Dia Milikku ( Berbagi Cinta )

Dia Milikku ( Berbagi Cinta )
Perasaan Anjani


__ADS_3

Jika ada dilema yang terbesar, itu adalah tentang perasaan. Rasa yang hadir tanpa sadar jika ada, karena terbiasa bersama. Membawa kebimbangan hati, kegelisahan yang tidak bisa cepat untuk dihilangkan.


Itulah kira-kira, yang dirasakan oleh Anjani saat ini.


Waktu yang sering dihabiskan bersama dengan suaminya, Elang Samudra, membuat Anjani juga memiliki perasaan yang tidak biasa. Meskipun dia sendiri sadar, jika ini tidaklah benar. Tapi perasaan ini tidak salah. Dia memiliki rasa dan menyimpannya, untuk suaminya sendiri, bukan pada orang lain. Yang dia tidak inginkan hanyalah, Anjani, tidak mau perasaannya itu menyakiti Adhisti, istri sah dari suaminya itu.


Saat pagi, seperti biasanya, Adhisti akan datang untuk mengobrol dengannya. Menghilangkan rasa kantuknya, jika harus berada di rumah sendiri.


Adhisti, berjalan ke arah rumah Anjani, dengan memegang perutnya yang membesar. Dia tersenyum, begitu masuk ke teras rumah dan melihat kesibukan Anjani.


"Pagi Jani. Wah, segar-segar ini mawarnya. Kamu penyuka mawar ya? tambah banyak saja ini koleksinya," tanya Adhisti, sambil menunjuk ke pot-pot bunga mawar yang berjejer rapi di teras depan.


"Iya Mbak. Aku suka sekali dengan bunga mawar. Sebenarnya semua bunga Aku suka, tapi karena perawatan yang mudah pada bunga mawar, aku jadi suka saja sih," jawab Anjani dengan tersenyum, kemudian meletakkan alat penyiram tanamannya.


"Kamu terlihat semakin cantik saja sih aku lihat. Apa rahasianya hayo?" Adhisti, bertanya dengan nada bercanda pada Anjani.


"Hehehe... Mbak bisa saja. Biasanya begini-begini juga kan? gak berani pake kosmetik Mbak. Kata dokternya itu, Aku tidak diperbolehkan memakai kosmetik sembarangan. Apalagi yang mengandung mercury, jadi Aku malah takut dan lebih baik gak pakai sajalah," jawab Anjani sambil mengelengkan kepalanya berkali-kali.


"Oh begitu ya. Jadi Kamu memang sudah cantik dari sananya kalau begitu. Wah, pasti Kamu banyak yang naksir ya waktu dulu?" tanya Adhisti, mencoba mencari tahu, masa lalu Anjani.


"Hehehe... gak juga Mbak. Aku itu pemalu, sekolah dan kuliah, Aku tidak banyak teman Mbak. Bahkan, Aku lebih banyak menghabiskan waktu di perpustakaan. Makanya, Aku kerjanya juga cuma di rumah saja, memberikan privat pada anak-anak yang butuh. Selain itu, aku hanya menjadi pelatih untuk beladiri dan panjat tebing saja di Club olahraga."


"Oh ya? Kamu bilang pemalu, tapi kerjaan Kamu harus bertemu dengan orang banyak itu." Adhisti, tidak percaya dengan apa yang dikatakan oleh Anjani.

__ADS_1


"Ya begitulah. Aku suka olahraga itu Mbak, dan kebetulan yang lainnya percaya denganku, untuk bisa melatih pemula saja. Tapi ya begitu, Aku tidak terlalu banyak berinteraksi di luar latihan. Mungkin mereka malah menganggap Aku ini sombong, padahal tidak. Aku hanya tidak percaya diri, jika harus berada di keramaian."


Adhisti, merasa tidak puas dengan jawaban yang diberikan oleh Anjani. Dia tidak percaya begitu saja, karena yang dia lihat, Anjani itu cantik dan pintar. Dia juga terlihat cekatan dan bisa cepat menyesuaikan diri. Tapi, selama mengenal Anjani, Adhisti memang tidak pernah melihat Anjani pergi dari rumah, selain dengan Elang yang mengajaknya.


"Apa Kamu tidak merasa bosan di rumah saja?" tanya Adhisti lagi.


"Tidak Mbak. Dari dulu, Aku memang tidak suka keluar rumah. Bukan hanya karena wajahku yang rusak kemarin itu, tapi Aku memang lebih suka berada di rumah, dari pada pergi-pergi tanpa tujuan yang pasti. Kecelakaan itu terjadi, saat Aku baru saja pulang dari melatih beladiri dan dijemput ayah."


Adhisti mengangguk-angguk mengerti. Dia tidak tahu, jika ada gadis secantik Anjani yang tidak suka pamer kecantikan keluar rumah. Bahkan tadi dia mendengar, jika Anjani tidak percaya diri saat berada di keramaian.


"Mbak. Apa mbak merasa terganggu dengan wajahku yang sekarang?" tanya Anjani tiba-tiba.


"Egh, tidak. Aku justru merasa senang, karena wajahmu sudah kembali lagi seperti dulu. Itu artinya, jika Aku sedang bosan, Kamu mau kan Aku ajak jalan-jalan, meskipun cuma ke mall atau makan siang di luar?" tanya Adhisti, menjelaskan tentang pertanyaannya yang tadi.


Anjani tahu, jika Adhisti sedikit merasa terganggu, karena wajahnya tidak lagi buruk seperti kemarin-kemarin.


"Iya, maaf ya Jani. Karena kecelakaan itu, Kamu jadi kehilangan ayah. Maaf," kata Adhisti, kemudian memeluk Anjani dengan penuh penyesalan. Dia merasa, jika kecelakaan itu juga akibat dari ulahnya sendiri.


"Sudah nasibku Mbak. Tidak perlu disesali, meskipun Aku juga belum bisa menerima semua kenyataan ini dengan sepenuh hati."


Jawaban terakhir dari Anjani, membuat Adhisti sadar, jika dia terlalu kejam jika mencurigai Anjani yang tidak-tidak.


"Maaf Jani," kata Adhisti dalam hati.

__ADS_1


"Jangan khawatir Mbak Adhis. Tidak lama lagi, Aku akan meminta mas Elang untuk melepaskan tanggung jawabnya padaku. Aku tahu, pernikahan ini hanya bentuk tanggung jawabnya saja, karena adanya kecelakaan itu. Sekarang, wajahku sudah kembali seperti dulu, biarlah jalan nasib juga seperti yang seharusnya. Aku tidak mau menjadi orang ketiga, dalam hubungan Mbak Adhis dengan mas Elang. Meskipun Aku sudah kehilangan ayahku, karena kejadian itu juga. Aku harus bisa menata kehidupanku yang baru." Anjani berkata dalam hati, membulatkan tekad untuk meminta pada Elang, suaminya, agar melepaskan dirinya dalam waktu dekat ini.


*****


Sore, saat Anjani baru saja selesai mandi. Mama mertuanya datang. Dengan tersenyum penuh kebahagiaan, dia memeluk Anjani yang tersenyum menyambutnya.


"Apa kabar Jani? maaf ya, Mama baru sempat menengokmu. Ada banyak kerjaan yang harus Mama selesaikan."


"Iya Ma, tidak apa-apa. Justru Jani yang minta maaf, karena merepotkan Mama, dengan biaya operasi wajah yang Aku lakukan di Korea."


"Ah, itu bukan merepotkan. Mama senang melihatmu menjadi cantik lagi. Ternyata, foto yang Mama lihat di rumah Kamu itu, kalah cantik dengan aslinya."


"Foto di rumah? Mama lihat kapan?" tanya Anjani bingung.


Selama dia sadar dari koma, hingga hari ini, dia belum pernah pulang ke rumahnya yang dulu di daerah Bogor. Dia hanya berkunjung ke makam ayahnya, sebelum pulang ke rumah ini.


"Dulu, sewaktu ayah Kamu hampir meninggal, dia ingin jenazahnya dipulangkan terlebih dahulu ke rumah, sebelum dimakamkan. Makanya, Aku tahu foto-foto Kamu saat memakai pakaian olah raga yang Kamu geluti. Mama juga banyak mendengar cerita orang-orang yang ikut datang untuk takziah ke rumah Kamu."


Jawaban yang diberikan oleh mama mertua, justru membuat Anjani terisak-isak. Dia jadi merindukan sosok ayahnya yang penyabar dan sangat menyayanginya. Dia juga menjadi kangen dengan suasana rumahnya yang tenang, meskipun tidak sebesar rumah yang dia tempati sekarang ini.


"Mama, bolehkah Aku pulang ke Bogor dalam waktu dekat ini?" tanya Anjani pada mama mertuanya.


"Kenapa? Kamu tidak berpikir untuk berpisah dengan Elang kan?" tanya mama mertua dengan wajah menyelidik.

__ADS_1


__ADS_2