
Seminggu kemudian, Abimanyu baru muncul di saat ada acara selamatan anaknya Yasmin. Dia mengatakan bahwa, dia baru sampai di rumah semalam.
"Maaf ya Dek. Mas Abi, baru sempat nengok Kamu dan anak Kamu ini."
Abimanyu meminta maaf pada adiknya itu, karena dia baru sempat melihat keadaan Yasmin dan juga bayinya.
"Tidak apa-apa Mas. Kami sehat kok, terima kasih doa dan juga waktunya saat Aku melahirkan kemarin."
Keduanya, Abimanyu dan Yasmin, saling berpelukan. Dan pada saat itu, Yasmin menekan dada kakaknya itu, Abimanyu sedikit meringis, karena merasa sakit.
Untungnya, Abimanyu bisa menahannya. Dia pura-pura tertawa kecil, karena melihat anaknya Yasmin yang terbangun dari tidurnya.
"Eh, ponakannya Om. Tahu aja sih, kalau Om Abi datang."
Yasmin jadi melepaskan pelukannya pada kakaknya itu. Dia menoleh dan ikut tertawa kecil, karena ternyata anaknya memang sudah bangun.
"Tau dong Om Abi. Aku kan kenal bau-bau Om Abi. Hihihi..." Yasmin menyahuti perkataan Abimanyu, dengan menirukan suara anak kecil.
Dan itu membuat Abimanyu tertawa-tawa senang, karena melihat kebahagiaan yang terlihat jelas, pada adiknya, Yasmin.
Mereka berdua, berbincang-bincang dengan santai, dia temani oleh Anggi dan juga Miko. Kedua ank kecil itu, ikut menjaga bayinya Yasmin, dengan saling ledek.
"Anggi, bentar lagi Miko punya adik dong. Kamu kapan?"
Anggi menggeleng. Dia mengatakan bahwa, anaknya Yasmin ini juga adiknya. "Ini adik Aku weee..."
"Ini adiknya Kak Nanda, bukan adik Kamu Anggi!"
Miko ngeyel dan membantah jawaban yang diberikan oleh Anggi padanya.
"Adik Aku!"
"Bukan. Ini adiknya Kak Nanda!"
Mereka berdua, saling mempertahankan apa yang mereka pikirkan. Tidak ada yang paham, dengan apa yang mereka katakan sendiri.
"Eh, Anggi, Miko. Ada apa kalian ini?" Abimanyu bertanya pada keduanya, yang semakin berisik dengan saling ngeyelnya masing-masing.
Akhirnya, Anggi bercerita pada ayahnya itu, dengan apa yang terjadi pada mereka berdua. Dia juga bertanya pada ayahnya, jika apa yang dia katakan adalah benar.
Yasmin tertawa lepas, mendengar perkataan dari Anggi, dengan tatapan mata Miko yang terlihat jelas, jika dia sedang ngambek.
"Tapi Om Abi. Adek bayi ini kan adiknya kak Nanda ya? Anggi gak punya adek. Kalau Miko, sebentar lagi juga punya adek bayi kayak gini. Iya kan Tante Yasmin?"
__ADS_1
Miko mempertahankan pendapatnya sendiri, tentang hubungan adik kakak, dengan bayinya Yasmin. Dia juga bertanya pada Yasmin, untuk mendapatkan dukungan dari apa yang dia katakan tadi.
Akhirnya, Abimanyu menjelaskan pada kedua anak kecil itu bahwa, adik bayi ini memang benar, jika dia adalah adiknya kak Nanda. Tapi mereka berdua juga berhak memangil adik bayi itu dengan sebutan adik.
Karena menurut urutan persaudaraan, anaknya Yasmin, adalah adik sepupu mereka berdua.
"Yeee... Anggi punya adik kan!"
"Tapi tetap saja tidurnya tidak di rumah Kamu Anggi!"
Mereka berdua, kembali berdebat mengenai tempat tinggal untuk tidur adik bayi tersebut.
"Kamu juga sering tidur di rumahku. Kamu adek Aku juga kan," ujar Anggi, yang membuat Miko terdiam.
Tentu saja Miko terdiam. Karena apa yang dikatakan oleh Anggi adalah benar. Dia sering tidur di rumah Anggi, sepulangnya dari sekolah. Apalagi waktu dulu, sebelum mamanya memiliki teman di rumah, bibi pembantu rumah tangga.
"Eh, tapi kan Kamu juga pernah tidur di rumahku." Miko tidak mau kalah, karena Anggi memang pernah tidur di rumahnya, sesekali.
Suara mereka berdua, membuat berisik dan menjadikan bayinya Yasmin terbangun lagi. Padahal baru saja ditidurkan.
Sedangkan Abimanyu, hanya bisa tersenyum, mendengar perdebatan keduanya, yang sama-sama tidak ada yang mau mengalah.
"Anggi, Miko. Yuk makan dulu," ajak Anjani, yang baru saja datang.
"Ihhh Anggi. Kan Kamu sendiri yang ngeyel tadi!" Miko mengelak dari tuduhan Anggi. Dia mencoba untuk membela dirinya sendiri.
Akhirnya, Anjani meminta pada mereka berdua agar tidak berisik, karena bisa membuat adik bayinya tidak bisa tidur dengan nyaman.
Akhirnya, mereka berdua menuruti perkataan Anjani. Mereka berdua mengikuti ajakan bundanya itu, untuk pergi dari tempat tidur adik bayi, dan makan terlebih dahulu.
"Ayah, ayok sekalian ikut makan," ajak Anjani, pada suaminya, Abimanyu.
Abimanyu, mengangguk mengiyakan ajakan Anjani juga. Sedangkan Yasmin, kembali menyusui bayinya, dan berusaha untuk menidurkannya kembali
"Kamu mau dibawakan makanan ke sini, apa nanti Kamu makan ke sana Dek?" tanya Anjani, pada adik iparnya, Yasmin. ( ke sana maksudnya ke meja makan )
"Nanti saja Mbak. Yasmin makan ke sana saja. Nunggu dia tidur dulu," jawab Yasmin, dengan menunjuk ke arah bayinya, dengan tatapan matanya, pada bayinya yang sedang menyusu.
"Baiklah. Yuk Anggi, Miko!"
Anjani mengajak Anggi dan Miko, supaya mengikuti dirinya, untuk diambilkan makan.
Begitu juga dengan Abimanyu, yang ikut juga melangkah mengikuti mereka bertiga, dari arah belakang.
__ADS_1
Ternyata, di meja makan sudah ada Sekar dan ibu Sofie, yang sedang menyiapkan makanan untuk mereka semua.
"Ayok sini duduk-duduk. Sebentar lagi, pihak catering datang untuk hidangan selamatan aqiqah_ nya. Kita makan ini dulu saja," ujar ibu Sofie, mengajak anak dan cucunya itu, untuk makan makanan yang sudah di masak oleh bibi pembantu, yang tadi di bantu oleh Anjani dan juga Sekar.
Ayah Edi, yang baru saja datang, ikut nimbrung di meja makan, bersama dengan anggota keluarganya yang ada di rumahnya kali ini.
Tak lama, Yasmin juga datang menyusul mereka untuk makan siang, karena bayinya sudah kembali tertidur pulas, setelah kenyang menyusu.
*****
Di sekolah, Nanda terus menerus mendapatkan pesan dari nomer yang sama seperti yang kemarin-kemarin.
Jadi nomer tersebut, selalu mengirimi pesan pada Nanda, supaya datang untuk menemui dirinya.
Sebenarnya Nanda tidak butuh dan tidak merasa penasaran dengan orang yang sok kenal dengannya, lewat pesan singkat tersebut. Tapi lama-lama, Nanda juga merasa penasaran dengan orang tersebut.
"Siapa sih sebenarnya dia itu?" tanya Nanda pada dirinya sendiri, saat membaca pesan yang baru saja masuk.
Saat ini sedang waktunya istirahat. Nanda tidak pergi ke mana-mana, ataupun menemui Ara seperti biasanya.
"Hai Nda. Loe gak keluar atau ke kantin gitu?"
Tiba-tiba, ada temannya Nanda yang datang mendekat ke tempat duduknya.
"Malas," jawab Nanda pendek.
Yang datang bertanya pada Nanda adalah cewek cantik, yang biasanya ada beberapa teman, yang juga ikut dengannya. Tapi entah kenapa, sekarang dia sendirian di dalam kelas, dan tidak ikut bersama dengan teman-temannya yang lain, sama seperti kebiasaan mereka selama ini.
"Eh, kok samaan. Gue juga malas nih!" Cewek tadi, berkata tanpa di tanya oleh Nanda.
"Boleh kenal lebih dekat gak Nda?" tiba-tiba, cewek itu kembali bertanya pada Nanda, saat Nanda diam saja, dan tidak memperhatikan keberadaannya.
Mendengar pertanyaan dari teman sekelasnya itu, tentu saja membuat Nanda menyipitkan matanya. "Kamu serius, apa coba-coba aja?" tanya Nanda ingin tahu, tanpa menoleh. Karena Nanda tetap saja fokus pada layar handphone miliknya, dan tidak memperhatikan temannya itu.
"Seriusan Nda," jawab cewek tersebut, dengan cepat. Dia juga tampak tersenyum senang, karena menyangka bahwa, Nanda menyambutnya dengan senang hati.
"Kamu tahu tidak, jika Aku terbiasa berangkat dan pulang sekolah dengan siapa, setiap harinya?"
"Tau lah. Gue tahu apa saja yang biasa Loe lakukan Nda. Termasuk cewek kelas tujuh itu."
Nanda mengalihkan perhatiannya dari layar ponsel, ke arah temannya itu. "Terus?" tanya Nanda, yang terkesan kesal dengan jawaban dari cewek tersebut.
"Ya gak apa-apa. Dia kan cuma sepupu Loe Nda, bukan pacar kan?"
__ADS_1
Nanda tersenyum miring, mendengar perkataan dan pertanyaan dari temannya itu. "Dia lebih dari sepupu Aku. Kenapa?"