Dia Milikku ( Berbagi Cinta )

Dia Milikku ( Berbagi Cinta )
Sudah Jadi?


__ADS_3

"U bicara apa Anggi?"


Ahmed bertanya pada Anggi, karena dia memang tidak tahu, apa yang di maksud oleh Anggi tadi.


"Emhhh... gak apa-apa kok," jawab Anggi yang tampak cemas.


Sebenarnya, Anggi ingin bicara dengan Ahmed. Dia ingin memberitahu pada temannya itu, bahwa dia memang tidak lama lagi ada di Amerika sini.


Dia akan segera pindah ke negara asalnya. Yaitu Indonesia. Dan ini sudah dekat dengan waktunya.


Karena Anggi belum juga mengatakan apa-apa lagi, akhirnya Ahmed pura-pura bertanya padanya. "U tidak sekolah? Bukankah hari ini bukan hari libur?"


Anggi tidak langsung menjawab pertanyaan dari Ahmed. Dia. mencoba untuk mencari dan merangkai sebuah kalimat, agar Ahmed lebih paham dengan apa yang akan dia katakan nanti.


"Emhhh... Itu. Emhhh... anu..."


Tapi Anggi tetap kesulitan untuk mendapatkan kata-kata yang seharusnya. Dia merasa bingung, harus memulai dari mana pembicaraan mereka ini di mulai.


"U ok?"


"Ah, iya-iya. Aku tidak apa-apa," sahut Anggi cepat. Di saat Ahmed bertanya tentang keadaannya.


"Ayo di makan lagi. Ini ada beberapa kue putri ayu, nanti kasih ke bunda. Dan tolong minta bunda untuk menilainya juga ya!"


"Emhhh... kenapa tidak Kamu kasih ke Bunda sendiri?" tanya Anggi, supaya dia bisa punya kesempatan untuk bicara soal kepindahannya ke Ahmed.


Mungkin, dengan bicara fi rumah, dia bisa menemukan kata-kata yang mudah untuk dipahami oleh Ahmed.


Bisa jadi, bundanya juga bisa ikut membantunya, memberikan penjelasan pada Ahmed.


"Bunda di rumah?" tanya Ahmed.


Karena biasanya, jika Anggi libur sekolah, tidak akan pergi sendirian dan selalu ditemani oleh bundanya, Anjani.


"Ada. Bunda di rumah sama Ayah juga."


"Ok. Nanti i datang ke rumah dengan membawa kue itu. Nanti, i minta di nilai sama bunda juga. Hehehe..."


Ahmed tertawa kecil, menyadari jika dia begitu bersemangat. Untuk bisa mendapatkan penilaian, terhadap kue yang dia buat kali ini.


*****


Di kampus, Ara sedang mengajukan permohonan untuk ijin libur selama satu minggu.


Dia ingin ikut pulang bersama ayah dan bundanya ke Indonesia.


Mengantar kedua orang tuanya, bersama dengan adiknya yang akan pindah ke negara asalnya.


Tapi ternyata, itu tidak mudah. Apalagi, Ara sedang ada di semester penentu kelulusannya. Ini bisa membuat dirinya kesusahan dalam urusan tugas dan tanggung jawabnya.


Dengan sangat terpaksa, Ara pun hanya bisa menghela nafas panjang. Saat permohonannya itu di tolak.


Ara berjalan dengan gontai menuju ke arah jalan depan.

__ADS_1


Tapi karena jarak antara fakultasnya dengan jalan lumayan jauh, Ara kelelahan juga. Dia berhenti sebentar di bawah pohon, yang tumbuh berjejer di sepanjang jalan kampus.


Ada juga kursi-kursi panjang, yang menang diperuntukkan bagi mahasiswa-mahasiswa yang ingin beristirahat atau berbincang dengan temannya.


"Ara. U ok?"


Ara mendongakkan kepalanya, melihat ke arah seseorang yang sedang menegurnya.


"Yes. i m ok sir."


Ternyata, dosen muda yang pernah menjadi pembimbingnya, yang saat ini menegurnya.


Dosen muda, yang dulu juga sempat memperingatkan dirinya, di saat ada kejadian kasus bersama dengan Clarissa beberapa tahun yang lalu.


Mengingat nama Clarissa, Ara menghela nafas panjang.


Dosen muda itu ikut duduk di sebelah Ara. Dia tahu jika, mantan anak didiknya itu sedang tidak baik-baik saja.


Setelah saling diam tanpa ada yang bicara, Ara berdiri dan pamit untuk pergi berjalan lagi.


"Maaf Pak. Saya harus ke depan sekarang."


Ara mengucapkan permintaan maafnya, karena pergi meninggalkan dosen muda itu sendiri.


Tapi ternyata, dosen muda itu hanya memberikan jawaban dengan menganggukkan kepalanya saja. Tanpa memberikan jawaban melaluinya kata-kata.


Dan akhirnya, Ara berjalan sendiri menuju ke depan. Dia ingin pulang saja.


Ara berusaha untuk menghubungi Awan. Tapi dua kali panggilan, tidak juga diangkat oleh awan.


Tut tut tut!


Tut tut tut!


..."Halo Kak. ada apa?"...


..."Yah. Ara gak dapat ijin. Permohonan Ara di tolak."...


..."Emhhh... sekarang, Kakak di mana?"...


..."Di jalan ke luar kampus."...


..."Mau pulang?"...


..."Iya Yah. Ara kesal. Permohonan di tolak. Telpon Kak Awan, tidak diangkat."...


..."Hahaha... sudah-sudah. Kamu tunggu ya! Ayah jemput."...


..."Ara pulang sendiri aja deh Yah. Naik taksi atau bus umum."...


..."Yakin bisa?"...


..."Bisa-bisa Yah. Tenang saja!"...

__ADS_1


..."Ya sudah. Hati-hati!"...


Kik!


Sambungan telpon tersebut terputus. Ara kembali berjalan menuju ke arah depan, mencari taksi atau ke halte bus.


Tak lama kemudian, handphone miliknya bergetar. Ada panggilan masuk untuknya. Dan ternyata, itu adalah Awan. Dia menghubungi Ara, karena dia tidak bisa menerima panggilan darinya tadi.


..."Halo Kak."...


..."Halo Ra. Maaf. Tadi Aku sedang ada metting. Kamu udah selesai?" ...


..."Iya." ...


..."Ini masih di kampus?" ...


..."Emhhh..." ...


..."Aku ke sana sekarang. Jangan ke mana-mana ya!" ...


klik!


"Eh, Kak Awan gimana sih! Orang belum dijawab kok udah diputusin gitu aja."


Ara ngedumel sendiri, dengan tingkah laku tunangannya itu.


Sekarang, dia berhenti lagi di kursi yang ada di salah satu pohon, yang tak jauh dari pintu gerbang kampus.


Ada beberapa mahasiswa yang mahasiswi yang bergerombol juga. Dengan kendaraan dan aktivitas mereka.


Saling berbicara, menunjukkan handphone masing-masing. Dan entah apa lagi yang mereka lakukan. Karena mereka juga bukan satu fakultas dengan Ara.


Ara membuka handphone miliknya lagi, dan ingin menelpon ayahnya. Memberitahu jika Awan sudah menghubungi dirinya tadi. Bahkan sekarang ini, Awan juga sedang dalam perjalanan menuju ke kampus untuk menjemput dirinya.


Tapi setelah dipikir-pikir, akhirnya Ara hanya mengirim pesan saja pada ayahnya. Dia ingin menghubungi kakak sepupunya, Nanda,ya g sudah beberapa minggu ini tidak memberikan kabar apapun.


Akhirnya, setelah mengirim pesan pada ayahnya, Ara juga mengirim pesan pada Nanda.


Tentunya, Nanda juga tidak langsung membalas pesan darinya. Karena di Indonesia, sekarang tentunya sedang tengah malam.


Bisa jadi, Nanda sudah tertidur. Sehingga dia tidak tahu jika ada pesan yang masuk ke dalam handphone miliknya.


Karena jenuh menunggu, Ara membuka tas ransel miliknya. Dia mencari buku, yang mungkin bisa dia baca. Sekedar untuk menghilangkan rasa bosan, di saat menunggu kedatangan Awan sekarang ini.


Tapi ternyata, sebelum Ara menemukan buku yang cocok untuk dia baca, ada notifikasi pesan yang masuk ke dalam handphonenya.


"Kak Nanda?"


Ar kaget. Karena pesan itu dari Nanda. Itu artinya, Nanda terjaga dari tidurnya, dan membalas pesan yang tadi dia kirim.


Dari pesan yang disampaikan oleh Nanda, Ara akhirnya tahu jika, sekarang ini Mita sudah kembali kuliah.


Dan yang lebih membuat Ara senang karena, Mita kuliah di kampus yang sama dengan kakak sepupunya itu. Jadi, menurut Ara, mereka berdua pastinya akan lebih dekat lagi.

__ADS_1


Dengan tersenyum tipis, Ara kembali mengirimkan pesan. Membalas pesan yang dikirim oleh Nanda tadi.


Ara ingin bertanya pada kakak sepupunya itu, apakah saat ini mereka berdua sudah jadian atau masih sekedar dekat saja.


__ADS_2