Dia Milikku ( Berbagi Cinta )

Dia Milikku ( Berbagi Cinta )
Harus Diputuskan Segera


__ADS_3

"Bagaimana mungkin ini bisa terjadi pada anak Saya Dokter?"


Papanya Dika langsung bertanya pada dokter, yang menangani anaknya, Dika. Di saat dokter tersebut selesai memberikan penjelasan tentang keadaan Dika.


Dari keterangan yang diberikan oleh dokter, terkait dengan keadaan Dika yang sedang dalam keadaan koma, tentu saja membuat papanya kaget. Karena sampai saat ini, anaknya itu sudah koma selama hampir tiga bulan lamanya.


Dokter tadi mengatakan bahwa, pasien yang koma, jarang sekali bisa bertahan lebih dari beberapa minggu. Orang yang tidak sadarkan diri untuk jangka waktu yang lebih lama, biasanya beralih ke keadaan vegetatif yang menetap.


Tapi, tergantung juga pada penyebab koma. Karena orang yang berada dalam keadaan vegetatif selama lebih dari satu tahun, sangat kecil kemungkinannya untuk bisa kembali bangun.


Dengan demikian, kata lain dari penjelasan yang diberikan oleh dokter tadi adalah, kesempatan Dika untuk bisa sadar dan kembali sembuh sangatlah tipis.


Dan tentunya juga ini memerlukan dana yang sangat besar. Itulah sebabnya, dokter memberikan dua pilihan bagi papanya Dika.


Mau melanjutkan perawatan medis Dika, yang belum tentu ada hasilnya. Selama kurang lebih untuk waktu sembilan bulan ke depan nanti.


Atau mencabut semua fasilitas yang disediakan untuk menunjang kehidupan Dika selama koma.


Tentu ini adalah pilihan yang sangat sulit bagi papanya Dika. Karena dia masih ingin melihat anaknya itu bisa kembali sembuh, dan hidup sebagaimana biasanya dengan dirinya.


Tapi dia juga tidak tahu, dari mana dana yang harus dia sediakan untuk biayanya. Karena dia sendiri, tidak banyak memiliki uang.


Tabungan yang ada, sudah habis untuk biaya Dika selama tiga bulan ini. Dan selama Dika tidak bisa melakukan apa-apa, dia juga tidak bisa banyak mengerjakan pekerjaan dan tugas yang seharusnya dilakukan.


"Saya akan memikirkannya lagi Dok. Tolong beri Saya waktu!" pinta papanya Dika, memohon kepada dokter yang menangani anaknya itu.


"Hemmm... baik Pak. Pihak rumah sakit akan memberikan kesempatan kepada Bapak untuk mengambil keputusan, selama tiga hari ini. Semoga Bapak bisa memberikan keputusan yang baik, dan sudah memikirkannya secara matang."


Papanya Dika mengangguk mengiyakan perkataan dokter tersebut. Setelah itu, dia pamit untuk keluar dari ruangan. "Kalau begitu, Saya permisi Dokter."


Begitu sampai di luar ruangan, papanya Dika menangis tersedu-sedu. Dia tidak tahu, apa yang harus dia lakukan untuk menjaga dan mempertahankan anaknya itu.


"Mamanya pasti akan sangat kecewa, jika Aku mencabut semua fasilitas tersebut. Karena itu berarti, secara tidak langsung Aku sudah membunuhnya."

__ADS_1


"Tapi jika tidak, dari mana datangnya uang sebesar itu? Dan ini dalam jangka waktu yang masih lama."


Papanya Dika terus bertanya kepada dirinya sendiri, dengan semua permasalahan yang dia hadapi sekarang.


Dia tidak tahu juga, apakah uang yang sekarang ini ada ditangannya, bisa melunasi administrasi rumah sakit selama tiga hari ke depan.


"Lebih baik Aku bertanya pada istriku. Mungkin saja dia punya solusinya. Atau bisa juga, dia akan minta tolong pada saudara-saudara yang lain."


Begitulah akhirnya. Papanya Dika memutuskan untuk datang ke rumah tahanan negara. Di mana selama ini istrinya berada.


Dia ingin meminta pendapat pada istrinya itu, untuk permasalahan yang dia hadapi sekarang ini.


*****


Di rumah ayah Edi.


Nanda mengutarakan niatnya untuk melamar Mita, pada mama dan papa sambungnya, Aksan.


"Tapi Nda, Kamu aja belum wisuda. Kerja juga belum. Bagaimana jika Kamu kerja dulu, baru kemudian melamar kekasihmu itu," tutur Yasmin, menasehati anaknya.


"Papa pikir, rencana Nanda ada baiknya Ma. Setidaknya, kedua orang tuanya Mita, akan menilai jika Nanda itu serius dalam menjalin hubungan dengan anaknya. Semua orang tua pasti akan merasa khawatir, jika tidak ada kejelasan dalam suatu hubungan anak-anak mereka."


Yasmin mengangguk-anggukkan kepalanya, mendengar penjelasan yang diberikan oleh suaminya itu.


Sebenarnya, dia juga membenarkan perkataan anak dan suaminya. Tapi Yasmin hanya merasa takut jika, apa yang dipikirkan oleh Nanda tidak sama seperti yang dipikirkan oleh Mita atau kedua orang tuanya.


"Mama hanya tidak mau jika, Kamu dianggap aji mumpung Nda. Secara, keluarga Mita itu termasuk keluarga kaya raya. Jadi, Kamu bergerak cepat agar tidak melepaskan kesempatan untuk bisa menjadi menantu dan suami dari keluarga mereka."


Nanda tersenyum mendengar alasan mamanya. Padahal, hal ini juga pernah dia pikirkan dan takuti.


Untungnya, papa dan mamanya Mita memberikan penjelasan kepada Nanda. Dan itu cukup membuat Nanda tidak khawatir lagi.


"Ma. Nanda sudah pernah mengatakan semua ini pada kedua orang tuanya Mita Ma. Dan mereka berdua bilang jika, itu tidak menjadi masalah besar buat mereka sendiri."

__ADS_1


"Karena kebahagiaan Mita, itu adalah hal yang sangat utama bagi mereka. Sama seperti yang Nanda inginkan juga Ma."


Mendengar perkataan anaknya, Yasmin tersenyum penuh keharuan. Dia tidak pernah menyangka bahwa, anaknya itu bisa berpikir dewasa ini. Sangat jauh berbeda dengan papa kandungnya, Wawan.


"Mama sangat bersyukur, karena Kamu bisa berpikir dewasa Nda. Tidak hanya mementingkan diri sendiri. Tapi... Mita bukannya, emhhh... sakit?"


Nanda menghela nafas panjang, saat mendengar perkataan mamanya. Dia tahu, kekhawatiran yang ada di dalam hati mamanya itu.


"Penyakit Mita sudah sembuh Ma. Dia hanya perlu cek up setiap enam bulan sekali. Untuk mengetahui sel-sel kanker yang sudah dimatikan."


"Kalau sudah sembuh, kenapa harus cek up terus?" tanya Yasmin cepat.


"Takutnya masih ada sel yang bisa berkembang lagi. Jadi harus tetap dipantau Ma. Dan Mita juga harus bisa menjalani hidup sehat, sama seperti yang diterapkan oleh dokter," sahut Nanda memberikan penjelasan kepada mamanya.


"Mama hanya merasa takut Nda. Jika anak cucu Kamu nanti, akan mengalami penyakit yang sama seperti Mita juga."


Ketakutan Yasmin tidak semuanya salah. Karena Kanker bisa diwariskan di dalam keluarga, meskipun kemungkinannya sangat kecil.


Jika ada anggota keluarga yang terdapat riwayat kanker dalam keluarga tersebut, maka dapat diturunkan dan dapat berisiko mengalami kanker pada anggota keluarga, anak keturunannya juga. Melihat dari apa yang disampaikan beberapa penelitian bahwa, kanker dapat terjadi karena genetik.


"Ma. Kita tidak boleh berprasangka buruk pada takdir Tuhan. Apalagi, takdir itu belum terjadi, dan masih ada di depan. Itu sama artinya dengan Mama mendahului kehendak Tuhan Ma."


Yasmin mengangguk mengiyakan perkataan anaknya itu.


"Iya Nda. Maafkan Mama Nda," ucap Yasmin dengan kesalahan yang sudah ada di dalam pikirannya tadi.


Nanda membuang nafas panjang, saat mendengar ucapan maaf dari mamanya.


"Tidak apa-apa Ma. Maafkan Nanda juga, jika permintaan Nanda ini terkesan terburu-buru dan memaksa juga." Nanda juga mengucapkan permintaan maafnya.


"Iya. Mama mau Kamu ajak untuk datang ke rumah orang tuanya Mita. Kapan?"


Akhirnya, Yasmin menyetujui permintaan anaknya itu, dan menanyakan tentang kapan waktu yang diinginkan oleh Nanda.

__ADS_1


__ADS_2