
Malam harinya, Anjani menceritakan tentang keadaan Sekar tadi pagi pada Abimanyu. Dia juga mengatakan bahwa, kemungkinan besar gelandangan yang mereka curiga, adalah orang yang sama, yaitu Wawan.
"Jadi, dia gak punya kerjaan dan hanya memalak anak-anak yang lemah?" tanya Abimanyu dengan wajah kesal.
"Mungkin hanya karena dia merasa kelaparan Mas, makanya terpaksa harus melakukan itu. Dan kebetulan yang lewat hanya anak-anak yang tidak punya uang banyak kan."
Anjani mencoba menenangkan hati suaminya. Dia juga tidak tahu, apa yang sebenarnya terjadi pada Wawan saat ini. Jadi dia tidak mau asal menuduh dan menilai Wawan yang sekarang. Setidaknya, saat ini dia sudah tahu, jika Wawan sudah bebas dari penjara.
"Ayah dan ibu sudah tahu belum, kalau Wawan keluar dari penjara?" tanya Abimanyu pada istrinya.
Anjani mengeleng. "Aku tidak tahu Mas, ayah dan ibu sudah tahu apa belum," jawab Anjani, menerangkan, setelah dia menggeleng.
Abimanyu jadi merasa perlu untuk memberitahu kedua orang tuanya, supaya mereka juga bisa berhati-hati dengan Wawan, yang bisa jadi akan datang untuk menemui mereka berdua nantinya.
Setelah mencari keberadaan handphonenya, Abimanyu segera menelpon ayah Edi, untuk memberitahukan berita ini.
Tut
Tut
Tut
..."Hallo Abi. Assalamualaikum. Ada apa?" ...
Ayah Edi menjawab panggilan telpon dari anaknya, Abimanyu.
..."Waallaikumsalam Yah. Ayah ada di rumah?"...
..."Ya Ayah ada di rumah. Ada apa? Apa Kamu mau datang ke rumah!...
..."Emhhh tidak Yah. Aku hanya ingin menyampaikan sesuatu."...
..."Apa?"...
..."Wawan sudah keluar dari dalam penjara. Saat ini dia sedang mencari keberadaan Yasmin. Tapi penampilan Wawan sudah seperti gelandangan, yang menakutkan."...
..."Mau apa dia mencari Yasmin?"...
..."Tidak tahu Yah. Makanya Abi memberitahukan Ayah, supaya tidak usah memberitahu Wawan jika dia datang dan bertanya tentang Yasmin."...
..."Baiklah. Ayah akan memberitahu ibu mu juga, supaya tidak usah menemui Wawan jika dia datang ke rumah."...
..."Baiklah. Salam buat ibu Yah."...
..."Iya, nanti Aku sampaikan."...
..."Assalamualaikum Yah."...
..."Waallaikumsalam. Kalian juga hati-hati ya!"...
..."Iya Yah."...
Klik!
__ADS_1
Abimanyu melihat ke arah istrinya, dan mengangguk dengan lega.
Anjani juga mengangguk, dan tersenyum karena sudah merasa sedikit lebih lega, karena sudah memberitahu ayah Edi, tentang keberadaan Wawan yang ada di sekitar perumahan mereka saat ini.
Tok tok tok!
"Bunda. Ayah!"
Dari luar, Ara memangil keduanya.
"Ara Yah. Ada apa ya?" tanya Anjani pada Abimanyu, saat mendengar panggilan dari anaknya, yang saat ini ada di luar kamar.
Abimanyu dan Anjani sama-sama turun dari tempat tidur. Mereka berdua, berjalan menuju ke pintu, untuk mengetahui ada apa dengan anaknya itu.
Clek!
"Ada apa Sayang?" tanya Anjani, begitu pintu kamar terbuka.
Ara tersenyum lebar, saat kedua orang tuanya keluar bersama, karena dia yang mengetok-ngetok pintu kamar tadi.
"Iya ada apa Ara?" tanya Abimanyu, karena Ara hanya tersenyum-senyum sendiri, tanpa menjawab pertanyaan dari bundanya.
Sekarang, Ara justru mengajak kedua orang tuanya itu, dengan mengadeng tangan keduanya, menuju ke dalam kamarnya. Dia juga tidak menjawab pertanyaan dari ayahnya. Ara tidak mengatakan apa-apa.
Tapi begitu sampai di dalam kamarnya, dia menunjuk ke arah tempat tidur adiknya, Anggi.
"Bunda. Ayah. Anggi tuh!" kata Ara, dengan menunjuk ke arah adiknya, yang sudah tertidur dengan pulas.
"Kenapa?" tanya Abimanyu bingung.
Abimanyu melihat anak keduanya, yang masih tertidur pulas tanpa merasa terganggu dengan kedatangan mereka semua.
Anjani tersenyum geli, karena sudah ada tahu, apa yang sebenarnya terjadi pada anaknya, Anggi.
"Anggi. Ayo bangun Sayang! Kamu sudah pipis kan tadi sebelum tidur? Kok sekarang ngompol sih," kata Anjani, sambil mengelus-elus pipi anaknya yang kedua, Anggi.
Abimanyu terbelalak melihat ke arah Anggi. "Tumben sekali dia ngompol? Padahal baru jam segini," tanya Abimanyu, yang tidak menyangka jika anak keduanya itu masih mengompol juga.
Padahal, Anggi sudah lama tidak ngompol jika tidur.
"Emhhh..."
Anggi mengeliat karena merasa terganggu dengan tidurnya.
Tapi tak lama kemudian, Anggi segera bangun, saat sadar jika ada yang basah dengan tempat tidurnya.
"Bunda, Ayah! ada apa?" tanya Anggi sok lugu, yang pura-pura tidak terjadi sesuatu pada tempat tidurnya sendiri.
Anjani menunjuk ke arah dirinya pada bagian bawah, mengunakan lirikan mata.
Ara, tersenyum kesal, karena merasa jika dia tidak akan bisa tidur dengan nyaman di tempat tidur itu.
Abimanyu, tertawa kecil melihat tingkah anak-anaknya, yang masih kecil dan belum bisa menyembunyikan wajahnya yang polos dan merasa bersalah.
__ADS_1
"Ara tidur dimana? Gak mau tidur di situ. Pesing pasti!" kata Ara kesal.
Anggi, hanya nyengir, menyadari kesalahannya sendiri.
Tak lama kemudian, Anjani membantu Anggi untuk turun dari tempat tidur dan pergi je kamar mandi.
"Ara tidur di kamar Ayah ya..." pinta Ara memelas. Dia tidak mau, tidur di tempat tidur yang saat ini basah karena air kencingnya Anggi.
"Ya deh. Tapi kalau Anggi juga mau tidur di kamar Ayah bagaimana?" tanya Abimanyu, sambil melihat ke arah anaknya itu.
Abimanyu berpikir, jika Anggi juga tidak mungkin mau tidur sendiri, di tempat tidurnya yang sudah basah. Dan istrinya, Anjani, tidak mungkin bisa membersihkan tempat tidur itu dengan cepat, karena sudah terlanjut basah dan tidak bisa menjemurnya juga malam ini.
"Ya sudah. Kita tidur barengan berempat," sahut Anjani, yang datang bersama dengan Anggi.
"Nanti Anggi ngompol lagi bagaimana?" tanya Ara khawatir.
"Gak-gak!" sahut Anggi cepat.
"Yakin?" tanya Ara memastikan.
Anggi mengangguk pasti. Dia juga tidak mau jika ditinggal sendirian dan tidur di tempat tidur yang basah. Meskipun basahnya juga karena ulahnya sendiri yang ngompol.
Akhirnya, Abimanyu mengajak kedua anaknya itu untuk pergi ke kamarnya, sedangkan Anjani, membersihkan tempat tidur anaknya, sebisanya saja. Karena dia juga tidak mungkin bisa membersihkan hingga benar-benar bersih malam ini.
Beberapa saat kemudian, keluarga Abimanyu sudah berada di tempat tidur yang sama, di kamar ayah ibunya.
"Jadi angget kan berdesakkan tidurnya," kata Abimanyu, yang ada di pinggir.
"Tapi sempit Yah," keluh Ara, masih dengan wajah kesalnya.
"Hahaha... sudah-sudah. Sini peluk Ayah, biar gak sempit." Abimanyu, memeluk Ara, mencoba untuk menenangkan hati anaknya yang sudah mulai tumbuh remaja.
Tapi Anggi juga ingin dipeluk ayahnya, sehingga dia merapatkan dirinya, ke posisi kakaknya.
"Anggi!" teriak Ara kesal, karena didesak oleh adiknya, yang ingin dipeluk juga oleh ayahnya itu.
"Gak ada yang ingin dipeluk Bunda?" tanya Anjani, mengalihkan perhatian keduanya yang sama-sama tidak mau mengalah.
"Kalau kalian masih berantem, Ayah yang akan ke sana," kata Abimanyu, menunjuk ke arah istrinya, yang masih sendiri di pinggir, dan tidak menjadi rebutan kedua anaknya, Ara dan Anggi.
Karena tidak mau bersama dengan Anggi, Ara yang berguling ke samping dan segera memeluk bundanya.
"Ara saja deh yang dipeluk Bunda. Anggi sama Ayah saja, bau ompol dia!" kata Ara, mengolok-olok adiknya sendiri.
"Wek!" Anggi menjulurkan lidahnya, membalas pada olok-olok kakaknya.
"Anggi bau ompol!" Ara tidak mau kalah dan terus mengatakan bahwa adiknya itu masih bau ompol.
"Ahhh... Anggi sudah gak bau. Tadi itu Anggi mimpi sedang mandi saja!"
Anggi berteriak tidak terima, karena terus menerus diolok-olok oleh kakaknya, Ara.
Anjani dan Abimanyu, masing-masing berusaha untuk mendiamkan mereka berdua, dengan memeluk mereka supaya tidak lagi berdebat.
__ADS_1
Dan tak lama kemudian, mereka semua tertidur dalam keadaan memeluk masing-masing satu anak mereka.