
Menurut rencana yang dikatakan oleh ibu Sofie pada Abimanyu dan suaminya, temannya Risma akan tinggal di rumah untuk sementara waktu, sampai benar-benar sembuh dan bisa melakukan aktivitas lagi. Ini diluar rencana ibu Sofie yang sebelumnya, tapi dia patut bersyukur, karena tidak perlu mencari-cari alasan, untuk bisa mendekatkan Risna dengan Abimanyu. Ibu Sofie, jadi merasa beruntung dengan kecelakaan yang terjadi pada Risma tadi.
"Ayo Abi, kita pulang," ajak ibu Sofie, sambil menuntun Risna yang tidak bisa berjalan dengan baik.
"Bu Sofie. Sa_Saya tidak enak merepotkan keluarga Ibu. Ini benar-benar diluar kemampuan Saya. Entah apa yang sedang Saya pikiran tadi, sehingga kecelakaan itu terjadi. Untungnya, ini tidak parah. Saya masih selamat dan keluarga Ibu benar-benar memiliki kepedulian sosial yang tinggi." Risma, berkata dengan suara tersendat karena merasa tidak enak hati, sudah merepotkan keluarga ibu Sofie, teman yang belum lama dia kenal secara tidak sengaja.
"Tidak apa-apa Risma. Kita sesama manusia harus saling tolong menolong dan peduli terhadap sesama. Hal yang sudah jarang sekali ada pada orang-orang di jaman modern seperti sekarang ini."
Ibu Sofie berkata, seolah-olah dia adalah orang yang paling peduli dan baik hati pada orang-orang yang membutuhkan. Risma sendiri, sebenarnya tidak tahu, apa rencana yang telah dijalankan ibu Sofie untuknya dengan Abimanyu, anaknya ibu Sofie sendiri.
"Ayo masuk. Hati-hati ya," kata ibu Sofie, mempersilahkan Risma untuk masuk ke dalam mobil terlebih dahulu. Dia menyusul kemudian, di bangku yang sama dengan Risma, di kursi belakang.
Abimanyu dan ayah Edi, masuk ke dalam mobil melalui pintu samping sisi kiri dan kanan. Abimanyu ada di kursi kemudi, sedangkan ayah Edi ada di sebelahnya.
"Kita pulang sekarang Bu?" tanya Abimanyu, pada ibunya, ibu Sofie.
"Iya Abi. Kita pulang sekarang. Semua obat yang akan diminum dan obat luar untuk luka sudah ada, tadi diberikan pihak klinik. Jika tidak mempan, besok kita bisa beli lagi ke apotek terdekat," jawab ibu Sofie menjelaskan pada Abimanyu.
"Ya sudah kita pulang. Ini juga sudah malam Abi. Besok Kamu masih harus berangkat ke kantor untuk mengerjakan tugas, yang seharusnya segera Kamu selesaikan juga. Kasihan Anjani, jika Kamu tinggal terlalu lama," kata ayah Edi, mengingatkan anaknya pada istrinya yang berada di Bogor.
"Iya Yah," jawab Abimanyu, kemudian segera menghidupkan mesin mobil dan melanjutkan perjalanan menuju ke arah rumah.
__ADS_1
Ibu Sofie, yang mendengar pembicaraan antara suami dan anaknya, hanya tersenyum miring. Dia tidak senang, karena suaminya itu membahas masalah Anjani, istri anaknya, Abimanyu.
Risma sendiri, hanya bisa tersenyum tipis. Dia merasa tidak enak hati, karena sudah menyusahkan Abimanyu yang tidak dia kenal. Apalagi, Abimanyu juga sudah memilki istri, yang sedang menunggu kepulangannya di Bogor. Ini membuat Risma tidak ada semangat, meskipun untuk beberapa hari kedepannya, dia akan berada di rumah ibu Sofie, yang berarti bahwa, akan serumah juga dengan Abimanyu. Sebelum Abimanyu kembali ke Bogor.
"Kenapa Aku merasa bahagia, bisa ada didekatnya? padahal dia tidak tahu apa yang Aku rasakan saat ini. Apa yang sebenarnya terjadi pada diriku? Dia sudah punya istri Risma, sadarlah! kecelakaan yang terjadi padamu tadi juga akibat dari dirimu sendiri yang sedang melamun. Apa Kamu tidak sadar dengan semua itu?"
Di dalam hati Risma, kembali terjadi pertentangan antara rasa bahagia, dan juga rasa bersalah dan menyalahkan hatinya sendiri. Ini membuat Risma menggeleng tanpa sadar.
"Kenapa Risma? apa ada yang sakit?" tanya ibu Sofie, saat melihat Risma yang sedang menggeleng beberapa kali.
"Ti_tidak Bu. Saya... Saya hanya ingin membuang kantuk. Sepertinya, obat yang diberikan dokter tadi ada obat tidurnya, atau pemenang, sehingga sekarang jadi berefek pada mata Saya. Jadi merasa ngantuk sekali," jawab Risma, mengalihkan perhatian ibu Sofie dari pertanyaan-pertanyaan yang akan diajukan lagi untuknya.
Risma hanya mengangguk dan mencoba untuk memejamkan mata, untuk membuat ibu Sofie percaya dengan alasan yang dia katakan tadi.
*****
Setengah jam kemudian, mobil Abimanyu memasuki halaman rumah. Dia mengehentikan mobilnya tepat di depan pintu masuk agar memudahkan Risma yang tidak bisa berjalan dengan baik.
Abimanyu, turun terlebih dahulu bersamaan dengan ayah Edi. Dia juga membukakan pintu untuk Risma dan membantunya untuk turun dari mobil.
Ibu Sofie, yang turun dari pintu samping, bermasa dengan suaminya, menyusul ke arah sisi samping yang lain. Mereka berdua, ikut membantu Abimanyu yang memapah Risma dan membawanya masuk ke dalam rumah. Ibu Sofie yang sedang membereskan semua barang-barang Risma, ditegur oleh suaminya sendiri dengan pertanyaan yang tidak pernah dia sangka sebelumnya.
__ADS_1
"Ibu. Apa yang ibu rencanakan?" tanya ayah Edi, menyelidik. Dia ingin tahu, apa yang sedang direncanakan oleh istrinya, pada Abimanyu dan juga Risma.
"Maksudnya apa Yah?" tanya ibu Sofie, pura-pura tidak tahu. Padahal, dia sempat kaget dan wajahnya juga pucat, karena takut jika semua rencananya akan diketahui oleh suaminya.
"Apa ini salah satu rencana yang ibu susun?" tanya ayah Edi lagi, tanpa menjawab pertanyaan dari istrinya, ibu Sofie.
"Rencana apa sih Yah? Masak kecelakaan kok direncanakan," jawab ibu Sofie dengan nada kesal. Dia pura-pura kesal agar ayah Edi tidak lagi bertanya-tanya padanya, tentang apa maksud dari permintaannya tadi, agar Risma bisa tinggal di rumah untuk sementara waktu, sampai kondisi tubuhnya sehat lagi.
"Hemmm, apa ibu ingin tahu, bagaimana perasaan yang dirasakan Anjani, jika tahu apa yang sedang terjadi pada Abimanyu saat ini?" tanya ayah Edi pada istrinya lagi.
"Maksud Ayah apa sih?" tanya ibu Sofie, yang tidak menjawab pertanyaan dari suaminya, karena dia memang tidak paham dengan arah pertanyaan yang diajukan oleh suaminya tadi.
"Apa Ayah perlu mencari pacar atau kekasih? atau bisa juga istri muda yang lebih cantik, agar ibu bisa tahu, bagaimana rasanya orang yang diabaikan?" tanya ayah Edi, memberikan kiasan untuk menggambarkan keadaan yang sedang direncanakan oleh istrinya itu. Ayah Edi paham dengan kelakuan istrinya sendiri, yang memang tidak pernah setuju, saat Abimanyu meminta ijin untuk menikahi Anjani, waktu itu.
"Ayah. Jangan macam-macam ya! Ini tidak seperti yang Ayah pikirkan. Ibu tidak pernah berencana apa-apa, apalagi dengan kecelakaan ini. Ibu tidak tahu kenapa Ayah selalu berpikir negatif pada Ibu. Padahal, Ibu ini istrimu sendiri Yah, kenapa selalu curiga, sama seperti pada musuh saja Ayah ini!"
Ibu Sofie, berkata dengan kesal dan suaranya juga agak keras. Dia merasa, jika tidak melakukan semua ini, rencananya itu akan terbongkar dan sia-sia sudah, apa yang dia lakukan sekarang ini. Itulah sebabnya, ibu Sofie pura-pura marah pada ayah Edi, untuk melancarkan semua rencananya itu.
"Pokoknya, Ibu tidak akan pernah memaafkan Ayah, kalau sampai Ayah benar-benar melakukan semua hal yang tadi Ayah katakan. Ibu akan bilang pada anak-anak, jika Ayah adalah Ayah yang tidak baik dan tidak menyayangi keluarga sendiri, terutama ibu mereka."
Dengan mengatakan semua itu, ibu Sofie masuk ke dalam rumah. Dia meninggalkan suaminya, yang masih berdiri di depan pintu, dengan wajah yang tidak percaya dengan apa yang dia katakan, sebagai ancaman.
__ADS_1