Dia Milikku ( Berbagi Cinta )

Dia Milikku ( Berbagi Cinta )
Gurauan Yang Menyedihkan


__ADS_3

Elang kembali mengingatkan pada Awan, untuk segera menghubungi dokter yang menangani Dika. Kemudian di suruh untuk pulang segera. Karena rumah untuk tempat tinggal Dika, sudah selesai dibereskan.


Awan pun mengiyakan perkataan ayahnya. Dia segera pergi, untuk menemui dokter. Dia ingin berkonsultasi tentang keadaan Dika. Dan juga meminta rekomendasi untuk perawat, yang bisa menjaga Dika selama di rumah.


Beberapa saat kemudian, Awan sudah kembali lagi ke ruang rawat Dika. Dia melihat bagaimana keadaan Dika, yang tetap pada posisinya. Tanpa ada pergerakan yang berarti.


"Itu Dika capek gak Pak, kayak gitu terus?" tanya Awan, karena melihat Dika yang hanya terlentang saja sedari tadi.


"Yang pastinya capek Den, jika untuk orang normal."


"Emhhh... Dia gak bisa diajak interaksi sama sekali ya Pak?" tanya Awan penasaran.


Dia bertanya demikian karena, pak supir inilah, yang selalu ada di dekatnya Dika. Yang menjaga Dika, sejak Dika masih dalam keadaan koma kemarin-kemarin.


"Awalnya iya Den. Dia gak bisa ngapa-ngapain. Gak bisa diajak komunikasi juga."


"Terus sekarang bagaimana?" tanya Awan lagi, dengan antusias. Dia ingin tahu, bagaimana perkembangan dari temannya itu.


"Mungkin jika ada kemajuan, Awan bisa menceritakan pada papa atau mamanya juga nanti. Di saat Awan ada kesempatan untuk berkunjung ke rutan."


Pak supir mengangguk mengerti, dengan apa yang dimaksudkan oleh majikannya itu. Dia tahu jika, orang tuanya Dika, juga ingin mengetahui perkembangan kesehatan anak mereka.


Pak supir merasa iba, dengan nasib keluarga Dika. Tapi dia juga menyalahkan semua kelakuan mereka di masa lalu. Karena ulah mereka juga, keluarga Awan dan Ara, sempat mengalami hal-hal yang tidak diinginkan.


Dan itu berkaitan dengan tindak kejahatan pidana.


Jadi, meskipun mereka dimaafkan dan diberikan kesempatan, proses hukum tetap saja berjalan sesuai dengan aturannya.


Mungkin orang-orang akan menganggap apa yang dilakukan Awan dan keluarganya ini adalah suatu tindakan yang bodoh. Karena mau mengurus semua hal tentang Dika. Yang tentunya membutuhkan biaya yang besar untuk setiap bulannya. Apalagi Dika adalah anak kandung, dari orang yang berbuat jahat itu.


Bahkan, Dika sendiri juga ikut terlibat kejahatan itu secara tidak langsung.


Tapi ternyata, pemikiran Awan dan keluarganya berbeda. Karena menurut mereka, kejahatan tidak harus selalu dibalas dengan kejahatan.


Adakalanya kebaikan yang kita berikan, jauh lebih baik untuk mereka yang sudah berbuat jahat kepada kita. Dengan harapan bahwa, kedepannya mereka tidak akan pernah lagi berbuat hal yang sama seperti dulu. Mengulangi kejahatan yang mereka lakukan.


Setelah melakukan segala sesuatu yang harus diselesaikan di rumah sakit ini, akhirnya Awan membawa Dika pulang ke rumahnya sendiri. Bersama dengan seorang perawat, dan pak supir. Yang akan menjaga Dika.


Sedang istrinya pak supir, akan datang ke rumah Dika langsung, dengan mengunakan taksi. Karena harus membawa baju-bajunya, dengan suaminya juga.

__ADS_1


*****


Di rumah, Ara sedang ada acara rujukan. Khas wanita yang sedang hamil.


Sebenarnya, bukan Ara yang kepingin memakan rujak. Tapi ini tadi adalah, ide dari kedua wanita yang sedang ada di rumahnya. Yaitu mama Amel dan ibu Sofie.


Apalagi mereka juga mengundang Sekar, yang akhirnya datang bersama dengan adiknya Miko. Sedangkan Miko sendiri, belum pulang dari sekolah.


Yasmin sudah kembali ke Jawa Timur. Karena dia dan Aksan, sudah terlalu lama berada di Jakarta.


Mereka kembali ke kampung, sehari setelah pulang dari Bogor.


"Ini mangga muda enak lho Ra. Biasanya Tante suka makan langsung, gak pakai di rujak. Saat sedang hamil."


Ara meringis, dengan mulut merasakan rasa masam. Membayangkan rasa mangga muda yang dikupas tantenya, Sekar. Karena Ara memang tidak suka mangga yang masih muda.


Tadi, mereka mendapatkan mangga muda, minta dari tetangga sebelah. Kebetulan, pohon mangga tersebut sedang berbuah banyak. Jadi, tidak perlu repot-repot mencari mangga muda ke tukang buah.


Dan buah-buahan yang diperlukan untuk membuat rujak, sudah dipersiapkan oleh mama Amel sedari awal.


Jadi, dia memang sudah membawa buah tersebut saat datang. Karena membawanya dari rumah.


"Ihsss... si Opa. Ini bukan Oma yang pengen. Tapi Oma yang ngidam."


"Hah! Yang bener Ma?"


Papa Ryan justru salah paham, dengan jawaban yang diberikan oleh istrinya itu. Dia berpikir jika istrinya, mama Amel, saat ini juga sedang hamil dan ngidam makan rujak.


"Ya bener lah!"


"Wahhhh... bagaimana ini?" Papa Ryan bingung dengan keadaan yang tidak pernah dia prediksi.


Dia tentu saja bingung, meskipun sebenarnya sangat berbahagia juga, seandainya itu memang benar-benar terjadi.


Masalahnya, istri dari cucunya sedang hamil cicit mereka. Masa iya harus punya anak sendiri juga. Bagaimana Awan akan memanggil anak mereka nantinya.


Apalagi, istrinya itu sudah tidak mungkin...


"Pa! Papa kok bengong sih? Itu, tolong ambilkan piring buat buahnya!"

__ADS_1


Papa Ryan tersadar dari lamunannya. Dia tersenyum canggung, membayangkan hal yang diluar dugaan tersebut.


"Papa ngelamun apa sih? Jangan bilang ya, jika tadi, saat jalan-jalan dengan Eyang kakungnya Ara ada cewek yang membuat Papa seperti ini!"


Mama Amel justru menuduh suaminya itu memikirkan wanita lain. Padahal, papa Ryan sedang memikirkan situasi yang sulit dia terima.


Akhirnya, dengan menyerahkan piring yang tadi diminta oleh istrinya itu. Papa Ryan berbisik untuk meyakinkan bahwa, mama Amel memang benar-benar hamil. "Mama beneran hamil Ma? Berapa bulan itu hamilnya?"


Mama Amel melotot melihat ke arah suaminya, yang saat ini begitu dekat dengan telinganya.


"Papa ini ya! Hehehe... kena deh dikerjain Mama. Hehehe..."


Mama Amel justru terkekeh-kekeh, saat sadar jika suaminya itu sudah salah paham dengan perkataannya yang tadi.


Ara dan yang lainnya, jadi memandang ke arah mereka berdua, dengan penuh tanda tanya.


Ini membuat papa Ryan jadi salah tingkah. Kemudian berdehem, untuk menetralkan wajahnya yang kembali terkejut. Di saat mendengar jawaban yang diberikan oleh istrinya barusan.


Akhirnya, mama Amel menjelaskan pada semuanya. Tentang kesalahpahaman yang terjadi pada suaminya itu.


"Pa. Papa kan tahu sendiri, jika mama gak mungkin bisa hamil lagi. Sejak Elang lahir. Hiks hiks hiks..."


Setelah berkata demikian, mama Amel terisak-isak. Mengingat keadaan dirinya sendiri. Yang tidak mungkin bisa memiliki anak lagi. Dan hanya ada Elang saja, yang menjadi buah hati pernikahan mereka berdua selama ini.


"Oma..."


Ara memeluk mama Amel, untuk menghiburnya.


Begitu juga dengan ibu Sofie, dan Sekar. Yang ikut mengelus-elus punggung mama Amel. Mencoba untuk menenangkan hati dari omanya Awan itu.


Papa Ryan jadi merasa bersalah. Dia mengajak istrinya itu untuk berdiri, kemudian memeluknya erat.


"Maafkan Papa. Papa tidak pernah menuntut Mama untuk bisa hamil lagi. Sungguh! Tadi itu Papa juga sangat terkejut. Dan tidak ada kepikiran, jika apa yang Mama katakan hanya sebuah gurauan saja."


"Maafkan Papa ya!"


Mama Amel mengangguk mengiyakan, di dalam pelukan suaminya.


Dia merasa sangat bahagia, sedari dulu, suaminya itu memang tidak pernah menuntut apa-apa. Hanya karena dia tidak bisa hamil lagi.

__ADS_1


Bahkan, papa Ryan juga menolak tawaran untuk menikah lagi, dari saudara sepupunya. Agar dia bisa memiliki anak lagi, meskipun bukan satu istri. Agar di dalam hidupnya, tidak hanya memiliki satu anak saja.


__ADS_2