Dia Milikku ( Berbagi Cinta )

Dia Milikku ( Berbagi Cinta )
Peduli


__ADS_3

Abimanyu segera membuka pintu kamar, karena ibunya datang dengan mengetuk pintu sambil memanggil namanya. Ibu Sofie,g juga berkata dengan suara cemas, saat meminta pada anaknya, Abimanyu, supaya pergi mengantar dirinya ke rumah sakit.


Tok, tok, tok!


"Abi. Bi, Abi! ayok antar Ibu ke rumah sakit sekarang!"


Tentu saja, teriakan ibunya, membuat Abi panik dan juga khawatir. Dia pikir, terjadi sesuatu pada ibunya, atau ayahnya, sehingga harus dibawa ke rumah sakit sekarang juga, padahal malam sudah semakin larut.


Abi, yang sedang bersiap-siap untuk tidur, akhirnya menuruti permintaan ibunya. Dia kembali mengenakan celana panjang dan juga mengambil jaket yang tergantung di lemari. Dia juga mengambil kunci mobil yang ada di atas meja, tak lupa handphone miliknya juga.


"Ayo Bu. Siapa yang mau di antar ke rumah sakit, kenapa?" tanya Abi, sambil berjalan beriringan dengan ibunya.


Ibu Sofie, tidak langsung menjawab pertanyaan dari Abimanyu. Dia justru membelok ke arah kamarnya, dan mengambil tas serta memangil ayah Edi, yang katanya mau ikut juga ke rumah sakit.


Dengan mengikuti langkah ibunya, Abimanyu juga ikut masuk ke dalam kamar. Tapi, saat melihat ayahnya dalam keadaan baik-baik saja, Abimanyu jadi bingung, dengan permintaan ibunya tadi. Dia pikir, ayah Edi yang sakit, ternyata dia melihat jika ayahnya tidak kenapa-napa. "Lho, ayah baik-baik saja, lalu siapa yang mau di antar ke rumah sakit?" tanya Abimanyu dengan bingung.


"Bukan Ayah Abi, tapi teman Ibu Kamu tadi, si Risma atau Risna tadi lho," jawab ayah Edi menjelaskan pada Abimanyu.


"Iya, Risma kecelakaan saat pulang dari sini. Dan orang yang menolong tadi, hanya bisa menghubungi Ibu. Jadi, kita harus ke sana sekarang juga."


Ibu Sofie sudah siap. Dia segera mengajak suami dan anaknya, agar ikut mengantar dirinya ke rumah sakit secepatnya. "Ayok buruan. Kasihan Risma tidak ada sanak saudara di Jakarta ini Yah. Abi, Ayuk!" ajak ibu Sofie, dengan menarik tangan Abimanyu agar mengikuti langkahnya.


"Iya-iya Bu. Tidak usah di tarik-tarik lah. Oh ya, sudah bilang sama Sekar dan Yasmin belum, kalau kita pergi ke rumah sakit. Takutnya mereka mencari-cari keberadaan kita nanti."

__ADS_1


Abimanyu, mengingatkan pada ibunya, supaya pamit juga pada adik-adiknya. Dia pikir itu perlu, karena bisa jadi, salah satu dari adiknya, akan mencari mereka karena tidak ada di rumah.


Akhirnya, ibu Sofie naik lagi ke lantai atas, untuk berpamitan dengan anak-anak gadisnya, supaya tidak mencari keberadaannya nanti.


Tak lama, ibu Sofie sudah kembali turun dan berjalan menuju ke tempat suami dan anaknya menunggu. "Ayo!" ajak ibu Sofie pada keduanya.


Abimanyu, menyiapkan mobil yang akan dia bawa untuk mengantarkan ibunya ke rumah sakit. Mereka berdua, ibu Sofie dan ayah Edi, masuk saat Abimanyu sudah siap dan menyalakan mesin mobil tersebut. Mobil segera melaju ke arah jalan, yang akan menuju ke rumah sakit atau klinik yang tadi disebutkan oleh orang yang memberikan kabar kecelakaan Risma.


Beberapa menit kemudian, mobil Abimanyu, sudah berada di depan klinik yang di maksud. Dia menemani ibu dan ayahnya, masuk ke klinik juga. Abimanyu ingin tahu, keadaan Risma, teman ibunya yang baru saja dia kenal dan juga pulang dari rumahnya tadi.


Ternyata, Risma masih ada di ruang perawatan pertama. Klinik ini tidak terlalu besar, tapi buka selama dua puluh empat jam. Jadi, tetap ada dokter dan juga perawat jaga yang bertugas. Mereka terbiasa menanggani kecelakaan yang sering terjadi di jalanan sekitar dan dekat dengan klinik ini.


"Risma. Bagaimana keadaannya Suster?" tanya ibu Sofie, saat seorang suster merapikan alat-alat medis yang tadi digunakan untuk menangani lukanya Risma.


Penjelasan yang diberikan oleh suster tadi, membuat ibu Sofie menjadi lebih tenang dan tidak panik seperti tadi. Sekarang, dia bertanya tentang orang-orang yang tadi mengantarkan Risma. Tapi menurut suster itu, barang-barang milik korban aman-aman saja, karena mereka menitipkannya di klinik ini juga.


"Kalau mobil, sudah di derek dan di bawa ke bengkel. Ini ada surat pengantar, untuk keterangan jika ingin mengurus mobilnya nanti." Suster, menjelaskan tentang semua hal yang berkaitan dengan korban. "Jadi ini murni kecelakaan tunggal," kata suster lagi, melanjutkan kata-katanya untuk menerangkan pada ibu Sofie dan juga kedua laki-laki yang datang bersamanya, yaitu ayah Edi bersama dengan anaknya, Abimanyu.


"Terima kasih Sus." Ibu Sofie tersenyum dengan mengangguk. Dia ingin agar suami atau anaknya ikut membantu temannya, Risma, mengurus semuanya juga.


"Abimanyu. Tolong besok Kamu ikut bantu urus mobilnya di bengkel ya? Ini yang Risma biar Ibu yang urus. Ayah tidak mungkin bisa, karena dia merasa sedikit pusing tadi," pinta ibu Sofie pada anaknya, Abimanyu.


Abimanyu, hanya mengangguk saja. Dia merasa kasihan juga pada teman ibunya itu. Padahal, Risma belum lama ada di Jakarta ini. Dia juga tidak ada saudara, yang bisa dimintai pertolongan, karena dia hidup sendiri di rumah dinasnya. Risma belum bisa membeli rumah untuk dirinya sendiri.

__ADS_1


"Terima kasih ya Abi. Ibu sangat senang, karena saat seperti ini kamu sedang ada di Jakarta. Ibu jadi tenang, jika ada sesuatu yang terjadi seperti saat ini. Itulah kenapa, ibu minta kamu untuk tinggal di Jakarta saja.


Abimanyu, hanya diam dan tidak mengatakan apa-apa. Dia hanya tersenyum tipis dan tampak samar karena tidak jelas terlihat. Dia jadi teringat dengan Anjani, istrinya yang sekarang ada di Bogor sendirian juga.


"Abi keluar sebentar Bu, Yah," pamit Abimanyu pada ayah dan ibunya, karena dia ingin menghubungi istrinya yang berada di Bogor, sendirian.


Ayah Edi hanya mengangguk setuju, begitu juga dengan ibu Sofie, meskipun tidak ada senyuman yang menghiasi bibirnya.


Abimanyu, segera keluar dari dalam klinik tersebut. Dia mengambil handphone yang ada di dalam mobil, karena dia lupa membawanya saat keluar tadi.


"Semoga Anjani belum tidur. Jika sudah tidur pun, dia masih bisa mendengar dering handphonenya," kata Abimanyu, karena biasanya, handphone milik istrinya, Anjani, selalu silent dan tidak bernada.


Akhirnya, Abimanyu melakukan panggilan telepon untuk Anjani, istrinya yang sedang dia tinggal betugas ke Jakarta.


"Angkat Sayang. Aku kangen ini," guman Abimanyu sendiri, karena panggilannya tidak dijawab juga oleh Anjani.


Abimanyu, mencoba untuk melakukan panggilan telepon sekali lagi. Dia penasaran, apakah benar, Anjani sudah tidur, atau karena Anjani memang tidak mendengar dering handphonenya saat ini.


Beberapa menit kemudian, Abimanyu sudah tidak lagi mencoba untuk menelpon istrinya. Dia cuma mengetik pesan, agar Anjani, istrinya itu, tetap menjaga kesehatan dan juga segera menghubungi dirinya, saat bangun tidur nanti.


"Abimanyu. Sini, bantu ibu memapah Risma. Dia akan tinggal di rumah kita untuk sementara waktu, supaya ada yang menjaga dan merawatnya juga."


Ada rasa kaget dan juga heran di hati Abimanyu, saat mendengar perkataan ibunya, barusan. Padahal selama ini, Abimanyu mengenal ibunya, sebagai orang yang tidak terlalu peduli terhadap orang lain, apalagi pada orang yang baru dia kenal juga. Ini adalah kemajuan yang baik untuk kepedulian sosial ibu Sofie, yang selama ini dinilai Abimanyu kurang.

__ADS_1


__ADS_2