Dia Milikku ( Berbagi Cinta )

Dia Milikku ( Berbagi Cinta )
Tentang Hati


__ADS_3

"Ma. Adiknya Ara itu emang ngeselin anaknya. Jadi semua itu tidak..."


Mamanya Dika, mengangkat tangannya, memberikan tanda supaya Dika diam dan tidak melanjutkan kalimatnya lagi.


"Apa Kamu gak punya malu?" tanya mamanya Dika, pada anaknya yang dia nilai tidak peka dengan keadaan seperti tadi.


"Maksud Mama?"


"Kamu itu ya!" Mamanya Dika sangat kesal, dan tidak bisa lagi berkata-kata, untuk melampiaskan kekesalannya itu.


Sedangkan Dika, justru merasa bingung dengan jawaban yang diberikan oleh mamanya sendiri, yang terdengar sangat kesal dengan apa yang dia tanyakan.


'Mama kenapa sih?' tanya Dika, yang memang tidak tahu, bagaimana keadaan hati mamanya saat ini.


"Diam. Dan bicara nanti jika sudah sampai di rumah."


Akhirnya Dika menuruti perkataan mamanya. Dia tidak lagi bertanya-tanya, atau bicara soal Ara dan yang lainnya juga.


Apalagi, keadaan jalanan Jakarta yang sudah malam pun, tetap ramai dengan jam pulang lembur orang-orang kantoran, atau memang mereka baru saja pulang dari tempat kerja mereka yang cukup jauh.


Setelah menempuh perjalanan yang cukup melelahkan, apalagi dalam keadaan hati yang kesal juga, akhirnya Dika dan mamanya itu, sampai juga di rumah.


Saat mobil berhenti di garansi, ternyata sudah ada satu mobil lagi, yang masih grees, alias baru.


Meskipun di rumah ada mobil yang jarang digunakan oleh kedua orang, karena itu adalah mobil yang cukup besar untuk mereka bertiga, tapi untuk yang baru ini sangat istimewa menurut Dika sendiri. Karena mobil tersebut adalah mobil sport, yang sedang trend saat ini.


"Ma, itu mobil siapa?" tanya Dika tidak sabar.


"Makanya tidak usah mikirin cewek sok cantik itu. Nurut aja sama Mama dan papa."


Dika masih belum mengerti, apa yang dikatakan oleh mamanya itu. Dia segera turun, dan memeriksa mobil yang masih terbungkus plastik bening tersebut.


"Wowww... apa ini untuk Dika Ma?" tanya Dika, yang merasa penasaran dengan mobil tersebut.


"Coba tebak."


Tiba-tiba dari dalam rumah, papanya Dika muncul, dan menjawab pertanyaan dari anaknya itu, dengan sebuah pertanyaan juga.


"Jadi beneran Pa, ini untuk Dika?"


Dika masih merasa belum yakin, dengan apa yang ada di dalam pikirannya saat ini.


"Taraaa..."


Papanya Dika, mengeluarkan sebuah kunci mobil dari saku celana, kemudian diberikan pada telapak tangan anaknya itu.

__ADS_1


"Hah!"


Dika merasa surprise, dengan apa yang dia terima dari papanya sekarang. Dia malah melongo dan tampak melihat ke arah papanya seperti sedang bermimpi, tanpa bisa berbicara apa-apa.


"Makanya, gak usah ngejar-ngejar cewek itu lagi. Kalau Kamu udah kuliah nanti, terus kendaraan atau mobil Kamu juga bagus kayak gini, gak cuma motor sport itu, semua cewek-cewek juga pada antri Dika."


Papanya Dika mengangguk mengiyakan perkataan istrinya itu. Dia setuju dengan apa yang dikatakan, dengan alasan yang tepat menurut mereka berdua.


Dika tidak peduli dengan semua yang dia dengar saat ini. Yang penting, sekarang dia bisa pamer, bahkan sebelum dia lulus dan kuliah pun, dia sudah mendapatkan hadiah, sehingga bisa memiliki mobil sendiri.


Dan itu bukan mobil biasa juga, tapi mobil sport mewah, yang selama ini dia idam-idamkan.


Sebenarnya, mobil hadiah ini atas permintaan Dika sendiri, sebagai hadiah untuk kelulusannya nanti.


Tapi sepertinya, ke dua orang tuanya, sedang banyak uang, sehingga memberikan hadiah tersebut, sebelum waktunya tiba.


Tentu saja, ini membuat Dika merasa sangat senang sekali. Bahkan merasa tidak percaya dengan apa yang dia lihat.


Dia sudah bisa mengunakan mobil itu nantinya, saat acara kelulusan sekolah. Dan ini sangat dia nantikan, agar semua temannya tahu, jika dia tidak bisa mereka remehkan.


"Dik. Dika," panggil mamanya, sambil menggoyang-goyang tangannya, di depan wajah anaknya itu.


Ini karena Dika sedang asyik melamun sendiri.


"Eh, i_iya Ma."


"Kamu ini. Gak usah melamun. Ini bukan mimpi tau!" ujar mamanya Dika, dengan mencubit pipi anaknya itu.


"Ihhh, sakit Ma!" teriak Dika kesakitan, dengan cubitan yang ada pada pipinya.


"Tuh kan, gak mimpi," ujar mamanya, dengan tersenyum senang.


"Makanya, jangan melamun!" sahut papanya, yang merasa bangga, dengan apa yang dia berikan pada anaknya, Dika.


"Hehehe..."


Dika terkekeh, mendengar perkataan kedua orang tuanya.


"Udah-udah. Ayok masuk. Besok-besok, tinggal buat ijin mengemudi mobil saja buat Dika."


Papanya Dika, menengahi perdebatan antara anak dan istrinya itu, dengan mengelengkan kepalanya. Dia mengajak keduanya untuk masuk ke dalam rumah.


Biasanya, jika jam segini, mereka sudah bersiap-siap untuk makan malam.


*****

__ADS_1


Dia jalan, Awan sedang tersenyum-senyum bersama dengan pak Supir-nya.


Ini karena sedari tadi, Pak supir menggoda dirinya, dengan mengolok-olok tentang hubungan dengan Ara.


"Cocok lho Den, itu sama Neng Ara," kata pak Supir, dengan apa yang dia nilai.


"Cocok apanya Pak?" tanya Awan, pura-pura tidak tahu, apa yang dikatakan oleh pak Supir-nya itu.


"Ah, si Aden. Emang gak ada rasa suka gitu dengan Neng Ara? Bapak saja, jika masih seumuran dengan Aden, pasti jatuh cinta dengan Neng Ara."


Pak Supir mengatakan, yang tentu saja membuat Awan mengerutkan keningnya, memikirkan perkataan yang diucapkan oleh pak Supir.


"Cewek cantik biasanya banyak yang naksir lho Den. Itu tadi, Bapak lihat ada cowok juga yang pergi dari rumah Neng Ara sama mamanya ya, siapa Den?" tanya Pak supir, yang tadi memang sempat melihat keberadaan Dika dengan mamanya juga.


"Oh, itu temannya Awan Pak," jawab Awan, menjelaskan.


"Kok sama mamanya ada di rumah Neng Ara lebih dulu? apa mamanya itu juga temannya bunda neng Ara?" tanya pak Supir lagi, yang sepertinya dia merasa ada sesuatu yang terjadi di dalam rumahnya Ara tadi.


"Tidak tahu Pak," jawab Awan, yang membuat pak Supir tidak akan mungkin bertanya-tanya lagi.


Pak supir tentu saja tahu diri. Apalagi jawaban yang diberikan oleh Awan, sudah memberinya kode, jika tuan mudanya itu, sedang tidak mau ditanya-tanya tentang temannya itu.


Padahal, di dalam hatinya Awan sendiri sedang banyak pertanyaan yang dia miliki. Tapi, dia juga tidak tahu, kapan pertanyaan itu akan dia berikan pada seseorang.


'Apa Aku bisa pergi ke Amerika, tanpa bisa melihatnya lagi?'


'Tapi, dia juga masih terlalu kecil jika harus Aku ajak membuat sebuah ikatan.'


'Apa kata bunda Jani, jika Aku mengutarakan keinginanku ini?'


Awan tampak menghela nafas panjang, kemudian membuangnya perlahan-lahan. Dan ini, tidak luput dari perhatian Pak Supir.


"Den. Jika ada sesuatu yang ingin dibicarakan, lebih baik bicara Den. Jangan hanya dipendam sendiri, karena orang tidak akan tahu, apa yang Aden inginkan."


Awan menoleh sekilas ke arah pak Supir.


Dalam hati, Awan membenarkan perkataan dari supirnya itu. Tapi dia tidak bisa menemukan keberanian untuk bicara, pada orang tersebut.


Bahkan, pada omanya saja Awan tidak bisa bicara soal hatinya.


Awan terlalu berhati-hati, dalam melakukan semua hal. Apalagi menyangkut hal yang riskan seperti itu.


Mungkin, ada trauma juga, dengan apa yang terjadi pada ayahnya dulu. Saat ayahnya, Elang, bersama dengan bundanya, Adhisti Andriyani.


Awan tidak menyadari bahwa, garis takdir seorang anak belum tentu sama seperti kedua orang tuanya juga.

__ADS_1


Tapi ketakutan yang ada di dalam hatinya Awan, membuatnya harus bisa menahan diri, untuk tetap berhati-hati.


__ADS_2