Dia Milikku ( Berbagi Cinta )

Dia Milikku ( Berbagi Cinta )
Senyaman Mungkin


__ADS_3

Anggi yang merasa malu, karena ditegur oleh kakaknya, langsung memasang wajah masam. Dia cemberut, untuk mengindari godaan yang akan dilakukan oleh kakaknya lagi.


Ara terkikik sendiri, saat melihat wajah adiknya itu. Dia juga mengeleng beberapa kali, menyadari jika sifat kekanak-kanakan Anggi masih sangat terlihat. Meskipun postur tubuhnya, tidak lagi sama seperti anak-anak kecil pada umumnya.


"Adek. Gak malu itu, ada Ahmed lho!"


"Biarin!"


Anggi tersungut-sungut, karena merasa kesal. Dengan semua godaan yang diberikan oleh kakaknya, Ara.


Di saat Anggi akan melangkah, tiba-tiba handphone milik Ara berdenting. Nada dering handphone tersebut, menandakan bahwa ada panggilan telpon yang masuk.


"Bunda Dek," ucap Ara, memberitahu pada Anggi, siapa yang saat ini menghubungi dirinya.


"Sini Kak!"


Anggi merebut handphone milik Ara, karena dua ingin tahu. Apa yang dikatakan oleh bundanya saat ini.


Ara dan Awan, hanya menggeleng melihat kelakuan adiknya itu. Sedangkan Ahmed, yang baru tahu jika Anjani dan Abimanyu tinggal di Bogor, hanya bisa diam sambil menyimak saja.


..."Assalamualaikum Bun. Anggi kangen. Hiks hiks..."...


..."Waallaikumsalam... Adek? Kok Adek yang angkat telponnya, Kak Ara ke mana?"...


..."Ada. Tapi Anggi yang mau bicara dengan Bunda lebih dulu."...


..."Oh... bagaimana sekolahnya?"...


Akhirnya, Anggi mendominasi pembicaraan mereka berdua, dengan semua hal yang ingin dia sampaikan.


..."Kak Ara mana? Bunda mau bicara sebentar saja dengan kakak."...


..."Iya Bun."...


Anggi menyerahkan handphone tersebut kepada Ara lagi. Tapi dia tetap ada di depan kakaknya, dan tidak juga mau pergi untuk berganti pakaian.


..."Ya Bun. Ini Ara."...


..."Kak. Bunda sudah dapat lokasi rumah yang mirip dengan impian Ayah. Kakak mau ikut lihat atau mau lihat fotonya aja?"...


..."Kapan mau lihat rumahnya Bun?"...


..."Jika Kamu gak ikut, Bunda sama ayah, pergi besok pagi. Tapi jika Kamu mau ikut liat juga, ya nunggu Kamu ke Bogor."...


Ara diam sejenak, sebelum memberikan jawaban dengan tawaran yang diberikan oleh bundanya.


Dia ingin meminta pendapat pada suaminya terlebih dahulu. Karena jika dia ke Bogor, itu artinya Awan juga ikut.


"Bagaimana Kak?" tanya Ara pada Awan.


"Kita gak mungkin bisa langsung ke Bogor sekarang Dek. Jadi, mendingan ayah dan bunda, liat sendiri dulu. Jiak cocok ya... ambil aja."

__ADS_1


"Kan yang mau menempati rumah tersebut ayah sama bunda. Kita hanya bisa memberikan dukungan. Apapun yang bisa membuat ayah dan bunda nyaman."


"Besok-besok, jika kita ada waktu, dan Anggi juga ada hari libur, kita akan segera datang ke Bogor."


Anjani yang ikut mendengarkan semua perkataan Awan, merasa sangat senang. Karena pemikiran anak menantunya itu memang benar adanya.


Dia sendiri tidak mau memberikan penilaian, jika nantinya Abimanyu sudah terlanjur menyukai rumah tersebut.


Anjani hanya ingin bersama dengan suaminya. Menghabiskan sisa hidupnya bersama dengan Abimanyu. Bagaimanapun keadaan yang diinginkan oleh suaminya itu.


..."Baiklah. Bunda minta maaf ya Kak. Karena Anggi harus merepotkan kalian berdua. Yang seharusnya bisa pergi berbulan madu. Hiks... bunda jadi merasa sangat jahat ini."...


..."Bun. Apa sih kok ngomong begitu!"...


..."Salam buat Awan. Anggi jangan nakal ya Dek!"...


..."Oh ya Bun. ada Ahmed ini di sini."...


..."Ahmed? Aduh bagaimana dia ini? Bunda gak bisa bantu lagi. Bilang ya Kak, Bunda minta maaf."...


..."Ya gak apa-apa Bun. Nanti Ara sampaikan. Biar Ahmed bisa cari ahlinya di Jakarta. Kak Awan bisa bantu juga mencari orang-orang yang bisa membantu Ahmed."...


..."Iya Kak, terima kasih ya!"...


..."Salam buat Ayah Bun!"...


..."Iya Kak. Nanti bunda sampaikan."...


..."Waallaikumsalam..."...


Klik!


Ahmed yang belum mengerti hanya bisa diam mengamati saja. Apalagi saat melihat wajah sendu Anggi. Dia merasa jika terjadi sesuatu pada Anjani.


Wanita yang sudah pernah membantunya untuk belajar membuat kue-kue Indonesia. Hanya untuk bisa lebih dekat dengan anaknya, Anggi.


"Bunda kenapa Kak Ara? Ada di mana sekarang? i tidak melihat keberadaan ayah ayah bunda sedari tadi."


Ahmed akhirnya bertanya juga, tentang keadaan dan keberadaan Anjani.


Akhirnya, Ara menceritakan tentang keadaan ayah dan bundanya. Yang saat ini ada di Bogor.


Anggi hanya bisa menangis. Karena dia memang tidak pernah jauh-jauh dari kedua orang tuanya.


"Maaf. Berarti, kedatangan i sekarang tidak tepat waktunya."


Ara mengeleng sebagai jawabannya. Dia mengatakan bahwa, apa yang direncanakan oleh Ahmed, akan tetap bisa dilakukan. Tapi dengan bantuan Awan.


Dia yang akan mencarikan orang-orang yang kompeten, dan memang ahli di bidang kuliner.


"Benarkah? Wah... terima kasih banyak kak Ara. Kak Awan."

__ADS_1


Awan hanya mengangguk saja, kemudian bertanya pada Ahmed. Dengan semua rencana yang akan dia lakukan untuk membuka usahanya di Jakarta ini.


Anggita diajak untuk masuk ke dalam rumah. Dia diminta untuk membersihkan dirinya terlebih dahulu. Karena memang Anggi juga baru pulang dari sekolah.


"Biar Ahmed bicara dengan kak Awan dulu. Kamu mandi, dan Kakak menyiapkan makan malam kita nanti."


"Oh iya. Kamu mau dimasakin apa Dek?"


Ara bertanya tentang keinginan Anggi, soal makan malam yang diinginkan. Karena biasanya, bundanya Anjani, akan memasak sesuai dengan permintaan Anggi juga.


"Terserah Kakak. Jika malas masak, pesan goofood aja Kak."


Kening Ara mengkerut heran, saat mendengar perkataan yang diucapkan oleh adiknya itu. Karena selama ini, Anggi paling malas dengan makanan pesan online.


Kata Anggi, tidak sama seperti yang di masak di rumah.


Padahal itu hanya sebuah alasan saja. Karena jika pesan makanan, dia tidak bisa menambah porsi untuk dirinya sendiri.


*****


Di rumah sakit, tempat Dika di rawat.


Mita datang bersama dengan Nanda. Dia ingin melihat keadaan mantan pacarnya, yang saat ini sedang terbaring koma. Dalam waktu yang sudah cukup lama juga.


"Kak..."


Mita tidak bisa melanjutkan kalimatnya. Dadanya sesak, melihat keadaan Dika yang sekarang ini. Dia miris melihat keadaannya yang terbaring tanpa daya di tempat tidur.


Tubuhnya yang gagah dan atletis sudah berganti dengan kulit dan tulang saja. Tidak ada wajah tampan meskipun kadang-kadang terlihat tengil.


Senyumnya juga tidak ada lagi. Berganti dengan bibir yang kering dan pecah-pecah, karena makanan dan minuman, dilakukan melalui selang, yang dialirkan melalui lubang hidung.


"Hiks..."


Mita tidak bisa menahan diri untuk tidak menangis.


Rasa kecewa, marah dan benci, menguap begitu saja. Di saat melihat bagaimana keadaan Dika yang sebenarnya.


Nanda hanya bisa mengengam tangannya Mita. Menguatkan hatinya, supaya tidak lemah.


"Maafkan kak Dika Dek. Dia mungkin menuggu kata maaf kita juga." Bisik Nanda, di telinga Mita. Dia ingin Mita mengatakan maaf, agar Dika bisa lebih tenang.


"Kak Dika. Aku... Aku minta maaf."


Mita justru mengucapkan permintaan maafnya terlebih dahulu. Karena dia juga merasa bersalah.


"Aku... Aku mencintai kak Nanda. Dan tidak lagi mencintaimu."


Nanda semakin mempererat genggaman tangannya, saat mendengar perkataan Mita tadi.


Dia tahu, apa yang dikatakan oleh Mita memang benar. Karena dia datang di kehidupan Mita, saat mereka berdua belum resmi putus.

__ADS_1


Tapi semua itu bukan kesalahan yang mutlak buat mereka berdua. Karena keadaan juga, yang membuat cerita cinta mereka menjadi seperti ini.


__ADS_2