Dia Milikku ( Berbagi Cinta )

Dia Milikku ( Berbagi Cinta )
Penyesalan


__ADS_3

Abimanyu, pingsan setelah berteriak-teriak saat melihat wajah Yasmin. Entah apa yang sebenarnya dia lihat, karena saat ditanya oleh istrinya, Anjani, dia justru memegang kepalanya sendiri.


Kata Abimanyu, kepalanya sakit. Dia tidak mau melihat ke arah adiknya, Yasmin.


"Mas. Mas Abi, ini Yasmin Mas," panggil Yasmin, yang merasa bingung dengan apa yang terjadi pada kakaknya yang lumpuh itu.


"Kita bawa ke rumah sakit saja Jani," kata ayah Edi, mengusulkan supaya Abimanyu segera dilarikan ke rumah sakit.


"Iya Yah," jawab Anjani cepat.


Anjani segera berlari ke arah kamar, untuk mengambil beberapa barang yang diperlukan.


Saat tiba di depan, Abimanyu sudah dibopong oleh ayah Edi dan juga Aksan. Mereka berdua, berusaha untuk memposisikan Abimanyu, supaya nyaman saat berada di dalam mobil ayah Edi.


"Ayo Jani!"


Ayah Edi, meminta pada Anjani, setelah selesai mengurus Abimanyu. Dia meminta pada Anjani, untuk segera masuk ke dalam mobil.


"Yang lain boleh ikut dan bawa mobil lain. Atau kalau mau di rumah, tidak apa-apa." Ayah Edi, memberikan saran pada anggota keluarganya yang lain.


Tentu saja, semua anggota keluarganya tidak ada yang tinggal diam menunggu di rumah saja.


Mereka semua, ikut masuk ke dalam mobil milik Abimanyu, yang sementara ini di pakai untuk Juna dan Sekar jika ada keperluan.


"Anak-anak bagaimana?" tanya Yasmin, yang tampak bingung dengan keberadaan anak-anaknya.


"Bibi, Mbak!"


Sekar, memanggil bibi pembantu rumah dan baby sitter, untuk menjaga anak-anak agar di rumah saja.


"Nanda, Ara. Kalian berdua di rumah ya! Doakan saja, semoga ayah Abi, tidak kenapa-kenapa dan baik-baik saja," kata Sekar pada kedua keponakannya itu.


Ara dan Nanda, mengangguk mengiyakan perkataan tante mereka, Sekar.

__ADS_1


Mereka tidak bertanya apa-apa, karena sudah melihat bagaimana keadaan ayah Abi mereka. Mereka berdua tahu, jika ayah Abi, sedang membutuhkan pertolongan, sama seperti biasanya jika sedang sakit.


Saat bibi pembantu rumah dan baby sitter datang, mereka langsung ikut bersama dengan mereka masuk ke dalam rumah.


Mobil ayah Edi, sudah pergi terlebih dahulu, menuju ke rumah sakit, bersama dengan Anjani dan ibu Sofie yang menjaga Abimanyu.


Sedangkan mobil yang dikemudikan oleh suaminya Sekar, Juna, membawa istrinya, Sekar bersama dengan adik iparnya, Yasmin yang ikut bersama dengan calon suaminya juga. Aksan. Mereka semua, menyusul ayah Edi menuju ke rumah sakit juga.


"Mbak, mas Abi biasa seperti tadi ya?" tanya Yasmin, pada kakaknya, Sekar.


"Setahu Mbak gak deh Yas. Biasanya, mas Abi tidak teriak-teriak kayak tadi. Dia biasanya diam saja, karena sekarang sudah tahu, jika dia hilang ingatan. Jadi, dia lebih banyak diam untuk mengamati saja. Dia juga jarang bicara dengan Aku. Bahkan sama mbak Jani saja jarang-jarang. Tapi gak tahu juga sih, kalau pas Mbak gak ada di rumah," jawab Sekar, sambil mengingat-ingat kembali, apa yang biasanya terjadi pada kakaknya, Abimanyu jika ada di rumah.


"Tapi tadi kenapa terlihat marah ya, saat melihat Yasmin?" tanya Juna, tanpa menoleh. Dia masih berkonsentrasi pada kemudi, apalagi, sore sudah berganti dengan malam. Jalan tidak lagi sama seperti waktu hari masih terang.


"Iya ya. Tadi mas Abi kayak gimana gituan, pas lihat Kamu datang Yasmin," sahut Sekar dengan memicingkan mata, mengingat tingkah Abimanyu yang tidak biasanya.


"Apa saat melihat Kamu, mas Abi ingat sesuatu, yang begitu berkesan dihatinya. Jadi, alam bawah sadar mas Abi, mengingat Kamu dengan perasaan yang berbeda. Ini karena tadi mas Abi,l bilang, jika doa tidak mau melihat wajahmu Yasmin. Apa mas Abi masih marah ya dengan Kamu?" Sekar kembali berkata, dengan beberapa asumsi yang dia miliki.


Yasmin jadi merasa bersalah. Dia sudah berkaca-kaca menahan air matanya agar tidak mengalir. "Hiks, Aku memang jahat. Aku tidak bisa dimaafkan begitu saja oleh mas Abi. Hiks, Aku harus bagaimana ini?"


Akhirnya, Yasmin menangis juga. Dia merasa sangat sedih dalam penyesalan yang teramat sangat. Dia sadar bahwa, sedari dulu, dia selalu melakukan kesalahan demi kesalahan yang melibatkan istri kakaknya, Anjani.


Dia yang begitu jahat karena sudah melenyapkan calon anak dari kakaknya sendiri. Dia juga yang ikut bersama dengan mantan suaminya, Wawan, dalam kasus video yang tidak bermoral.


Yasmin menangis, mengingat semua tentang kejadian demi kejadian yang dia lakukan dulu.


"Sudah-sudah. Kita tidak tahu, apa yang sebenarnya terjadi pada mas Abi. Kita berdoa saja, semoga dengan melihat wajahmu, justru itu membuat mas Abi jadi ingat semuanya, tentang dirinya sendiri dan juga kita," kata Aksan, yang mencoba untuk menenangkan hati calon istrinya, Yasmin.


"Mas. Aku itu orang yang jahat. Aku tidak ada baik-baiknya, bahkan untuk keluarga ku sendiri. Karena Aku juga, mas Abi dan istrinya tadi, mbak Jani, kehilangan calon anaknya yang masih ada di dalam kandungan. Hiks hiks hiks..."


Aksan, memeluk Yasmin dari arah samping. Dia merasa jika Yasmin ada dalam keadaan yang tidak baik-baik saja pada kehidupan masa lalunya. Dia juga merasa, jika saat ini, Yasmin benar-benar sudah berubah dan tidak lagi memiliki sifat yang sama seperti dulu.


Apalagi, selama kenal di Taiwan sana, Yasmin itu orang yang baik. Dia juga ramah dan suka menolong orang lain. Yasmin juga tidak sombong, dengan menceritakan tentang kehidupan keluarganya, yang menurut Aksan, bukan dari kalangan biasa, sama seperti dirinya.

__ADS_1


Justru Aksan yang jadi tidak percaya diri saat ini, jika harus melanjutkan niatnya untuk menjadi pendamping hidup Yasmin.


Aksan merasa, jika dia bukan siapa-siapa dan bukan apa-apa dibanding dengan semua anggota keluarga Yasmin. Meskipun sebenarnya, Aksan juga merasa senang saat Ayah Edi dan semua anggota keluarganya tadi menyambut kedatangannya dengan baik dan hangat.


Sekarang, mereka semua sudah berada di area parkir rumah sakit. Mereka mencari-cari keberadaan mobil ayah Edi, yang sudah melaju dengan kecepatan tinggi, demi keselamatan Abimanyu yang sedang dalam keadaan tidak sadarkan diri.


"Itu mobil ayah!"


Sekar, menunjuk pada sebuah mobil yang sangat dia kenali.


"Iya benar. Itu mobil ayah. Mungkin saat ini sudah berada di IGD," kata Juna, dengan mengajak mereka semua untuk segera menyusul ayah dan ke ruangan IGD.


"Tidak tanya petugas dulu Mas?" tanya Yasmin, pada kakak iparnya, suaminya Sekar, Juna.


"Tidak usah. Nanti, kalau kita tidak menemukan ayah di ruang tunggu IGD, baru kita tanya ke petugas," jawab Juna, kemudian melangkah menuju ke arah ruangan IGD.


Akhirnya, mereka semua mengikuti langkah Juna, untuk ikut menunggu Abimanyu,. yang sedang di tangani di ruangan IGD.


"Nah, itu ayah!"


Juna mengatakan itu, sambil menunjuk ke arah ayah Edi, yang sedang duduk dengan gelisah, bersama dengan istrinya, ibu Sofie.


Sedang Anjani, terlihat berjalan-jalan dengan pelan, sambil komat-kamit. Mungkin, Anjani sedang berdoa, untuk keselamatan suaminya saat ini.


"Yah, Bu, mbak Jani!"


Yasmin berteriak memanggil ayah dan ibunya. Dia juga memangil kakak iparnya, Anjani.


Dia memeluk Anjani dan menangis sambil meminta maaf, atas semua perbuatannya selama ini.


"Maafkan Yasmin Mbak Jani."


Anjani, yang juga menyambut pelukan adik iparnya itu, hanya bisa mengangguk saja. Dia tidak bisa berkata apa-apa lagi, karena dadanya terasa sangat penuh. Dia tidak sanggup, meskipun hanya untuk bisa sekedar berkata, iya.

__ADS_1


__ADS_2