Dia Milikku ( Berbagi Cinta )

Dia Milikku ( Berbagi Cinta )
Belajar Dengan Camer


__ADS_3

"Kok Kamu gak bilang Dek, jika ada janji dengan Ahmed di toko?"


"Hehehe... lupa Bun," jawab Anggi, dengan senyuman yang menghiasi wajahnya yang malu.


Tentu Anggi merasa malu, karena bisa lupa dengan pertemuannya dengan Ahmed di saat turun dari bus sekolah tadi.


"Maaf ya, Aku kelupaan." Anggi meminta maaf pada Ahmed.


"Tak apa Anggi. I justru datang ke mari untuk minta bantuan pada Tante," ujar Ahmed menjelaskan tentang kedatangannya.


"Bantuan?"


"Tante bisa bantu apa?"


Anggi dan Anjani, berbarengan saat bertanya pada Ahmed. Mereka berdua, bingung dengan perkataan Ahmed yang tadi.


Akhirnya, Ahmed mengatakan apa yang dia inginkan. Yaitu meminta pada bundanya Anggi, supaya diajari cara membuat kue-kue Indonesia, atau masakan Indonesia.


"Kamu mau buka restoran Indonesia?" tanya Anggi, setelah mendengar penjelasan yang diberikan oleh Ahmed.


"Bukan. I ingin belajar saja. Siapa tahu, besok-besok bisa jadi menantunya orang Indonesia. Hehehe..."


Anggi dan Anjani saling pandang. Dan tak lama kemudian, Anggi tertawa. Mengira bahwa, apa yang dikatakan oleh Ahmed hanya sebuah gurauan belaka.


"Hehehe... Kamu becanda nya gak lucu," kata Anggi, di sela-sela tertawanya.


Tapi berbeda dengan apa yang dipikirkan oleh bundanya.


Anjani berpikir bahwa, Ahmed ini mengatakan isi hatinya. Meskipun tidak secara langsung. Dan ini tidak disadari oleh Anggi.


Sebagai orang tua yang sudah banyak makan


asam garam kehidupan, tentu saja Anjani mengetahui arti yang tersirat dari perkataan Ahmed tadi.


Tapi Anjani hanya tersenyum saja. Dia tidak menyahutinya, atau memberikan tanggapan apa-apa.


"Bisa kan Tante? Untuk urusan bahan, nanti I bawa sendiri," kata Ahmed lagi. Meminta persetujuan dari Anjani.


"Kamu gak sekolah Nak? Lagian bunda bukan Koki atau ahli masak juga."


"I home schooling Tante," jawab Ahmed memberitahu.


Ahmed jadi menceritakan tentang sekolahnya, yang akhirnya tidak lanjut ke sekolah formal.

__ADS_1


Sejak dia pindah ke negara papanya di timur tengah, Ahmed sekolah dengan sistem home schooling. Tiga kali pertemuan selama satu minggu. Dengan guru yang datang ke rumahnya.


Dan saat ini, sejak pindah ke Amerika lagi, Ahmed melanjutkan sekolah dengan menggunakan sistem yang sama seperti saat berada di negara papanya.


Apalagi, saat ini dia juga memegang bisnis keluarganya di bidang kuliner. Terutama toko kue, yang tidak hanya ada di bangunan apartemen ini saja. Tapi ada di beberapa tempat outlet toko lainnya.


"Wah... pengusaha muda ya," kata Anjani memberikan tanggapan dari apa yang diceritakan oleh Ahmed.


"Gak juga Tante. I baru belajar dan masih pemula. Dan ini juga bisnis keluarga. Bukan milik I sendiri."


Ternyata, Ahmed bukan tipe cowok yang bangga dengan apa yang dia miliki.


Anjani dan Anggi, sama-sama tersenyum. Mendengar perkataan yang diucapkan oleh Ahmed barusan.


"Bagaimana Tante? Apakah Tante bisa bantu i?" tanya Ahmed, yang ingin tahu bagaimana jawaban dari bundanya Anggi.


"Tante bukan ahli masak Nak Ahmed. Tapi, jika untuk belajar yang mudah sih, Tante bisa bantu."


Ahmed tersenyum senang, mendengar jawaban yang diberikan oleh Anjani.


"Terima kasih Tante. I bisa mulai kapan datang untuk belajar?" Sepertinya, Ahmed tidak sabar untuk bisa mendekati Anggi dengan caranya sendiri.


"Emhhh... terserah Nak Ahmed saja. Tante ada di rumah terus kok. Gak kerja di luar juga." Anjani akhirnya mau juga menerima permintaan dari temannya Anggi.


"Ok Tante. Terima kasih banyak. I akan mulai besok. Tapi, itu jika Anggi sudah pulang dari sekolah."


Meskipun dia masih remaja, dan Anjani adalah bundanya Anggi, tetap saja Ahmed tahu bahwa itu bukan sesuatu yang baik.


Dia paham, jika keberadaannya yang hanya berdua saja dengan bundanya Anggi itu, bisa menimbulkan banyak gosip dan adanya setan yang mengikuti mereka.


Ini tentunya disetujui oleh Anjani dan juga Anggi sendiri.


"Oh ya Tante, Anggi. Ini i hanya bisa bawa kue ini saja. Yang ada di counter toko tadi cuma ini. Belum buat lagi untuk yang kue dari timur tengah."


Ahmed menyerahkan tiga kotak kue, yang ada di paper bag dengan merk tokonya. Tadi dia hanya meletakkannya di atas meja. Belum menyerahkan pada tuan rumah.


"Wah, kok repot-repot bawa buah tangan segala ini," kata Anjani, yang merasa jika apa yang dia bawa oleh Ahmed terlalu banyak.


Berbeda dengan Anggi. Dia langsung membuka satu kotak kue. Dia ingin tahu, apa kue-kue yang di bawa Ahmed.


Apalagi, tadi Ahmed bilang jika, kue-kue ini adalah kue timur tengah. Kue yang biasanya dia sukai.


Ternyata, tidak hanya kebab saja yang dibawa oleh Ahmed. Ada beberapa jenis kue lain, yang memang ciri khas dari kue-kue timur tengah.

__ADS_1


Dan semuanya tentu disukai oleh Anggi.


*****


Di dalam sel tahanan.


Clarissa sudah tidak lagi berteriak-teriak seperti biasanya. Dia lebih banyak diam, dan tidak mau bergabung dengan teman sesama tahanan.


Di dalam hatinya Clarissa, dia tidak mau jika, apa yang dia alami kemarin akan terulang lagi.


'Kapan polisi datang menjemput untuk sidang atau sekedar memberikan kesaksian? Aku ingin keluar dari sel ini. Meskipun hanya sebentar saja.'


Clarissa merindukan kebebasan yang sama seperti dulu. Dia tidak mau ada di dalam sel tahanan. Apalagi, jika para penghuninya juga sama seperti yang saat ini ada di sel tahanan bersama dengannya.


Dia bergidik ngeri, di saat ingat dengan apa yang dia alami kemarin.


'Sebenarnya, apa yang dimasukkan ke dalam mulutku kemarin. Kenapa Aku masih ingin muntah hingga sekarang ini?'


Clarissa memang tidak tahu, apa yang kemarin masuk ke dalam mulutnya. Dan tentunya sekarang ini sudah berada di dalam perutnya. Karena kemarin, dia sudah bisa bisa mengeluarkannya. Bahkan, akhirnya dia pingsan, setelah menelannya.


Dia berpikir bahwa, apa yang saat ini ada di dalam perutnya bukanlah hal yang biasa. Yaitu berupa makanan yang layak.


Clarissa berpikir bahwa, itu adalah semacam obat, atau...


"Ughh! Hoek!"


Tiba-tiba, Clarissa merasa mual dan ingin muntah.


"Hoek! Hoek!"


"Heh, bisa diam tidak?"


Madam bertanya dengan membentak Clarissa. Dia marah, karena Clarissa terus menerus seperti orang yang akan muntah.


"Oii, sipir?"


Madam berteriak memanggil sipir penjara, agar segera datang dan memberikan bantuan untuk Clarissa.


Beberapa saat kemudian, sipir penjara datang mendekat ke tempat sel tahanan tersebut berada. Dengan wajah garangnya, sipir penjara bertanya pada semua tahanan yang ada di sel ini. "Ada apa berteriak?"


"Lihat! Dia seperti orang yang ingin muntah sedari tadi. Bawa saja ke kamar mandi. Jika dia muntah di sini, sangkar besi ini akan semakin kotor saja nanti."


Sipir penjara hanya tersenyum miring, mendengar perkataan yang diucapkan oleh madam.

__ADS_1


Tapi karena sipir melihat keadaan Clarissa yang tampak pucat, dia tidak bisa bersikap biasa lagi.


Dengan cepat, dia segera menghubungi pihak medis yang berjaga di rumah tahanan ini. Agar segera datang memeriksa keadaan Clarissa.


__ADS_2