
Minimarket yang ramai dengan pengunjung, karena menghindari hujan deras dalam perjalanan, banyak yang duduk-duduk di kursi-kursi yang ada di dalam toko.
Kursi-kursi itu memang disediakan, tidak jauh dari rak-rak barang, untuk para pengunjung yang datang dengan maksud beristirahat. Mereka kebanyakan membeli kopi atau mie instan dalam kemasan siap makan, dengan diseduh air panas, yang juga disediakan oleh pihak minimarket.
Ara dan Abimanyu juga melakukan hal yang sama.
Ara mengambil minuman rasa buah, dengan mie instan siap saji. Sedangkan Abimanyu, meminta pada pihak minimarket untuk membuatkan satu gelas kopi untuknya, serta menyeduh mie milik Ara.
Selain mie instan dan minuman rasa buah, Ara juga mengambil beberapa makanan kecil, untuk teman berbincang-bincang dengan ayahnya, sambil menunggu hujan reda.
"Kita duduk di sana ya Yah!"
Ara mengajak ayahnya, untuk duduk di kursi paling belakang, yang ada pada sisi pojok ruangan. Dan memang tinggal kursi di bagian belakang saja yang kosong. Semua sudah terisi oleh pengunjung, yang datang terlebih dahulu sebelum mereka sampai di minimarket ini.
Abimanyu hanya mengangguk sambil berjalan, mengiringi langkah anaknya itu. Mereka berdua duduk dan mulai menikmati makanan serta minuman mereka.
Pintu minimarket tampak terbuka lagi.
Klinting!
"Selamat pagi. Selamat datang dan selamat berbelanja."
Terdengar suara pegawai kasir minimarket, yang menyapa pengunjung. Hal yang biasa dilakukan oleh para pegawai minimarket yang, berlogo Alfamart dan Indomaret.
Abimanyu melihat ke arah luar, yang terbuat dari kaca. Jadi, dia bisa melihat dengan jelas, bagaimana keadaan di luar sana.
Tapi sepertinya hujan turun semakin deras.
"Sepertinya hujan masih lama Sayang," kata Abimanyu, kemudian menoleh ke arah Ara, yang sedang asyik menikmati mie instan di depannya.
Ara mendongak menatap ke arah ayahnya, kemudian pandangannya beralih ke luar.
"Iya Yah. Kok malah tambah deres sih," ujar Ara, dengan nada khawatir.
Dia merasa khawatir, jika tidak bisa sampai di rumah dengan cepat. Dia sudah merindukan bundanya, dan juga adiknya, Anggi.
Meskipun sebenarnya, mereka berdua, Ara dan Anggi, sering berseteru dan berselisih, tapi mereka berdua tetap saling menyayangi satu sama lain. Hal yang lumrah terjadi pada anak-anak seperti mereka, yang terbiasa bersama.
"Tapi gak mungkin juga Ayah nyetir sendiri dalam keadaan begini Sayang." Abimanyu mengatakan hal yang sudah diketahui oleh anaknya.
"Ya gak lah Yah. Kita tunggu saja sampai reda. Moga aja gak lama lagi hujan reda," sahut Ara dengan cepat.
Abimanyu mengangguk sambil tersenyum, mendengar perkataan anaknya, yang sedang galau, karena tidak bisa pulang ke Jakarta dengan cepat.
__ADS_1
"A_ayah. It_itu..."
Tiba-tiba, Ara memangil ayahnya dengan suara yang bergetar, dengan menunjuk ke arah luar.
Abimanyu menoleh, dan menatap anaknya, yang saat ini sedang memperhatikan sesuatu yang ada di luar ruangan minimarket.
Ternyata, di luar sana, ada seorang wanita yang sedang berseteru dengan seorang laki-laki. Entah karena apa atau siapa mereka. Tapi karena laki-laki itu menampar pipi wanita tersebut, membuat beberapa orang yang ada di sekitarnya, menjerit.
Mereka semua, tidak ada yang berani menolong atau mendekat.
"Ada apa mereka? jika ingin bermain drama, mending di rumah. Gak jadi tontonan banyak orang. Sudah gak usah di lihat!"
Abimanyu mengingatkan Ara, supaya tidak memperhatikan kondisi di luar ruangan.
"Habiskan saja mie Kamu Ara. Tidak usah memikirkan apa yang Kamu lihat. Mereka punya privasi sendiri. Mungkin mereka berdua adalah pasangan suami istri, dan sedang ada masalah."
Dengan pelan-pelan, Abimanyu menjelaskan pada anaknya, tentang kejadian yang baru saja dia lihat.
"Memang kalau suami istri, boleh tampar-tamparan Yah?" tanya Ara, yang merasa penasaran. Dia tidak pernah melihat adegan tadi, pada ayah dan bundanya.
Tentu saja, Ara jadi merasa heran dengan kejadian itu.
Abimanyu kembali menjelaskan tentang keadaan yang mungkin sedang mereka, orang yang ada di luar, alami.
Ara masih menunggu jawaban dari ayahnya. Dia ingin tahu, apa yang terjadi pada suami istri, yang saat ini sudah tidak lagi berseteru, karena ada beberapa orang yang melerai dan mendamaikan mereka berdua.
Saat Ara melihat ke arah luar, Abimanyu ditegur oleh seseorang, tidak mereka kenal.
"Mas Abi. Mas Abi kan ya? Suaminya Anjani," sapa orang tadi.
Abimanyu yang baru saja mau menjelaskan sesuatu pada anaknya, jadi merasa kaget dan menoleh dengan cepat ke arah orang yang menegurnya.
Begitu juga dengan Ara. Dia menoleh saat seseorang menegur ayahnya. Dia mengamati dan memperhatikan siapa orang tersebut.
Tapi Ara tidak mengenal orang itu. Dia juga belum pernah bertemu dengan orang, yang saat ini tersenyum melihat ke arah ayahnya, tanpa mempedulikan keberadaan dirinya.
"Ya. Saya Abimanyu. Siapa ya?" Abimanyu, membenarkan panggilan orang tadi. Tapi dia tidak mengingat sebuah nama, untuk bisa dia ucapkan untuk menyapa balik.
"Ayo coba tebak. Siapa? Masa udah lupa sih mas Abi! Aku saja tidak pernah lupa sama Mas Abi," jawab orang tersebut, tanpa mau menyebutkan namanya sendiri, atau identitas dirinya.
Orang tersebut justru memberikan pertanyaan, dengan teka-teki yang harus Abimanyu jawab. Tapi karena memory otak Abimanyu sudah tidak sebaik dulu, atau bisa jadi, kemungkinan dia memang tidak tahu, siapa orang yang sedang berada di depannya saat ini.
Akhirnya Abimanyu menyerah. Dia mengeleng dan tersenyum canggung, karena merasa tidak enak hati.
__ADS_1
"Ah... sudah kuduga. Mas Abi mana mungkin, ingat dengan Aku. Hehehe..." kata orang itu dengan terkekeh.
Ara hanya diam memperhatikan. Dia tidak menyapa, atau menegur orang yang sedang bersikap sok misterius itu.
"Oh ya. Ini siapa Mas?"
Tiba-tiba, orang itu mengalihkan pandangannya dari Abimanyu, ke arah Ara.
Tapi Ara masih diam, tanpa berekspresi. Dia tidak juga punya keinginan untuk menjawab pertanyaan dari orang tersebut
"Tebak saja sendiri," sahut Abimanyu, dengan maksud membalas perbuatan orang tersebut.
"Ihhh... kok gitu sih Mas! Aku kan ingin tahu. Apa dia anaknya Anjani!" tanya orang tersebut dengan menebak.
Ara masih diam. Tapi saat tangan orang tersebut mau memegang pipinya, Ara menoleh ke arah lain, sehingga orang tersebut tidak berhasil menyentuhnya.
"Wow! Gadis kecil yang imut. Hemmm... sepertinya Aku tahu siapa Kamu," kata orang itu lagi, tanpa diminta untuk memberikan jawaban oleh Abimanyu ataupun Ara sendiri.
'Ah, sok cantik. Siapa sih? Sok kenal gitu!' batin Ara, mengerutu.
Dia tidak menyukai orang yang sok kenal dan genit, sama seperti yang ada di depannya saat ini.
Abimanyu juga tidak menanggapi perkataan orang tersebut. Dia hanya memperhatikan, bagaimana cara orang tersebut berbicara, dan bergerak.
Dari semua pengamatan yang dilakukan oleh Abimanyu, dia memikirkan satu nama, yang dulu pernah berada di rumahnya, saat orang tersebut mengalami kecelakaan.
'Masa dia sih?' tanya Abimanyu dalam hati.
Tapi sepertinya dugaan Abimanyu benar, karena tak lama kemudian, orang tersebut kembali bertanya tentang Anjani.
"Oh ya, kalian dari Bogor kan? dari rumah Anjani atau Dati mana?" Orang itu seakan-akan tahu banyak hal tentang Abimanyu ataupun Anjani.
Ini membuat Ara mendelik ke arah ayahnya. Dari sorot mata Ara, seakan-akan bertanya pada ayahnya itu, "siapa dia?"
Sayangnya, Abimanyu juga lupa dengan nama orang yang ada di depannya saat ini.
Dia tidak bisa mengingat, satu nama yang tidak pernah dia anggap dan pikirkan.
Sikap Abimanyu ini, yang membuat orang yang saat ini didepannya, selalu merasa tertantang untuk bisa menaklukkannya.
Meskipun sebenarnya dia tidak tega dengan temannya, Anjani, tapi sifat 'petualang' yang dia miliki, membuatnya lebih bersemangat untuk membuat Abimanyu 'menoleh' sedikit saja kearahnya.
Hal yang tidak mungkin bisa dilakukan oleh Abimanyu, terhadap Anjani. Dia tidak mungkin bisa berpaling. Mengingat semua riwayat kehidupan keluarga mereka, baik dulu dan sekarang.
__ADS_1