Dia Milikku ( Berbagi Cinta )

Dia Milikku ( Berbagi Cinta )
Operasi Berlangsung


__ADS_3

Operasi yang dilakukan oleh Abimanyu, akan dilaksanakan pada hari ini. Perawat sudah membawanya masuk ke dalam ruang operasi, tiga puluh menit yang lalu. Dan sekarang, lampu merah yang berada di atas pintu ruang operasi, menyala, tanda jika operasi sedang berlangsung.


Anjani, yang diterima oleh ibu Sofie dan ayah Edi, menunggu di luar ruangan. Mereka bertiga duduk sambil berdoa, demi keselamatan dan kelancaran proses operasi yang dijalani oleh Abimanyu saat ini.


Sekar dan Juna, tidak bisa ikut datang dan menunggu kakaknya, karena perut Sekar yang sudah membesar. Dan Juna, menjaganya di rumah, bersama dengan anak-anak, Ara dan juga Nanda.


"Anjani, Kamu yang tenang ya. Kita serahkan semua ini pada tim dokter dan perawat yang ada di dalam. Kita pasrahkan saja semuanya pada Tuhan. Yang penting, kita sudah berusaha sejauh ini," kata ayah Edi, memberikan dukungan pada anak menantunya, yang sudah dia anggap sebagai seperti anak sendiri.


"Iya Yah. Terima kasih, karena selalu ada untuk kami Yah," jawab Anjani, dengan tersenyum.


Dia merasa sangat bersyukur, karena mendapatkan mertua yang baik dan banyak membantunya, disaat dia membutuhkan perhatian, waktu dan biaya juga.


Anjani tidak tahu, apa yang akan terjadi, jika tidak ada keluarga suaminya yang selalu ikut mendukungnya selama ini.


Ibu Sofie tidak lagi bisa berkata apa-apa. Dia hanya bisa diam sedari tadi. Dia banyak-banyak berdoa, untuk keselamatan dan kelancaran proses operasi anaknya, Abimanyu.


"Kalian minumlah dulu, biar lebih tenang."


Ayah Edi, memberikan sebotol air mineral pada Anjani dan juga istrinya, ibu Sofie, masing-masing satu buah. Dan ayah Edi juga meminumnya, untuk bisa menenangkan hatinya sendiri.


Keduanya, menerima botol air mineral tersebut, dan meminumnya seteguk.


Detik-detik berlalu terasa sangat lama bagi mereka bertiga. Apalagi, dalam keadaan menunggu seperti situasi yang sedang mereka rasakan saat ini.


Selama hampir satu jam kemudian, lampu merah yang menyala di atas pintu ruang operasi padam. Tanda bahwa, operasi telah selesai.


Anjani dan kedua mertuanya, menghela nafas panjang. Mereka bertiga merasa lega, karena operasi sudah berakhir. Tinggal menunggu Abimanyu yang akan di bawa keluar nanti, oleh perawat yang tadi membawanya.


Tapi ternyata yang keluar hanya tim dokter. Ini membuat Anjani dan ayah Edi segera bangkit. Begitu juga dengan ibu Sofie.


"Bagaimana operasi suami Saya Dok?" tanya Anjani memastikan.


"Sabar Bu. Semua berjalan lancar dan tidak ada halangan apapun. Saat ini, suami Ibu, masih ada di ruang operasi, untuk memberikan waktu pada efek obat tidur yang masih ada. Nanti, jika sudah sadar, perawat akan memindahkan suami ibu ke kamar. Jadi, tunggu saja. Tapi jangan kaget, jika obat pereda rasa nyeri pasca operasi habis. Dia akan mengalami rasa nyeri yang luar biasa. Itu normal, yang penting jangan di apa-apa kan. Jika tidak tahan, panggil saja perawat, biar bisa segera di tangani."


"Terima kasih Dok," kata Anjani, setelah dokter memberikan penjelasan.

__ADS_1


Dokter mengangguk, kemudian berjalan kembali bersama dengan rekannya. Mereka akan beristirahat sebentar, sebelum menangani operasi berikutnya.


Kini, Anjani dan kedua mertuanya kembali ke tempat duduknya yang tadi, dan menunggu hingga Abimanyu keluar dari ruang operasi.


"Kita tunggu di sini saja. Semoga, Abi akan segera sadar," kata ayah Edi berharap agar anaknya segera sadar.


"Jangan Yah. Biar dia tidak merasakan rasa sakit terlebih dahulu. Kasihan Yah, kan sakit nyerinya itu juga tidak biasa," batah ibu Sofie, yang merasa ngeri, membayangkan anaknya kesakitan, karena nyeri pasca operasi tadi.


Mereka semua justru berdebat sendiri, dengan keinginan mereka masing-masing.


Sedangkan Anjani, hanya bisa berdoa, untuk kesembuhan suaminya dan juga berharap agar nanti, saat suaminya itu sadar, rasa nyeri yang dirasakan tidak terlalu hebat, sama seperti yang dikatakan oleh dokter tadi.


Dan ternyata, Abimanyu belum juga keluar, meskipun sudah lewat dua puluh menit, dari lamanya operasi selesai.


"Kok belum keluar juga?" tanya ibu Sofie, yang terlihat khawatir.


"Mungkin memang mas Abi bekum sadar Bu," jawab Anjani menenangkan.


"Tadi katanya biar lama tidak apa-apa. Biar dia tidak langsung merasa sakit," kata ayah Edi, mengingatkan keinginan istrinya tadi, saat mereka berdua berdebat.


"Kita tunggu saja sebentar lagi Bu, Yah. Jika lebih dari tiga puluh menit, baru kita bertanya. Siapa tahu, ada sesuatu yang terjadi pada mas Abi."


Akhirnya, Anjani mencoba untuk menenangkan hati dan pikiran kedua mertuanya, yang tentunya sangat mencemaskan keadaan suaminya. Karena sebenarnya, dia juga merasakan hal yang sama seperti yang mereka rasakan.


Tapi karena Anjani tidak mau menambah beban pikiran dan rasa khawatir, dia mencoba untuk terlihat tenang dan bisa menunggu waktu, tanpa terbebani dengan rasa was-was yang ada di dalam hatinya.


Lima belas menit kemudian, pintu ruang operasi terbuka kembali. Perawat keluar dengan menarik brangkar pasien, yang ada Abimanyu di atasnya.


"Mas Abi."


Anjani segera berdiri, menyongsong kedatangan suaminya, yang keluar dari ruangan tersebut.


"Abi. Nak!"


"Jangan berteriak Bu," kata ayah Edi, memperingatkan istrinya, supaya tidak berteriak keras di ruangan yang seharusnya tenang ini.

__ADS_1


Mereka berdua, juga ikut berdiri dan mendekat ke arah brangkar yang terus berjalan, dengan di dorong serta di tarik oleh dua perawat yang sama. Karena perawat itu juga yang tadi membawa Abimanyu ke ruang operasi.


"Mas. Mas Abi bisa mendengar Jani?" Jani bertanya pada suaminya, yang sedang memandang ke arahnya, namun hanya diam saja.


Abimanyu hanya mengangguk sambil tersenyum tipis. Dia belum bisa banyak bergerak. Dua juga seakan-akan sulit untuk membuka mulutnya untuk bersuara, meskipun hanya untuk sekedar menyapa istri ataupun kedua orang tuanya.


Anjani tersenyum dan mengangguk. Dia merasa sangat senang karena bisa melihat suaminya itu, dalam keadaan baik-baik saja, setelah menjalani operasi tadi.


Sekarang, Abimanyu sudah berada di dalam kamarnya sendiri. Dia diatur sedemikian rupa oleh perawat, sehingga tidak akan menekan luka, yang tadi baru saja selesai ditangani saat operasi tulang belakangnya.


Perawat memberikan beberapa nasehat dan instruksi, jika terjadi sesuatu pada pasien. Karena harus tetap berhati-hati dalam melakukan apa-apa, pada pasien pasca operasi.


"Baik. Terima kasih Sus," kata Anjani, setelah kedua perawat pamit untuk keluar dari dalam kamar.


Setelah perawat pergi, Anjani mendekat ke tempat tidur suaminya dan menggenggam tangannya yang bebas dari segala sesuatu dan alat-alat medis yang menempel.


"Mas. Alhamdulillah, semua sudah selesai. Sekarang Mas Abi istirahat ya. Jani ada di sini, di samping mas Abi," kata Anjani sambil tersenyum, meskipun matanya tampak berembun.


Anjani merasa haru melihat keadaan Abimanyu, yang tampak lemah sekarang ini.


"Iya Abi. Tidurlah. Ibu dan ayah juga akan ikut menjaga Kamu di sini."


Ibu Sofie, juga mengatakan yang sama. Dia dan suaminya, ayah Edi, memang berencana untuk ikut berjaga-jaga. Ini untuk menghindari beberapa kejadian yang tidak diinginkan, karena kadang kala terjadi sesuatu pada pasien pasca operasi.


Misalnya mengamuk karena menahan rasa sakit yang luar biasa atau hal lain. Dan ayah Edi bersama dengan istrinya, tidak ingin, Anjani menjaga Abimanyu sendiri, jika hal itu benar-benar terjadi nanti.


"Terima kasih Yah, Bu," kata Anjani, sambil tersenyum ke arah mertuanya itu.


Dia pun merasa lebih lega, karena mereka selalu bisa mengerti keadaan Anjani dan Abimanyu selama Ini.


Hal yang selalu disyukuri oleh Anjani, yang selama ini sudah tidak memiliki keluarga, terutama kedua orang tua.


Sekarang, Abimanyu sudah tampak tertidur lagi. Tentu saja dia merasa sangat lelah, setelah menjalani operasi yang memakan waktu lama, sekitar satu jam lebih.


Dan tadi, sebelum pergi, perawat menyuntikkan obat tidur lagi ke cairan infus Abimanyu, untuk menghindari dirinya kesakitan dalam waktu dekat ini.

__ADS_1


Ini membuat pasien punya kesempatan untuk beristirahat sedikit lebih nyaman lagi, dan mengurangi efek nyeri pada luka mereka.


__ADS_2