
Keluarga ayah Edi, tidak ada yang tidur semalaman. Mereka semua, merasa cemas dan khawatir dengan keadaan Yasmin dan anaknya, Nanda, yang tidak pulang dan juga tidak ada kabar sama sekali.
Anjani, yang ikut datang bersama dengan suaminya, Abimanyu, juga tidak bisa tidur. Apalagi, Ara juga menangis terus menerus dan tidak mau tidur.
Anjani lupa, jika anaknya itu, Ara, tidak bisa tidur, jika tidak ada di rumah sendiri.
"Ara, sayang. Tidur ya, Kamu pasti capek kan," kata Anjani, sambil menepuk-nepuk pelan pantat anaknya, supaya cepat bisa tidur dengan nyaman.
Tapi, puk-puk yang menina bobokan Ara, tidak berpengaruh pada Ara sendiri. Ara tetap menangis dan tidak mau tidur juga.
"Ara kenapa Jani?" tanya ibu Sofie, yang merasa kasihan melihat Anjani yang sedari tadi mengendong cucunya itu.
"Tidak tahu Bu. Maaf ya, suara tangisan Ara jadi bikin tambah bingung," ucap Anjani, sambil tersenyum canggung. Dia merasa tidak enak hati, pada ibu mertuanya dan juga yang lain, karena mereka dalam keadaan pusing karena kehilangan Yasmin dan Nanda, ditambah dengan suara tangisannya Ara sedari tadi.
"Harusnya, Kamu di rumah saja tadi. Biar Ara juga tidak rewel-rewel seperti ini. Kamu kan tahu sendiri Jani, kalau anak Kamu ini, tidak bisa tidur jika tidak di rumah sendiri."
Anjani hanya tersenyum mendengar perkataan dari ibu mertuanya, ibu Shofie, yang mengingat kebiasaan anaknya, yang sekaligus cucunya sendiri.
"Iya Bu. Jani lupa. Semalam langsung ikut mas Abi saja, dan juga tidak kepikiran yang lain."
Anjani, yang tadinya tidak kepikiran ikut, diajak oleh suaminya sendiri, Abimanyu.
Anjani hanya menurut saja, karena merasa jika hari sebentar lagi akan pagi. Jadi dia tidak berpikir, jika Ara tetap saja tidak mau berhenti menangis, meskipun hari telah berganti.
Sekar, yang merasa kasihan pada kakak iparnya itu, menawarkan diri untuk mengantarkan balik ke rumah. Dia akan minta ijin, untuk masuk kerja agak siangan, karena ada keperluan keluarga.
Anjani yang semalam tidak mengajak baby sitter Ara, akhirnya mengangguk setuju. Apalagi, Abimanyu, suaminya, belum juga kembali dari pencariannya. Dan Yasmin tetap tidak ketemu, atau pulang ke rumah sendiri.
"Ya sudah. Jani balik saja kalau begitu."
__ADS_1
Akhirnya, Anjani memutuskan untuk menerima tawaran Sekar, yang mau mengantarkan dirinya pulang ke rumah dengan menggunakan sepeda motor.
Meskipun Anjani masih ada ketakutan jika naik motor, tapi demi Ara, dia memberanikan diri untuk ikut membonceng dengan Sekar.
"Mbak Jani tidak apa-apa kan?" tanya Sekar, saat melihat Anjani yang tampak ragu, di saat mau naik ke boncengan.
"Emhhh... Mbak, Mbak kok takut ya Sekar," jawab Anjani, sambil mengudap peluh yang menetes di pelipisnya.
Sekar jadi turun lagi dari atas motornya. Dia melihat ketakutan di wajah kakak iparnya itu.
"Mbak ada trauma dengan motor? Apa Mbak Jani tidak pernah naik motor?" tanya Sekar, yang merasa curiga dengan keadaan kakak iparnya, Anjani.
"Eh, iya_iya. Mbak trauma dengan motor, ka_karena kecelakaan waktu itu. Dan ayah... ayah jadi meninggal. Mbak... Mbak Jani juga koma beberapa bulan, dan saat sadar, Mbak sudah-sudah jadi istri dari mas Elang. Dengan keadaan Mbak yang mengenaskan. Hiks hiks hiks..."
Anjani jadi terguguk sambil memeluk Ara. Dia menangis, saat ingat kejadian bertahun-tahun yang lalu. Yang membuat dirinya kehilangan ayah tercintanya, untuk selama-lamanya.
Sekar jadi merasa bersalah, karena ajakannya tadi, membuat kakak iparnya itu jadi sedih dan ingat dengan kejadian masa lalunya yang menyedihkan.
"Maafkan Sekar Mbak. Sekar tidak tahu. Kalau begitu, Sekar panggil taksi saja, atau pesan online ya!"
Sekar akhirnya memesan taksi online untuk mengantar kakak iparnya, Anjani bersama dengan Ara, keponakannya yang masih bayi, meskipun saat ini sudah bisa merangkak.
Setelah beberapa menit kemudian, taksi online sudah datang. Anjani kembali berpamitan dengan ibu Sofie, mertuanya dan juga Sekar.
"Bu maaf ya, Jani gak bisa menemani ibu untuk menunggu kedatangan Yasmin," kata Anjani, dengan wajah yang serba salah dengan keadaan yang tidak jelas ini.
Dia hanya merasa kasihan dengan anaknya, Ara, yang tidak bisa tidur sejak keluar dari dalam mobil dan ditinggal oleh papanya, Abimanyu, yang langsung pergi bersama dengan kakeknya, ayah Edi, guna mencari keberadaan Yasmin dengan Nanda.
"Iya Jani, tidak apa-apa. Ibu yang minta maaf, karena malah membuat Kamu repot dengan semua ini," jawab ibu Sofie, yang merasa khawatir dengan keadaan cucunya.
__ADS_1
Akhirnya, Anjani kembali pulang bersama dengan anaknya, Ara. Dia tidak menuggu kepulangan suaminya, Abimanyu, karena merasa kasihan dengan keadaan Ara.
"Kamu kenapa sih Sayang? kenapa tidak mau tidur jika ada di rumah kakek dan nenekmu. Kan kita jadi tidak bisa ikut tidur di sana meskipun cuma semalam saja," tanya Anjani sambil mengelus-elus pipi Ara, yang saat ini sedang tertidur pulas di dalam mobil taksi online tadi.
"Memang anaknya kenapa Mbak?" tanya supir taksi online yang merasa aneh dengan apa yang dia lihat dan dengar dari penumpangnya kali ini.
Anjani pun menceritakan tentang kebiasaan anaknya itu, yang tadi menangis terus dan tidak mau diam. Tapi, begitu masuk ke dalam mobil ini, Ara langsung terdiam dan tak lama kemudian tertidur dengan pulas di pangkuannya Anjani.
"Hahaha... memang kadang-kadang ada yang seperti itu Mbak. Dan kita yang orang dewasa, tidak tahu apa yang sebenarnya terjadi pada mereka, anak-anak."
Perkataan dari supir tersebut memang benar.
Begitu juga yang dirasakan Anjani pada Ara. Padahal, ibu Sofie dan juga kakeknya, ayah Edi, ingin sekali minta pada Anjani dan Abimanyu, agar bisa datang dan dan menginap di rumah mereka. Dan itu sudah pernah dia utarakan berkali-kali.
Tapi pada akhirnya, mereka tidak lagi memaksa, pada Anjani dan Abimanyu juga, karena teringat dengan kebiasaan yang di sebabkan kebiasaan anaknya tadi.
Tut tut tut!
Tut tut tut!
Handphone milik Anjani berdering di dalam tasnya. Disaat handphone tersebut sudah dapat dia ambil, dia bisa melihat dengan jelas, siapa orang yang menelponnya saat ini.
Ternyata nama suaminya, Abimanyu, ada di layar handphone miliknya itu. Anjani jadi teringat, jika dia belum memberikan kabar pada suaminya, jika dia saat ini sedang dalam perjalanan pulang bersama dengan Ara, anak mereka berdua.
..."Iya Mas. Jani minta maaf ya Mas. Tidak kasih kabar, kalau Jani pulang dulu bersama dengan Ara. Jani kasihan mas, pada Ara, yang tidak bisa tidur dari semalam suntuk."...
..."Jadi, saat ini Kamu ada dalam perjalanan pulang bersama dengan Ara sendiri, satu mobil bersama dengan supir? orang yang tidak pernah Kamu kenal juga?"...
Anjani merasa bingung, dengan perkataan suaminya sendiri, disaat seperti ini. Keadaan yang tidak sama seperti yang dikatakan oleh suaminya itu. "Mas Abi kenapa ya?" tanya Anjani pada dirinya sendiri.
__ADS_1