Dia Milikku ( Berbagi Cinta )

Dia Milikku ( Berbagi Cinta )
Perubahan Pikiran Yasmin


__ADS_3

Hari berganti dengan minggu. Dan semua tetap berjalan dengan biasa seperti kehidupan sebelumnya.


Yang berbeda hanya keadaan Yasmin yang sekarang. Dia kembali tinggal di rumah kedua orang tuanya lagi. Dia tidak menempati rumah kontrakannya, karena masa kontraknya sudah berlalu beberapa minggu di belakang. Wawan juga sudah tidak berkabar, dan hilang seperti ditelan bumi dan juga waktu. Jadi, otomatis Yasmin hidup sendiri bersama dengan anaknya saja, yaitu Nanda.


Yasmin, mulai menata kehidupannya yang baru. Untuk sementara waktu, dia menitipkan Nanda, anaknya, pada bibi pembantu rumah untuk di jaga. Dia mulai mencari-cari pekerjaan, yang bisa dia kerjakan, untuk melanjutkan kehidupannya sendiri bersama dengan Nanda nanti.


Setelah beberapa kali melamar pekerjaan, akhirnya Yasmin diterima kerja juga. Dia diterima bekerja di sebuah perusahaan garmen yang tidak terlalu besar. Dia pun mencoba untuk bersabar, untuk kehidupannya yang berbalik dari kehidupannya yang dulu. Jauh berbeda dan tidak akan bisa kembali lagi pada waktu yang telah berlalu.


Dia juga sudah berbaikan dengan kakaknya, Sekar dan juga Abimanyu. Dia mengakui, bila selama ini telah dibutakan cinta dengan semua janji manis Wawan.


Yasmin juga berencana untuk menuntut cerai suaminya itu, dan tidak lagi peduli dengan semua tingkah lakunya lagi. Dia hanya berpikir untuk bisa mengumpulkan uang dan membayar utang-utangnya. Dia tidak mau melibatkan dirinya sendiri dengan semua permasalahan yang dibuat oleh Wawan, begitu juga dengan semau hutang-hutang Wawan.


Setelah seminggu Yasmin bekerja, dia mendapatkan kabar tentang suaminya itu. Kabar yang di dengar Yasmin, lebih mengejutkan lagi karena ternyata, suaminya itu, kabur dengan mahasiswi yang sudah terlanjur berbadan dua akibat perbuatan Wawan.


Yasmin hanya bisa tersenyum miris, mendengar berita tersebut dari salah satu temannya Wawan.


"Aku yang buta selama ini, membiarkan laki-laki seperti dia berada di sampingku, meracuniku otak dan juga hatiku, dengan semua kata dan janji manisnya. Aku jadi jauh dari keluarga serta saudara-saudaraku karena dia juga. Hiks hiks, semoga Aku tidak lagi menemukan laki-laki seperti dia di waktu yang akan datang."


Yasmin membulatkan tekadnya, untuk bisa bangkit dan menjauh dari Wawan. Dia bahkan sudah mengajukan gugatan cerai pada pengadilan agama. Dan keputusan pengadilan akan dia terima tiga hari ke depan.


Dia berharap, pengadilan agama akan mempercepat proses gugatan yang dia ajukan, karena alasan perceraian yang dia berikan sangat masuk akal dengan berbagai macam bukti yang cukup kuat.


Ayah Edi pun akhirnya tidak lagi bersikap acuh. Dia merasa jika anaknya Yasmin, sudah bisa berubah menjadi lebih baik, daripada kemarin-kemarin.


Begitu juga dengan Sekar. Jika dia ada di rumah, dia akan ikut menjaga keponakannya itu, Nanda. Dia tidak mau jika Nanda akan ikut terkena dampak dari perceraian kedua orang tuanya nanti.


Sekar juga sering mengajak Nanda, untuk berkunjung ke rumah Abimanyu. Di sana, dia akan bermain-main bersama Ara juga, anaknya Abimanyu dengan Anjani.


Ibu Sofie, tidak lagi memiliki perasaan yang sama seperti waktu dulu pada Anjani. Dia justru merasa bersyukur, karena Anjani tidak membalas dendam pada anaknya, Yasmin, dengan semua perbuatan Yasmin padanya selama ini.

__ADS_1


Ibu Sofie jadi menyesal, karena dulu, sering membuat rencana untuk membuat Anjani tidak betah berada di samping anaknya, Abimanyu.


"Jani. Maafkan Ibu ya. Selama ini, Ibu sering jahat dan tidak memikirkan perasaan Kamu. Ibu menyesal, hiks hiks hiks."


Anjani memeluk ibu mertuanya itu. Dia tidak pernah memiliki perasaan benci ataupun dendam pada ibu Shofie. Bahkan pada Yasmin, dia juga tidak memiliki rasa dendam, meskipun adik iparnya itu pernah membuatnya harus kehilangan bayi yang masih ada di dalam kandungannya.


Anjani berpikir, jika semua ini adalah jalan takdir yang sudah ditentukan Tuhan untuknya. Dia meyakini bahwa, Tuhan tidak akan pernah membiarkan umatnya terpuruk lebih dalam dan di luar batas kemampuan umat_Nya sendiri.


Badai pasti akan berlalu seiring waktu yang berjalan.


*****


Wawan, yang berusaha untuk menghindari Yasmin dan semua permasalahan yang dia buat, harus pasrah saat di tangkap oleh polisi di daerah Bandung.


Pemilik percetakan dan beberapa korban penipuan yang dia lakukan, melapor kepada pihak yang berwajib.


Pada saat pihak kepolisian menghubungi ayah Edi, sebagai penjamin pada waktu kasus yang pertama, ayah Edi hanya menjawab jika, dia dan semua anggota keluarganya, tidak lagi ada hubungannya dengan Wawan.


Ayah Edi juga mengatakan bahwa, dia sendiri bersama dengan keluarganya sudah menjadi korban penipuan yang dilakukan oleh Wawan.


Itulah sebabnya, Wawan di tangkap dan ditahan, tanpa adanya pihak keluarga yang bisa dimintai keterangan dan jaminan.


Bisa dipastikan jika kali ini, Wawan tidak akan bisa keluar dari semua tuntutan para korbannya dan dia akan dipenjara, untuk mempertanggung jawabkan perbuatannya, dengan laporan dari orang tua gadis yang dia ajak kabur dan sudah berbadan dua juga.


"Biar Wawan merasakan, bagaimana enaknya hidup dalam lembaga pemasyarakatan. Di dalam sana, dia tidak perlu berpikir untuk bekerja dan pusing untuk mencari makan, karena akan dijamin pihak yang berwajib. Semoga dengan begitu, dia akan sadar dan bisa berubah suatu hari nanti."


Ayah Edi, tetap mendoakan agar mantan menantunya itu bisa sadar, dan merenungi semua yang sudah dia lakukan, di dalam penjara nanti. Dia juga ingin, agar Wawan berubah, meskipun tidak ada hubungannya lagi dengan anaknya, Yasmin.


Tapi, bagaimanapun juga, cucunya, Nanda, adalah anaknya Wawan. Ada darah yang sama, yang mengalir di dua tubuh yang berbeda. Jadi, dia tidak mau jika Nanda akan menuruni sifat dan perilaku papanya itu, di waktu ke depan.

__ADS_1


"Yang. Eyang kung!" panggil Nanda,nmembuyarkan lamunan ayah Edi.


"Eh, cucu Eyang. Ada apa Sayang?" tanya ayah Edi, kemudian mengambil Nanda yang sudah bisa berjalan, untuk dia gendong.


"Cu, Cucu, Yang, Eyang. Cu."


Ternyata, Nanda mau minat tolong pada ayah Edi, untuk mengambilkannya botol susu yang berada tidak jauh dari tempat duduk ayah Edi.


Ayah Edi jadi tahu apa maksud dari perkataan Nanda, karena Nanda juga menunjuk-nunjuk botol susu bayi miliknya, yang ada di meja, disebelah tempat duduknya.


Nanda tersenyum penuh arti. Dia ingin mengatakan terima kasih pada eyang kakung_nya, tapi sepertinya dia hanya bisa tersenyum sambil terus meminum susu yang berada di tangannya saat ini.


"Nanda, Sayangnya Mama!"


Yasmin langsung memeluk anaknya, Nanda, begitu pulang ke rumah. Dia baru saja datang dari tempatnya bekerja.


"Yah. Yasmin mau minta ijin," kata Yasmin, saat pelukannya pada Nanda dia lepaskan.


"Ijin apa?" tanya ayah Edi.


"Yasmin mau ijin, untuk bisa ikut bekerja ke luar negeri Yah. Yasmin pikir, jika hutang-hutang Yasmin tidak akan bisa lunas, jika hanya bekerja di garmen seperti sekarang ini Yah."


Yasmin mengemukakan bahwa, dia ingin segera memiliki uang yang banyak, untuk digunakan membayar hutang-hutang yang dia miliki. Karena jumlahnya tidak sedikit dan itu perlu waktu lama untuk bisa melunasinya.


"Apa kamu sudah berpikir dengan matang?" tanya ayah Edi, memastikan jika Yasmin tidak akan salah langkah lagi.


"Tidak Yah. Yasmin sudah bertekad, apapun yang terjadi, Yasmin harus bisa bangkit dari keterpurukan ini. Jika tidak dari diri Yasmin sendiri, lalu apa yang bisa Yasmin lakukan untuk Nanda besok? Aku tidak mau, jika hidup Nanda akan ikut terkatung-katung karena mamanya masih banyak tanggungan hutang yang belum bisa di bayar. Ayah dan ibu juga sudah terlalu banyak Yasmin repotkan selama ini. Bahkan, Ayah dan ibu juga memiliki hutang di kantor gara-gara Yasmin. Maafkan Yasmin Yah."


Akhirnya, Yasmin benar-benar nekad dan mendaftarkan diri pada sebuah yayasan yang memiliki jalur untuk para TKI ke beberapa negara tetangga.

__ADS_1


__ADS_2