Dia Milikku ( Berbagi Cinta )

Dia Milikku ( Berbagi Cinta )
Acara Pemakaman


__ADS_3

"Tolong selidiki kasus ini. Maksudku, kenapa napi bisa tiba-tiba sakit parah, dan akhirnya bisa meninggal."


Awan memberikan instruksi kepada pihak pengacara dan temannya, yang ada di kepolisian. Karena temannya itu, ada di bagian penyidikan.


"Tapi, kemarin dokter bilang jika napi ada kelainan pada saluran darahnya ke jantung. Tidak stabil. Mungkin, itulah yang menyebabkan jantungnya tidak berfungsi dengan baik."


Polisi memberikan penjelasan kepada Awan ada Abimanyu, juga pada pengacara, yang saat ini ada di depannya. Penjelasan ini sesuai dengan keterangan yang ditulis oleh pihak rumah sakit, saat membuat laporan pasien.


"Tapi, belum diselidiki penyebabnya kan? lagian ini sudah satu bulan. Kalau begitu, minta pihak rumah sakit untuk melakukan otopsi jenazah Clarissa!"


"Saya akan bicara soal ini pada manager."


Polisi tersebut, mengangguk mengiyakan permintaan dari Awan. Begitu juga dengan pengacaranya. Mereka berdua akan mempersiapkan segala sesuatunya, untuk mengurus semua hal yang diperlukan untuk kebutuhan otopsi.


Untuk lebih jelasnya, pihak kepolisian juga di minta untuk melakukan penyidikan di sel tahanan, tempat Clarissa ditempatkan pada waktu itu.


"Baik Mr Awan. Kami akan usahakan agar semuanya jelas dan cepat selesai."


Pengacara juga mengangguk mengiyakan. Menyetujui usulan dari Awan.


Sekarang, Awan pergi menemui manager, untuk membicarakan tentang apa yang dia lakukan bersama pihak kepolisian.


Tentu saja menager setuju. Dia juga sebenarnya ingin mengetahui tentang penyebab utama Clarissa jatuh sakit dan dalam keadaan kritis. Bahkan, sekarang justru meninggal.


Tapi karena dia masih dalam keadaan shock dan belum sempat membicarakan soal ini dengan dokter.


"Terima kasih Mr Awan. Saya benar-benar tidak tahu harus bagaimana mengatakan terima kasih Saya."


Mantan istrinya, mamanya Clarissa, juga mengangguk mengiyakan dengan berderai air mata.


Mereka berdua, tidak habis pikir dengan apa yang dilakukan Awan pada anaknya, yang jelas-jelas telah berbuat salah. Karena tindakan Clarissa sendiri, yang ingin mencelakai Ara bersama dengan Awan.


*****


Di rumah, Ara mendapatkan kabar tentang Clarissa dari ayahnya.


..."Terus bagaimana sekarang Yah?"...


..."Pihak kepolisian akan menyelidiki Kak. Dokter juga akan segera melakukan otopsi, dan mengkaji ulang hasil tes darah dan urine Clarissa."...


..."Jadi, tidak langsung di bawa ke rumah duka, atau di makamkan?"...

__ADS_1


..."Tentu saja belum Kak. Nunggu selesai dulu urusan otopsi. Ini Ayah sama Awan ada di rumah sakit. Tapi sebentar lagi kita balik ke kantor. Di sini akan di urus oleh pengacara dan kedua orang tuanya Clarissa."...


..."Ya sudah Yah, hati-hati. Semoga saja, semuanya bisa berjalan dengan baik dan lancar."...


..."Aamiin... Iya Kak. Ayah pergi dulu ya. Kamu baik-baik di rumah."...


..."Iya Yah....


Klik!


Sambungan telpon tertutup. Ara menghela nafas panjang, kemudian membuangnya perlahan-lahan. Dia tidak pernah menyangka jika, Clarissa akan memiliki hidup yang pendek, dengan semua yang sudah dia lakukan padanya kemarin itu.


*****


Besoknya, semua laporan hasil otopsi jenazah Clarissa dan juga penyidikan di sel tahanan tempat Clarissa ditempatkan, berhasil diselesaikan.


Dari otopsi, dokter menemukan sejenis obat yang memang menjadi penyebab utama dari kematian Clarissa.


Dan jenis obat tersebut, juga sama dengan obat yang menjadi kasus dari salah satu tahanan, yang beberapa bulan lalu masuk ke sel tahanan tempat Clarissa ditempatkan.


Meskipun sekarang ini, tahanan tersebut sudah selesai disidangkan dan di jatuhi hukuman dua puluh lima tahun penjara.


Yang lebih mengejutkan lagi adalah, ternyata Clarissa ini bukanlah korban pertama dari Madam.


Akhirnya, pihak kepolisian memeriksa tahanan tersebut, dan mendapatkan ancaman tambahan hukuman untuk perbuatannya itu.


Dan untuk kasus Clarissa sendiri, akhirnya di tutup. Karena terdakwa meninggal dunia.


Tapi kekasihnya Clarissa, tetap menjalani hukumannya. Sesuai dengan apa yang sudah diputuskan oleh pihak pengadilan. Karena kasusnya melebar ke obat-obatan terlarang.


"Kasihan Clarissa ya Kak," ucap Ara, saat pulang dari acara pemakaman.


Karena semua sudah selesai, jenasah Clarissa juga di minta oleh papanya, untuk segera dimakamkan. Karena papanya itu, tidak mau berada dalam suasana berduka dalam waktu yang lama.


Meskipun sebenarnya, dia tetap tidak bisa menahan diri untuk tidak menangis. Di saat peti jenazah anaknya itu dimasukkan ke dalam tanah.


Pihak perusahaan, juga sudah memberikan ijin cuti untuk managernya itu selama satu minggu. Agar pada saat bekerja nanti, dia sudah bisa melupakan kesedihannya itu. Meskipun hanya sedikit saja.


Awan hanya mengangguk saja. Dia fokus pada setir mobil. Karena saat ini, dia sendiri yang mengendarai mobil miliknya.


Ada Abimanyu dan Anjani juga, yang ikut di dalam mobil tersebut.

__ADS_1


"Kita jemput adek sekalian Yah, Bun?" tanya Ara, yang sedang memperhatikan jalan, kemudian ke arah jam tangannya.


Rute yang mereka lewati saat ini, memang dekat dengan sekolahnya Anggi. Dan ini sudah mendekati jam pulang sekolah. Jadi, menurut Ara bisa sekalian.


"Kak. Adek kan gak boleh di jemput dengan mobil. Harus mengunakan bus sekolah," ujar bundanya mengingatkan.


"Oh iya Bun. Lupa, hehehe..." sahut Ara, yang lupa dengan aturan sekolah adiknya.


Dan benar saja, saat mobil melintas di depan jalan yang menuju ke arah sekolahnya Anggi, tampak bus sekolah yang berjejer rapi. Siap untuk mengantarkan semua siswa-siswi sekolah tersebut.


Ada beberapa security yang siap menjalankan tugasnya, sebagai pengatur dan mengamankan keadaan.


Dan di sekolah ini, jelas di didik untuk tertib. Mengikuti aturan dan disiplin yang ketat.


"Bedanya sekolah Anggi dengan Kamu apa Ra?" tanya Awan, pada Ara yang duduk di sebelahnya.


Awan melihat sekilas ke arah Ara, yang melihatnya juga.


"Sama seperti sekolah Ara yang asrama Kak. Bedanya cuma gak tidur di asrama saja itu si Anggi." Ara mengatakan apa yang dia tahu, dari segi kedisiplinan yang ada.


"Ya sama aja Wan. Biar mereka berdua tahu, bagaimana harus menghargai orang, waktu, dan juga aturan yang seharusnya ditaati."


Ganti Abimanyu yang memberikan penjelasan kepada Awan. Tapi setelah itu, Abimanyu kembali menyambungnya lagi, dengan berkata, "Tapi tetap saja mereka berdua saling ledek, semaunya juga, jika ada di rumah. Hehehe..."


"Ih Ayah... ya beda mestinya! Di rumah kan bukan sekolahan Yah," kata Ara berkomentar.


Mereka masih membicarakan hal-hal yang ringan. Sedangkan Anjani, terlihat sedang menguap. Dia mengantuk, dan akhirnya menyenderkan kepalanya di pundak suaminya.


"Yah. Bunda tidur bentar," kata Anjani,meminta ijin pada suaminya.


Abimanyu mengangguk mengiyakan, kemudian memposisikan dirinya dan juga kepala istrinya itu, agar lebih nyaman saat tidur.


Dua puluh menit kemudian, mobil tiba di halaman apartemen. Mereka semua, baru saja turun dari dalam mobil, saat bus sekolah Anggi berhenti di depan bangunan apartemen.


Tak lama kemudian, Anggi tampak turun, bersama dengan beberapa temannya yang juga penghuni apartemen ini.


"Adek!"


Ara memangil adiknya, Anggi.


"Kakak dari mana? Eh ada Ayah dan Bunda. Lho, ada kak Awan juga," gumam Anggi, sebelum menjawab panggilan dari kakaknya.

__ADS_1


Anggi bertanya-tanya, karena dia memang tidak tahu jika hari ini, adalah acara pemakaman Clarissa.


__ADS_2