Dia Milikku ( Berbagi Cinta )

Dia Milikku ( Berbagi Cinta )
Tidak Mau Mengalah


__ADS_3

Ketegangan yang terjadi antara Abimanyu dengan ibunya, masih berlanjut hingga hari berikutnya. Ibunya itu, sering menyindirnya dengan kalimat-kalimat yang diucapkan saat sedang mau makan atau sedang mau keluar rumah.


"Jadi besok kalau nikah itu, harus nurut sama pasangan. Tidak usah hiraukan lagi keluarga yang sebelumnya. Yang sudah banyak membantu juga," kata ibunya pada salah satu adiknya Abimanyu, tapi tentu saja itu ditujukan untuk Abimanyu sendiri.


"Cinta itu bisa membuat orang lupa dengan keluarga sendiri. Awas kalau Kamu besok-besok kayak gitu ya!" kata ibunya lagi, saat anaknya itu diam saja dan hanya tersenyum miring, sebab tahu apa yang dimaksud oleh ibunya sendiri.


Abimanyu, jadi merasa tidak nyaman saat berada di rumah. Dia tidak tahu, apa yang sebenarnya dipikirkan oleh ibu dan juga adik-adiknya, tentang keputusannya untuk tinggal bersama dengan Anjani, setelah menikah nanti.


Abimanyu, jadi merasa serba salah. Di lain pihak, dia tidak ingin membuat kecewa keluarganya, tapi dia juga tidak ingin membuat Anjani merasa terpaksa, jika harus mengikuti keinginan keluarganya, yaitu mengajak Anjani untuk tinggal di Jakarta, bersama dengan mereka, setelah menikah dengan dirinya nanti.


Akhirnya, Abimanyu membicarakan tentang permasalahan ini pada ayahnya. Dia yakin, jika ayahnya pasti punya banyak jawaban dan pandangan sendiri, tentang masalah ini.


"Yah," sapa Abimanyu, saat melihat ayahnya sendirian, sedang membaca artikel berita di handphone miliknya.


"Ya. Ada apa Bi?" tanya ayahnya, mengalihkan perhatian dari layar handphone ke arah Abimanyu.


"Ibu dan adik-adik. Mereka masih membahas masalah kemarin," jawab Abimanyu, setelah duduk di kursi sebelah ayahnya.


"Masalah apa?" tanya ayahnya mencoba mengingat-ingat.


"Soal rencana Abi, yang akan ikut tinggal di rumah Anjani di Bogor Yah." Abimanyu, mengingatkan kembali perdebatan kemarin, antara dirinya dengan ibu dan kedua adiknya itu.


"Oh, kemarin itu. Ayah kan sudah menengahi," jawab ayahnya, dengan wajah bingung. Dia menutup aplikasi berita yang tadi dia baca, kemudian fokus mendengarkan perkataan Abimanyu, anaknya yang akan segera menikah itu.


"Entahlah Yah. Sepertinya mereka semua masih tetap tidak suka, jika Abi memutuskan untuk tinggal di Bogor. Jika Abi memutuskan untuk tinggal di Jakarta, di rumah ini, Abi juga tidak yakin jika Anjani akan merasa senang dan tenang jika sikap ibu dan adik-adik seperti sekarang. Jangan-jangan, malah akan sama seperti cerita-cerita, jika seorang menantu perempuan, akan tertekan karena sikap mertua dan ipar-iparnya, yang tidak merasa senang dengan kehadirannya."


Ayah Abimanyu, mendengarkan curhatan anaknya. Dia tidak menyalahkan pemikiran Abimanyu, yang sering terjadi pada masyarakat pada umumnya. Tapi, ayahnya itu juga tidak mau berpihak pada istri dan anak-anaknya yang menginginkan, agar Abimanyu dan istrinya nanti harus ikut tinggal bersama dengan mereka di rumah ini. Di Jakarta.


"Apa sebaiknya tidak Kamu bicarakan dengan Anjani terlebih dulu?"

__ADS_1


"Sudah Yah. Dan ini kemauan Abi sendiri, bukan permintaan Anjani. Abi pikir, pekerjaan Abi tidak membutuhkan waktu yang sama seperti orang-orang, jadi akan lebih mudah. Sama seperti yang ayah katakan kemarin itu," jawab Abimanyu, menjelaskan jika keputusan yang dia ambil ini karena kesadarannya sendiri, bukan dari Anjani.


"Hemmm... kalau begitu biarkan ibu dan adik-adikmu berpikir lagi. Mereka tidak tahu jika ini adalah keinginan Kamu sendiri. Mereka pikir, Anjani sudah menguasai pikiranmu sekarang."


"Ya Yah. Semoga mereka bisa mengerti dan tidak lagi salah paham dengan keputusan yang Abi ambil ini."


*****


Perusahaan Elang, sudah kembali berjalan dengan baik lagi. Dia merekrut beberapa karyawan untuk mengantikan mereka-mereka yang sudah ikut bekerja sama dengan istrinya, Adhisti. Mereka, karyawan baru itu, kebanyakan adalah orang-orang yang direkomendasikan oleh mamanya, atau papanya. Mama Amel dan papa Ryan.


Dia bekerja dengan semangat lagi. Dia fokus untuk mengembangkan dan mengembalikan nama baik perusahaan yang sempat jatuh kemarin. Yang berakibat turunnya harga jual produk yang dihasilkan oleh perusahaan miliknya itu.


Handphone milik Elang kembali berdering. Ada pesan masuk beberapa kali sedari tadi, dari nomer yang tidak dia kenal.


"Siapa sih, berisik saja dari tadi!" gerutu Elang tanpa bermaksud, untuk membalas pesan tersebut.


Kali ini, bukan hanya pesan tapi panggilan dari nomer yang sama.


..."Siapa?" tanya Elang, langsung pada intinya, agar orang tersebut menyebutkan identitas dirinya....


..."Benar ini dengan Tuan Elang Samudra?" tanya orang tersebut memastikan....


..."Ya. Kamu mau apa?"...


..."Sesuai pesan yang tadi saya kirimkan. Saya hanya ingin membantu Anda dan keluarga anda dari perpisahan. Ini semua untuk kebaikan anda sendiri, dan juga anak anda. Awan."...


..."Maksudnya?"...


..."Saya seorang pengacara. Saya diminta oleh istri Anda, untuk melakukan gugatan cerai. Tapi Saya pikir, hubungan anda dengannya, masih bisa diperbaiki. Berilah dia kesempatan dan berlakulah sebagai mestinya."...

__ADS_1


..."Kamu menasehati siapa? Seharusnya dia yang Kamu nasehati dan bukan Aku!"...


..."Tentu. Saya bukan hanya sebagai pengacara saja, tapi juga sebagai seorang teman. Tapi, sepertinya, dia sudah tidak tahan dengan perilaku Anda yang tidak memberinya kesempatan. Anda tidak menjalankan kewajiban sebagai suami yang baik."...


..."Oh begitu. Silahkan jika ingin menggugat. Saya pastikan jika Anda akan kalah, dan dia juga akan membayarnya dengan bayaran termahal, yang tidak akan pernah sanggup dia jalani."...


Pengacara yang menghubungi Elang terdiam beberapa saat. Dia tidak melanjutkan kata-katanya.


..."Baiklah kalau begitu. Nanti akan Saya sampaikan ke pada istri Anda, agar berpikir lagi."...


Elang tidak menyahut. Dia sengaja tidak melakukannya.


Akhirnya, panggilan telpon tersebut terputus. Elang, menghela nafas panjang lalu membuangnya kasar.


"Hah! kenapa semua ini harus terjadi, pada kehidupan yang Aku impikan akan bahagia, karena Aku memilih istri yang Aku cintai dari dulu. Dia adalah cinta pertamaku, tapi kenapa justru dia yang menyakiti hatiku, sedalam ini. Apa Aku masih bisa memaafkan dia? bahkan sekarang, dia justru ingin menggugat cerai. Apa dia tidak berpikir, bagaimana jika Aku akan membuatnya lebih sengsara lagi dari ini? Aku yang buta selama ini. Aku yang tuli ternyata. Tidak tahu, bagaimana sifat dan kelakuan dia yang sebenarnya."


Elang, melamun sendiri di dalam kantor. Dia tidak tidak tahu, apa yang akan terjadi kedepannya nanti. Apakah masih bisa bertahan dengan istrinya, Adhisti, atau waktunya akan habis dan dia tidak lagi bisa menutupi semua aib ini dari orang lain. Elang pasrah, pada jalan takdir yang akan dia jalani kedepannya. Dia hanya berharap, jika akan ada waktunya untuk dia bisa merasakan kebahagiaan yang sesungguhnya.


Tok... tok... tok!


Pintu ruangan Elang di ketuk dari luar. Elang, yang sedang melamun, menjadi terkejut dan sadar.


"Iya masuk!" jawab elang, meminta orang yang ada di luar ruangannya untuk masuk.


Ceklek!


"Maaf Pak. investor dari Jepang, akan segera datang setengah jam lagi."


Ternyata yang datang adalah sekretaris Elang, yang memberitahu dirinya, tentang kedatangan tamu dari Jepang, yang akan berinvestasi di pabrik garmen miliknya.

__ADS_1


__ADS_2