Dia Milikku ( Berbagi Cinta )

Dia Milikku ( Berbagi Cinta )
Keinginan Yang Lain


__ADS_3

Saat ini, Ara sedang mengalami masa ngidam. Yaitu masa awal-awal kehamilan seorang wanita. Hal yang sama seperti kebanyakan wanita hamil pada umumnya. Antara lain seperti mual, muntah, dan kram.


Tapi ada Ara juga mengalami ciri-ciri hamil, atau ngidam yang unik. Yaitu dia jadi lebih posesif, dan manja dengan Awan.


Menurut ciri-ciri perubahan yang terjadi pada Ara ini, karena adanya perubahan pada kondisi fisik dan mental. Salah satu pemicu utamanya adalah perubahan hormon. Pada kondisi tertentu, perubahan yang terjadi seharusnya membuat calon ibu menjadi lebih manja atau mungkin lebih membutuhkan kehadiran suami.


Inilah yang membuat Ara tidak ingin jauh-jauh dari Awan. Dia juga sering ngambek, saat Awan tidak memperhatikan dirinya. Atau tidak mendengarkan panggilan dan perkataan yang dia ucapkan.


Sama seperti saat ini, di mana Ara yang sedang berada di dalam kamar mandi. Tapi lupa membawa baju ganti atau sekedar jubah mandi.


Karena di dalam kamar mandi, hanya ada handuk biasa. Ara akhirnya keluar dari dalam kamar mandi, hanya dengan menyembulkan kepalanya saja. Kemudian memanggil-manggil suaminya. Agar membantunya untuk mengambilkan baju ganti atau jubah mandi.


"Kak. Kak Awan!"


Tidak ada sahutan. Bahkan, Ara tidak melihat keberadaan suaminya di dalam kamarnya ini.


"Kak Awan ke mana sih?" tanya Ara seorang diri.


Akhirnya dengan mengunakan handuk yang melilit di atas dadanya, dia keluar untuk mencari keberadaan Awan. Ara ingin memastikan bahwa, suaminya itu memang benar masih berada di dalam kamar.


"Ihsss... kok gak ada. Ke mana kak Awan?"


Clek!


Ara menoleh dengan cepat, ke arah pintu yang sedang terbuka.


Ternyata ada awan yang masuk, dengan membawa teko berisi air putih. Untuk persediaan air minum mereka di dalam kamar.


"Kakak dari mana sih?" tanya Ara dengan wajah masam.


Dia merasa kesal, karena Awan pergi tanpa pamit padanya tadi.


"Cuma pergi ke dapur. Ini, ambil air minum."


Awan memperlihatkan teko air minum, yang dia bawa ke arah depan. Supaya Ara bisa melihatnya dengan jelas.


"Udah selesai mandinya?" tanya Awan, saat melihat keadaan Ara yang beluk berpakaian. Karena istrinya itu, hanya mengunakan handuk. Untuk menutupi bagian tubuhnya. Sebatas dada dan di atas lutut.


"Ya ini! Ara tadi lupa bawa baju ganti. Gak bawa jubah mandi juga. Hiihhh..."

__ADS_1


Tingkah laku Ara yang sedang kesal dan jengkel, justru membuat Awan ingin tertawa. Tapi dia tetap berusaha untuk bisa mengendalikan diri. Agar tidak kelepasan untuk tertawa juga.


"Pfff... terus?"


Tapi Ara justru semakin mengerucutkan bibirnya, karena perasaannya yang sedang kesal. Dia tidak mau menjawab pertanyaan dari suaminya.


"Oh... istrinya Kakak sedang merajuk ini?"


Awan meletakan teko air yang ada di tangannya ke atas meja. Kemudian mendekat ke tempat istrinya berdiri.


"Mau diambilin baju ganti? Atau jubah mandi?"


"Atau mau..."


"Aaa..."


Apa yang dilakukan oleh Awan, membuat Ara berteriak karena kaget. Ini karena secara tiba-tiba, tubuhnya melayang dan kakinya tidak lagi menapaki lantai.


Seperti biasanya, Awan membopongnya, kemudian mendudukkan dirinya di pinggir tempat tidur.


"Kak Awan kebiasaan ihsss... kaget tau! Gimana jika dedek bayi juga ikutan kaget di dalam perut?" Ara bertanya, dengan mengunakan anaknya sebagai tameng.


Tentu saja, Awan hanya tertawa kecil. Mendengar perkataan Ara yang terlihat semakin berisi dengan kehamilan pertamanya ini.


Apalagi handuknya yang dibagian bawah, juga ikut sedikit naik ke atas. Sehingga memperlihatkan sebagian dari kaki atasnya.


Sebenarnya, dia merasa keki juga, diperlakukan seperti ini oleh suaminya sendiri. Karena meskipun mereka sudah sering melihat keadaan tubuh masing-masing dalam keadaan polos, tapi tetap saja terasa beda. Karena ini bukan dalam keadaan yang seharusnya.


"Emhhh..."


"Apa? Mau pergi ke mana lagi?"


Ara memotong kalimat Awan yang belum diucapkan. Terlihat sekali kesan posesif Ara saat ini. Dia tidak mau ditinggal sendirian di rumah. Karena Anggi, baru saja pergi ke sekolah.


"Gak. Kakak gak mau ke mana-mana kok. Tapi boleh ya?"


Ara mengerutkan keningnya, mendengar pertanyaan yang diajukan oleh suaminya itu. Dia mendengarkannya dengan seksama. Dan pada saat tersadar, dia segera memukul pundak suaminya. Yang ternyata sedang berpikir mesummm juga, pada saat dia dalam keadaan sedang ngambek seperti ini.


"Kakak mesummm terus ihsss..."

__ADS_1


"Hahaha... gak apa-apa Dek. Kan sama istri sendiri. Lagian ya, dedek di dalam perut juga pastinya senang. Karena papanya, sering menjenguknya juga."


Ara tersipu malu, saat suaminya berkata demikian. Hal yang sebenarnya juga dia sukai. Tapi sebagai seorang istri, atau cewek. Tentu saja dia merasa sungkan. Jika harus mengatakan keinginannya itu.


Dia sendiri merasa cukup heran. Karena dia selalu ingin berada di dekat-dekat suaminya terus.


Tapi dia masih tetap menjaga gengsi. Ara tidak mau terkesan agresif. Meskipun Awan sudah menjadi suaminya yang sah. Tidak akan ada yang melarang ataupun mengusiknya, seandainya dia dan Awan melakukan apa-apa yang ingin mereka berdua lakukan.


*****


Di rumah Miko.


"Ma... Mama!"


Miko datang dengan berteriak-teriak memanggil mamanya. Dia ingin segera memberitahukan kepada mamanya, Sekar. Jika dia dinyatakan lulus sekolah.


"Ma!"


Sekali lagi, Miko berteriak.


"Huhss! Ada apa teriak-teriak Kak. Adek baru saja tidur. Jadi Kamu jangan kenceng-kenceng teriaknya."


Sekar menasehati anaknya itu, supaya tidak mengeluarkan suara keras. Karena itu bisa mengangguk adiknya yang sedang tertidur.


"Ma. lihatlah Ma!"


Miko menyerahkan sepucuk surat. Yang tadi dia terima dari wali kelasnya. Surat tersebut adalah surat pemberitahuan, jika Miko dinyatakan lulus ujian.


Sekar tersenyum dengan bangga. Melihat keberhasilan anaknya yang sedang menginjak remaja ini.


"Selamat ya Kak Miko. Kamu udah lulus SD. Besok, di saat sekolah di jenjang berikutnya. Kak Miko harus rajin-rajin untuk belajarnya ya!"


Miko pun mengangguk mengiyakan, semua perkataan dan nasehat yang diberikan oleh mamanya.


"Ma. Nanti Miko ke rumah ayah Abi ya? Miko pengen kasih tabu kak Ara dan juga Anggi."


"Iya gak apa-apa. Kamu pergi aja ke sana. Sama itu Kak, nanti tanya juga pada Anggi. Bagaimana pengumuman kelulusannya tadi pagi?"


Miko mengangguk mengiyakan. Dia pun akhirnya pamit pada mamanya, untuk masuk ke dalam kamarnya sendiri. Dia ingin beristirahat terlebih dahulu, sebelum nanti dibuat pusing dengan semua tingkah laku sepupunya, Anggi.

__ADS_1


Karena sekarang ini, bukan dia lagi yang sering iseng. Tapi Anggi, yang sepertinya ingin balas dendam. Karena semua kelakuannya di masa yang sudah berlalu. Di mana pada saat itu, mereka berdua masih usia anak-anak.


Keisengan Miko, sepertinya diturunkan kepada Anggi. Tapi justru dia juga yang terkena getahnya. Karena sekarang ini, keusilan Anggi lebih parah lagi. Tidak sama seperti isengnya Miko sewaktu dulu.


__ADS_2