Dia Milikku ( Berbagi Cinta )

Dia Milikku ( Berbagi Cinta )
Pohon Mangga


__ADS_3

Kita remaja yang sedang dimabuk asmara


Mengikat janji bersama selamanya


Hati telah terikat, sepasang mata memikat


Melambungkan asmara


Yang selalu meminta


Mengulur senja menanti datang


Sang pemilik hati


Rela menanti sejak terbit mentari


Tak sabar 'tuk berbagi


Segala isi di hati


Ceriakan sanubari dan bercumbu di ujung hari


Indahnya kisah-kasih kita di masa remaja


Di bawah rayu senja kita di madu bermanja


Tiada masa-masa yang lebih indah dari masa remaja


Seakan dunia, milik berdua


( Lirik lagu dari HIV, Remaja )


Menggambarkan bagaimana kehidupan masa remaja, yang penuh dengan lika-likunya. Kisah cintanya, dan bagaimana seseorang yang baru tumbuh menjadi remaja, mencari tempat dan jati diri mereka.


Masa remaja merupakan masa transisi, dari masa kanak-kanak, menuju ke masa dewasa, dimana pada masa ini, remaja ditandai dengan adanya perubahan-perubahan tertentu, seperti fisik, psikis, dan psikososial.


Remaja, kisah yang tidak bisa terlupakan. Masa yang selalu membuat orang tersenyum, jika saat ini mereka sudah tua dan hanya bisa mengingat saja.


Remaja, dengan segala intrik yang mereka perbuat. Pemberontakan terhadap aturan-aturan yang mereka pikir tidak sesuai dengan keadaan dan keinginan mereka.


Remaja, dengan segala problematika kehidupan, yang baru saja memulai pubertas. Nada yang riskan, dan sensitif, karena mereka merasa tidak perlu repot-repot dinasehati. Mereka merasa sudah tahu segalanya, padahal perjalanan mereka sebenarnya masih sangat panjang, untuk kehidupan yang sesungguhnya.


Tapi begitulah kenyataannya. Tidak ada yang bisa mencegah dan menghindar, dari waktu untuk seseorang melewati masa ini.


Yang terpenting adalah, bagaimana cara berpikir remaja itu sendiri, keluarga, masyarakat sekitar dan kegiatan-kegiatan yang diikuti.

__ADS_1


Kontrol orang tua dan orang-orang terdekat juga sangat besar pengaruhnya, bagi perkembangan remaja itu sendiri.


Tidak perlu dikekang, tapi juga jangan diberikan kebebasan secara penuh. Tarik ulur, untuk pengawasan remaja, sangat diperlukan agar tidak terjadi sesuatu yang tidak pernah diinginkan, apalagi dengan perkembangan teknologi informasi dan komunikasi seperti saat ini. Dimana semua itu bisa dengan mudah dan cepat, untuk bisa sampai pada seseorang, termasuk salah satunya adalah para remaja itu sendiri.


*****


Satu bulan kemudian.


Masa liburan sekolah sudah datang. UN yang Ara ikuti juga sudah selesai. Dia tinggal menunggu, surat tamat sekolah, atau ijazah serta beberapa hal yang harus dia lakukan, seperti tanda tangan dan persiapan untuk masuk ke sekolah yang baru.


Ara sedang menunggu adiknya dengan bundanya, yang mendaftar di sekolah yang sama dengan Miko. Tapi, Miko adalah murid lama, sedangkan Anggi masih satu bulan kemudian, untuk bisa menjadi murid resmi, di sekolah tersebut.


Ara menunggu adik dan bundanya, di taman sekolah, tak jauh dari kantor administrasi sekolah. Taman itu cukup rindang dan nyaman, meskipun tidak terlalu besar. Ada beberapa pohon yang cukup rimbun, sehingga udara di sekitarnya juga segar.


"Wah... ternyata, sekolah Aku yang dulu, sudah banyak berubah. Taman ini tidak lagi panas. Dan itu, pohon mangga yang rimbun itu, adalah pohon yang suka di panjat Kak Nanda dulu. Hiks hiks hiks, jadi ingat Kak Nanda. Sekarang dia lebih sibuk, sehingga jarang telpon dan juga kirim pesan. Aku malu, kalau harus menelpon duluan."


Sekolah ini, dulunya juga merupakan sekolah Ara dengan Nanda, sepupunya Ara, yang saat ini sedang berada di Taiwan, bersama dengan mamanya, Yasmin.


Ara jadi mengingat-ingat kenangan masa kecilnya dulu, yang selalu tergantung pada Nanda.


"Dia pasti sudah besar dan tinggi sekarang," gumam Ara, seorang diri.


Dia jadi melamun dan tidak menghiraukan keadaan di sekitarnya. Padahal, ada Miko yang baru saja datang, dan ingin mengagetkan dirinya.


"Door!"


"Miko!"


Sekarang, ganti Ara yang berteriak keras memangil nama sepupunya itu. Dia sangat kesal dengan ulahnya Miko, yang membuat dirinya kaget, dari lamunannya tetang Nanda.


"Hahaha..."


Miko justru tertawa senang, karena berhasil membuat kakak sepupunya itu jengkel.


"Ihhh, Miko. Awas ya!" kata Ara mengancam.


"Ciehhh... Kak Ara sedang melamun. Hayo, Miko ngadu ke bunda Jani lho!" Miko justru balik mengancam Ara, dengan mengatakan bahwa, dia akan mengadukan kelakuan Ara, yang sedang melamun sendiri di taman sekolah pada bundanya, Anjani.


"Eh, siapa yang melamun? enak saja! Kakak sedang memperhatikan pohon mangga itu. Lihat gak? ada beberapa buah yang masak, tapi Kakak tidak bisa ambil. Buahnya juga tidak jatuh, kan sayang kalau di makan tupai."


Alasan yang diberikan oleh Ara, memang tepat. Di pohon mangga tersebut, memang ada beberapa buahnya yang masak di pohon, dan tidak ada yang mengambilnya. Angin juga tidak bisa membuat buah mangga itu jatuh dengan sendirinya. Sedangkan untuk tupai, Ara juga tidak yakin jika di Jakarta ini, masih ada binatang tupai, yang hidup secara bebas ada di atas pohon, yang tentunya sudah jarang ada. Kecuali di kebun binatang.


Tapi Miko tidak percaya dengan alasan yang diberikan oleh sepupunya itu. Miko merasa bahwa, Ara tidak mungkin menginginkan buah mangga yang ada di sekolahnya, karena mangga-nya hanya kecil-kecil, dan lebih besar yang ada di pekarangan rumah kakaknya itu. Apalagi, mangga yang ada di rumah Bogor. Jauh berbeda ukurannya, karena lebih besar lagi, dan buahnya juga banyak.


"Tapi buah mangga itu tidak manis. Rasanya masam Kak Ara," protes Miko, pada Ara.

__ADS_1


"Ah masa sih?"


Ara tidak percaya dengan perkataan Miko, karena dia memang belum pernah merasakan buah mangga yang ada di sekolahnya ini.


"Memangnya Miko sudah pernah makan buah mangga ini?" tanya Ara lagi, karena Miko tidak menjawab pertanyaannya yang tadi.


"Sudah," jawab Miko pendek, sambil mengangguk pasti.


"Ah, kapan?" Ara masih tetap tidak percaya.


"Tidak ingat sih. Tidak tahu juga, itu mangga yang ini atau bukan. Soalnya waktu itu, Miko dikasih sama teman, tapi asem banget. Terus dia bilang kalau itu adalah mangga yang ada di taman. Begitu katanya Kak."


Miko menjawab dan menjelaskan pada Ara, bagaimana dia bisa tahu rasanya mangga tersebut, yang sekarang ini ada di depan mereka.


"Wah, Kakak jadi penasaran. Miko bisa manjat gak? Ambilin dong, pasti enak buat rujak. Nanti buat mama Sekar juga, kan sedang hamil dia. Biasanya suka dengan yang asem-asem," kata Ara, mempengaruhi Miko, supaya memanjat pohon mangga.


Padahal sebenarnya, Ara tahu bahwa, Miko itu penakut dan tidak bisa memanjat. Miko tidak sama seperti Nanda, yang dulu suka memanjat pohon, bersama dengannya juga.


"Gak mau!"


Miko jelas-jelas menolak permintaan kakaknya itu.


"Kenapa?" tanya Ara, yang pura-pura tidak tahu apa-apa.


"Gak mau ya gak mau!" Miko tetap pada pendiriannya, untuk tidak mau memanjat pohon mangga tersebut.


"Ihsss, palingan tidak bisa manjat kan?" ejek Ara, yang membuat Miko merasa tertantang.


"Bisa. Miko bisa manjat kok!"


Dengan langkah pasti, Miko berjalan ke depan, untuk bisa mencapai ke pohon mangga, kemudian berusaha keras untuk bisa sampai di atas.


"Eh, Miko jangan!"


Ara berteriak mencegah Miko, yang sudah berada di bawah pohon mangga. Dia merasa takut, jika sampai Miko benar-benar memanjat pohon mangga tersebut.


Sayangnya, Miko tidak mau mendengarkan teriakan Ara. Dia justru semakin bersemangat, untuk bisa memanjat pohon mangga, agar kakaknya itu, tidak meremehkan kemampuan dirinya. Itu karena dia merasa sebagai anak cowok sendiri, diantara cucu-cucunya ayah Edi dan ibu Sofie.


Dia lupa, jika ada kakaknya lagi yang cowok, yang sekarang ini ada di negara Taiwan.


Tapi masalah datang, saat Miko mau turun. Dia, yang masih kecil, merasa sangat ketakutan, saat melihat ke arah bawah. Dia takut, seandainya terjadi sesuatu, saat dia turun. Miko merasa takut, jika harus turun sendiri.


"Huwaaa... Kakak. Miko takut!" teriak Miko dari atas pohon.


"Eh, Kamu sih ngeyel tadi!" balas Ara, yang berteriak dari bawah pohon.

__ADS_1


"Terus Miko bagaimana ini. Huhuhu..."


Miko kembali menangis, saat sadar jika dia tidak mungkin bisa turun dari pohon mangga tersebut, tanpa bantuan dari orang lain, yang tentunya ahli dalam memanjat pohon.


__ADS_2