidak ada pertemuan, akan bingung hanya berbicara melalui telpon saja ini." ...
Papa Ryan menengahi pembicaraan mereka, Awan dengan mama Amel, yang tidak bisa menentukan langkah apa yang sebaiknya dilakukan.
Papa Ryan juga mengusulkan supaya, ada pertemuan dengan keluarganya Abimanyu terlebih dahulu, agar acara itu bisa dimatangkan.
..."Baiklah Opa. Awan tunggu kedatangan opa, Oma dan ayah juga." ...
Setelah membuat keputusan tersebut, telpon diakhiri.
__ADS_1
"Ma. Ini gak terlalu cepat kan?" tanya papa Ryan pada istrinya.
"Kecepatan bagaimana?" Mama Amel justru bertanya balik, dengan menanyakan maksud suaminya.
"Mereka belum dewasa Ma," jawab papa Ryan, dengan apa yang dia pikirkan.
"Nunggu dewasa, kayak Elang dulu? Gak. Mama gak mau kehilangan cucu mantu seperti Ara Pa. Jangan sampai juga, Awan punya istri, yang nantinya akan sama seperti almarhum bundanya."
Papa Ryan menghela nafas panjang, saat mendengar perkataan istrinya itu.
Dia tahu jika, apa yang dialami oleh anaknya, Elang, sangat mempengaruhi kehidupan anaknya hingga saat ini.
Meskipun istrinya Elang, bundanya Awan, sudah lama meninggal dunia.
Elang jadi trauma untuk menikah lagi. Elang merasa takut jika, wanita yang menikah dengannya nanti, hanya mempedulikan tentang kekayaan dan bukan dirinya sebagai seorang suami.
Apalagi, wanita yang dulu pernah dekat dengan Awan di Amerika, juga hanya mengincar kekayaannya saja.
Itulah sebabnya, Elang tidak punya keinginan untuk menikah lagi, hingga saat ini.
*****
Di sebuah kafe.
Dika sedang menunggu kedatangan Mita. Dia ada janji temu, dengan kekasihnya itu.
Tapi, sudah hampir setengah jam lamanya, Mita belum juga datang. Bahkan, handphone miliknya juga tidak aktif.
"Kemana dia? Apa lupa, jika ada janji dengan Aku di sini?" gumam Dika, dengan kesal.
Sebenarnya, Mita minta di jemput oleh Dika tadi. Tapi, Dika yang sebelumnya masih berada di kampus, tidak mau memenuhi permintaan Mita, dan langsung datang ke kafe.
Tapi sekarang, dia justru menyesal, karena perkejaan menuggu itu sangat membuatnya bosan.
Meskipun itu adalah menunggu kekasihnya sendiri.
Drettt drettt drettt!
Drettt drettt drettt!
Handphone Dika bergetar. Ada panggilan masuk untuknya.
Dan ternyata, itu adalah dari Mita, kekasihnya yang sedang dia tunggu-tunggu.
..."Halo Mita, di mana?" ...
..."Maaf, ini dengan siapa Saya bicara?" ...
Deg!
Dika terkejut, karena suara orang yang menelpon dirinya, dengan menggunakan nomor handphone milik Mita, adalah seorang cowok.
..."Hai Anda siapa? Kenapa mengunakan handphone milik pacar Gue?" ...
Tut tut tut...
__ADS_1
Panggilan telpon tersebut justru terputus, dan tidak ada jawaban yang bisa menjelaskan kepada Dika.