
Pagi hari, tukang sayur langganan ibu-ibu kompleks dan para bibi pembantu rumah tangga di perumahan, pasti akan selalu ramai, dikerubungi dan didatangi mereka yang mau berbelanja.
Di kompleks tempat ibu Sofie juga begitu. Banyak ibu-ibu dan para pembantu rumah tangga yang berbelanja pada pagi hari, pada tukang sayur keliling langganan.
Mereka memilih-milih sayuran dan juga ikan yang segar, untuk lauk hari ini.
Waktu bibi pembantu rumah ibu Sofie sedang berbelanja, ada Wawan yang datang mendekat. Dia mau bertanya pada bibi pembantu, yang pastinya tahu, dimana sekarang ini Yasmin dan Nanda berada.
Mungkin dia mendekati bibi pembantu, karena usahanya kemarin, di saat datang ke rumah Sekar, justru berakibat yang tidak baik. Wawan ditahan oleh pihak keamanan perumahan, yang melihatnya ada di depan rumah Sekar, dengan mengetuk pintu terus menerus.
"Bibi tunggu!"
Wawan berteriak memanggil bibi pembantu.
Tapi karena bibi pembantu sudah diberitahu dan dipesan ibu Sofie, agar tidak berbicara dengan Wawan, dia segera berjalan masuk ke dalam rumah, kemudian menguncinya.
Wawan, yang berlari-lari, jadi ngos-ngosan waktu sudah sampai di tempat tukang sayur.
"Huh... huh! Mas. Mas tadi itu bibi pembantu yang ada di rumah ibu Sofie kan?" tanya Wawan pada tukang sayur.
Wawan sudah tampak berbeda penampilannya. Dia sudah mencukur rambutnya, meskipun pakaiannya masih tidak bisa dikatakan rapi.
"Iya. Itu pembantu rumah di rumahnya ibu Sofie. Ada apa ya Mas?" tanya tukang sayur curiga.
Tukang sayur itu berpikir, jika Wawan mengejar cinta bibi pembantu rumah, dan karena tadi, bibi terlihat ketakutan dan langsung pergi masuk ke dalam rumah.
"Itu Mas. Sa_saya cuma mau tanya tentang anak Saya," jawab Wawan, sambil melihat-lihat ke dalam rumah ibu Sofie.
"Maksudnya anak Mas sama bibi pembantu itu?" tanya tukang sayur heran.
Tukang sayur itu pasti merasa heran, karena Wawan masih terlihat muda dan gagah. Sedangkan bibi pembantu rumah tangga ibu Sofie, sudah setengah baya. Sudah lebih tua dari ibu Sofie sendiri.
"Bukan Mas. Bukan. Maksudnya anak Saya itu cucunya ibu Sofie," jawab Wawan menerangkan.
"Cucunya ibu Sofie? yang mana ya?" tanya tukang sayur lagi, karena dia sedikit banyak tahu tentang orang-orang yang menjadi penghuni perumahan sekitar tempatnya berkeliling.
"Anak Saya itu Nanda. Dulu Saya menantunya ibu Sofie, karena menikah dengan anaknya, Yasmin." Wawan akhirnya menjelaskan pada tukang sayur, dengan harapan dia akan mendapat sedikit informasi tentang anak dan mantan istrinya, Yasmin.
__ADS_1
"Oh... Nanda to." Tukang sayur, mengangguk paham, setelah mendengar penjelasan dari Wawan.
"Sekarang kan dia ada di luar negeri Mas. Sama ibunya dan juga ayahnya yang baru," sambung tukang sayur menjelaskan.
"Kok Mas gak tahu sih? Emang kemana saja selama ini?" imbuh tukang sayur bertanya pada Wawan.
Wawan terlihat sangat terkejut, mendengar penjelasan yang baru saja dia dengar dari tukang sayur. "Mereka ada di luar negeri," gumam Wawan dengan pandangan kosong.
"Iya Mas. Mereka sekarang ada di Taiwan. Suami mamanya Nanda, pemborong di sana. Kata orang-orang begitu dulu." Tukang sayur kembali mengatakan, apa-apa yang dia ketahui, dari beberapa berita yang seringkali dibicarakan oleh para pembantu atau ibu-ibu yang sedang berbelanja padanya.
"Apa Mas tidak pernah menemui mereka selama ini? kok ndak tahu sih," tanya tukang sayur menyelidik.
Sebenarnya, tukang sayur itu sedikit tahu bagaimana cerita dan beritanya tentang di Wawan. Dulu, waktu dia heboh karena kasus korupsi dan juga perceraiannya dengan Yasmin, sempat menjadi bahan pembicaraan di komplek perumahan ini.
Jadi tentu saja tukang sayur itu juga tahu, jika yang saat ini ada di depannya, dan bertanya-tanya tentang Yasmin dengan anaknya, Nanda, adalah Wawan, yang dipenjara karena kasus video yang dia sebarkan, dengan korbannya adalah istri dari kakaknya Yasmin. Menantunya ibu Sofie dan ayah Edi. Anjani.
Wawan akhirnya berterima kasih pada tukang sayur tersebut, tanpa menjawab pertanyaan darinya tadi.
Sekarang, Wawan berjalan dengan lesu, dan tidak ada harapan untuk bisa bertemu kembali dengan anaknya Nanda, dan juga mantan istrinya, yang selalu percaya dengan dirinya.
Wawan berkata sendiri dalam hati, tanpa melihat dan menyadari bagaimana kelakuannya sendiri waktu itu.
Kini dia berjalan menuju ke luar kompleks. Dia tidak tahu lagi, apa yang harus dia lakukan, agar bisa menghubungi anaknya ataupun Yasmin.
"Aku tidak mungkin bisa menemui mereka di sana. Apa ini memang usahanya untuk menjauhi Aku? menjauhkan Nanda dari papanya juga? Awas saja kamu Yasmin. Aku tidak akan melepaskan dirimu, begitu Aku bisa menemukanmu, suatu hari nanti."
Sepertinya, Wawan masih saja terobsesi dengan Yasmin. Atau bisa jadi, bahwa sebenarnya dia memang benar-benar mencintai Yasmin, tapi caranya yang salah, dengan semua kelakuannya selama ini.
"Aku tidak bisa mendapatkan wanita yang mencintaiku apa adanya, sama seperti dirinya. Aku yang salah karena sudah menyia-nyiakan cintanya selama ini. Tapi, Aku pastikan untuk bisa memilikinya lagi, jika waktunya sudah tiba."
Wawan benar-benar tidak bisa melupakan mantan istrinya itu. Atau, bisa jadi karena dia merasa sangat berarti, jika berada di sampingnya Yasmin, yang dulunya terlalu bodoh dengan perasaannya sendiri.
Tukang sayur yang melihat kepergian Wawan, hanya bisa membuang nafas panjang. Dia merasa jika ada penyesalan di mata Wawan. Tapi dia juga melihat api amarah yang hidup di raut wajahnya Wawan, yang terlihat sedikit mengerikan. Apalagi dengan penampilannya yang tidak terlihat bersih dan rapi.
*****
Anjani sedang bersiap-siap untuk menjemput Ara dari sekolah. Dia mengajak Anggi, karena tidak mau meninggalkan anaknya itu sendirian di rumah.
__ADS_1
"Anggi, ayo dek! nanti kakak menunggu," ajak Anjani, karena Anggi lama berada di dalam kamar mandi.
"Baru juga masuk Bunda!" jawab Anggi, dengan berteriak dari dalam kamar mandi.
Anjani menghela nafas panjang, kemudian melangkah pergi dari depan pintu kamar mandi. Dia menunggu anaknya itu di ruang tamu.
Tak lama kemudian, Anggi sudah keluar dari dalam kamar mandi. Dia mencari-cari keberadaan bundanya.
"Bunda. Bunda!" panggil Anggi, yang merasa takut jika dia ditinggal sendirian di rumah, sedangkan bundanya sudah pergi untuk menjemput kakaknya.
"Bunda ada di depan," sahut Anjani dari tempat duduknya di ruang tamu.
Anggi berjalan dengan cepat menuju ke arah bundanya. Dia merasa lega, karena ternyata tidak ditinggal sendirian di rumah.
"Sudah?" tanya Anjani, begitu melihat Anggi yang datang mendekat.
Anggi hanya mengangguk sambil nyengir kuda, tanpa mengeluarkan suaranya untuk menjawab pertanyaan dari bundanya itu.
"Ya sudah, ayok!" ajak Anjani, kemudian berdiri dari tempat duduknya.
Mereka berdua, keluar dari rumah, untuk pergi ke sekolah Ara.
Sejak kejadian Ara dan teman-temannya dipalak, Ara selalu dijemput oleh Anjani, saat waktunya pulang sekolah.
Ini karena Anjani dan Abimanyu, tidak mau jika terjadi sesuatu pada Ara, saat perjalanan pulang yang tanpa pengawasan dari mereka berdua. Itulah sebabnya, Anjani selalu pergi menjemputnya, jika siang hari.
Anggi juga selalu ikut, karena tidak mungkin ditinggal sendirian di rumah, kecuali jika ada Sekar dan Miko yang kadangkala datang dan berada di rumahnya hingga sore.
"Anggi besok sekolahnya di situ juga ya Bunda?" tanya Anggi, yang memang sudah waktunya untuk masuk sekolah taman kanak-kanak tahun depan.
"Anggi maunya di mana?" tanya Anjani, ingin tahu keinginan dari anaknya itu.
"Dimana saja lah, asal ada temannya."
"Sama-sama di sekolahnya Miko mau?" tanya Anjani, menawarkan.
"Gak mau!" jawab Anggi dengan cepat.
__ADS_1