
Hari telah berganti. Semua orang sudah kembali pada aktivitas masing-masing, sama seperti biasanya.
Abimanyu juga sudah mulai sibuk melatih para karyawan baru, yang direkrut untuk pabrik baru, yang akan dikelola oleh Elang. Sama seperti pabrik garmen miliknya, yang dulu pernah dia serahkan pada mama Amel, saat dia pergi ke Batam.
Karena pabriknya yang dulu tidak terurus, oleh mama Amel semua di lelang dan akhirnya terjual. Begitu juga dengan restoran yang ada di dekat pabrik tersebut.
Mama Amel, tidak mungkin mengurus semua sendiri. Karena Elang tidak bisa kembali ke Jakarta, pada waktu itu.
"Yah. Minggu besok Ayah tidak ada rencana kan?"
Tiba-tiba, Ara bertanya kepada ayahnya, pada saat mereka sedang sarapan pagi.
"Belum ada Kak. Kenapa?" jawab Abimanyu, sambil melempar pertanyaan juga pada anaknya itu.
"Gak apa-apa. Kalau gak ada acara keluarga, Ara mau di ajak Kaka Nanda, untuk pergi melihat-lihat sekolah, yang dia mau masuk nanti." Ara menjawab pertanyaan dari ayahnya, sambil tersenyum malu-malu.
"Lho, bukannya dia sudah milih sekolah, yang katanya dekat sekolah Kamu ya?" Abimanyu, bertanya untuk memastikan kebenaran yang dia dengar kemarin.
"Tapi Kak Nanda kan tidak tahu lokasinya Yah," jawab Ara, memberikan alasan.
"Oh gitu. Kenapa tidak sama papa Aksan? kan mumpung dia belum pergi ke kampungnya," ujar Abimanyu, dengan kening berkerut.
"Gak tahu Yah. Mungkin saja om Aksan sibuk dengan tante Yasmin. Kan mereka juga baru sampai, jadi pasti pergi periksa-periksa kesehatan tante dan bayinya juga."
Abimanyu mengangguk paham, dengan perkataan anaknya itu. Dia juga tahu, jika Nanda hanya beralasan saja, mengajak Ara, untuk pergi jalan-jalan.
"Oh ya Yah. Kata bunda, harusnya Ara yang dipanggil dengan sebutan Kak, sama kak Nanda ya Yah?" tanya Ara, mengenai panggilannya yang salah.
"Ita Kak, harusnya sih memang begitu."
Tiba-tiba, Anjani datang bersama dengan Anggi, yang tadi baru saja selesai mandi, dengan dibantu oleh bundanya.
"Kok bisa kebalik Bun, Yah?" tanya Ara ingin tahu.
Akhirnya, Abimanyu menjelaskan pada Ara, kenapa dia sampai terbalik dengan sebutan Kak untuk Nanda, dan bukannya Nanda yang seharusnya memanggil Ara dengan sebutan Kak.
Waktu mereka berdua masih kecil dulu, mereka terbiasa bermain dan pergi kemana-mana berdua. Anjani dan Abimanyu, juga terbiasa membawa mereka jika ada acara tertentu.
Karena itu juga, orang-orang jadi bertanya, dan untuk memudahkan mereka memangil satu sama lain, dan tidak ada pertanyaan dari orang-orang, dan karena yang lebih besar adalah Nanda, maka Ara lebih suka memangil Nanda dengan sebutan Kak.
Sebenarnya, Anjani dan juga Abimanyu, sudah sering mengingatkan mereka berdua, tapi sepertinya mereka berdua juga lebih nyaman dengan panggilan tersebut.
Dan pada akhirnya, Anjani dan juga Abimanyu, tidak mempermasalahkan soal sebutan Kak, untuk Nanda dan bukannya untuk Ara.
"Oh, gitu ya Yah. Hehehe... kok Ara lupa sih!" ujar Ara,. setelah ayahnya selesai menjelaskan kepadanya, tentang sebutan yang terbalik, antara dirinya dengan Nanda.
"Anggi kok gak kebalik nyebut Miko. Cuma Miko aja tuh. Sama juga kayak Miko, manggil Anggi juga cuma Anggi, gak pakai kakak. Kalau sama kak Ara, baru Miko nyebut kakak. Itu gak ada yang kebalik kan Yah?"
__ADS_1
Anggi ikut-ikutan bertanya, tentang tidak adanya embel-embel, untuk sebutan Kak atau adek pada Miko, dengan dirinya sendiri.
Tentu saja, semuanya jadi tertawa, saat mendengar pertanyaan dari Anggi.
Anggi menatap bergantian pada ayah, bunda dan juga kakaknya Ara. Dia merasa bingung, karena tidak ada yang menjawab pertanyaan darinya tadi.
"Yah, Bunda..." rengek Anggi, sambil memajukan bibirnya sebagai tanda protes.
"Idihhh, ngambek nih yeee..."
Ara justru meledek adiknya, yang sekarang ini semakin cemberut karena ledakan dari kakaknya sendiri, yaitu Ara.
Tin tin!
Dari arah luar rumah, suara motor tukang ojek langganan Ara, sudah datang.
"Yah, Bun. Ara berangkat dulu ya!" pamit Ara, pada ayah dan bundanya. Ara juga menyalami dan mencium tangan keduanya.
"Anggi kok gak Kak," kata Anggi, sambil menyodorkan tangannya, agar disalami juga oleh kakaknya itu.
"Ihhh, Anggi. Nih!"
Ara justru memberikan tangannya, supaya di cium Anggi.
"Kok?"
"Yang muda itu, yang mencium tangan yah tua Anggi," tegur bundanya, Anjani, pada Anggi.
"Oh gitu ya Bunda. Hehehe... gak usah deh kalau gitu!" ucap Anggi, menepis tangan Ara, yang masih ada di depannya.
"Ihsss, Adek!" teriak Ara kesal, karena ulah Anggi.
"Sudah Kak, sudah. Ayo, sudah di tunggu tuh sama Pak ojek," kata Anjani, memperingatkan agar Ara menyudahi pertengkaran mereka berdua, karena Pak ojek, sudah menunggunya di luar.
"Hehehe... iya Bun, iya!"
Akhirnya, Ara berjalan pergi ke luar rumah, dan berangkat ke sekolah bersama dengan Pak ojek, yang sudah menjadi langganannya.
"Ayah juga mau berangkat Bun."
Abimanyu bangkit dari tempat duduknya, kemudian berpamitan kepada istrinya, Anjani, untuk berangkat ke kantor. Dia mencium pipi anaknya, Anggi, dan mencium kening istrinya.
"Ayah berangkat Sayang. Sekolah yang pinter ya, jangan nakal," kata Abimanyu, menasehati Anggi.
Anggi mengangguk tanpa bisa menjawab. Mulutnya penuh dengan makanan dan dalam keadaan menguyah.
"Hati-hati Yah," ucap Anjani, setelah mencium tangan suaminya.
__ADS_1
Setelah Abimanyu pergi ke kantor, Anggi dan bundanya, Anjani, juga bersiap-siap untuk berangkat ke sekolah. Mereka berdua, menunggu kedatangan Miko, yang biasa datang sebentar lagi..
"Bunda. Anggi mau sekolah di tempatnya Kakak. Gak mau uang ada di dekat sekolahnya Anggi sekarang."
Tiba-tiba, Anggi mengatakan keinginannya, untuk sekolah di yayasan yang sama seperti sekolah Ara. Dia tidak mau sekolah di Sekolah Dasar, yang ada di sebelah sekolahnya saat ini. Yaitu Taman Kanak-Kanak.
"Emang ada Sayang?" tanya Anjani, yang merasa jika anaknya ini sedang merajuk.
"Adalah. Kan sekolah kakak besar Bun," sahut Anggi, dengan wajah meyakinkan.
"Kenapa mau sekolah di sana?" tanya Anjani lagi.
"Karena Miko akan sekolah di sekolah Dasar itu Bun. Anggi mau uang jauh, biar bisa kayak kakak. Naik motor waktu berangkat dan pulang sekolah."
Anjani tersenyum, mendengar jawaban dari anaknya itu. Tadi dia berpikir jika, Anggi sudah bosan dengan Miko yang usil, ternyata hanya karena ingin naik motor saja.
*****
"Diyah. Diyah!"
Suara orang memangil nama Diyah, terdengar oleh telinga Ara. Tapi karena dia merasa jika orang itu sedang memangil nama orang lain, Ara terus saja berjalan, dan tidak menghiraukan panggilan tersebut.
"Diyah!"
Orang tadi menepuk pundak Ara, dari arah belakang, sambil memangil nama Diyah lagi.
Awalnya, Ara pikir orang tersebut salah orang. Tapi pada saat dia menoleh, ternyata itu adalah kakak kelasnya, yang biasanya ada dua orang.
"Eh Kakak," sapa Ara, sambil tersenyum canggung.
"Dipanggil diam aja," ujar kakak kelasnya itu.
"Masak?" tanya Ara, yang tadi juga sempat mendengar panggilan kakak kelasnya itu, tapi dengan panggilan Diyah.
Tapi karena sebutan nama itu tidak biasa di telinga Ara, dia jadi tidak mempedulikannya tadi. Dan ternyata, nama Diyah yang dipanggil memang untuk dirinya sendiri.
"Iya lah. Memang Kakak panggil siapa lagi?"
Ara hanya tersenyum tipis, mendengar jawaban yang diberikan oleh kakak kelasnya itu.
Sekarang, mereka berdua berjalan kaki, bersama-sama menuju ke kelas tujuh, yang ada di bangunan sekolah tingkat SMP.
Temannya Awan, mengantar Ara, sampai di dalam kelas. Dia juga mengajak Ara untuk mengobrol sebentar, sebelum bel berbunyi.
Tapi tak lama kemudian, temannya Awan itu, pergi ke kelasnya sendiri, saat bel sekolah tinggal lima menit lagi. Apalagi, dia juga melihat bayangan Awan, yang berjalan menuju ke kelas mereka.
"Wan. Awan!" seru teman Awan, memanggil-manggil nama Awan, supaya Awan menuggu dirinya, dan berjalan bersama-sama menuju ke kelas.
__ADS_1