Dia Milikku ( Berbagi Cinta )

Dia Milikku ( Berbagi Cinta )
Keadaan Mita


__ADS_3

Di kantor, Elang sedang melakukan penyelidikan secara rahasia, bersama dengan kepala keuangan dan beberapa orang, yang dia percaya.


Mereka menyelidiki manager, di perusahaannya itu, karena manager tersebut, baru beberapa bulan menjabat sebagai manager.


Sebelumnya, dia adalah kepala di perusahaan cabang. Dan dia, adalah keponakan dari paman papanya, papa Ryan.


Dari penjelasan Elang itu, mereka akhirnya tidak berniat untuk melapor kejadian ini pada mama Amel ataupun papa Ryan terlebih dahulu, sebelum benar-benar mendapat bukti bahwa, manager tersebut memang terlibat langsung dalam kebocoran keuangan di PT SAMUDERA GROUP.


Elang akan berusaha untuk mencari dan memecahkan permasalahan di kantor, tanpa melibatkan mama dan papanya.


Dia masih mencoba untuk melindungi, keluarga paman papanya, agar hubungan antar keluarga tetap bisa terjalin dengan baik.


Namun, Elang juga tidak tahu bagaimana jika, semuanya terbukti dan papanya sampai tahu kebenaran yang ada.


'Semoga semuanya bisa diatasi, tanpa harus melibatkan pihak keluarga, dan mengorbankan hubungan yang sudah ada.'


Begitulah harapan Elang, yang berusaha untuk tetap diam, dan tidak melaporkan semua kejadian ini pada pihak yang berwajib.


Dia juga tidak mau mengusik waktu papa dan mamanya di rumah. Karena mereka berdua sudah pensiun dari dunia usaha.


Tapi, jika memang diperlukan, mama dan papanya itu, tetap menjadi penasehat untuknya, demi kelangsungan dan kelancaran perusahaan keluarga mereka.


Karena masalah ini juga, yang membuat Elang tidak bisa pulang ke rumah dengan waktu tepat, sama seperti biasanya.


Dia juga menonaktifkan handphone miliknya, agar tidak terganggu saat melakukan pembicaraan dan penyelidikan, dengan adanya berbagai panggilan telpon.


Elang juga tidak tahu jika anaknya, Awan, berusaha untuk menghubungi dirinya, dan memberikan kabar tentang persetujuan kedua orang tuanya Ara.


*****


Di rumah sakit, tempat Mita di rawat.


Teman-temannya Mita, sudah pulang setelah Mita dipindahkan ke kamar inap. Mita juga sudah sadar, sehingga temannya merasa lega, dan bisa meninggalkan dirinya, yang sudah ditunggui oleh Dika. Pacarnya Mita.


Kedua orang tuanya Mita, juga sudah dikabari dan sedang dalam perjalanan menuju ke rumah sakit.


Tapi, karena badannya masih terasa lemas, Mita masih harus terus berbaring, dan tidak diperbolehkan untuk melakukan hal lain.


"Maaf ya Kak. Mita malah jadi ngerepotin gini," ucap Mita, meminta maaf pada Dika.


Dia ingat bahwa, seharusnya mereka berdua ada janji ketemu di sebuah kafe. Tapi, Mita juga tidak tahu jika, keadaan tubuhnya sedang tidak baik-baik saja saat itu.


"Tidak apa-apa. Memangnya, Loe sering terjadi seperti ini Mit?"


"Gak Kak. Tapi, ini sudah yang ke tiga kali pernah Aku alami. Tapi, dokter keluarga bilang, Aku hanya mengalami anemia saja."


Mita menjawab pertanyaan dari Dika, dan menjelaskan apa yang terjadi pada dirinya.

__ADS_1


Dika mengangguk paham. Dia pikir, apa yang dikatakan oleh Mita benar adanya. Karena Mita, tidak selincah Ara.


'Ah, kenapa Gue jadi ingat Ara lagi. Dan parahnya, malah membandingkan mereka berdua. Haduh...'


Dika mengeluh dalam hati, dengan pikirannya sendiri saat ini.


Sepertinya, bayang-bayang Ara, menjadi patokan untuk dirinya menilai seseorang cewek yang menurutku sesuai dengan kriterianya.


"Kak," panggil Mita, karena melihat Dika yang hanya diam saja.


"Eh iya. Ada apa? Loe butuh sesuatu?" tanya Dika, yang tersadar dari lamunannya tentang Ara.


"Kakak tidak cari makan. Sedari tadi, Kakak nunggu Mita di sini. Apa Kakak tidak lapar?"


Pertanyaan Mita, yang mengkhawatirkan dirinya, membuat Dika merasa senang.


Tapi di dalam hatinya Dika sendiri, dia belum bisa memastikan, apakah yang dia rasakan pada Mita, benar-benar rasa cinta, atau hanya sekedar rasa kasihan saja.


"Gak. Mana bisa Gue merasakan rasa lapar, jika pacar Gue terbaring di rumah sakit seperti ini?" kata Dika, yang membuat Mita tersenyum dengan malu-malu.


Meskipun saat ini wajah Mita dalam keadaan pucat, tapi kebahagiaan yang dia rasakan, membuat wajahnya terlihat jadi terlihat bersemu merah.


Mita merasa melayang, dengan apa yang dikatakan oleh Dika padanya tadi.


"Terima kasih ya Kak. Sudah mau menuggu Mita di sini."


Mita mengangguk patuh, dengan apa yang dikatakan oleh Dika. Dia merasa jika, Dika memang benar-benar mencintai dan menyanyi dirinya.


Tidak seperti ketakutan saat awal Dika memintanya untuk menjadi pacar.


Mita memang sempat meragukan niat Dika. Dia berpikir jika, Dika hanya iseng-iseng saja, karena adanya hubungan bisnis kedua orang tua mereka.


Pintu kamar inap Mita, di buka dari luar oleh seseorang.


"Sayang."


"Mita."


Ternyata, itu adalah mama dan papanya Mita, yang baru saja datang.


"Mama, Papa."


Mita menyahuti panggilan kedua orang tuanya, dengan masih dalam keadaan berbaring.


"Om, Tante." Dika menyapa kedua orang tuanya Mita.


"Nak Dika. Terima kasih ya, sudah menunggui Mita. Maaf, Kami baru sampai."

__ADS_1


Papanya Mita, mengucapkan permintaan maafnya, karena baru saja tiba.


"Iya Om, tidak apa-apa," sahut Dika, dengan senyuman yang menghiasi wajahnya.


"Bagaimana Mita, apa ada yang masih terasa sakit?" tanya mamanya Mita, yang masih tampak cemas dengan keadaan anaknya itu.


Tangan mamanya, juga meraba kening dan telapak tangan Mita.


Tapi, Mita hanya tersenyum saja, dan mengeleng sebagai jawabnya.


"Apa kata dokter nak Dika?" tanya papanya Mita, ingin tahu apa yang terjadi pada anaknya itu.


"Pa. dokter masih melakukan tes. Belum ada penjelasan dari dokter." Mita justru yang menjawab pertanyaan dari papanya sendiri.


"Iya Om. Dokter belum menjelaskan dan mengatakan apa-apa. Mungkin, nanti dokter akan bicara tentang Mita, dengan om dan Tante sendiri, selaku orang tuanya Mita."


Sekarang, papa dan mamanya Mita, mengerti juga. Karena keadaan pasien, juga harus mendapatkan privasi, agar tidak menjadi beban untuk pasien itu sendiri.


"Baiklah. Papa dan Mama mau bertemu dengan dokter dulu."


"Tolong nak Dika, jaga Mita terlebih dahulu ya. Om dan Tante mau menemui dokter."


Papanya Mita, pamit pada anaknya, dan juga pada Dika. Mereka berdua, dia dan istrinya, akan menemui dokter yang menangani anaknya itu.


"Iya Om," jawab Dika, menyanggupi permintaan dari papanya Mita.


Akhirnya, kedua orang tuanya Mita, keluar meninggalkan kamar inap anaknya. Mereka berdua, menuju ke arah ruangan dokter.


"Semoga saja, tidak ada yang serius."


Papanya Mita, berkata pada istrinya, di saat mereka berdua sedang berjalan bersama-sama.


"Iya Pa. Mama juga berharap demikian. Mita satu-satunya anak kita Pa. Seandainya saja..."


"Ma, sudah-sudah. Yang sudah tidak ada, biar tenang di alamnya sana."


Tapi, mamanya Mita tetap berurai air mata. Meskipun dia sudah berusaha untuk menahannya, supaya tidak lagi mengalir.


*****


Di rumah ayah Edi.


Nanda masih kepikiran tentang Mita, yang tadi pingsan di kampus.


Tapi, dia juga tidak ada siapa-siapa, yang bisa dia tanyai, untuk mengetahui kondisi Mita sekarang ini.


"Besok coba Aku tengok ke rumah sakit saja. Aku tidak tenang, jika tidak tahu apa-apa."

__ADS_1


Nanda merasa cemas dan juga bingung, karena tidak ada seorang pun, yang bisa membantu dirinya, untuk tahu bagaimana keadaan Mita di rumah sakit.


__ADS_2