
Mobil mama Amel, meluncur ke arah jalan raya. Jalan besar yang akan menuju ke salon kecantikan, dimana mereka berdua, akan melakukan perawatan khusus untuk penampilan mereka.
Anjani, hanya diam dan tidak tahu harus memulai pembicaraan dari mana. Dia yang terbiasa pendiam, jadi bingung harus bertanya apa pada mama Amel, yang sudah cukup lama tidak bertemu dengannya.
"Jani," panggil mana Amel, dengan menoleh sekilas.
"Iya Ma," jawab Jani, dengan menoleh ke arah mana Amel yang sudah kembali fokus pada setir dan jalanan yang mulai padat.
"Kamu tidak ingin bertanya tentang kabar Elang, anaknya mama?" tanya mama Amel, memancing reaksi Anjani dengan nama Elang.
Anjani, menjadi kikuk dengan pertanyaan yang diajukan oleh mama Amel. Dia tidak langsung menjawab pertanyaan itu, tapi hanya tersenyum saja.
Akhirnya, mama Amel yang melanjutkan kata-katanya lagi. Dia bercerita awal mula dia dan papa Ryan tidak suka dengan Adhisti. Istri dari anaknya sendiri, Elang Samudra.
"Sekarang, Elang lebih sering tidur di rumahmu. Dia hanya pulang ke rumah untuk menyapa Awan. Dan Kamu tahu, ternyata kasus korupsi yang melibatkan Adhisti itu, terjadi jauh sebelum mereka berdua menikah. Mama yang sedari awal tidak suka, tidak tahu jika dia setega itu memanfaatkan perasaan Elang yang tulus padanya. Mama tidak suka karena ada sebabnya Jani. Mama mendengar cerita dari pengasuh di panti asuhan, tempat Anjani dibesarkan. Mama yang biasanya jadi donatur tanpa harus datang ke panti, karena mama melakukannya lewat titip dengan pengurusnya, mendengar cerita jika ada salah satu anak asuhnya yang mempunyai sifat sedikit nakal jika soal pembagian makanan atau hadiah yang di dapat. Dia sering meminta bagian dari temannya yang lain, dengan cara halus. Misalnya menangis dan merengek atau mengambilnya secara langsung tanpa disadari oleh pemiliknya yang asli. Awalnya mama tidak tahu, jika anak yang di maksud adalah Andhisti. Tapi, seiring berjalannya waktu saat Elang mempertemukan kami, Mama mencoba mencari tahu siapa dia dan tidak di sangka, ternyata Adhisti yang tumbuh di panti asuhan, ternyata adalah anak yang sama, yang dulu sering diceritakan oleh pengurus panti."
Mama Amel, mengeluarkan semua beban yang ada di hatinya sedari dulu. Dia ingin, ada orang yang bisa dia percaya untuk ceritanya ini.
"Mama memang tidak merestui hubungan mereka dari awal. Tapi papa Ryan yang menyakinkan Mama, jika seseorang bisa saja berubah. Apalagi, melihat keseriusan Adhisti, yang ikut membantu Elang mengurus perusahaan yang dia bangun dan jadi berkembang. Akhirnya, Mama jadi merasa bersalah jika tidak merestui hubungan mereka. Tapi, saat mendengar terjadinya kecelakaan itu, dan tahu jika Elang harus menikahi korban, Mama kembali berpikir jika Elang sebenarnya tidak ada jodoh dengan Adhisti."
Mama Amel, mengusap air mata yang menetes dari sudut matanya. Suaranya juga sedikit parau. Dia merasa sesak, dan tidak bisa bersuara dengan bebas.
Anjani, mendengarkan semua cerita mama Amel dengan perasaan yang entah bagaimana mengambarkannya. Ada rasa haru, kasihan, dan rasa kesal juga. Tapi, dia tidak juga berkomentar untuk cerita mama Amel. Dia merasa tidak ada hak, untuk menilai siapapun saat ini.
__ADS_1
"Oh maaf ya Jani. Mama jadi cerita banyak ini, padahal seharusnya tidak juga. Kamu tidak ada hubungannya juga dengan semua ini," kata mama Amel, dengan tersenyum canggung. Dia merasa malu, karena harus menceritakan tentang bagaimana keadaan rumah tangga anaknya, mantan suami Anjani sendiri.
Anjani, tetap tidak mengatakan apa-apa. Dia hanya mengangguk dan tersenyum tipis, menanggapi perkataan mama Amel.
"Kita sudah sampai. Sebaiknya, kita lupakan semua masalah sebentar. Kita wajib memanjakan diri sendiri, agar tetap terlihat cantik dan anggun, hehehe... ayo Jani, jangan malu-malu. Mama akan ikut juga dengan perawatan ini kok. Mumpung ada temannya ke salon."
Mama Amel dan Anjani, turun dari mobil bersamaan. Mereka berdua, masuk ke dalam salon kecantikan arsitektur mirip dengan bangunan-bangunan rumah di Bali. Ada beberapa patung dan ornamen khas pulau Dewata yang diletakkan di depan pintu masuk, sehingga pengunjung yang datang, seperti sedang berada di Bali.
Perawatan yang ditawarkan juga komplit, mulai dari perawatan kulit hingga rambut. Ada sauna dan klinik perawatan gigi juga.
"Salon ini milik mantan karyawan Mama, yang menikah dengan orang Bali. Akhirnya, dia yang tidak diperbolehkan bekerja sama suaminya, meminta ijin untuk membuka usaha salon ini. Dan bisa kita lihat, salonnya keren ya. Ramai lagi!"
Mama Amel, menceritakan siapa pemilik salon kecantikan yang mereka kunjungi hari ini.
Resepsionis membuka catatan dan mengangguk mempersilahkan, "Mari Saya antar keruangan yang sudah di pesan."
"Ayo Jani," ajak mama Amel, mengajak Anjani agar mengikutinya, yang mengekor di belakang petugas resepsionis salon tersebut.
*****
Di Jakarta, Abimanyu yang sedang mengikuti ibunya untuk berbelanja, untuk kebutuhan pernikahannya nanti, jadi tidak nyaman karena mereka bertemu dengan teman sekantor ibunya.
Teman ibunya itu, bercerita tentang menantu perempuannya yang 'katanya' pelit dan perhitungan.
__ADS_1
"Masa Jeng, menantuku itu, kalau mau makan keluar ngajak suaminya, dan saat pulang tidak pernah membawakan bungkusan untuk kami, Aku dan suamiku makanan itu juga, atau setidaknya bawa oleh-oleh yang lain juga kan tidak apa-apa. Itu bukan pelit, apa namanya coba!" kata teman ibunya Abimanyu, menggosipkan menantunya sendiri.
"Ih, amit-amit deh punya menantu seperti itu. Jauh-jauh deh!" sahut ibunya Abimanyu, dengan mengibaskan tangan.
"Huh, apalagi pas ngidam kemarin itu. Idihhh, manjanya minta ampun. Gak bisa ngapa-ngapain. Di kamar terus, sampai-sampai, makan saja di tempat tidur Jeng," kata orang itu lagi dengan bibir mencibir.
"Wah parah itu Jeng. Terus malah akhirnya, cucu Jeng meninggal di dalam kan, belum sempat lahir?" tanya ibunya Abimanyu dengan wajah kesal.
"Iya. Dia tidak kuat mengejan. Saat mau dioperasi, ternyata bayinya itu sudah meninggal di dalam," jawabnya dengan wajah sedih.
Ibunya Abimanyu, jadi ikut-ikutan sedih karena ingat dengan kejadian itu.
"Semoga Aku mendapat menantu yang baik dan sehat saat hamil. Bisa memberikan Aku cucu yang lucu dan menggemaskan juga."
Abimanyu, tersenyum mendengar doa dan harapan ibunya sendiri. Dia hanya bisa mengamini doa tersebut dalam hati.
"Aamiin. Semoga Jeng tidak mengalami hal yang sama seperti Saya," ucap temannya.
"Aamiin. Iya Jeng, terima kasih ya. Ini anak Saya, Abimanyu, akan segera menikah. Datang ya Jeng!" Ibunya Abimanyu, mengingatkan temannya itu.
"Iya pasti. Saya pasti akan datang. Undangannya sudah Saya terima kok. Oh ya, selamat ya Mas Abi. Semoga dilancarkan."
"Iya Bu, terima kasih."
__ADS_1
Abimanyu, mengangguk sambil tersenyum tipis, saat teman ibunya mengucapkan selamat, atas rencana pernikahannya yang sudah semakin dekat.