
Wawan melajukan mobilnya menuju ke arah rumah sakit, dengan kecepatan tinggi. Dia mulai kalap dan tidak sabar. Karena melihat keadaan Mami yang sudah lemas tak berdaya.
Citttt....
Bruakkk!
Kecelakaan lalu lintas tak bisa dihindari. Begitu ada sebuah mobil di depan sana, dari arah berlawanan sebelah kanan, yang menyalip mobil lainnya. Tak bisa mengendalikan kemudi, pada saat mobil pick up juga dalam keadaan menyalip dari arah kiri.
Kedua mobil tersebut, sama-sama dalam keadaan menyalip mobil lain. Tapi karena kecepatan dan jarak yang tidak bisa digunakan untuk mengendalikan kemudi, akhirnya terjadilah kecelakaan. Yang tidak hanya sekedar dua buah mobil saja. Tapi beberapa mobil yang ada di sekitarnya juga.
Kecelakaan beruntun tersebut, mengakibatkan kemacetan lalu lintas. Karena ruas jalan yang dipenuhi oleh mobil-mobil yang penyok dan hancur.
Mobil polisi dan ambulance datang tak lama kemudian. Mobil-mobil tersebut tampak sibuk melakukan tugas masing-masing.
Pihak kepolisian mengatur segala sesuatunya, dan mengalihkan jalur perjalanan mobil yang lain, agar evakuasi korban bisa dilakukan dengan cepat.
Tak kurang dari enam mobil dan dua sepeda motor menjadi korban kecelakaan tersebut. Dan para korban, dipastikan jika mengalami luka-luka yang serius. Bahkan ada tiga orang yang meninggal di tempat. Akibat terjepit badan mobil yang penyok.
Kecelakaan lalu lintas ini pun dengan cepat menyebar ke berbagai berita. Baik layar kaca maupun media sosial.
Banyak asumsi yang beredar di kolom komentar, atas berita kecelakaan tersebut.
"Innalilahi... kasihan korban. Parah bet kecelakaan itu."
"Supir ngantuk mungkin."
"Apa tidak ada lampu lalin di tempat itu?"
"Mabok mungkin salah satu dari supir."
"Ada anak-anak tidak? Kasihan. Masa depan mereka masih panjang."
"Pengurangan jumlah penduduk secara masal."
"Turut prihatin dengan kejadian tersebut."
"Turut berduka untuk keluarga korban."
"Bomatlah. Mikir besok mau makan apa aja udah pusing."
"Orang kaya kali yang punya mobil. Jadi gitu deh..."
"Aturan kepemilikan SIM mengemudi harus diperketat."
"Polisi ke mana gak gercep gitu?"
"Eh, masih rame lho di tempat kejadian."
"Liat yok liat. Kita ikut ramein ini berita nantinya."
Banyak sekali, komentar yang baik maupun buruk atas kejadian tersebut. Dan inilah hebatnya manusia-manusia di jaman sekarang.
Tanpa mengetahui kebenaran tentang keadaan dan situasi yang terjadi di lokasi dan penyebab kecelakaan. Mereka, para netizen, seakan-akan tahu betul, bagaimana keadaan yang terjadi pada saat itu.
__ADS_1
Deg!
Nanda meringis ngeri, saat melihat dan membaca berita tentang kecelakaan tersebut, di sebuah media sosial yang kebetulan dia buka. Dia juga merasa deg-degan, melihat beberapa potongan video yang menampilkan tempat kejadian.
"Kasian sekali korban. Semoga saja semuanya bisa diselamatkan. Dan yang meninggal dunia, diampuni segala dosa-dosanya."
Nanda bergumam seorang diri, tanpa mau mengetik di kolom komentar.
Dia tidak mau memperkeruh situasi berita yang ada. Dengan banyak sok tahu nya. Tapi sebenarnya tidak tahu apa-apa. Meskipun hanya sekedar berkomentar saja.
Tak berapa lama setelah dia selesai bergumam, handphone miliknya berdering. Tapi dari nomer yang tidak dia kenali. Karena tidak ada nama dan profil, di layar handphone tersebut.
Awalnya Nanda ragu untuk menerima panggilan telpon yang masuk. Tapi entah kenapa, tiba-tiba perasaannya tidak enak.
..."Halo. Siapa ya?" ...
..."Benar ini dengan saudara Nanda?" ...
..."Y benar. Anda siapa?" ...
..."Maaf. Saya dari pihak kepolisian. Mau memberikan kabar tentang keadaan pak Wawan."...
..."Papa? Papa Saya kenapa?"...
Nanda tidak sabar menunggu keterangan yang diberikan oleh pihak kepolisian, tentang papanya, Wawan.
Dia sudah berpikir bahwa telah terjadi sesuatu pada papanya saat ini. Meskipun dia tidak mau berasumsi kalau itu adalah kejahatan. Karena dia berpikir jika, papanya sudah berubah dan tidak lagi sama seperti dulu.
..."Papa Anda menjadi salah satu korban kecelakaan beruntun, yang terjadi di jalan xxx."...
..."Ada di rumah sakit P. "...
..."Baik Pak. Terima kasih atas pemberitahuannya. Saya akan segera datang ke rumah sakit sekarang juga."...
Klik!
Nanda memejamkan mata sebentar, kemudian menghela nafas panjang. Saat menyadari bahwa, papanya itu menjadi salah satu korban kecelakaan yang baru saja dia lihat.
"Ya Allah... Selamatkan papa Wawan."
*****
Kesibukan di sebuah rumah sakit semakin banyak, pada saat beberapa ambulance datang dengan membawa para korban kecelakaan.
Ninu...
Ninu...
Ninu...
Bunyi sirine ambulance, tampak seperti sebuah bunyi-bunyian yang menyayat hati siapa saja yang mendengarnya.
"Apa ada kecelakaan ya? Kok mobil ambulance datang beriringan begitu," tanya Ara pada Awan.
__ADS_1
Saat ini, mereka berdua sedang menunggui Abimanyu, yang sedang melakukan pemeriksaan tulang punggungnya yang sakit.
Ada Anjani dan Anggi juga, yang ikut menunggu. Bersama dengan Ara dan Awan.
"Mungkin iya."
Awan hanya menjawab pendek. Karena dia juga tidak tahu, apa yang sebenarnya terjadi, sehingga banyak sekali mobil ambulance yang datang beriringan begitu.
"Kak Ara, Kak. Lihat ini!"
Anggi mendekati tempat duduk Ara, sambil memperlihatkan keadaan di jalan xxx. Yang baru saja terjadi kecelakaan beruntun.
"Ya Allah... Kasian sekali itu. Ada yang kejepit begitu. Ihhh... semoga masih bisa diselamatkan."
Ara meringis ngilu, saat melihat beberapa foto yang beredar di media sosial. Yang saat ini dibuka oleh adiknya, Anggi.
"Dek. Jangan diliatin sama Kakak.. Nanti dia mual liat darah atau keadaan korban yang tidak baik-baik saja." Tutur Anjani, menasehati Anggi.
"Gak apa-apa Bun. Ini baik untuk terapi Kakak. Biar dia tidak takut dengan darah pada saat melahirkan nanti. Hehehe..."
Anggi justru cengengesan, mendengar nasehat dari bundanya.
"Ck. Adek ini. Kakak gak takut ya. Emang Kamu!"
Awan hanya tersenyum tipis, mendengar dan melihat bagaimana istri dan adiknya itu saling berdebat dengan sahut-sahutan.
Ting!
Handphone milik Ara berdenting. Ada notifikasi pesan yang masuk. Dan pada saat dia melihat pesan tersebut, dia terbelalak kaget.
Karena pesan itu dari kakak sepupunya, Nanda, yang memberikan kabar tentang kejadian yang terjadi pada papanya, Wawan.
"Bunda. Om Wawan menjadi salah satu korban kecelakaan yang tadi di liat Adek."
Anjani kaget. Begitu juga dengan Awan dan Anggi. Di saat mendengar perkataan yang diucapkan oleh Ara.
"Yang bener Kak?" tanya Anggi cepat.
"Iya. Ini lho kak Nanda barusan kirim pesan. Dia sedang bersiap-siap menuju ke rumah sakit..."
"Rumah sakit ini!"
Awan segera bangkit dari tempat duduknya, kemudian berkata, "Kamu di sini sama bunda dan Anggi. Kakak akan coba lihat ke IGD. Siapa tahu om Wawan sudah ada di dalam sana."
Ara menganggukkan kepalanya, mengiyakan perkataan suaminya. Begitu juga dengan Anjani dan Anggi.
Mereka tidak mau membuat suasana IGD semakin penuh, dengan adanya banyak orang yang datang untuk melihat keadaan anggota keluarga yang menjadi korban kecelakaan tersebut.
"Balas pesan Nanda. Bilang jika kita ada di rumah sakit ini. Jadi, dia tidak usah terburu-buru. Karena beresiko juga jika dia sedang dalam keadaan seperti ini di jalan."
"Iya Kak."
Ara pun mengangguk mengiyakan permintaan Awan. Kemudian dia segera menghubungi sepupunya, Nanda, sesuai pesan tersebut.
__ADS_1
Awan pun berjalan dengan cepat, menuju ke arah IGD. Untuk mengurus segala sesuatu, yang berhubungan dengan korban kecelakaan yang bernama Wawan.
"Semoga om Wawan masih bisa selamat." Awan bergumam dengan harapan dan doanya. Untuk keselamatan papanya Nanda.