
"Masalah keuangan perusahaan yang kemarin itu, kan sudah selesai?" tanya Adhisti kaget. Dia tidak tahu, jika masalah kantor Elang, masih belum terselesaikan juga.
"Ya Mbak. Yang kemarin itu memang benar, sudah selesai. Tapi, menutup penyelidikan polisi, ternyata mereka hanyalah umpan dari yang sebenarnya. Yang otak dari pelaku korupsi, belum ditemukan." Anjani, memberikan penjelasan kepada Adhisti, agar dia tidak salah paham, jika Elang sering pulang malam.
"Tapi, kenapa dia tidak pernah bercerita padaku. Justru, kenapa dia lebih memilih untuk bercerita padamu, padahal dia tahu, Aku yang lebih paham soal kantor Jani? ada apa dengan mas Elang?"
Adhisti benar-benar merasa terabaikan oleh suaminya sendiri. Dia tidak tahu, kenapa justru Elang, bercerita pada Anjani, yang tidak tahu apa-apa soal kantor, yang sudah dia pegang sedari awal.
"Mas Elang, tidak mau membuat mbak Adhis kepikiran. Nanti, bisa-bisa berpengaruh pada bayi yang sedang Mbak kandung. Maaf lho Mbak, Aku sebenarnya tidak ingin bercerita tentang semua ini, tapi dari pada Mbak Jani salah paham, Aku terpaksa bercerita agar Mbak tidak curiga lagi. Percayalah, mas Elang tetap mencintai Mbak Adhis."
Penjelasan yang diberikan oleh Anjani, justru semakin membuat Adhisti tidak percaya, dan berpikir jika itu hanya sebuah kata-kata untuk menenangkan dirinya saja. Dia tidak percaya dengan apa yang dia dengar saat ini.
"Coba nanti Aku akan tanya mas Elang. Aku juga masih bisa bantu kok, kalau hanya untuk menanggani masalah kantor yang sudah lama Aku tangani itu."
Anjani, hanya diam saat Adhisti tetap kekeh pada keinginannya. Sekarang, Anjani malah takut, jika dia akan disalahkan oleh Elang, karena telah bercerita pada Adhisti soal masalahnya di kantor.
*****
"Mas. Jujur saja, Kamu saat ini sudah tidak menganggapku lagi kah?" tanya Adhisti, saat dia bersama dengan suaminya malam ini.
"Maksudnya apa Kamu bertanya seperti itu Sayang?" tanya Elang bingung, karena mendengar pertanyaan dari istrinya yang sedang hamil . Dia berpikir jika Adhisti hanya sedang cemburu saja, karena bawaan bayi.
"Jawab saja Mas. Kamu masih adakah rasa cinta padaku?" tanya Adhisti lagi, dengan pertanyaan yang sama, meskipun kata-katanya berbeda.
"Sayang. Apa yang ingin Kamu buktikan? Aku tidak pernah berpikir untuk menduakan Kamu," jawab Elang dengan memegang tangan istrinya, untuk memberikan ketenangan.
"Mas. Aku semakin hari, semakin berpikir, jika kita ini, memang tidak berjodoh. Aku tidak mau, mengikatmu, dalam sebuah ikatan pernikahan, jika hanya untuk membuatmu merasa tidak nyaman," kata Adhisti, dengan suara bergetar.
__ADS_1
Elang, menatap wajah istrinya itu dengan wajah cemas. Dia tidak tahu apa yang sedang dipikirkan oleh Adhisti saat ini.
"Kamu bicara apa Sayang?" tanya Elang, menarik tubuh istrinya itu ke dalam pelukannya.
"Aku, Sayang sama Kamu. Aku masih tetap cinta sama Kamu. Kenapa Kamu meragukan semua itu Honey?"
Adhisti, justru terisak dalam pelukan Elang. Dia ingin berkata, jika dia merasa telah diabaikan olehnya. Tapi, dia tidak mampu untuk mengatakan semua itu.
"Coba Kamu ungkapan, apa yang sekarang ini sedang Kamu rasakan. Jangan dipendam, itu tidak baik buat calon anak kita," bujuk Elang, sambil mengelus-elus perut Adhisti.
"Dedek, sayangnya Ayah. Jangan bikin Bunda repot ya. Sehat-sehat Kamu di perut Bunda," kata Elang dengan menempelkan bibirnya di perut buncit istrinya itu.
Tapi, perlakuan Elang ini, justru membuat Adhisti terisak-isak. Dia tidak tahu apa yang harus dia katakan saat ini, agar bisa menyakinkan Elang, suaminya.
"Mas. Kamu ingat, bagaimana saat malam pertama kita?" tanya Adhisti, mengingatkan Elang, pada malam pertama mereka, sebagai sepasang suami istri.
*****
Kini keduanya, Elang dan Adhisti, justru sama-sama teringat dengan kejadian malam pertama mereka yang tidak bisa mereka lewati dengan indah. Itu dikarenakan saat malam pertama mereka, Elang mendapatkan telpon dari pihak rumah sakit. Mereka mengabarkan bahwa, Anjani dalam keadaan kritis.
Elang, tidak berpikir panjang. Dia langsung kembali berpakaian dan meninggalkan Adhisti begitu saja. Baru sampai di jalan, dia menelpon dan meminta maaf, karena harus segera ke rumah sakit. "Maaf Sayang, Aku terpaksa pergi ke rumah sakit. Anjani kritis!"
Adhisti, yang sedang resah dan berada di ruang tengah, ditegur oleh mama mertuanya, "Kamu sedang apa Dhisti?"
"Mama. Mas Elang baru saja pergi ke rumah sakit Ma. Ada kabar kalau Anjani kritis," jawab Adhisti, dengan wajah cemas.
"Untung kalian tidak jadi ke puncak tadi. Coba kalau itu sampai terjadi, dan pastinya kalian masih ada dijalan. Kenapa kalian ada saja ya halangannya. Waktu mau prewedding, justru kecelakaan itu terjadi. Dan Elang, terpaksa menikah terlebih dahulu sebelum menikah denganmu. Sekarang, saat malam pertama kalian, istrinya itu kritis. Sepertinya, dia tidak rela, kalian enak-enak dan mengabaikan dia."
__ADS_1
Perkataan mama mertua itu, justru membuat Adhisti merasa takut. Dia takut jika apa yang dikatakan mama mertuanya itu memang benar adanya.
"Ya sudah. Ayo kita susul Elang ke rumah sakit. Kamu siap-siap saja, mama akan panggil papa dan meminta supir untuk mengantarkan kita."
"Iya Ma," jawab Adhisti pendek.
Adhisti, segera masuk ke dalam kamar, untuk berganti pakaian dan ikut mama mertuanya itu, pergi ke rumah sakit, melihat keadaan Anjani yang katanya sedang kritis.
*****
"Mas. Aku ingin, jika anak ini sudah lahir nanti, lebih baik kita berpisah saja. Mungkin ini adalah jalan yang terbaik bagi kita semua."
Elang, terkejut mendengar perkataan Adhisti.
"Kamu bicara apa sih? kenapa Kamu berpikir seperti itu? apa Kamu tidak kasihan pada bayi kita yang belum juga lahir, dan Kamu justru sudah berencana untuk memisahkan kami?" tanya Elang, sambil terus menatap Adhisti, dengan wajah penuh tanda tanya.
"Mas. Aku pikir, kita tidak berjodoh. Mungkin, kita terlalu memaksakan diri kemarin-kemarin. Ingin membuktikan, kalau kita bisa dan mampu bersatu, dengan berbagai macam halangan yang bisa kita lewati. Kita hanya ingin membuktikan itu kan pada orang-orang?" sahut Adhisti dengan menggeleng-ngelengkan kepalanya.
"Aku mau, Kamu menceraikanku, begitu anak ini nanti lahir Mas."
Elang, benar-benar tidak habis pikir dengan keputusan yang diambil oleh Adhisti saat ini.
"Kamu tidak sedang bercanda kan Sayang? Aku tidak mau!" kata Elang tegas.
Akhirnya, Elang turun dari tempat tidur, dan berjalan keluar kamar. Dia berpindah tempat untuk tidur.
Elang, menghela nafas panjang beberapa kali, untuk membuat dirinya tenang dan tidak terpancing dengan semua permintaan istrinya itu. Dia membaringkan tubuhnya di sofa ruang tengah, untuk mengindari pertengkaran dengan Adhisti, istrinya sendiri.
__ADS_1
"Semoga saja, dia hanya dalam keadaan tidak sadar, saat berkata seperti tadi," kata Elang, sebelum mencoba untuk bisa terpejam malam ini.