Dia Milikku ( Berbagi Cinta )

Dia Milikku ( Berbagi Cinta )
Ruang UKS


__ADS_3

Istirahat tiba, dan teman Ara, datang menjenguknya.


"Ra. Kamu udah baikan?" tanya teman Ara, yang sebelum datang ke UKS, pergi ke kantin terlebih dahulu.


Ada dua kotak minuman dan beberapa camilan yang dua bawa, untuk diberikan kepada Ara.


"Nih Aku bawakan minuman kacang hijau, biar Kamu tidak lemas, karena kurang darah. Terus ini, ada camilan juga. Aku sengaja gak beli roti, karena Kamu gak begitu suka dengan roti buatan pabrik."


Ara tersenyum, mendengar perkataan dari temannya itu. "Makasih ya besti. Kamu baik deh!" sahut Ara, dengan menunjukan kedua jarinya, yang dibentuk menyerupai gaya-gaya orang Korea, untuk menyatakan rasa cinta.


"Ihhh, jijae Ra!" ucap temannya itu dengan keras.


"Ups!"


Teman Ara, segera menutup mulutnya sendiri, karena sudah mengeluarkan suara yang keras dan pastinya menganggu siswa siswi yang lain, yang sedang beristirahat di UKS, karena sakit.


"Dih Kamu sih, gak bisa ngerem suara," ujar Ara, dengan wajah cemberut.


"Sorry-sorry. Kelepasan," sahut temannya, tapi dengan suara yang dibuat sepelan mungkin.


Mereka berdua tidak tahu jika, dari jarak yang tidak terlalu jauh, ada seseorang yang sedang mendengarkan semua pembicaraan mereka berdua.


"Wan!"


Tiba-tiba, Awan dikagetkan dengan panggilan seseorang, yang ternyata adalah temannya Awan. Dia baru saja datang, karena harus pergi ke kantin dan mengantri terlebih dahulu, untuk mendapatkan makanan yang diinginkan.


"Nih, Gue beliin kebab, buat ini perut Loe, biar gak kosong. Buru dimakan."


Teman Awan, menyerahkan sebungkus kebab dan satu kaleng minuman, untuk mencegah panas dalam.


"Thanks Bro," jawab Awan pendek.


Dan pada saat mereka berbincang, temannya Ara, mendengar perkataan mereka berdua, Awan dan temannya itu, dengan seksama.


"Ra, ada Kak Awan di sini?" Pada akhirnya, teman Ara bertanya kepada Ara, yang sedang minum.


"Uhuk! huk- huk... masa?"

__ADS_1


Ara bertanya dengan terkejut. Dia tidak pernah tahu, jika sedari tadi, ada Awan yang juga tidur di UKS. "Sejak kapan?" tanya Ara lagi.


Tapi temannya itu tidak menjawab. Dia hanya menaikkan kedua bahunya, tanda bahwa dia juga tidak tahu jika ada Awan di UKS ini sebelumnya.


Dengan tanpa meminta ijin pada Ara terlebih dahulu, temannya itu berjalan mendekat ke tempat tidur Awan.


"Kak Awan di sini, sejak kapan?" tanya teman Ara, tanpa permisi dan mencari tahu terlebih dahulu.


"Eh, iya Dek. Dari pagi sih. Pusing, dan kayaknya maag Kakak kumat." Awan menjawab pertanyaan dari temannya Ara, sambil tersenyum meringis. Dia mereka canggung karena ketahuan juga, jika dia ada di UKS ini.


"Oh, Ara juga tidur dari pagi di sini. Pusing juga dia, kayak gak fokus gitu," sahut teman Ara, memberitahu keadaan Ara tadi pagi.


Dalam hati, Ara mengutuk temannya itu, yang sudah bicara macam-macam tentang keadaannya, pada Awan dan juga temannya Awan. "Ihsss, ngapain dia cerita-cerita." Ara mengerutu sendiri dalam hati.


"Eh, yang benar?" tanya teman Awan terkejut.


"Mana dia?" tanya teman Awan lagi, meskipun pertanyaan yang dia ajukan tadi belum juga terjawab.


Mereka berdua, teman Awan dan teman Ara, berjalan meninggalkan Awan, menuju ke arah tempat tidur Ara. Mereka meninggalkan Awan, tanpa permisi terlebih dahulu.


Awan, yang sebenarnya sudah tahu sejak tadi, sejak kedatangan teman Ara tadi, kemudian mereka berdua bicara, hanya tersenyum tipis, tanpa bicara apa-apa.


"Sakit apa Dek?" tanya teman Awan, sok perhatian.


"Pusing aja kok Kak," jawab Ara pendek, dengan tersenyum tipis.


"Oh, gak ada keluhan yang lain kan?" tanya teman Awan lagi, dengan wajah yang terlihat khawatir.


Ara mengeleng cepat. Dia tidak mau jika apa yang sebenarnya dia rasakan diketahui oleh orang lain. Dia akan merasa sangat malu, jika itu sampai terjadi. Apalagi, saat ini ada Awan diantara mereka.


Awan, yang sudah berada di antara mereka semua, hanya melihat sekilas ke arah yang Ara. Tentu saja, sikap Awan yang seperti ini, membuat Ara semakin serba salah.


Ara ingin mengatakan sesuatu pada Awan, tapi dua juga merasa tidak enak hati, pada dua orang yang ada di antara mereka juga.


Tapi dari cara Ara memandang, dia ingin memberitahu Awan bahwa, dia ingin menjelaskan semua yang mengganjal di hatinya sendiri sejak kemarin sore, saat pulang dari sekolah.


Bel sekolah berbunyi, tanda jika jam istirahat sekolah sudah selesai. Mereka semua, harus kembali ke kelas masing-masing.

__ADS_1


Tapi sepertinya, Awan masih enggan untuk masuk, dan mengikuti pelajaran. Begitu juga dengan Ara. Dari gerak tubuhnya, dia masih ingin beristirahat terlebih dahulu, karena ada sesuatu yang masih tertinggal di UKS ini.


"Ra, Aku balik dulu ke kelas ya. Kamu kalau gak kuat, telpon kak Nanda atau pak ojek aja, biar dijemput sekarang. Nanti minta surat ijin pada perawat yang bertugas," kata teman Ara, memberikan sarannya, dengan berpamitan juga.


Ara mengangguk mengiyakan perkataan temannya itu.


"Gue juga mau balik ke kelas. Loe juga kalau masih sakit, mending minta jemput ayah Loe atau supir Wan. Jangan naik motor sendiri." Temannya Awan, juga memberi saran pada Awan, sebelum pergi ke kelas.


Awan pun hanya mengangguk sambil tersenyum tipis, mendengar perkataan dari temannya tadi.


Sekarang, mereka berdua tinggal sendiri di tempat istirahat UKS. Perawat yang bertugas, datang untuk bertanya kepada mereka berdua. "Kalian masih mau beristirahat atau ijin pulang? kalau mau ijin, biar Saya buatkan."


"Kami istirahat sebentar lagi Mbak. Supir atau ayah Saya, juga tidak mungkin bisa jemput kok. Biar nanti, kalau sudah tidak pusing, Saya balik sendiri." Awan menjawab pertanyaan dari perawat jaga, agar tidak merasa khawatir.


"Sa_saya, nunggu yang busa jemput Mbak," jawab Ara bingung. Dia memang tidak tahu, apa yang harus dia jawab, atas pertanyaan dari perawat jaga.


"Baiklah. Saya hanya membuat laporan untuk siswa siswi yang sedang sakit dan beristirahat di UKS saja. Biar tidak salah gunakan," ujar perawat tersebut, memberitahu pada mereka berdua.


Tapi perkataan perawat tadi, membuat mereka berdua merasa tersindir. Mereka berdua saling pandang tanpa berbicara, karena sama-sama tahu, jika perkataan yang diucapkan oleh perawat tadi, ditujukan untuk mereka berdua.


Meskipun sebenarnya tidak juga menurut perawat. Mereka, Awan dan Ara, hanya merasa saja. Karena mungkin mereka memang memanfaatkan kesempatan ini untuk bisa saling berbicara, untuk membuat hati merasa lebih nyaman dan tidak ada sesuatu yang mengganjal lagi.


Tapi ternyata mereka berdua tidak ada yang berbicara. Bahkan Awan, pergi ke tempat perawat berada.


"Mbak, Saya minta surat ijin pulang saja. Saya mau istirahat dulu di rumah," kata Awan memberitahu pada perawat.


"Oh gitu. Ok, tunggu sebentar ya," jawab perawat, yang akan menyiapkan surat ijin pulang untuk Awan.


Ara, yang merasa tidak enak hati, karena berada di UKS dalam jangka waktu yang lama, akhirnya pamit untuk kembali ke dalam kelas.


Perawat pun hanya mengiyakan, dan berpesan pada Ara, agar banyak beristirahat jika berada di rumah.


Ara hanya mengangguk mengiyakan, kemudian keluar dari dalam ruangan UKS dalam diam. Dia tidak berani menyapa Awan, padahal sebenarnya, dia ingin sekali berpamitan juga pada kakak kelasnya itu.


*****


Sore harinya, waktu pulang sekolah.

__ADS_1


Ara dijemput Nanda lagi. Pak ojek diminta untuk tidak menjemput Ara, karena ada sesuatu yang mereka rencanakan untuk Ara.


Nanda, hanya mengatakan jika pak ojek sedang ada keperluan mendadak, sehingga dia yang dihubungi oleh bundanya, untuk dimintai tolong menjemputnya ke sekolah.


__ADS_2