
"Diyah!"
"Ra."
Ara bingung untuk menoleh, karena ada dua orang yang sedang memanggil namanya secara bersamaan, dari arah yang berbeda juga.
Meskipun yang memanggil nama Ra, dengan suara yang pelan-pelan saja, tapi tetap terdengar jelas di telinganya Ara.
"Ayok!"
Akhirnya, Nanda menarik tangan Ara, agar ikut berjalan bersama dengan dirinya saja, dan tidak menghiraukan panggilan kedua kakak kelasnya itu.
Ara pun hanya bisa menurut saja, dengan tarikan tangannya Nanda, yang mengajaknya langsung berjalan menuju ke arah sekolah.
"Kamu sebenarnya ada apa Ra, dengan mereka berdua?" tanya Nanda, saat sudah memasuki gerbang sekolah.
"Maksud Kakak, hubungan bagaimana?" Ara balik bertanya, pada Nanda.
Ara tidak tahu, apa maksud dari pertanyaan yang diajukan oleh Nanda barusan.
Dan karena Nanda tidak menjawab pertanyaan darinya, akhirnya Ara kembali terdiam dan tidak bertanya apa-apa lagi.
Mereka berdua, Ara dan Nanda, hanya saling diam hingga Ara sampai di kelasnya sendiri.
"Kamu masuk ke kelas. Kakak mau langsung ke kelas juga." Pamit Nanda, yang tidak ingin berbincang-bincang terlebih dahulu dengan Ara.
Karena tidak mendapatkan jawaban apa-apa, dari pertanyaan yang dia ajukan tadi, Ara pun hanya bisa mengangguk saja.
Ara tahu, jika sudah dalam keadaan seperti ini, semuanya tidak akan jelas dalam waktu singkat, dan akan berakhir dengan sendirinya, seiring berjalannya waktu.
Mungkin, diam memang menjadi salah satu jawaban, yang tidak memerlukan banyak pemikiran. Meskipun akan ada banyak hal, yang akhirnya menjadi salah paham untuk waktu dekat nantinya.
"Semakin over protektif tuh cowok. Padahal cuma sepupu." Dika mengerutu sendiri.
"Ara makin diperketat," gumam Awan, dan hanya dia sendiri yang bisa mendengarkan.
'Kalian berdua tidak akan bisa mendapatkan Ara.' Nanda, berkata sendiri dalam hati.
"Ini Kak Nanda kenapa sih? Itu kak Awan sama kak Dika juga, ngapain mereka?" gumam Ara tidak jelas untuk didenger semua telinga.
Tapi karena Ara tidak mau jika ada kesalahpahaman lagi, dia tidak melakukan apa-apa. Dia hanya mengikuti kemauan Nanda, karena dia tahu bahwa, kakak sepupunya itu tidak akan pernah bisa menyakiti dirinya.
__ADS_1
*****
Waktu yang terus berjalan meninggalkan banyak kejadian-kejadian, dan kenangan yang indah ataupun sedih.
Tanpa kita sadari, waktu juga yang akan meninggalkan apa-apa yang kita inginkan ataupun kita hindari. Karena sang waktulah, yang bisa menjawab semua hal yang ada di dalam kehidupan ini.
Nanda, semakin sibuk dengan kegiatan dan urusannya yang padat di organisasi sekolah, OSIS.
Awan dan Dika, disibukkan dengan lembar-lembar tugas akhir sekolah, karena sebentar lagi akan menghadapi ujian sekolah untuk akhir tahun dan kelulusan mereka.
Sedangkan Ara sendiri, sibuk dengan pekerjaannya belajarnya, agar tetap bisa mempertahankan prestasi dan nilai-nilai mata pelajaran yang diunggulkan di sekolah.
Waktu untuk bertemu dan berbincang-bincang sama seperti waktu dulu, juga sudah tidak lagi ada. Paling-paling cuma bertegur sapa, saling melempar senyuman, tanpa banyak basa-basi lagi seperti dulu.
Dan ini merupakan hal yang lumrah terjadi, pada setiap orang, yang ada dalam kesibukan mereka masing-masing.
Namun ternyata Dika tidak henti-hentinya, meminta pada kedua orang tuanya, terutama pada mamanya, untuk bisa mendekatkan dirinya dengan keluarga Diyah, yang sekarang ini sudah dia ketahui, jika nama panggilan untuk Diyah adalah Ara.
Ini karena Dika berpikir bahwa, Diyah ataupun Ara, adalah anak yang penurut.
Jadi bisa dipastikan bahwa, Ara tidak akan menolak dirinya, jika kedua orang tuanya Ara setuju dengan tawaran yang diberikan oleh mamanya.
'Lho, dia kan tante yang waktu itu...' batin Dika terkejut.
Dika tidak pernah tahu, jika bundanya Ara adalah tante-tante, yang pernah dia tolong bersama dengan Awan waktu itu.
'Berarti Awan sudah tahu dong, jika tante yang waktu itu adalah bundanya Ara. Kok dulu dia pura-pura tidak tahu. Atau memang Awan tidak tahu, dan baru tahu setelah itu? tapi kenapa cowok es itu gak ngomong?"
Dika berpikir sendiri, saat mamanya dan bundanya Ara berbincang-bincang.
Ternyata, Anjani tidak mengenali siapa Dika. Dia tidak langsung mengenalnya, sebagai temannya Awan, yang saat itu sudah menolong dirinya dan juga Anggi.
Dan baru setelah Anggi datang, bersama dengan Ara dari rumahnya Miko, Anggi mengenali siapa yang sedang bertamu ke rumahnya saat ini.
"Lho Bunda-Bunda, ini kan kakak yang bareng kak Awan waktu itu!"
Anjani tidak langsung paham, dengan apa yang dikatakan oleh Anggi barusan. "Siapa Dek?" tanya Anjani, ingin tahu apa yang dikatakan oleh Anggi padanya.
Ara juga bingung, dengan apa yang dimaksud oleh adiknya, Anggi.
Begitu juga dengan mamanya Dika sendiri. Dia juga tidak tahu, apa yang dikatakan oleh anaknya Anjani yang kecil.
__ADS_1
Setelah Anggi menceritakan tentang kejadian waktu itu, Anjani baru menyadari, jika wajahnya Dika, memang sepertinya pernah dia lihat sebelumnya.
"Itu betul Kamu ya Mas Dika?" tanya Anjani memastikan ingatannya Anggi, dan juga dirinya sendiri.
Dika mengangguk mengiyakan pertanyaan yang berhubungan dengan kejadian waktu itu. Dan tentu saja, mamanya Dika merasa bangga, dengan apa yang sudah dilakukan oleh anaknya itu.
Mamanya Dika berpikir bahwa, ini adalah kebetulan yang menguntungkan, untuk semua yang sudah dia rencanakan.
"Wah... ternyata ini semua adalah takdir dan jodoh ya. Tuhan itu memang tahu, apa yang terbaik dan bagaimana menjalankan takdir_Nya, sehingga pada akhirnya ketemu juga kita semua."
Apa yang dikatakan oleh mamanya Dika, membuat Anjani tersenyum. Begitu juga dengan Ara sendiri, tanpa mereka berdua ketahui bahwa, ada rencana tersembunyi di balik semua perkataan dan senyuman dari mamanya Dika.
Padahal, Dika sendiri sebenarnya tidak tahu apa yang ingin dilakukan oleh mamanya, dengan berkata seperti itu.
Tapi pada saat mamanya itu menyampaikan maksudnya, ini membuat Dika sendiri terbelalak kaget.
Apalagi Anjani dengan Ara, yang benar-benar tidak pernah menyangka jika, mamanya Dika mempunyai pemikiran sejauh itu.
"Bagaimana kalau kita menjodohkan anak Saya, Dika, dengan Ara, anaknya Jeng Anjani?"
"Tapi, mereka berdua masih..."
Kalimat yang diutarakan oleh Anjani, belum selesai, saat mamanya Dika menyahuti dengan memotongnya.
"Tidak apa-apa. Yang penting mereka ada ikatan dulu. Itu tidak akan mempengaruhi kegiatan mereka sebagai pelajar. Ini hanya untuk ikatan hubungan saja. Saya akan membiayai Ara, sampai kuliah nantinya. Kan dia juga akan jadi mantuku nanti."
Ara bingung dengan apa yang dikatakan oleh mamanya Dika. Dia masih terlalu kecil, untuk tahu bagaimana keadaan yang sedang terjadi saat ini.
"Maaf Jeng. Saya rasa, ini terlalu cepat dan anak Saya, masih terlalu kecil untuk sebuah hubungan yang serius."
Anjani menolak tawaran yang datang, untuk anaknya, Ara, yang ingin dijadikan menantu di keluarganya Dika.
"Tapi, Saya tidak memaksa Ara untuk tinggal di rumah Saya, dan menjadi istri. Ini hanya untuk sebuah ikatan saja."
Mamanya Dika tetap kekeh dengan pendapatnya, dan berharap agar bundanya Ara, menyetujui usulan tersebut.
Dengan iming-iming kehidupan yang dia tangung untuk biaya Ara, dia berharap jika usulannya itu berhasil dan disetujui.
Sayangnya, ayahnya Ara, Abimanyu, sedang tidak ada di rumah. Dia sedang keluar kota, bersama dengan Elang dan juga papa Ryan.
Ada kepentingan perusahaan, yang harus segera diselesaikan oleh mereka.
__ADS_1