Dia Milikku ( Berbagi Cinta )

Dia Milikku ( Berbagi Cinta )
Kejutan Untuk Abimanyu


__ADS_3

Langit Bogor tiba-tiba berubah mendung. Mungkin sebentar lagi akan turun hujan. Apalagi beberapa hari ini, hujan tidak turun di kota Bogor.


Anjani, mengajak mama Amel untuk masuk ke dalam rumah saja. Meskipun di gazebo-gazebo kafe miliknya ini, mereka tidak akan kehujanan, tapi tentu itu akan menggangu pendengaran saat mereka berdua berbincang-bincang nantinya.


Akhirnya, Anjani dan mama Amel masuk ke dalam rumah. Mereka mengobrol di ruang tamu, sambil menunggu kedatangan Abimanyu.


"Mas Abi kenapa belum sampai ya, apa terjadi sesuatu padanya?" tanya Anjani dalam hati. Dia merasa khawatir dengan keadaan keadaan suaminya, yang belum juga sampai di rumah. Padahal, biasanya, ini sudah waktunya dia sampai di rumah, jika perhitungan waktunya tepat dan tidak ada halangan apapun di jalan.


"Apa sebaiknya Aku telpon saja ya? tapi tadi dia bilang sedang bersiap-siap untuk pulang. Dan ini sudah lewat satu jam dari perhitungan biasanya. Jika kena macet atau hal lain, dia juga biasa memberikan kabar."


Anjani terus berpikir bagaimana sebaiknya dia mencari tahu keberadaan dan kabar suaminya. Pertanyaan yang diajukan oleh mama Amel, tidak dia dengar, sehingga dia tidak menjawabnya.


"Apa tidak sebaiknya Kamu buka cabang di Jakarta? Rumah Kamu yang dari Elang, bisa dijadikan tempat usaha itu. Sekarang Elang dan Adhisti sudah pindah ke Batam, jadi tidak akan ada masalah apa-apa." Mama Amel, memberikan usulan untuk Anjani, agar bisa berada di Jakarta dan tidak terlalu sering di tinggal-tinggal oleh Abimanyu. Apalagi sekarang dia juga sedang hamil dan butuh perhatian yang lebih.


Mama Amel, melihat Anjani yang diam dan tidak menjawab pertanyaan serta usulan darinya tadi. Anjani terlihat seperti orang yang sedang melamun.


"Jani. Kamu tidak apa-apa?" tanya mama Amel, sambil memegang tangan Anjani untuk menyadarkannya dari lamunan.


"Eh, emhhh... ya Ma, ad_ada apa ya Ma?" tanya Anjani gugup. Dia tergagap saat menjawab pertanyaan dari mama Amel, yang membuatnya terkejut karena tangannya sambil dipegang oleh mama Amel. Dia ketahuan jika sedang melamun.


"Kamu melamun apa Anjani? Kamu merasa khawatir dengan keadaan Abimanyu ya? Telpon saja dia. Mungkin dia sedang mampir ke mana dulu, dan lupa memberitahukannya padamu tadi," kata mama Amel, memberikan beberapa gambaran apa yang mungkin saja terjadi pada Abimanyu sekarang ini.


Anjani tersenyum mendengar perkataan dari mama Amel. Dia merasa jika kekhawatiran yang dia rasakan berlebihan. Bukankah Abimanyu itu juga punya kepentingan dan keperluan yang mungkin saja, tidak ada hubungannya dengannya, sehingga Abimanyu berpikir jika tidak perlu memberitahukan hal-hal yang di anggap tidak penting.


"Mungkin karena hormon kehamilan ini juga Ma, yang membuat Anjani merasa sedikit berlebihan dan merasakan kekhawatiran yang tidak biasa."


Mama Amel mengangguk sambil tersenyum tipis mendengar perkataan dan alasan yang dikemukakan oleh Anjani padanya. Dia pikir, hal yang biasa juga itu akan terjadi padanya, jika berada pada posisi dan situasi yang sama seperti yang dialami oleh Anjani saat ini.


Akhirnya, mama Amel kembali mengulang pertanyaan dan usulannya, yang tadi dia kemukan. Ini jika Anjani mau, soalnya rumah itu sudah menjadi rumah Anjani dari dulu. Saat Elang menjual rumahnya dan pamit pada Mama Amel untuk pindah ke Batam, memulai kehidupan baru untuk keluarganya, dia menyerahkan surat-surat rumah Anjani dan menitipkannya pada mamanya, mama Amel, supaya suatu hari nanti, bisa di serahkan kembali pada Anjani.

__ADS_1


"Oh, jadi mas Elang dan mbak Adhis serta Awan, sekarang tinggal di Batam Ma?" tanya Anjani memastikan.


Mama Amel mengangguk mengiyakan. Dia sebenarnya tidak mengijinkan anak satu-satunya itu pindah ke Batam. Tapi karena ini untuk kebaikan mereka berdua dan anak-anak mereka nantinya, akhirnya mama Amel dan papa Ryan, menyetujui dan memberikan ijin pada anaknya itu. Usaha Elang yang ada di Jakarta, diserahkan pada beberapa orang kepercayaan yang akan selalu memberikan laporan kepada Elang setiap dua bulan sekali. Elang hanya akan datang ke Jakarta enam bulan sekali, dan itupun tidak lama. Hanya untuk urusan pekerjaan dan mampir ke rumah mamanya untuk menginap beberapa hari saja.


Anjani, ikut merasakan kesedihan yang dialami oleh mama Amel. Dia tahu mama Amel sedang bersedih, dari suara dan juga air mukanya yang terlihat sendu. Meskipun mama Amel tersenyum, tapi Anjani tahu, jika dalam hatinya mama Amel, sebenarnya sangat sedih.


*****


Gerimis mulai turun. Angin jadi berhembus lebih kencang daripada tadi. Hawa dingin yang biasa, jadi semakin dingin saja sekarang.


Tin, tin!


Suara klakson mobil terdengar. Tapi deru suara mesin mobil tidak terdengar, karena sudah bercampur dengan suara rintik hujan yang mulai datang, mengantikan gerimis kecil yang tadi.


Tak lama, muncul Abimanyu di ambang pintu masuk ke dalam rumah.


"Waallaikumsalam. Mas Abi," sapa Anjani, setelah menjawab salam dari suaminya itu, kemudian berdiri menyambut kedatangan Abimanyu.


Mama Amel juga menjawab salam Abimanyu, tapi dia tetap diam dan duduk di tempatnya yang semula. Dia hanya tersenyum saat Abi melihat kearahnya saja.


"Lho, ada mama Amel. Ada apa ya ini?" tanya Abimanyu, mengerutkan keningnya, saat melihat keberadaan mama Amel di rumah istrinya. Apalagi mama Amel jauh-jauh datang sendiri dari Jakarta ke Bogor seperti sekarang. Ini hal yang tidak biasa.


Akhirnya, Abimanyu ikut duduk di ruang tamu. Anjani masuk ke dalam, mengambilkan minuman untuk suaminya yang baru saja datang.


"Mama Amel kenapa tidak memberikan kabar terlebih dahulu, kalau mau datang ke sini?" tanya Abimanyu, yang merasa tidak enak hati karena mengharuskan mama Amel menunggu kedatangannya.


"Tidak apa-apa. Mama pikir, Kamu sedang berada di Bogor, makanya mama langsung saja datang tanpa memberikan kabar terlebih dahulu. Mama mau kasih kejutan juga, tapi justru Mama yang dapat kejutannya dari Anjani."


"Kejutan? kejutan dari Anjani... maksudnya Mama kejutan apa?" tanya Abimanyu bingung. Dia tidak tahu, apa yang sedang dibicarakan oleh mama Amel sekarang ini.

__ADS_1


"Itu... emhhh, Jani... dia sedang... ah, nanti saja biar Anjani sendiri yang bilang ke Kamu. Mama akan bukan siapa-siapa juga buat keluarga kalian berdua," jawab mama Amel, yang membuat Abimanyu semakin merasa penasaran.


Tapi, sebelum dia kembali bertanya pada mama Amel, Anjani sudah muncul dari dalam dengan membawa nampan kecil berisi minuman hangat untuk Abimanyu.


Anjani, meletakan nampan tersebut di atas meja dan mengambil gelas untuk diminum terlebih dahulu, agar suaminya itu merasa lebih baik dan terasa hangat. Itu karena cuaca di luar sudah semakin dingin. Hujan juga sudah turun dan bukan lagi gerimis.


Abimanyu, menerima gelas yang diberikan oleh istrinya itu. Dia berterima kasih, kemudian segera meminumnya. Tak lama, dia sudah kembali selesai dan bersiap untuk bertanya-tanya pada Anjani tentang kejutan yang dimaksud oleh mama Amel tadi.


"Sayang. Kata mama Amel, Kamu ada kejutan untukku, apa itu?" tanya Abimanyu, dengan tidak sabar.


"Maaf Jani. Tadi Mama hampir saja keceplosan ngomong soal yang tadi. Untung Mama ingat dan tidak jadi ngomong. Biar Kamu saja yang kasih kabar baik itu pada Abimanyu. Secara dia kan suami Kamu juga, hehehe..."


Mama Amel terkekeh sendiri, karena mengingat keteledorannya, yang hampir saja ikut campur dalam urusan keluarga manatan menantunya itu.


"Oh, iya gak apa-apa Ma. Apa tidak sebaiknya nanti saja? Biar Mama Amel bicara tentang keperluannya hingga datang ke sini mencarimu Mas," ujar Anjani, yang merasa tidak enak karena mama Amel harus menunggu lama untuk kedatangan Abimanyu tadi.


"Tidak apa-apa. Kamu bicara saja dulu, dia pasti akan sangat senang jika mendengarnya darimu. Dia akan lupa dengan rasa capek dalam perjalanannya tadi." Mama Amel, memberikan kesempatan kepada Anjani supaya bisa mengatakan kejutannya pada Abimanyu sekarang.


"Apa sih Sayang? jadi tambah penasaran nih!" ucap Abimanyu tidak sabar.


"Emhhh, itu Mas, Jani... Jani sekarang sudah... Jani hamil Mas," kata Anjani menjawab pertanyaan dan penasaran yang ada di hati suaminya, Abimanyu.


"Benarkah?" tanya Abimanyu dengan mata membola. Dia kaget mendengar perkataan istrinya itu. Tapi tak lama, dia meloncat kegirangan dan segera memeluk Anjani dengan wajah berbinar-binar dan kebahagiaan yang terlihat dengan jelas.


"Ini adalah hal yang paling membahagiakan yang ingin Aku dengar darimu Sayang," kata Abimanyu sambil memeluk Anjani. Dia menciumi pipi dan kening Anjani berkali-kali. Meluapkan rasa bahagia yang sedang dia rasakan.


Mama Amel, ikut tersenyum bahagia, melihat kebahagiaan yang dia lihat sekarang ini untuk Anjani, mantan istri anaknya, Elang Samudra.


"Semoga kalian akan terus berbahagia," ucap mama Amel dalam hati, mendoakan kebahagiaan Anjani dan Abimanyu.

__ADS_1


__ADS_2