
"Kakak belum punya pacar. Tapi..."
Mita menoleh ke arah Nanda. Dia menunggu kelanjutan dari kalimat yang diucapkan oleh Nanda. Karena Nanda tidak menuntaskan kata-katanya.
"Tapi apa Kak?" tanya Mita, yang tidak sabar untuk segera mengetahui, apa kelanjutan dari kalimat jawaban Nanda yang tadi.
"Emhhh... Kakak tidak siap, jika dia tidak menerima Kakak yang broken home. Papa juga bukan orang baik-baik. Dia punya kebiasaan menikah."
Mita mengerutkan keningnya, mendengar jawaban yang diberikan oleh Nanda. Apalagi, Nanda bukan hanya mengatakan bahwa, dia tidak punya pacar. Tapi juga mengatakan bagaimana keadaan keluarganya, yang tidak sama seperti keluarga yang lain.
"Kebiasaan menikah? Maksud Kakak?"
Mita masih belum mengerti, apa maksud dari perkataan yang diucapkan oleh Nanda, soal papa kandungnya sendiri.
"Dia sudah pernah menikah lebih dari empat atau lima kali. Itu pun mama Kakak, tidak masuk hitungan."
Tentu saja, Mita terbelalak kaget, mendengar jawaban tersebut.
"Masak sih Kak?" tanya Mita tidak percaya.
Tapi ternyata, Nanda mengangguk mengiyakan pertanyaan darinya.
"Kakak tidak siap jika, orang tuanya pacar Kakak akan menentang hubungan yang ada. Karena melihat bagaimana latar belakang keluarga Kakak."
"Bukankah banyak orang tua, yang menginginkan agar anaknya itu menikah dengan seorang pria yang jelas dari segi apapun? Baik bibit, bebet dan bobot."
Sekarang, Mita paham dengan ketakutan yang ada pada Nanda.
"Tapi, tidak semua orang tua seperti itu Kak," kata Mita, mengingatkan pada Nanda supaya tidak menyapu bersih, penilaian tersebut.
Nanda hanya tersenyum tipis, mendengar perkataan yang diucapkan oleh Mita, soal penilaian terhadap calon menantu idaman para orang tua.
Dia juga berharap, agar kedua orang tua dari calon istrinya nanti, adalah orang-orang yang bijak. Dan tidak mempermasalahkan soal latar belakang keluarganya yang tidak utuh.
Apalagi Nanda juga sadar jika, dia adalah anak yang lahir dari hasil pernikahan instan.
"Jadi?"
Sekarang, Nanda menoleh ke arah Mita yang bertanya kepadanya.
"Jadi... bagaimana maksudnya?" tanya Nanda, yang tidak tahu apa maksud dari pertanyaan Mita barusan.
__ADS_1
"Ja_ jadi, Si_siapa cewek... cewek yang mau dijadikan... jadi pacar Kakak?"
Mita bertanya dengan terbata-bata. Dia ragu dan juga takut jika, cewek yang saat ini ada di dalam hatinya Nanda, bukanlah dirinya.
Nanda tersenyum, mendengar pertanyaan itu. Dia tahu, ke mana arah pembicaraan yang mereka lakukan saat ini. Meskipun Mita tidak berkata secara langsung, atau bertanya tentang perasaan Nanda terhadap dirinya.
"Kakak tidak yakin Mita. Bagaimana bisa dia bahagia dengan Kakak, yang masih berstatus sebagai mahasiswa?"
"Secara, Kakak untuk ongkos bensin saja masih minta. Gak ada kerjaan yang bisa menghasilkan uang sendiri."
Nanda mencoba untuk memberikan pengertian kepada Mita, jika dia tidak siap jika harus dituntut untuk segera menikah. Atau pacaran dengan cara yang biasa dilakukan oleh pasangan lain.
Misalnya, pergi jalan-jalan ke tempat wisata yang mahal. Atau ke mall dan membelikan apa saja yang diinginkan pacarnya.
"Hahaha... Kakak aneh-aneh saja pikirannya," sahut Mita, dengan terkekeh geli.
Karena pernyataan yang diberikan oleh Nanda, memang sering terjadi. Dan Mita, juga pernah mendengar keluhan seperti ini di sosial media.
Jika cowok yang tidak suka mentraktir ceweknya, di nilai pelit dan perhitungan.
Mereka tidak tahu jika, cowoknya itu belum tentu punya pekerjaan yang menghasilkan uang banyak.
"Eh, tapi kan itu beneran Mita," ujar Nanda, yang kadang kala mendengar curhatan beberapa teman di kampus.
Mereka berdua jadi berbincang-bincang dengan santai, mengenai permasalahan yang sering terjadi di antara pasangan-pasangan muda.
Dan hal ini juga yang sering membuat perpecahan, sehingga putus cinta, sampai patah hati.
Lalu setelah itu, di media sosial akan muncul perang dingin antar keduanya.
Yang awalnya saling memuji, jadi saling melempar komentar yang jelas-jelas menjelekkan mantannya sendiri.
*****
"Lihat Pa. Mita tampak tersenyum bahagia. Saat bersama dengan Nanda."
Ternyata, apa yang terjadi di teras samping rumah Mita, tak luput dari perhatian papa dan mamanya Mita. Ini mereka lihat dari video yang dikirim oleh tukang kebun di rumah mereka.
Tukang kebun tersebut, di minta tolong sama mamanya Mita, untuk mengawasi anaknya itu.
jadi, untuk memenuhi tugas dan permintaan dari majikannya, tukang kebun sengaja membuat video. Yang memperlihatkan kegiatan dan perbincangan antara Nanda dan Mita di rumah.
__ADS_1
Tentu saja, tukang kebun tersebut juga melakukan semua itu secara sembunyi-sembunyi.
Dia tidak mau jika, anak dari majikannya, atau orang lain tahu. Sehingga dia akan mendapatkan masalah ke depannya nanti.
Ini karena mamanya Mita merasa penasaran, dengan apa yang biasanya terjadi jika ada Nanda di rumah mereka. Bersama dengan anaknya, Mita.
"Ma. Kok dapat video itu dari mana?" tanya suaminya heran.
Apalagi, saat ini mereka berdua sedang berada di kantor. Jadi, tidak mungkin istrinya itu melakukan video call dengan anaknya.
Karena penampilan dari video tersebut, bukanlah penampakan dari sebuah panggilan video call.
"Ada deh Pa. Yang pasti, Mama seneng banget. Lihat Mita bisa tertawa. Bicara banyak seperti ini."
Mita memang jarang terlihat banyak bicara. Apalagi sejak dia tidak lagi aktif kuliah, dan tahu keadaan dirinya yang sedang sakit.
Tapi sejak dia lebih dekat dengan Nanda, senyum sering tampak pada wajahnya.
Dan ini menjadi perhatian kedua orang tuanya juga. Mereka berdua tahu bahwa, kebahagiaan dan rasa yang nyaman, akan membantu proses penyembuhan Mita.
Itulah sebabnya, papa ataupun mamanya Mita, tidak pernah menuntut apa-apa dari Nanda. Meskipun sebenarnya mereka berdua tahu, bagaimana keadaan Nanda yang sesungguhnya.
Beberapa bulan yang lalu, mama dan papanya Mita memang bicara bertiga dengan Nanda.
Ini tidak pernah diketahui oleh Mita. Karena keduanya tidak mau jika, Mita merasa keberadaan Nanda yang selalu ada didekatnya, karena permintaan dari mama dan papanya.
Tapi karena memang Nanda juga ada sedikit rasa cinta kepada Mita, dia pun tidak merasa keberatan dengan permintaan dari kedua orang tuanya Mita.
"Maaf Om, Tante. Nanda hanya anak instan dari sebuah pernikahan yang tidak pernah berjalan dengan baik. Nanda juga bukan dari keluarga berada dan ningrat."
"Tapi, di hati Nanda, ada rasa simpati terhadap Mita. Mungkin, seiring dengan berjalannya waktu, cinta itu bisa datang juga."
Begitulah Nanda mengatakan pada kedua orang tuanya Mita.
Dan keduanya, mama dan papanya Mita, tidak mempermasalahkan hal itu.
"Kami tidak mempermasalahkan soal itu Nak Nanda. Yang penting, keberadaan Kamu di sisi Mita, bisa membuatnya bahagia dan cepat sembuh."
"Semoga saja, pada saat Mita benar-benar sudah sembuh, hati nak Nanda bisa terbuka juga untuknya."
Begitulah akhirnya. Mereka bertiga sama-sama tahu. Bagaimana posisi yang sebenarnya.
__ADS_1
Meskipun begitu, mama dan papanya Mita tentu saja pura-pura tidak pernah tahu. Bagaimana keadaan dan perasaan Nanda pada anak mereka, Mita.
Terutama jika mereka berdua ada di depannya mita sendiri.