
Anjani masih berberes, di saat telpon milik suaminya berdering. "Ada apa lagi itu si ayah." Anjani bergumam seorang diri, karena merasa jika, selain lupa, akhir-akhir ini suaminya itu juga lebih manja.
"Eh, Awan? Ada apa ya?"
Ternyata, yang sedang menghubungi nomor handphone suaminya bukan Ara lagi, tapi calon menantunya.
..."Ya Awan. Ini Bunda."...
..."Lho kok Bunda? Ayah ke mana Bun? tidak jadi ke sekolah Anggi? Berarti Ara belum berangkat ke kampus juga?"...
..."Hai... Ini pertanyaan kayak kereta api Bintaro Tanah Abang. Hehehe..."...
..."Hehehe... maaf Bun."...
..."Gak Wan. Ini handphone ayah ketinggalan. Kamu hubungi Ara aja jika ada perlu dengan ayah. Tapi, itu juga jika Ara belum sampai di kampus."...
..."Oh ya-ya Bun. Maaf ya Bun!"...
..."Ya-ya. Hehehe..."...
Klik!
Anjani mengelengkan kepalanya, di saat panggilan telpon terputus.
Dia semakin tahu jika, calon menantunya itu jika dalam keadaan panik bisa banyak bicara juga. Tapi, tentunya itu dimaklumi. Karena siapapun yang dalam keadaan panik, tidak bisa banyak mempertimbangkan segala sesuatunya.
Setelah meletakkan kembali handphone milik Abimanyu, Anjani kembali melanjutkan pekerjaannya yang tadi. Dia bersemangat sekali. Karena minggu depan sudah akan pulang ke Indonesia.
Hal yang sudah lama dia impikan bersama dengan keluarganya juga.
"Hemmm... tapi, kak Ara pulang cuma untuk menikah saja. Dia akan kembali ke sini, setelah menikah nanti."
Anjani terus berkata seorang diri. Dia tidak menyangka bahwa dan sadar jika, anaknya itu sudah menjadi seorang yang dewasa.
Tapi karena kelakuannya jika di rumah tidak ada yang berubah, Anjani jadi tetap menganggapnya sebagai anak kecil. Kedua anaknya, Ara dan Anggi, tetap akan selalu dua anggap sebagai anak kecil.
Mungkin, perasaan ini juga dirasakan oleh setiap orang tua. Yang akan selalu menganggap anak-anaknya itu tetap kecil. Dan akan terus seperti itu.
*****
Ara baru saja mau turun dari dalam mobil, di saat handphone miliknya bergetar.
Drettt drettt drettt!
Drettt drettt drettt!
Ara mengurungkan niatnya untuk keluar dari dalam mobil, dan menerima telpon terlebih dahulu. Dia berpikir bahwa, itu adalah bundanya, yang ingin berbicara atau memberikan pesan pada ayahnya.
Tapi ternyata, yang menghubungi dirinya saat ini adalah Awan.
"Siapa Kak?" tanya Abimanyu, karena Ara tidak segera menerima panggilan tersebut.
__ADS_1
"Kak Awan."
"Ya udah, terima aja. Siapa tau penting. Atau dia abis menghubungi ayah, dan di minta bunda untuk menghubungi Kamu." Abimanyu menunggu Ara, untuk menerima panggilan telpon dari calon menantunya.
..."Halo Kak!"...
..."Masih bersama ayah gak Ra?"...
..."Oh Ayah? Ada ini. Sebentar."...
Abimanyu tampak tersenyum, saat melihat wajah Ara yang masam. Dia pasti kesal, karena tunangannya telpon, tapi ternyata, yang dicari bukan dirinya, tapi justru ayahnya.
"Ayah. Kak Awan cari Ayah," kata Ara, dengan menyerahkan handphone miliknya, pada ayahnya yang sedang tertawa kecil.
Ara tampak tersenyum masam, karena sadar jika ayahnya sedang mentertawakan dirinya. Meskipun dengan maksud untuk menggodanya saja.
..."Ya Wan. Ini Ayah."...
..."Ayah nanti jadi mampir ke kantor?"...
..."Belum tau juga. Soalnya, Anggi juga bisa jadi langsung ikut pulang sama Ayah. Masa iya Anggi di ajak ke kantor juga?"...
..."Gak gitu Yah. Awan ada keluar sebentar nanti siang. Jadi, jika Ayah ke kantor, belum tentu Awan sudah berada di kantor lagi."...
..."Oh ya sudah. Kalau begitu Ayah tidak jadi mampir ke kantor. Handphone Ayah juga ketinggalan di rumah."...
..."Baik Yah. Awan cuma kasih kabar itu saja kok Yah."...
..."Cemburu, maksudnya?"...
..."Lah Kamu sih, telpon yang di cariin Ayah. Bukan dia. Hahaha..."...
Ara semakin masam, mendengar ayahnya yang sedang mengadu kepada Awan. Dengan apa yang terjadi padanya.
Tapi tak lama kemudian, Ara meringis malu. Karena Awan memintanya untuk tetap fokus kuliah saja. Nanti Awan akan menghubungi dirinya juga.
Ini di dengar Ara, karena speaker handphone dibuat lebih besar agar dia bisa ikut mendengarkan sendiri perkataan Awan.
..."Udah, jangan ngambek Ra. Fokus kuliah. Nanti kakak telpon Kamu."...
..."Hehehe... iya Kak."...
..."Ya sudah Yah, Ra. Telponnya di tutup dulu ya!"...
..."Ya Kak."...
..."Iya Wan."...
Ara dan Abimanyu, menyahuti dengan bersamaan. Dan setelah telpon terputus, mereka berdua terkikik geli. Karena ternyata Awan tidak menghiraukan perkataan Abimanyu, ataupun kondisi Ara yang katanya masam.
"Tuh kan. Datar begitu dia," ucap Abimanyu, mengomentari tentang sikap Awan.
__ADS_1
"Hehehe... itu kan karena kak Awan ada di kantor Yah. Bisa jadi, dia sedang banyak kerjaan, atau sedang bersama salah satu karyawannya."
"Duh... yang pengertian..." Ledek Abimanyu, pada Ara. Yang ternyata tidak mempermasalahkan soal sikap datar Awan.
Ara hanya meringis. Kemudian menyalami ayahnya, sebelum keluar dari dalam mobil.
"Ara kuliah dulu Yah."
Abimanyu mengangguk mengiyakan. Dan setelah Ara keluar, dan berjalan menuju ke arah kampusnya, Abimanyu melakukan kembali mobilnya.
Dia akan pergi ke sekolah anaknya yang kecil. Sekolahnya Anggi.
*****
Di rumah, Anjani mendapatkan tamu. Meskipun sudah bisa di bilang jika orang tersebut bukanlah tamu lagi.
Karena selama satu bulan terakhir ini, dia sering datang berkunjung ke rumah Anjani.
Bahkan, bukan hanya sekedar berkunjung. Tapi juga belajar memasak dan membuat kue bersama dengannya. Jika Anggi pulang dari sekolah.
Tet tet tet!
Anjani mengintip keluar, melalui door viewer. Yaitu sebuah lubang intip yang merupakan lubang kecil, yang memungkinkan seluruh objek di depan pintu dapat terlihat. Terpasang di pintu yang biasanya untuk apartemen atau kamar hotel.
Lubang intip ini, memungkinkan orang-orang di balik pintu, atau di dalam ruangan, untuk memastikan keamanan dengan melihat ke luar, tanpa membuka pintu tersebut.
Melihat kedatangan Ahmed, Anjani langsung membukakan pintu untuknya.
"Assalamualaikum Tante."
"Waallaikumsalam..."
Jawab Anjani, membalas ucapan salam dari Ahmed. Dia melihat bingung, karena biasanya Ahmed datang ke rumah jika sore hari. Di saat Anggi sudah pulang dari sekolah.
"Maaf Tante. I datang di waktu yang tidak biasa."
Ternyata, Ahmed peka juga dengan apa yang dipikirkan oleh bundanya Anggi ini.
"Ada apa ya nak Ahmed?" tanya Anjani, yang merasa penasaran dengan kedatangan teman anaknya itu.
Akhirnya, Ahmed mengatakan maksud dari kedatangannya kali ini.
"Apakah benar, keluarga Tante akan pergi dari sini, dan tinggal di Indonesia lagi?"
Ahmed memastikan, apakah yang dia baca di akun sosial media milik Anggi benar adanya atau hanya sekedar pertanyaan dari penggemarnya yang berada di Indonesia.
Karena akhir-akhir ini, banyak sekali orang-orang Indonesia yang jadi followers Anggi, bertanya tentang kapan dan kapan pulang ke Indonesia.
Tapi, Ahmed belum ada kesempatan untuk bisa bertanya langsung kepada Anggi.
Itulah sebabnya, dia ingin tahu dari bundanya saja. Karena dia tidak yakin jika, Anggi akan mau memberinya sebuah jawaban yang benar. Jika dia bertanya tentang berita terkait kepulangan mereka semua ke Indonesia.
__ADS_1
Karena itu juga, dia akhirnya nekad datang ke rumah Anjani, di saat Anggi tidak ada di rumah.