Dia Milikku ( Berbagi Cinta )

Dia Milikku ( Berbagi Cinta )
Tamu Tengah Malam


__ADS_3

Hari yang dinanti-nanti telah tiba. Besok siang, acara akad nikah dilaksanakan sekitar pukul dua siang. Kemudian dilanjutkan dengan acara resepsi pada malam harinya, di gedung yang sama seperti waktu akad nikah dilaksanakan.


Sedangkan untuk malam ini, Ara sedang melakukan ritual adat jawa, yaitu Midodareni. Di rumahnya sendiri.


Midodareni biasanya memang dilakukan pada malam hari sesudah prosesi siraman. Yaitu tahap pembersihan bagi kedua calon pengantin sebelum hari sakral pernikahan. Yaitu ijab kabul.


Pada malam Midodareni, calon pengantin laki-laki datang bersama keluarga. Dengan membawa seserahan untuk keluarga perempuan, guna mempererat tali silaturahmi.


Sedangkan siraman sendiri adalah memohon berkah dan rahmat Tuhan, agar kedua mempelai dibersihkan dari segala keburukan. Dengan siraman, kedua calon pengantin juga diharapkan mendapat tuntunan selama mengarungi bahtera rumah tangga.


Dan semua ritual adat jawa ini, sudah dilakukan oleh Ara.


Rombangan keluarga Awan sudah datang. Rumah Abimanyu yang tidak begitu besar, jadi ramai dan penuh dengan adanya para tamu.


Meskipun sebenarnya tamu-tamu tersebut adalah pihak keluarga Awan dan juga Ara sendiri. Karena belum ada tamu dari luar. Karena acara adat ini memang tidak ingin dibuat besar.


Mengingat jika besoknya, mereka juga sudah harus siap berada di gedung. Untuk acara-acara inti dari semua rangkaian acara. Yaitu akad nikah dan juga resepsi pernikahannya.


Semua tampak khikmat dalam mengikuti acara demi acara yang berlangsung. Sederhana tapi tetap meriah.


Dan acara malam ini, berlangsung hingga jam setengah sebelas malam.


Sekarang, sudah jam sebelas malam. Keluarga Awan sudah kembali pulang ke rumah mereka sendiri.


Begitu juga dengan ayah Edi dan ibu Sofie. Mereka berdua, sudah pulang bersama dengan Yasmin, yang juga hadir bersama suami dan anaknya.


Yasmin dan Aksan, datang dua hari yang lalu, dengan mengunakan mobil sendiri seperti biasanya.


Keluarga Sekar juga sudah kembali pulang. Tapi, tadi Miko tidak mau diajak untuk pulang ke rumah. Dia ingin tidur di rumah Abimanyu, bersama dengan Nanda. Yang ternyata juga tidak ikut pulang bersama dengan eyang dan mamanya.


Nanda ingin berada di dekat Ara, sebelum Ara besok sudah resmi menjadi istri dari Awan Samudra.


Jadi, Miko juga beralasan yang sama seperti yang dikatakan oleh Nanda.


Dia juga ingin menemani kakak sepupunya, Ara. Yang akan segera melepas mada lajangnya besok.


Mereka berempat, Ara, Anggi, Nanda dan juga Miko, masih mengobrol di ruang tamu.


"Kak, cepat tidur ya! Besok harus siap-siap sedari pagi. Kakak kan perlu di make up," kata Anjani menasehati anaknya, Ara.


"Iya Bun," jawab Ara sambil mengangguk mengiyakan.


Setelah Anjani menyusul Abimanyu ke dalam kamar, Miko meledek kakak sepupunya.


"Ciehhh... yang mau di sah kan besok. Bisa tidur gak ya malam ini? Hahaha..." Miko tertawa-tawa senang, karena bisa mem-bully kakaknya Anggi.


"Sttt... Miko, pelanin suaranya!"


Anggi memperingatkan pada Miko, supaya tidak berkata secara keras. Apalagi sambil tertawa terbahak-bahak.

__ADS_1


Selain karena takut jika ketahuan ayah dan bundanya, hari juga sudah malam. Bisa-bisa mereka akan didatangi pihak keamanan kompleks, yang kadang kala berkeliling. Untuk memastikan jika, kompleks perumahan mereka ini tetap dalam keadaan aman.


"Iya nih Miko. Diem ihsss!"


Sekarang, Ara yang merasa tidak nyaman karena suaranya Miko. Apalagi, tadi itu si Miko juga bermaksud untuk mem-bully dirinya.


Sedangkan Nanda sendiri, sedari tadi hanya diam saja. Meskipun kandang-kandang juga menimpali perkataan dari salah satu yang sedang berbicara.


Nanda juga sesekali memeriksa handphone miliknya, dan mengetik ke layar handphone tersebut.


Mungkin dia sedang berbalas pesan dengan Mita. Kekasihnya, yang tidak mungkin bisa ikut hadir di acara malam ini.


"Kak, gimana sekarang si Mita?"


Ara bertanya kepada Nanda tentang Mita. Karena dua hari yang lalu, Mita sempat drop lagi dan dirawat di rumah sakit. Meskipun cuma sehari saja.


"Kak," panggil Ara lagi, karena Nanda tidak menjawab pertanyaan yang dia ajukan.


Pluk!


Miko menepuk pundaknya Nanda. Karena dia merasa yakin jika Nanda sedang dalam keadaan melamun.


"Eh, ap_apa Miko?"


Dengan gagap, Nanda bertanya kepada Miko. Karena dia merasa sangat terkejut. Saat Miko menepuk pundaknya.


"Gak. Gak apa-apa," sahut Miko pura-pura tidak tahu.


"Abisnya, Kakak ngelamun sih!" Miko menjawab pertanyaan dari Nanda, dengan bibir mengerucut.


"Ah gak kok. Kakak gak ngelamun."


Nanda mengelak dan tidak mau mengakui, jika tadi dia memang sedang melamun.


"Tanya aja sama kak Ara!"


Karena mendengar Miko, Nanda beralih atensi kepada Ara. "Ada apa Ra?" tanya Nanda, karena melihat Ara yang hanya tersenyum tipis melihatnya.


"Gak apa-apa Kak. Apa kakak ada yang dipikirkan?"


Ara justru balik bertanya pada Nanda. Dia ingin tahu, apa yang sedang dipikirkan oleh kakak sepupunya itu.


Kakak sepupu, yang sudah dia anggap sebagai seorang kakak kandung. Karena Nanda juga sudah menjaga dirinya selama ini.


"Hemmm..."


Nanda tidak langsung menjawab pertanyaan dari Ara. Dua justru membuang nafas panjang, kemudian memejamkan matanya. Mengusir perasaan yang memang tidak seharusnya.


"Kakak hanya berat saja Ra. Karena setelah besok, setelah akad nikah. Dan Kamu sudah resmi menjadi istrinya Awan, Kakak tidak akan bisa lagi lebih dekat dengan Kamu."

__ADS_1


"Kamu juga sudah tidak butuh Kakak lagi. Karena sudah ada Awan yang akan menjagamu."


Nanda berkata demikian, seakan-akan akan pergi jauh dan tidak bisa bertemu dengan Ara lagi.


"Setelah ini, jadilah istri yang baik dan juga segera buatkan aku keponakan ya!" kata Nanda lagi, dengan maksud bercanda.


"Ihhh... Kakak," ucap Ara, yang segera memeluk kakak sepupunya itu dengan mata berkaca-kaca.


Nanda menyambut pelukan Ara dengan bingung. Dia tidak tahu, apa yang terjadi di dalam hatinya saat ini.


Tapi Miko jadi ikut merasakan rasa haru. Dia melihat keduanya, Ara dan Nanda, yang begitu dekat dan saling melindungi.


Sedangkan Anggi, yang sedari tadi berbalas pesan dengan Ahmed, hanya bisa memandang kakak-kakak itu dengan perasaan yang campur aduk.


Bruakkk!


Tiba-tiba, pintu didobrak dari luar.


"Angkat tangan!"


Ada lima orang dewasa yang bertopeng, yang masuk rumah dengan cara paksa. Mereka juga menyuruh Ara dan yang lainnya untuk angkat tangan.


Di tangan mereka, ada senjata api yang siap untuk ditarik pelatuknya.


"Hah!"


"Eh, apa ini?"


"Siapa kalian?"


"Apa mau Kalian?"


Ara, Nanda, Anggi dan Miko, sama-sama bertanya pada orang-orang yang datang tanpa diundang.


Apalagi, hari juga sudah malam.


Bukan malam lagi, tadi sudah menjelang dini hari. Karena sekarang ini, jarum jam sudah berada di dekat angka satu.


"Tidak perlu banyak bicara! Cepat angkat tangan dan berbalik!"


Salah satu dari mereka, yang berpostur tubuh tinggi besar, memberikan instruksi kepada Ara CS.


Mereka semua menuruti perkataan orang tersebut. Meskipun sebenarnya Ara dan juga Nanda bisa melawan, tapi di tangan mereka ada senjata api.


Tidak bisa dengan gegabah, jika akan melakukan perlawanan.


Harus berhati-hati dan waspada. Karena sekali tarik, timah panas bisa saja melesat ke tubuh mereka semua.


Dengan sangat terpaksa, akhirnya Ara dan Nanda mengikuti kemauan yang diperintahkan oleh mereka.

__ADS_1


Sedangkan Anggi dan Miko, sudah hampir menangis karena merasa ketakutan.


__ADS_2