
"Ayah!"
Ara berteriak keras, memangil ayahnya, saat melihat keadaan ayahnya yang sedang berbaring di tempat tidur.
Meskipun tidak dalam keadaan duduk, tapi tentu saja, luka-luka yang di alami Abimanyu, terlihat jelas di mata Ara. Apalagi, pada bagian dagu dan tangannya.
Abimanyu menoleh ke arah pintu, di mana istri dan kedua anaknya, yang baru saja datang.
Meskipun senyuman tampak di wajah Abimanyu, tentu itu tidak mengurangi rasa ngilu yang dia rasakan.
Ara dan Anggi, berlari memeluk ayahnya.
"Kenapa bunda bilang kalau ayah pergi ke luar kota?" tanya Ara, yang merasa di bohongi oleh bundanya, Anjani.
Tapi sebelum Anjani menjawab, Abimanyu menjelaskan pada anaknya itu, supaya tidak menyalahkan bundanya, karena sudah mengatakan kebohongan.
"Bunda bilang kalau ayah pergi ke luar kota, itu atas permintaan ayah sendiri. Jadi itu bukan salahnya bunda."
Anggi melihat wajah ayahnya dengan mata bingung. Dia tidak mengerti, apa maksud dari perkataan ayahnya itu. Dia masih terlalu kecil, untuk bisa mengetahui situasi apa yang saat ini ada pada kedua orang tuanya, terutama ayahnya.
Apalagi saat Abimanyu meminta pada kedua anaknya itu, untuk tidak mengatakan apa-apa, tentang dirinya pada orang lain, termasuk keluarganya sendiri.
"Kenapa Yah?" tanya Anggi, yang tetap saja merasa bingung.
Ara juga mengangguk, setuju dengan pertanyaan dari adiknya itu. Dia tidak tahu, apa alasan ayahnya, sehingga merahasiakan kejadian ini pada keluarganya.
"Ayah tidak mau membuat eyang dan tante-tante serta om kalian merasa khawatir. Ayah masih tidak percaya, dengan kejadian ini. Ayah tidak tahu, tiba-tiba jatuh gitu aja tadi pagi. Meskipun tidak serius dengan luka-luka ini, tapi Ayah tetap ingin merahasiakan kejadian ini pada yang lain. Kalian bisa kan, untuk tidak bercerita juga?"
Ara mengangguk mengiyakan, meskipun ragu-ragu.
Anggi juga mengangguk mengiyakan, ikut seperti yang dilakukan oleh kakaknya, Ara. Meskipun sebenarnya, dia tidak tahu pasti, apakah dia bisa mengerem mulutnya untuk tidak bicara, atau justru malah keceplosan dan bercerita, meskipun itu hanya pada Miko.
"Maafkan Bunda ya. Bunda tidak menjawab dengan jujur, dan tidak cerita juga pada kalian tadi," ujar Anjani, sambil memeluk kedua anaknya.
Sekarang, Ara dan Anggi sama-sama menangis, meskipun pelan.
"Ayah kapan sembuhnya?" tanya Anggi, yang segera melepas pelukan dari bundanya, kemudian beralih pada ayahnya.
"Ini lukanya kan sedikit. Tidak lama juga kering dan sembuh. Yang penting, kalian berdua tidak nakal dan tidak rewel juga. Kasian Bunda, ya Sayang!" kata Abimanyu, meminta pada Ara dan Anggi, supaya membantu bundanya dengan tidak membuat keributan dengan kenalan mereka.
Ara dan Anggi mengangguk mengiyakan permintaan ayahnya itu. Mereka berdua, juga mengatakan bahwa, tidak akan menceritakan kepada siapa-siapa, tentang keadaan ayahnya.
Mereka berempat, kembali saling memeluk bersama-sama, hingga Abimanyu harus mengaduh, karena tangannya terhimpit oleh tubuh anaknya yang kecil, yaitu Anggi.
"Aduh Adik!"
"Eh, hehehe... maaf Yah," ucap Anggi, sambil meringis karena ikut merasakan sakit, sama seperti yang dirasakan oleh ayahnya itu.
"Adek, pelan-pelan dong!"
Ara menasihati adiknya, Anggi.
__ADS_1
"Ihhh, kan Kakak juga yang membuat Anggi mempel di tangan ayah!"
Anggi menyahuti perkataan dari kakaknya, dengan bibirnya dimajukan, alias cemberut.
"Hehehe... maaf," ucap Ara, dengan menunjukan dua jarinya tanda damai.
"Sudah-sudah, Kalian berdua ini malah ribut kan." Anjani mengingatkan kepada kedua anaknya itu, supaya tidak lagi bertikai.
"Udah, pergi mandi gih. Kasian Ayah," akta Anjani, meminta pada Ara dan Anggi supaya segera pergi mandi
Kedua anaknya itu, segera turun dari tempat tidur ayahnya, kemudian berlari keluar, dengan berebutan, agar bisa mandi terlebih dahulu.
"Mereka berdua selalu saja berebutan," ujar Anjani, sambil menggeleng beberapa kali, melihat tingkah laku kedua anaknya itu.
"Hahaha... itu juga yang membuat rumah kita ramai Bun. Gak ada mereka, rasanya sepi."
Anjani mengangguk mengiyakan perkataan dari suaminya. Dia tersenyum dan mulai meluruskan kaki Abimanyu, untuk dia bersihkan terlebih dahulu.
"Bunda ambil air hangat dulu Yah. Biar badannya tidak terasa kaku, jadi di lap-lap dulu."
Setelah mengatakan itu, Anjani keluar dari kamar, menuju ke arah dapur. Dia menjerang air, untuk digunakan membersihkan tubuh dan juga luka-luka suaminya.
Dari arah kamar anaknya, terdengar suara pertikaian kedua anaknya, yang ingin mandi lebih dulu.
"Ara, Anggi. Jangan pada ribut ya, kasihan Ayah, jadi terganggu." Anjani masuk ke dalam kamar anaknya, dan menasehati mereka berdua.
"Ini Anggi Bunda!"
Mereka berdua, justru kembali berdebat dan saling menyalahkan.
"Eh... eh, kok malah ribut sendiri. Ayok-ayok mandi. Sana yang satunya ke kamar mandi yang ada di kamar Bunda, apa yang di dapur. Jangan rebutan."
Anjani kembali menasehati anak-anaknya, supaya tidak berebut.
"Yeee, Anggi di kamar mandi Bunda aja!"
"Gak kakak saja!"
Helaan nafas panjang, terdengar dari tempatnya Anjani. Dia juga menggeleng-gelengkan kepalanya, melihat kedua anaknya itu.
Selalu saja seperti itu. Tidak ada yang mau mengalah dan membuat rumah menjadi gaduh.
Akhirnya, Anggi berlari terlebih dahulu, menuju ke arah kamar bundanya, sedangkan Ara, terlambat untuk masuk.
Blummm!
"Anggi!"
Ara berteriak keras, memangil adiknya itu, karena menutup pintu kamar bundanya dengan keras. Sedangkan dia, ada di luar pintu.
Abimanyu, yang sedang tiduran di atas tempat tidur, terkejut. Namun tidak lama kemudian, dia tertawa senang, melihat tingkah kedua anaknya itu.
__ADS_1
"Kakak," sapa Anjani pada Ara, yang masih berdiri di depan pintu kamar.
"Anggi Bunda," rengek Ara, mengadukan kenakalan adiknya.
"Sudah. Kamu buruan mandi. Mumpung Anggi juga mandi kan?"
Ara akhirnya menurut. Dia kembali ke dalam kamarnya sendiri, dan pergi untuk melanjutkan pekerjaannya, mandi, yang tertunda karena bertengkar dengan adiknya, Anggi.
Sedangkan Anjani sendiri, sedang membawa baskom berisi air hangat, untuk membersihkan tubuh dan luka-luka suaminya.
*****
Tok tok tok!
"Wan, Kamu sedang belajar?"
Mama Amel mengetuk pintu kamar Awan, karena tidak melihat keberadaan Awan di ruang makan.
Tok tok tok!
Clek!
Karena pintu tidak di buka, dan Awan tidak menyahut panggilannya, mama Amel masuk ke dalam kamar cucunya. Dia ingin tahu, apa yang sedang dikerjakan oleh Awan sekarang ini.
"Eh, di panggil-panggil kenapa diam saja?"
Awan menoleh. Ternyata, dia sedang menggunakan handset, untuk mendengarkan lagu-lagu, sehingga tidak mendengar ketukan pintu atupun panggilan dari omanya, mama Amel.
"Ada apa Oma?" tanya Awan, sambil melepaskan hendsetnya.
"Ck. Oma pikir kenapa tidak dengar. Ini toh!"
Mama Amel tidak langsung menjawab pertanyaan dari Awan. Dia justru memegang handset Awan, kemudian baru tersenyum ke arah cucunya itu.
"Nanti, Oma sama opa Kamu, mau jenguk ayahnya Ara. Mau ikut tidak?"
Awan menyipitkan matanya, mendengar perkataan dari omanya itu.
"Memangnya om Abi kenapa?" tanya Awan, yang tidak tahu apa-apa tentang ayahnya Ara.
"Dia habis kecelakaan tadi pagi," jawab mama Amel, memberitahu Awan.
"Di rawat di rumah atau di rumah sakit Oma?" tanya Awan lagi, dengan wajah cemas.
"Di rumah. Gak parah sih, cuma lecet-lecet saja. Cuma kan dia dulu pernah kecelakaan parah tuh, waktu Ara masih kecil. Pasti tulang-tulang persendiannya tentu berbeda."
Awan menganggukkan kepalanya, paham dengan perkataan omanya itu.
"Iya deh. Awan ikut."
Mama Amel tersenyum tipis, mendengar jawaban dari cucunya itu, yang terdengar semangat, kemudian membereskan buku-bukunya, untuk bersiap-siap, ikut ajakan Omanya tadi.
__ADS_1
"Tapi kita makan malam dulu lho Wan. Gak langsung berangkat sekarang."