
Abimanyu sedang bersiap-siap di kamar, untuk berangkat ke kantor, di saat Ara sedang sarapan pagi, ditemani oleh adiknya, Anggi.
"Ayah tidak sarapan Bun?" tanya Ara pada bundanya, saat tidak melihat ayahnya yang sarapan seperti biasanya, bersama dengannya.
"Ayah tidak sempat. Kamu sarapan saja dulu. Ayah sudah Bunda siapkan bekal untuk sarapan dan makan siangnya."
Anjani, menjawab pertanyaan anaknya, yang tidak tahu jika tadi pagi-pagi sekali, ayahnya sudah melapor ke pihak keamanan perumahan, tentang adanya gelandangan yang memalak anak-anak sepulang sekolah.
Tentu saja, pihak keamanan perumahan merasa kecolongan, dengan adanya insiden itu. Mereka tidak tahu, jika ada gelandangan yang nekad melakukan semua itu pada anak-anak sekolah. Pihak keamanan berjanji, untuk berjaga-jaga di sekitar jalanan perumahan, untuk mengamankan daerah mereka dari orang-orang yang membuat penghuni di kompleks perumahan ini merasa terganggu. Apalagi ini anak-anak yang masih kecil dan rawan dengan traumatik secara tidak langsung, untuk perkembangan mereka.
Di saat Ara sudah menyelesaikan sarapannya, ayahnya sudah juga baru saja ke luar dari dalam kamar, dengan tas kerjanya.
"Ara sudah selesai sarapan?" tanya Abimanyu pada anaknya.
"Sudah Yah," jawab Ara pendek.
Dia segera meminum jus buahnya, kemudian berjalan ke arah bundanya untuk bersalaman.
"Bunda, Ara berangkat dulu."
Anjani mengangguk, kemudian berpesan, "Hati-hati ya Kak."
Anjani juga berjalan keluar, untuk mengantar kepergian suaminya. Dia membawa bekal yang sudah dia persiapkan dari tadi, untuk dibawa suaminya.
"Ayah jangan lupa makan dulu ya, biar gak sakit. Itu obatnya juga jangan lupa di minum."
"Iya Bun. terima kasih ya. Hati-hati di rumah," jawab Abimanyu, sambil mencium kening istrinya.
Abimanyu juga mencium kedua pipi anaknya yang kedua, Anggi. "Jangan nakal dan rewel ya!" kata Abimanyu, berpesan pada Anggi.
"Iya Yah. Kalau gak ada Miko datang ke rumah juga Anggi gak nangis kok," sahut Anggi sambil memeluk ayahnya manja.
"Hehehe... kok Miko yang dijadikan alasan?" tanya Abimanyu, dengan terkekeh.
"Kan dia nakal Yah," sahut Anggi cepat dengan wajah cemberut.
"Hemmm... begitu ya. Yang penting, Anggi gak ikut-ikutan nakal," kata Abimanyu lagi, dengan menasehati Anggi.
Anggi mengangguk mengiyakan perkataan ayahnya, Abimanyu.
Setelah berpamitan, Abimanyu menghidupkan motornya, dan meminta pada anaknya, Ara, untuk segera naik ke boncengan.
__ADS_1
"Ayo Kak naik! Kita berangkat sekarang."
Ara segera naik ke atas boncengan motor ayahnya. Mereka berdua, berangkat dengan melambaikan tangan kepada Anggi dan juga Anjani, yang masih ada di teras depan rumah. Mengantar kepergian mereka berdua.
Tak lama kemudian, Anjani yang baru saja mau masuk ke dalam rumah menolehkan kepalanya, di saat ada seseorang yang memanggil namanya dari arah jalan.
"Jeng. Jeng Anjani!"
Ternyata, ada salah satu tetangga ayah mertuanya, ayah Edi, yang datang berkunjung. Sepertinya, dia baru saja pulang dari berbelanja, sebab, orang tersebut juga menenteng bawaannya yang berisi sayur-sayuran dan ikan segar.
"Iya, ada apa Tante?" tanya Anjani, di saat orang itu sudah ada di depannya.
"Kamu tahu tidak, jika Wawan, mantan suaminya Yasmin, sudah keluar dari dalam penjara?"
Orang tadi, memberikan kabar yang tidak diketahui oleh Anjani. Begitu juga dengan keluarganya. Mereka semua tidak tahu, jika Wawan, sudah keluar dari dalam penjara.
"Kapan Tante?" tanya Anjani, yang memang tidak mengetahui tentang kabarnya Wawan.
"Aku juga tidak tahu kapan tepatnya. Tapi kemarin-kemarin, Aku melihatnya dengan tetangga yang lain. Dia sedang ada di depan toko roti, dan minta dibelikan gitu, sama orang-orang yang datang ke toko roti itu."
Penjelasan yang diberikan oleh tetangga ayah Edi, membuat Anjani merasa sedikit kasihan. Tapi dia juga tidak tahu, apa yang sebenarnya terjadi pada mantan adik iparnya itu.
"Memang dia tidak bekerja Tante?" tanya Anjani ingin tahu.
Anjani mengangguk mengiyakan perkataan orang tersebut. Dia juga tidak mungkin merasa iba, jika ada pengemis yang masih muda dan tampak kuat jika hanya untuk berkerja.
Para pengemis yang masih muda itu, hanya merasa malas saja.
"Ya sudah ya Jeng Jani, Aku mau pulang dulu. Aku cuma mau kasih tahu ini saja kok. Takutnya, dia mau bikin ulah lagi untuk keluarga Jeng. Kemarin mau bilang ini pada bu Sofie atau pak Edi, sayangnya, mereka berdua jarang ada di rumah. Kan mereka berdua bekerja, jadi di rumah juga tidak ada siapa-siapa lagi. Hanya ada bibi pembantu saja."
Anjani tersenyum mendengar perkataan dari tetangga ayahnya itu. Dia mengucapkan terima kasih, karena sudah diberi tahu, untuk bisa berhati-hati dengan keberadaan Wawan yang saat ini sudah bebas dari penjara.
"Terima kasih Tante. Nanti Jani sampaikan pada ibu dan juga ayah, supaya mereka bisa berhati-hati juga," kata Anjani, di saat orang tadi berpamitan.
Orang itu pun mengangguk mengiyakan. Dia pulang ke rumahnya, setelah menyampaikan berita itu pada Anjani.
"Wawan sudah keluar dari penjara. Mas Abi kok gak cerita ya?" Anjani bertanya-tanya dalam hati.
"Bunda. Siapa orang yang itu?"
Tiba-tiba, Anggi yang masih berada di sampingnya Anjani, bertanya tentang siapa yang dimaksud oleh orang yang tadi datang ke rumahnya.
__ADS_1
"Yang mana Sayang?" tanya Anjani, yang pura-pura tidak paham dengan maksud pertanyaan anaknya itu.
"Itu yang keluar dari penjara. Terus penjara itu apa Bun? kok di minta untuk hati-hati."
Anggi kembali bertanya, tentang penjara dan yang lainya juga.
Sekarang, Anjani harus bisa menjelaskan secara singkat, agar Anggi tidak lagi bertanya-tanya tentang semua hal yang tadi dia dengar.
Beberapa saat kemudian, setelah dia selesai menjelaskan kepadanya Anggi. Mereka berdua masuk ke dalam rumah. Tapi tak lama kemudian, ada seseorang yang mengetuk pintu rumah mereka.
Tok tok tok!
Tok tok tok!
"Mbak! Mbak Jani!"
Ternyata itu suaranya Sekar.
"Eh, tumben pagi-pagi dia datang ke rumah. Ada apa ya?"
Anjani bertanya dalam hati, di saat mengetahui siapa yang datang ke rumahnya sepagi ini.
Clek!
Pintu di buka Anjani dari dalam rumah.
"Sekar. Ada apa? kok tumben pagi-pagi sekali. Kamu juga kenapa kayak ketakutan gitu?"
Anjani merasa ada sesuatu yang terjadi pada adik iparnya itu. Saat ini, Sekar sedang menggendong anaknya, Miko. Dia juga terlihat berkeringat di area wajah dan lehernya, dan nafasnya memburu. Sama seperti orang yang baru saja berlari jauh.
"Ayo masuk-masuk dulu!" ajak Anjani, sambil menarik tangan Sekar, agar masuk ke dalam rumah.
Sekarang, mereka berdua duduk di kursi ruang tamu. Sedang Miko, bersama dengan Anggi, pergi ke arah belakang rumah, untuk mengambil kotak mainan yang akan mereka gunakan untuk bermain-main bersama.
"Itu... itu Mbak Jani. Ehmmm... Mbak Jani sudah tahu belum, ji_jika Mas Wa_wawan sudah keluar dari dalam penjara?" Akhirnya Sekar menyelesaikan kalimatnya juga, yang terbata-bata karena masih dalam keadaan mengatur nafas.
Sekar tidak bisa berkata dengan lancar, karena sedang dalam keadaan seperti orang yang sedang takut dan juga cemas.
Anjani jadi merasa jika sudah terjadi sesuatu pada adiknya itu, terkait dengan perkataannya tadi
"Mbak baru saja di kasih tahu sama Tante, yang tetangga ayah pagi ini. Kapan dia keluar dari penjara ya?" tanya Anjani, yang juga memberitahukan bahwa dia baru saja mendengarnya pagi ini dari orang lain.
__ADS_1
Tapi Sekar tidak langsung menjawab pertanyaan dari Anjani. Dia masih merasa ketakutan, dengan semua yang baru saja dia alami di rumahnya pagi ini.