
Mita merasa bahagia, karena ada Ara yang bisa membuat dirinya bisa berbagi cerita.
Meskipun mereka berdua sudah lama tidak berjumpa dan bersama-sama, tapi ternyata, mereka masih bisa akrab, sama seperti dulu. Di saat keduanya masih satu kelas, di yayasan sekolah yang sama dengan Nanda juga.
"Oh ya Kak Nanda. Terima kasih ya. Sudah menolong Mita waktu itu."
Mita ternyata sudah tahu jika, Nanda adalah orang yang ada dan juga menolongnya membawa ke rumah sakit, di saat dia pingsan di kampus.
Waktu ada dua temannya Mita datang waktu itu, dan Nanda pergi. Mita diberitahu oleh kedua temannya itu jika, Nanda adalah orang yang sudah menolong dirinya dan membawanya ke rumah sakit.
"Sama-sama. Itu kebetulan aja Kakak yang ada di sana."
"Tapi, Aku baru tahu kemarin itu, saat teman-temanku ngomong."
"Oh ya, kenapa Kakak langsung pergi waktu itu?" Mita bertanya, menyambung perkataannya yang tadi.
"Emhhh... gak apa-apa. Kakak lupa, jika sedang ada tugas di kampus waktu itu," jawab Nanda, memberikan alasan kenapa dia pergi dengan cepat, begitu temannya Mita datang.
Padahal yang sebenarnya terjadi adalah, Nanda merasa tidak nyaman. Dan pastinya, teman-temannya Mita, akan membicarakan tentang dirinya juga nanti.
"Oh, jadi kak Nanda kebetulan ada di kampusnya Mita waktu itu?"
Sekarang, ganti Ara yang bertanya pada Nanda. Karena memang Ara tidak tahu jika, Nanda yang sudah menolong temannya itu sewaktu pingsan.
Nanda hanya mengangguk saja, tanpa memberikan keterangan dan penjelasan yang lebih.
Dan sekarang, mereka bertiga, terutama Ara dan Mita, saling bertukar cerita tentang kehidupan mereka berdua, setelah keduanya berpisah beberapa tahun yang lalu.
"Wah... berarti sekarang Kamu udah tunangan dengan kak Awan? Selamat ya Ra. Ikut bahagia Aku," ucap Mita, dengan wajahnya yang terlihat ikut berbahagia juga.
Kedatangan mereka, Ara dan Nanda, memang bisa menghibur Mita yang merasa bosan. Karena tidak ada kegiatan dan hanya sendirian di rumah.
Meskipun ada bibi pembantu rumah yang tidak hanya satu orang, tentu saja tidak sama dengan jika ada teman seperti sekarang ini.
Sedari tadi, Mita tampak tersenyum dan melupakan rasa sakit yang dia rasakan. Dia juga bisa mengalihkan pikirannya sendiri, dari kekasihnya Dika, yang tidak lagi berkabar.
Beberapa saat kemudian, kedua orang tuanya Mita tiba di rumah. Mereka berdua, juga menyapa kedua tamu anaknya itu.
"Oh, ini Nak Nanda. Yang katanya udah nolongin Mita. Terima kasih lho Nak Nanda."
Mamanya Mita, mengucapkan terima kasih, atas pertolongan yang diberikan oleh Nanda pada anaknya itu.
"Sama-sama Tante. Itu hanya kebetulan saja kok, Saya ada di sana waktu itu."
__ADS_1
Papanya Mita, juga mengucapkan terima kasihnya, atas apa yang sudah dilakukan oleh Nanda.
"Kok Mama kayaknya gak asing dengan wajah Nak Nanda ya? Apa kita sudah pernah bertemu sebelum ini?" tanya mamanya Mita, dengan mata memicing.
Tapi Nanda mengeleng cepat. Dia tidak mau jika, mereka, mama dan papanya Mita, mengenalinya. Karena mereka memang sudah pernah bertemu, meskipun itu tidak mereka berdua sadari.
Yaitu pada saat dia dan Dika berbicara di area parkir rumah sakit.
"Mungkin, Mama salah orang. Mirip mungkin bisa juga sih," ujar mamanya Mita, yang tidak mau memperpanjang apa yang tadi dia katakan.
Nanda akhirnya hanya bisa mengangguk saja, tanpa mau memberikan penjelasan juga.
"Ya sudah. Mari, Tante dan Om mau ke kamar dulu. Baru pulang, jadi sepertinya gak nyaman jika tidak mandi dulu," kata mamanya Mita, berpamitan pada kedua tamu mudanya itu.
"Iya Tante."
Ara dan Nanda menjawab bersamaan, dengan mengangguk-anggukkan kepalanya.
Mita juga tersenyum, pada kedua orang tuanya itu.
Dan selanjutnya, mereka bertiga kembali berbincang-bincang. Bercerita apa saja, yang bisa membuat Mita tertawa atau sekedar tersenyum.
*****
Sekar baru saja mau berpamitan untuk pulang ke rumahnya sendiri, karena sore sudah mulai menjadi gelap.
Sedangkan anaknya, Miko, yang tadi pergi naik sepeda bersama dengan Anggi, belum juga ada tanda-tanda, jika mereka berdua akan segera kembali.
"Yakin mau balik dulu?" tanya Anjani, memastikan jika adik iparnya itu memang ingin pulang terlebih dahulu. Dan tidak menunggu sampai Miko dan Anggi pulang.
"Ini udah terlalu sore Mbak. Nanti keburu papanya pulang dari kantor. Biarin aja, Miko pulang sendiri nantinya. Udah gede ini," ujar Sekar, menjawab pertanyaan dari kakak iparnya, Anjani.
Anjani hanya mengangguk saja, kemudian mengantar adiknya itu hingga depan rumah.
Tapi di saat Sekar tiba di pintu pagar rumah, Miko dan Anggi sudah terlihat dari ujung gang.
"Itu mereka Mbak!"
Sekar berseru, memberitahu kakak iparnya, Anjani.
Anjani yang tadinya hanya berdiri saja di teras depan rumah, dengan terburu-buru berjalan menuju ke tempat Sekar berdiri.
Dari ujung gang, tampak Miko dan Anggi yang sama-sama berjalan dengan pincang.
__ADS_1
Sedangkan sepedanya Miko, di tuntun oleh Miko sendiri.
"Apa mereka berdua jatuh?" tanya Anjani, yang lebih mirip dengan sebuah dugaan tentang apa yang terjadi pada kedua anak tersebut.
"Sepertinya begitu Mbak," sahut Sekar, yang tetap diam berdiri di tempatnya yang tadi.
Begitu juga dengan Anjani.
Mereka berdua, tidak ada yang segera berlari atau mencoba untuk mencari tahu, apa yang terjadi pada Anggi dan Miko.
Keduanya, membiarkan anaknya itu yang pulang sendiri, tanpa harus mereka jemput atau tanyai di tengah jalan.
"Kita diamkan saja mereka Dek. Biar mereka sendiri yang cerita nanti."
Sekar hanya mengangguk saja, mengikuti apa yang dikatakan oleh Anjani. Bukan karena tidak mau menolong atau merasa prihatin.
Ini mereka berdua lakukan, untuk mengajari anak-anak mereka bahwa, apapun yang dilakukan, pasti ada resiko yang harus ditanggung.
Entah berupa apa resiko itu. Baik dan buruk, pasti akan ada, di setiap perbuatan yang dilakukan.
Sama halnya dengan apa yang mereka lakukan tadi. Di saat bersepeda, ada juga resikonya. Jatuh, atau semacamnya.
Yang pasti, orang tua hanya bisa memberikan jalan dan aturan yang bisa membuat mereka menjadi lebih baik.
Karena setiap kehidupan, semuanya sudah tergaris.
Setiap anak, memiliki kehidupannya sendiri di waktu yang tepat. Dan tugas orang tua, mengantar mereka ke jalan yang akan mereka lalui, dengan cara yang baik dan benar.
"Mama..."
"Bunda..."
Anggi dan Miko, sama-sama memanggil keduanya setelah jarak antara mereka sudah tidak terlalu jauh.
Tapi sepertinya Anggi dan Miko juga tidak menampakkan wajah sedihnya. Mereka juga tidak menangis.
Ini membuat Anjani dan Sekar saling pandang, tanpa bicara apa-apa.
Setelah keduanya sampai, barulah Anggi bercerita tentang kejadian yang mereka alami tadi.
Dan Miko hanya cengengesan, saat Anggi bercerita pada mamanya, Sekar, dan juga bundanya, Anjani.
Tidak ada raut wajah sedih. Apalagi menyesal.
__ADS_1
Bahkan, Anggi dengan suara yang lantang bercerita dan kadang-kadang juga mempraktekkan lagi. Mengulang kembali, apa yang tadi mereka berdua alami di jalan.