Dia Milikku ( Berbagi Cinta )

Dia Milikku ( Berbagi Cinta )
Ternyata Memang Benar


__ADS_3

Di kamar yang lain.


Mama Amel tersenyum-senyum sendiri sedari tadi. Dia tampak seperti sedang berbahagia. Meskipun semua orang juga merasakan hal yang sama.


Tapi dari senyuman yang menghiasi wajah mama Amel, membuat curiga suaminya sendiri.


"Mah. Ngapain sih, sedari tadi senyum-senyum sendiri. Mama masih normal kan?" tanya papa Ryan, yang merasa penasaran dengan apa yang terjadi pada istrinya itu.


"Hemmm mau tahu apa tempe Pah?"


Mama Amel justru memberikan pertanyaan, yang tidak ada hubungannya dengan maksud pertanyaan yang diajukan oleh suaminya tadi.


"Eh Mah. Denger ya jika Papa bertanya apa tadi?"


"Hehehe... iya-iya Pah. Mama denger kok," sahut mama Amel, dengan masih terkekeh-kekeh.


Papa Ryan mengelengkan kepalanya, melihat tingkah istrinya yang tidak biasanya seperti ini.


"Eh, Mama sedang omes ya?"


Tiba-tiba, papa Ryan bertanya pada istrinya. Tapi ternyata, mama Amel tidak tahu, apa arti kata yang digunakan oleh suaminya itu, untuk bertanya pada dirinya.


"Apa itu Pah?"


"Ini otaknya mama mesum. Omes. Otak mesum!"


Penjelasan yang diberikan oleh papa Ryan, membuat mama Amel terbelalak kaget.


"Dari mana Papa dapat singkatan kata seperti itu?" Mama Amel bertanya penasaran. Dia tidak menyangka jika, suaminya itu bisa gaul juga. Sama seperti anak-anak remaja sekarang ini.


"Lah, kata gaul itu banyak sekali di pakai Mah. Makanya, jangan gaul sama ibu-ibu yang suka pamer barang-barang branded saja!"


"Ihsss si Papa. Mama gak pernah ya, pamer-pamer begitu," sahut mama Amel, yang tidak terima dengan tuduhan suaminya sendiri.


"Itu tadi apa yang sedang Mama pikirin?" tanya papa Ryan, yang ingat kembali, dengan pertanyaan awal pembicaraan mereka berdua tadi.


"Hihihi..."


Mama Amel bukannya langsung menjawab, justru cekikikan sendiri tanpa diketahui sebabnya oleh papa Ryan.


"Mah..."


"Bentar Pah, bentar. Hihihi... Mama masih pengen ketawa dulu. Hahaha..."


"Eh, Mama gak jelas ini. Jangan bilang Mama kesambet penghuni hotel ini ya!"


Papa Ryan sepertinya mulai jengah dengan apa yang terjadi mama Amel. Karena sedari tadi, istrinya itu hanya tertawa dan cekikikan sendiri, tanpa dia tahu apa yang sedang dialami oleh istrinya.


Tapi dia membiarkannya saja. Membiarkan istrinya yang sedang dalam keadaan berbahagia. Dan belum bisa dia bagikan pada orang lain, meskipun itu dengan dirinya sendiri.


Setelah beberapa saat kemudian, mama Amel sudah bisa mengendalikan diri. Dia tidak lagi ketawa. Meskipun senyumannya masih tampak misterius.


"Pah," Panggil mama Amel, dengan meminta pada suaminya itu, untuk lebih mendekat ke tempat duduknya.


"Hemmm... ya ada apa?"


"Tadi, Mama berhasil menganti isi koper Ara dengan..." Mama Amel berbisik-bisik di telinga papa Ryan.

__ADS_1


Dan setelah mendengar penjelasan yang diberikan oleh istrinya itu, papa Ryan terbelalak kaget. Dia tidak percaya, jika mama Amel akan mengerjai cucunya sendiri, melalui istrinya yang baru saja di sah kan tadi siang.


"Mama, ini... ini jika Awan tahu, terus ngambek gimana?" papa Ryan tidak habis pikir, dengan apa yang dilakukan oleh istrinya itu.


"Hehehe... yakin gak bakalan Pah."


Sekarang mama Amel bangkit dari tempat duduknya, kemudian mengambil tote bag. Dan mengeluarkan isi dari tote bag tersebut.


"Lihat ini Pah! Masa iya pengantin baru kok bawaannya kayak begini bajunya?" Mama Amel memperlihatkan beberapa stel piyama dan baju rumahan milik Ara.


Ada stelan piyama panjang dan dua kaos oblong bersama dengan celana training panjang. Di tambah dua buah gaun biasa, yang panjangnya di bawah lutut. Dengan lengan sesiku.


"Terus?"


"Ya Mama ganti dengan piyama-piyama yang trendi. Apalagi untuk pasangan baru. Biar lebih hottt and josss. Hehehe..."


Papa Ryan mengelengkan kepalanya, melihat kesenangan baru yang dilakukan oleh istrinya itu. Dia tidak habis pikir, dengan apa yang akan terjadi, pada cucu-cucunya di kamar yang lainnya.


Tapi, baru saja mama Amel memasukkan kembali baju-baju miliknya Ara ke dalam tote bag, handphone miliknya berdering.


Mama Amel melihat ke layar handphone tersebut. Dia terbelalak melihat siapa yang saat ini menghubungi dirinya. Karena ada nama Awan di layar tersebut.


"Pah!"


"Apa lagi? Siapa?" tanya papa Ryan ingin tahu.


Mama Amel menunjukkan layar handphone miliknya, pada papa Ryan.


"Hemmm... tanggung jawab sendiri lho Mah. Jangan bawa-bawa nama Papa. Hehehe..." ucap papa Ryan, yang ambil amannya saja.


..."Hummm... iya Wan. Ada apa? Bukannya istirahat kok nelpon Oma. Oma baik-baik saja kok."...


..."Oma. Jangan pura-pura tidak tahu Oma. Apa ini maksudnya?"...


..."Apa? Oma gak tahu apa maksud Kamu? Oma mengantuk sekali ini Wan."...


..."Hahaha... Awan tahu Oma. Siapa lagi yang melakukan semua ini selain Oma?"...


..."Hah! Apa?"...


Mama Amel masih pura-pura kaget. Agar Awan tidak mencurigai apa yang sudah dia lakukan.


..."Ah Oma. Awan tahu ya, apa yang Oma lakukan. Awas jika gak ngaku. Awan cari buktinya lewat cctv hotel. Siapa yang tadi masuk ke dalam kamar Awan."...


Mendengar perkataan cucunya, Mama Amel tertawa kecil. Dia tidak mungkin bisa mengelak lagi.


..."Hihihi... iya. Hahaha..."...


Oma Amel tidak bisa menahan ketawanya, karena membayangkan bagaimana keadaan di dalam kamar tersebut.


..."Bagaimana? Keren kan ide Oma."...


..."Keren bagaimana? Ngambek itu Ara nya Oma. Sedari tadi di dalam kamar mandi. Gak mau keluar-keluar."...


..."Hah! Yang benar saja?"...


..."Hemmm..."...

__ADS_1


..."Kasihan dong Wan. Bujuk dia buruan! Nanti kedinginan di kamar mandi."...


..."Ya, Oma yang tangung jawab lah."...


..."Hah!"...


Klik!


Sambungan telpon tertutup. Oma Amel melongo. Dia bingung dengan apa yang harus dia lakukan sekarang ini.


"Ada apa?" tanya papa Ryan, yang ingin tahu. Apa yang dikatakan oleh cucunya tadi.


"Ara ngambek dan mengunci pintu kamar mandi Pah," jawab mama Amel bingung.


"Ha, terus?"


"Ya ini gimana?" tanya mama Amel yang masih kebingungan. Dia merasa sangat takut jika, apa yang dikatakan oleh awan memang benar adanya.


"Pah. Kita ke kamarnya Awan yuk! Mama mau minta maaf pada Ara."


Sekarang, Papa Ryan yang bingung.


Ini sudah lewat tengah malam. Dan malam ini juga malam pertama cucunya. Masa iya, diganggu dengan ketukan pintu kamar.


"Udah biarin aja. Nanti juga Awan bisa bujuk Ara," kata papa Ryan menenangkan istrinya.


"Tapi..."


"Udah-udah. Pasti Awan hanya ngerjain Mama. Sama seperti yang Mama lakukan padanya."


Mendengar perkataan suaminya, mama Amel sedikit lebih lega. Tapi, dalam hatinya dia tetap saja merasa bersalah.


Padahal, niatnya hanya iseng dan ingin membuat keduanya bisa menikmati malam mereka. Tapi, ini justru membuat keduanya dalam keadaan yang tidak bisa dibayangkan oleh mama Amel sendiri.


*****


Di dalam kamarnya Awan.


Clek!


Ara keluar dari dalam kamar mandi, tepat di saat Awan menutup panggilan teleponnya dengan omanya. Dia masih mengunakan piyama mandi.


"Siapa Kak?" tanya Ara, yang merasa penasaran. Karena Rafi handphone keduanya sama-sama di nonaktifkan.


"Hemmm... cari tahu aja, siapa yang mengantikan isi koper Kamu Dek," jawab Awan menjelaskan.


"Terus siapa?" tanya Ara cepat.


Dia ingin tahu, siapa yang berani melakukan semua ini padanya.


"Kenapa? Mau dimarahin? Atau dikasih jurus?" tanya Awan, dengan menahan senyumnya.


"Ihsss... habisnya Aku gretetan Kak!"


"Yakin? Oma lho yang melakukan semua ini."


Ara hanya bisa melongo, mendengar jawaban yang diberikan oleh suaminya.

__ADS_1


__ADS_2