Dia Milikku ( Berbagi Cinta )

Dia Milikku ( Berbagi Cinta )
Rencana Pulang Kampung


__ADS_3

"Kamu beneran tidak mau ikut Mama Nda?"


Sekali lagi, Yasmin bertanya pada anaknya, Nanda, yang tidak mau ikut bersamanya menetap di kampung halaman suaminya, Aksan.


"Tidak Ma. Tapi, besok Nanda akan ikut mengantar Mama sampai rumah. Ikut rombongan Eyang dan yang lain juga."


Sedari awal, saat Yasmin dan Aksan punya rencana untuk tinggal di kampung halamannya, Nanda mengatakan bahwa, dia tidak bisa ikut.


Selain karena di kampung bukanlah rumahnya, dia juga tidak ingin pergi jauh-jauh dari keluarga om nya, yaitu keluarga Abimanyu. Jadi, Nanda memutuskan untuk tinggal di Jakarta, ikut bersama dengan eyangnya, ayah Edi dan ibu Sofie.


Yasmine sebenarnya tidak tega, tapi dua juga tidak bisa memaksa anaknya itu.


Begitu juga dengan Aksan. Meskipun dus juga sudah menyayangi anak dari istrinya itu, tapi tetap saja, dia tidak mau dikira otoriter, dan memaksakan kehendaknya sendiri, kepada Nanda.


"Tapi, Kamu harus sering ke kampung, saat liburan atau apa gitu. Jenguk mama dan adik juga Nda." Aksan memberikan beberapa nasehat, pada anak tirinya, yang sudah remaja, dan bukan lagi anak kecil seperti dulu.


"Iya Pa. Sebisa mungkin, jika ada waktu, Nanda akan berkunjung ke kampung. Bukankah Nanda juga anaknya Papa?" tanya Nanda, yang sebenarnya tahu, jika papanya Aksan, juga sangat menyayangi dirinya


"Tentu saja!"


Dan akhirnya, Aksan memeluk Nanda, dengan di iringi senyuman kebahagiaan dari Yasmin.


Malam ini, mereka sedang melihat-lihat lagi, semua keperluan dan barang-barang yang akan mereka bawa ke kampung.


Ada ibu Sofie juga, yang ikut menjaga bayi mereka.


Semua perlengkapan bayi mereka, sudah di sisihkan, karena tadi sudah di cek oleh Yasmin. Sekarang, tinggal mengecek ulang bawaan mereka yang lainnya juga.


"Nda, ikut Papa sebentar yuk," ajak Aksan, sambil merangkul Nanda.


Nanda melangkah, mengikuti langkah papanya, Aksan.


"Ke mana Pa?" tanya Nanda, yang tidak tahu, ke mana yang di maksud oleh papanya itu.


Tapi Aksan tidak langsung menjawab pertanyaan dari Nanda. Dia mengajak anaknya itu, untuk masuk ke dalam kamarnya Nanda sendiri.


Sedangkan di dalam kamar, Yasmin melihat ibunya, ibu Sofie, dengan ragu, pada saat suaminya itu mengajak anaknya, Nanda, untuk keluar dari dalam kamar.


'Mau ke mana mereka?' tanya Yasmin, tapi hanya di dalam hatinya.


Pertanyaan yang sama juga terjadi pada ibu Shofie. Dua melihat dengan bingung, ke arah anaknya.

__ADS_1


"Ke mana mereka Yas?"


Akhirnya, ibu Sofie bertanya juga pada anaknya, Yasmin. Dia penasaran dengan apa yang ingin disampaikan oleh Aksan, pada cucunya, Nanda.


"Tidak tahu Bu. Mungkin ads barang atau keperluan yang mas Aksan inginkan, dan minta pada Nanda untuk membantunya," jawab Yasmin, yang sebenarnya juga tidak tahu apa-apa.


*****


Di luar kamar Yasmin. Di depan kamarnya Nanda sendiri.


Klek!


Pintu di buka Aksan. Dia mengajak Nanda untuk masuk.


Nanda hanya menurut saja, saat diajak untuk masuk ke dalam kamarnya sendiri. Dia tidak tahu, apa yang ingin disampaikan oleh papanya, Aksan.


Dan ini adalah pembicaraan mereka, pembicaraan dua laki-laki, dengan cara pandang mereka sendiri.


"Nda. Sebenarnya, Papa lebih senang jika Kamu ikut ke kampung. Karena dengan begitu, mama Kamu itu akan lebih tenang. Tapi, Papa juga tidak bisa memaksamu. Karena Papa juga tahu, di kampung sana, tidak ada fasilitas sekolah yang sebagus di Jakarta. Jadi, Papa harap, Kamu tidak mengecewakan Mama, dan juga Papa. Dan yang paling penting, Kamu tidak usah memikirkan uang. Papa akan tetap memberikan biaya untuk sekolahmu."


Nanda tersenyum bahagia, saat mendengar perkataan yang diucapkan oleh papanya, Aksan.


Aksan mengajak Nanda bicara di kamarnya sendiri karena, dia tidak ingin membuat Yasmin merasa sedih. Dia juga tidak mau di anggap hanya ingin mendapatkan lebih banyak simpati dari istri dan ibu mertuanya saja.


Padahal Nanda sendiri juga tahu, jika papa sambungnya itu, jauh lebih menyanyinya, di banding dengan papanya sendiri, yaitu Wawan.


Meskipun sebenarnya, Yasmin juga tahu, jika suaminya itu, memang benar-benar menyayangi anaknya, Nanda.


Apalagi tadi, di kamarnya sedang ada ibu mertuanya juga, yaitu ibu Sofie, yang sedang membantu Yasmin menidurkan bayinya.


Aksan hanya laki-laki kampung, yang tidak berpendidikan tinggi. Tapi itu justru membuatnya sangat tulus, dan tidak membedakan antara anak kandung dengan anak tirinya itu.


Aksan juga laki-laki yang mau berusaha dan bekerja keras. Itulah sebabnya, dia sudah bisa memiliki usaha sendiri, di saat tabungan saat bekerja di luar negeri, di Taiwan sana, sudah cukup.


Apalagi sekarang, dia juga memiliki kehidupan bersama dengan keluarganya. Yasmin, sebagai istrinya, juga mau membantunya dan mendukung usahanya selama ini.


Yasmin juga tidak malu, dan mau di ajak untuk tinggal di kampung halamannya.


Itu semua sudah membuat Aksan merasa bahagia. Ditambah lagi dengan kehadiran anak mereka, yang saat ini masih berusia tiga bulan.


*****

__ADS_1


Di rumah Abimanyu.


"Bunda. Besok kita jadi ikut antar tante Yasmin dan om Aksan pulang ke kampung?"


"Iya Kak," jawab Anjani, saat Ara kembali bertanya.


Ini adalah pertanyaan Ara yang kesekian kalinya. Dua, Ara, sangat antusias untuk bisa ikut datang ke kampung halamannya Aksan.


Dia berpikir jika, di kampung halamannya Aksan, sama seperti di Bogor. Di rumah bundanya, yang sekarang ini sudah menjadi sebuah kafe, dan juga rumah kost-kostan.


Rumah Anjani yang di Bogor, di buka juga sebagai rumah kost-kostan, karena lebih sering kosong. Jadi, lebih baik dimanfaatkan sebagai tempat usaha.


*****


Selamatan anaknya Sekar sudah selesai. Itulah sebabnya, Yasmin dan Aksan akan segera melaksanakan rencana mereka berdua, untuk pindah dan menetap di kampungnya Aksan.


Truk kendaraan barang, sudah di sewa, bersama dengan supirnya juga.


Begitu juga bus yang akan mereka gunakan untuk angkutan semua anggota keluarganya.


Semua sudah siap dan akan berangkat pagi ini. Mumpung hari libur, sehingga tidak ada alasan bagi mereka yang kerja di kantor ataupun pergi ke sekolah.


Sayangnya, Miko hanya ikut sendirian, mewakili keluarga Sekar.


Mamanya Miko, Sekar, terpaksa tidak bisa ikut serta, dalam perjalanan mereka mengantar Yasmin dan Aksan ke kampungnya.


Dia tidak mungkin membawa serta bayinya, dalam perjalanan jauh ke kampung halamannya Aksan. Karena bisa-bisa, bayinya akan jatuh sakit, karena keadaan saat perjalanan tersebut.


Anaknya itu masih bayi dan baru dua minggu. Sedangkan Juna, harus berada di rumah, menemani istri dan anak bayinya juga.


Hanya Miko yang ikut, bersama dengan keluarga Abimanyu.


Ada ayah Edi dan ibu Sofie juga yang ikut. Begitu juga dengan Nanda.


Mereka semua, sudah siap untuk naik ke atas bus, yang akan mengantarkan mereka semua ke kampung halaman suaminya Yasmin. Yaitu Aksan.


Akan ada dua kendaraan, yang menuju ke kampung, yaitu satu armada truk, sebagai kendaraan yang mengangkut barang, dan satu lagi bus, yang digunakan untuk kendaraan semua orang.


Mereka dengan senang hati, mengiring dan mengantarkan kepulangan Yasmin serta Aksan, yang akan menetap di kampung halaman.


Dan Nanda, akan tetap berada di Jakarta, untuk kepentingan pendidikan dan sekolahnya. Dia akan tinggal bersama dengan eyang Kakung dan Eyang putrinya. Ayah Edi dan ibu Sofie, sekalian untuk menemani hari-hari tua keduanya.

__ADS_1


__ADS_2