
Bandar udara internasional Soekarno-Hatta, ramai dengan kedatangan para penumpang maupun yang akan berangkat.
Banyak juga orang-orang yang berlalu lalang mencari-cari keberadaan orang yang mau do jemput.
Ada yang sibuk dengan handphonenya, ada yang membawa foto ukuran besar. Mungkin, itu digunakan untuk memudahkan dirinya mengenali orang yang akan dijemput.
Aneh-aneh saja orang-orang jaman sekarang. Tapi itu juga kecanggihan otak manusia, karena tidak mau salah orang, karena tidak mengenali orangnya. Mungkin itu suruhan dari pihak agen, karena pihak keluarga tidak ada yang bisa menjemputnya.
Entahlah. Semua bisa saja terjadi pad jaman yang semakin maju seperti sekarang ini.
Ayah Edi dan ibu Sofie, yang sudah berada di ruang tunggu, duduk dengan gelisah. Jadwal penerbangan Yasmin, sudah lewat setengah jam yang lalu, tapi pihak bandara, belum juga mengumumkan jika ada pesawat yang datang dari Taiwan.
"Yah. Coba tanya Yah ke petugas, atau security," kata ibu Sofie, meminta pada suaminya itu, untuk meminta penjelasan dari petugas bandara, terakit penerbangan dari Taiwan yang terlambat datang.
"Sabar Bu. Mungkin sebentar lagi. Cuaca juga cerah kok, jadi tidak perlu khawatir," jawab ayah Edi, yang mencoba untuk menenangkan hati istrinya.
Padahal dia juga merasa sangat khawatir dengan keterlambatan penerbangan Yasmin. Tapi, ayah Edi mencoba untuk tetap berpikir positif dan memenangkan hatinya sendiri. Dia tidak mau, kecemasannya itu, membuat istrinya semakin cemas lagi.
Dari pengeras suara, terdengar pengumuman bahwa, penerbangan daei Taiwan, yang seharusnya sudah sampai setengah jam yang lalu, harus mundur hingga satu jam kedepan. Ini karena ada kesalahan teknis dan komunikasi dengan pihak bandara tidak tersambung. Tapi, semua orang yang ada kaitannya dengan para penumpang di pesawat tersebut, diminta untuk tenang dan tidak usah khawatir, karena tidak terjadi sesuatu yang perlu dicemaskan.
Ternyata, yang merasakan kekhawatiran dan tidak tenang karena menunggu kedatangan pesawat dari Taiwan, tidak hanya ayah Edi dan ibu Sofie. Ada juga banyak keluarga dan orang-orang, yang mungkin menjemput saudara atau teman, yang ikut merasa cemas sedari tadi.
Sekarang, ada kelegaan setelah mendengar pengumuman tadi.
"Syukurlah."
"Semoga saja tidak terjadi sesuatu pada pesawat itu."
"Iya. Aku merasa khawatir sedari tadi. Tapi waktu bertanya pada security, mereka juga tidak tahu."
"Pihak petugas bandara juga tadi tidak tahu, waktu Aku tanya."
Banyak sekali orang-orang yang akhirnya, berbincang-bincang. Mereka semua, adalah orang-orang yang sedang menunggu kedatangan pesawat dari Taiwan tersebut.
"Untungnya Nanda tidak ikut ya Yah. Coba kalau ikut, malah rewel dan gak bisa tenang sama sekali."
Sekarang, ibu Sofie merasa bersyukur, karena Nanda tidak ikut bersama dengan mereka ke bandara.
__ADS_1
"Iya. Ayah juga tidak tenang, kalau dalam keadaan menunggu seperti ini. Apalagi Nanda, yang tidak ada teman. Dan ini untuk waktu yang lama. Kita saja sudah menunggu setengah jam, dan sekarang disuruh menunggu lagi selama satu jam. Bisa garing ini Bu di sini," kata ayah Edi dengan nada bergurau.
"Ayah kenal kata garing dari mana? sok gaul Ayah ihhh!" Ibu Sofie mencibir suaminya, yang terkesan genit dengan gayanya yang sok gaul tadi.
"Sok gaul bagaimana? ini kata-kata udah biasa di pakai untuk ngobrol-ngobrol. Gak hanya orang-orang tertentu, atau muda saja. nenek-nenek juga sudah biasa pakai bahasa gaul kan sekarang?" ayah Edi, tidak mau dipojokkan oleh istrinya.
Akhirnya, mereka berdua mengisi waktu menunggu dengan bercanda dan tertawa, mengenang masa-masa muda mereka dulu.
"Yah. Kita cari makan yuk! Ibu lapar dan haus juga ini," kata ibu Sofie, beberapa saat kemudian. Dia merasa haus, setelah lama berbincang-bincang dengan suaminya.
Saat ini, mereka sudah hampir satu jam menuggu. Tentu saja, rasa haus dan lapar datang.
"Ayok!"
Ayah Edi, mengajak istrinya itu untuk pergi mencari kedai, yang berjejer dengan rapi, dan tersedia di dalam bandara. Tinggal memilih, mau makan apa dan menu apa, sesuai dengan selera masing-masing.
*****
Di rumah, Abimanyu yang sudah merasa cukup capek dengan berlatih bolanya, meminta pada Anjani untuk membawanya ke dalam rumah. Apalagi, matahari sudah waktunya untuk beristirahat dan tidur siang.
"Oh ya Sekar, penerbangan Yasmin sampai jam berapa? Katanya datang sore kan!" tanya Anjani, begitu sampai di dalam rumah.
"Ini tadi ayah baru saja kirim pesan, jika pesawat ada kendala teknis untuk mendarat. Di tunda sampai satu jam lamanya," jawab Sekar, yang sama ini sedang berada di ruang tengah, bersama dengan suaminya, Juna.
Mereka berdua, sedang memotong-motong buah, untuk suguhan nanti, saat Yasmin datang bersama dengan calon suaminya.
"Ara mau?" tanya Sekar, sambil menunjuk ke meja, dimana potongan-potongan buah, sudah berjejer di mangkuk-mangkuk.
"Ini kok motongnya kecil-kecil Sekar?" tanya Anjani heran, saat melihat satu mangkok yang berisi dari berbagai macam jenis buah, tapi dengan potongan yang lebih kecil-kecil, dibanding dengan mangkuk yang lain.
"Oh itu Mbak, yang mangkuk besar mau di buat es buah atau sup buah kok. Makanya, motongnya kecil-kecil."
Anjani mengangguk paham dengan penjelasan dari Sekar. "Maaf ya, mbak Jani gak bisa bantu-bantu," kata Anjani meminta maaf, karena sedari tadi, tidak bisa ikut membantu pekerjaan rumah.
"Tidak apa-apa Mbak. Gak repot kok." Sekar menuang sirup ke mangkuk kecil, yang sudah dia isi beberapa potongan buah.
"Ini buat Ara, yang buat Nanda."
__ADS_1
Sekar, kembali berkata, tapi pada kedua keponakannya, Ara dan Nanda.
"Terima kasih Tante." Nanda, mengucapkan terima kasih kepada Sekar, yang memberinya semangkuk buah yang sudah dicampur dengan sirup manis.
"Tante, mau yang itu juga!" Ara, menunjuk pada buah naga, yang tadi belum masuk ke dalam mangkuknya.
"Oh iya, belum ya? hehehe... maaf ya, Tante lupa," ucap Sekar, yang terkekeh sendiri karena diprotes oleh Ara.
Abimanyu tersenyum senang, melihat anaknya yang masih kecil itu, peka dan kritis terhadap perbedaan yang ada. Padahal hanya beda pada buah naga nya saja dari mangkuk punya Nanda.
"Mas Abi mau?"
Tiba-tiba, Anjani bertanya pada Abimanyu. Dia menawari suaminya itu, dengan potongan-potongan buah, yang ada di atas meja.
"Ambil saja Mbak buat mas Abi. Makan bareng anak-anak juga. Nunggu Yasmin datang kelamaan."
Sekar, menyodorkan satu mangkuk, supaya diisi sendiri oleh Anjani.
Anjani menerima mangkuk yang diberikan oleh Sekar. Dia mengambil beberapa potong buah, untuk diberikan kepada Abimanyu.
"Mas Abi mau di kasih sirup juga, atau cuma buah-buahan ini saja?" tanya Anjani, memberikan pilihan pada suaminya.
"Buah saja," jawab Abimanyu, dengan memperhatikan beberapa buah yang sudah dipotong-potong kecil oleh Sekar.
"Oh ya, mas Juna. Kab masih ada buah kiwi di kulkas. Belum kebawa tadi, tolong ambilkan ya Mas!" kara Sekar, saat ingat jika buah kiwi yang kemarin dia beli, lupa untuk dikeluarkan dari dalam lemari pendingin.
Juna pun mengangguk, kemudian berdiri dan berjalan menuju ke arah dapur, untuk mengambil buah kiwi yang diminta istrinya, Sekar.
"Eh, tumben Kamu beli buah kiwi Sekar. Biasanya, Kamu kan tidak suka dengan buah kiwi. Apa Kamu sedang..."
Anjani tidak meneruskan kalimatnya, karena ada Juna yang kembali dari arah dapur.
Sekar, hanya mengedipkan sebelah matanya pada kakak iparnya, Anjani.
"Apa?" tanya Abimanyu tiba-tiba.
"Eh, emhhh itu Mas. Tidak apa-apa," jawab Anjani dengan cepat.
__ADS_1
Sekar, hanya menyembunyikan senyumnya, agar tidak terlihat oleh suaminya, Juna, dan juga kakaknya sendiri, Abimanyu.