Dia Milikku ( Berbagi Cinta )

Dia Milikku ( Berbagi Cinta )
Semoga Bahagia


__ADS_3

Anggi dan Miko sedang asyik-asyiknya menikmati makanan yang sudah tersedia, karena acara prosesi pertunangan antara kakaknya, Ara dengan Awan, sudah selesai beberapa menit yang lalu.


"Anggi. Besok, kalau kita udah kayak kak Ara dan kak Awan, Kamu mau dikasih cincin yang sama seperti yang dikasih kak Awan ke kak Ara gak?" tanya Miko tiba-tiba.


Padahal, dia itu sedang makan. Dan mulutnya, sedari tadi tidak berhenti-hentinya untuk mengunyah makanan.


Tapi ternyata, otaknya masih bisa digunakan untuk berpikir dan bertanya kepada Anggi, soal cincin pertunangan, jika Anggi sudah besar nanti.


"Maksudnya, Kamu mau kasih Aku cincin yang sama seperti punya kak Ara itu?" tanya Anggi balik.


Sepertinya, Anggi belum begitu paham, dengan apa yang dikatakan oleh Miko barusan.


Miko mengangguk mengiyakan pertanyaan yang diajukan oleh Anggi padanya. Dia tidak bisa menjawabnya, karena mulutnya baru saja menerima suapan makanan, jadi susah untuk digunakan bicara dengan jelas.


"Lah, emang siapa yang mau bertunangan dengan Anggi?"


Sekarang, Anggi kembali bertanya pada Miko, dengan menunjuk ke arah wajahnya sendiri.


Miko tidak langsung menjawab pertanyaan tersebut. Dia hanya nyengir kuda, dengan masih mengaduk-aduk makanan yang ada di piringnya.


"Ih Miko. Gak jelas," gerutu Anggi, dengan mencibirnya.


Beberapa detik kemudian, Miko mengeluarkan suaranya juga, untuk menjawab pertanyaan dari Anggi.


"Ya siapa tahu, kita bertunangan. Kalau sudah besar nanti. Kan Aku jadi tau, cincin apa yang Kamu inginkan Anggi," ujar Miko, setelah tidak lagi menguyah makanan.


Sekarang, Anggi yang terbelalak, mendengar perkataan dari Miko. Dia yang mau menyendok makanan, untuk dirinya sendiri, tidak jadi menyuap ke mulutnya. Tapi ke mulutnya Miko.


"Tuh makan!"


Jadi, jika dari jauh, mereka berdua, Anggi dan Miko, tampak seperti sedang menyuapi satu sama lainnya.


Padahal sebenarnya tidak seperti itu. Anggi menyuapi Miko, dengan kesal karena perkataannya Miko yang asal.


"Hiihhh... aneh-aneh aja Kamu. Masih kecil mikir tunangan."


Miko yang tidak bisa mengelak dari suapan makanan yang sudah diberikan Anggi padanya, hanya bisa tersenyum dengan mengunyah makanan tersebut.


Dia tampak senang, karena melihat Anggi yang sedang kesal karena perkataannya tadi.


Sedang dari kejauhan, Awan melihat mereka berdua, Anggi dan Miko, yang terlihat mesra, meskipun usia mereka berdua masih terbilang anak-anak.


"Ra, liat deh itu!"


Ara menoleh ke arah yang diberitahu oleh Awan. Apalagi, Awan juga menunjuk ke tempat Anggi dan Miko berada.


"Kenapa mereka berdua?" tanya Ara, yang tidak begitu paham, dengan apa yang terjadi pada kedua adiknya itu.

__ADS_1


"Mereka mesra sekali. Padahal, mereka masih anak-anak. Apa emang seperti itu mereka berdua sedari dulu?"


Awan berpikir jika, keduanya mungkin seperti itu karena, sudah lama juga tidak bertemu. Karena Anggi ada di Amerika, bersama dengan Ara juga. Sedangkan Miko, berada di Indonesia.


"Ah, itu sih kelihatannya aja dari jauh kayak akur dan mesra begitu. Padahal sebenarnya, mereka berdua itu seperti Tom and Jerry."


Ara, yang sudah sangat paham dengan apa yang biasanya terjadi pada kedua adiknya itu, menjelaskan bagaimana situasi yang sebenarnya, jika Anggi dan Miko bersama-sama.


"Masa seperti itu?" Awan tidak percaya, dengan apa yang dikatakan oleh Ara barusan, untuk menjelaskan situasi yang sebenarnya terjadi pada Anggi dan Miko.


Ara mengangguk pasti, dengan pertanyaan yang diajukan oleh Awan.


"Iya Kak. Mereka berdua emang kayak gitu sedari kecil."


Ara menyakinkan pada tunangannya itu, dengan kelakuan kedua adiknya.


Awan mengangguk-angguk mengerti, dan berpikir jika, itu jauh lebih baik, daripada dirinya sendiri, yang tidak pernah ada teman atau saudara yang bisa diajak untuk berantem dan juga akur lagi setelahnya.


"Kalau kita, bagaimana Ra?"


Sekarang, Awan ganti topik pertanyaan, dengan tema mereka berdua.


Ara menoleh saat suara Awan kembali bertanya. Tapi, Ara juga bingung, dengan apa yang dimaksud oleh Awan tadi.


"Kita? Maksudnya bagaimana Kak?" Ara balik bertanya, karena dia tidak tahu apa yang ditanyakan oleh Awan.


Sepertinya, Awan juga kebingungan sendiri, untuk menjelaskan pada Ara, apa yang dia inginkan.


Tapi Ara yang pengertian, segera tersenyum, kemudian menarik tangan tunangannya itu untuk dia genggam.


"Kita gak harus kayak Tom and Jerry kan?" tanya Awan, dengan berbisik pada Ara.


Meskipun Awan tidak mengucapkan kalimat ini didekat telinga Ara, tapi Ara dengan jelas mendengarkan.


"Ya gak perlu lah Kak. Emang kita anak kecil?" tanya Ara, yang sedikit curiga dengan apa yang dikatakan oleh awan padanya.


Tapi sepertinya Awan punya maksud lain dari perkataannya itu.


"Apa sih Kak?" tanya Ara, dengan melihat Awan penuh curiga.


Tapi Awan justru diam saja, dan tidak mau menjawab pertanyaan dari tunangannya itu.


"Hihhh! Nyebelin deh. Sama kayak Anggi juga," kata Ara, dengan wajah ditekuk.


Dan itu membuat Awan tersenyum, meskipun dia tidak menampakkan senyumnya. Awan berusaha untuk bisa menahan diri, agar tidak tersenyum didepannya Ara.


"Wah... yang sedang berbahagia. Sedari tadi, Oma lihat senyum-senyum saja sih."

__ADS_1


Tiba-tiba, datang mama Amel, yang menegur cucunya, Awan dengan Ara.


"Ah, Oma."


Bukan Awan yang menyahuti teguran mama Amel, tapi Ara. Karena Awan, sudah memasang wajah datarnya.


"Ra. Hati-hati ya dengan Awan. Jika dia sudah pasang wajah seperti itu, lebih ganas lagi lho," tutur mama Amel, memberitahu Ara, tentang sikap cucunya itu.


"Hah, ganas? Maksudnya Oma?"


Pertanyaan yang diajukan oleh Ara, membuat mama Amel tersenyum sendiri. Dia memaklumi bahwa, calon istri dari cucunya itu belum berpengalaman dan tidak tahu, apa yang dia maksudkan.


"Ma," tegur Elang, yang baru saja datang.


Sepertinya, Elang juga tidak mau jika, mamanya itu menggoda calon mantunya.


"Eh, Kamu Lang. Ada apa?" tanya mama Amel, yang pura-pura tidak tahu.


"Di cari papa tadi," jawab Elang, memberitahu jika, papanya sedang mencari keberadaan mama Amel.


"Ah, papa Kamu itu. Orang Mama juga gak ke mana-mana kok," sahut mama Amel, yang merasa kesenangannya terganggu.


Tapi karena mama Amel tidak ingin membuat suaminya merasa khawatir, dia pun pergi juga dari hadapan kedua cucunya. Awan dan Ara.


"Oma nyamperin Opa dulu ya," pamit mama Amel, pada Awan dan Ara.


Keduanya, Awan dan Ara, sama-sama menganggukkan kepalanya bersamaan.


"Selamat ya Wan, Ra. Semoga, semuanya diberikan kelancaran hingga saat hari pernikahan kalian nanti."


Elang mengucapkan selamat kepada anaknya, dengan memeluknya erat, di saat mama Amel sudah pergi. Dia juga memeluk Ara, sama seperti memeluk anaknya sendiri.


Dari tempat yang tidak terlalu jauh, tampak Abimanyu dan juga Anjani, yang tersenyum bahagia, melihat Elang yang sedang memeluk Awan dan Ara secara bergantian.


"Semoga saja, Ara bisa terus berbahagia dengan Awan ya Mas," kata Anjani, penuh harap.


"Aamiin. Iya Sayang. Mas juga berharap demikian."


Abimanyu mengamini harapan dan keinginan dari istrinya itu, untuk kehidupan anaknya, Ara.


Di sudut ruangan, ada Nanda yang duduk termangu sendiri, menatap ke arah Awan dan Ara juga.


Dia hanya bisa menghela nafas panjang, menyaksikan adiknya itu, yang sekarang ini sudah menjadi tunangannya Awan.


"Semoga bahagia dan dimudahkan sampai nanti," ucap Nanda, yang hanya dia ucapkan dalam hati.


Nanda tetap berada di tempatnya, dan tidak ingin menganggu Ara dan Awan, yang sedang berbincang dengan ayahnya Awan. Yaitu Elang.

__ADS_1


__ADS_2